
Leya masih bungkam memandangi foto di tangannya. Foto Adela, Raya, dan... Geri? Ya... Geri yang wajahnya persis dengan wajah Glenn. Namun kepalanya berusaha mengingat keras kejadian itu. Kejadian yang selama ini berusaha ia lupakan. Kejadian saat dirinya terpisah dari Dandelion, juga Ibunya.
Pertanyaannya, kenapa?
Kenapa ia meninggalkan Dandelion? Benarkah seperti itu? Kali ini, justru ia merasa bersalah pada Dandelion. Tapi, ia pasti punya alasan mengapa meninggalkan Dandelion.
Leya menggenggam kalung berbandul Dandelionnya, ia memajamkan mata. Bagaimana caranya mengingat kejadian itu? Yang ia lihat saat menutup matanya hanyalah sebuah kekosongan. Ia tak ingat. Tak bisa dipaksa. Ingatan itu akan muncul tanpa Leya minta. Ia muncul sendiri.
Leya membuka matanya, ia bangkit dari tempatnya bersimpuh saat mendengar Dandelion menangis di luar. Leya perlahan melangkah keluar kamar, sambil tetap memegangi kalungnya. Di luar terlihat Dandelion menangis sambil menutupi wajahnya. Ia duduk di sofa.
Leya melangkah mendekati Dandelion, duduk di sampingnya, kemudian memeluk Dandelion dari samping. Membiarkan tangisan Dandelion membasahi bajunya. "Maaf, Kak..."
"Aku gak maksa kamu untuk percaya sama aku, tapi aku gak nyangka kalau kamu segitu gak percayanya sama aku. Aku ini kakak kandungmu sendiri, Leya. Dan kamu jauh lebih percaya orang seperti Glenn dibanding aku? Oke. Aku tahu kamu suka dia kan? Tapi segitu butanya kamu karna cinta? Aku cuma berusaha ngelindungin kamu, tapi kamu sendiri gak mau dilindungi." Dandelion melepaskan pelukan itu, "aku ini kakak kamu! Apa salah kalau aku melindungi kamu dari orang-orang yang kucurigai sebagai Grimm? Apa salah kalau aku mencurigai Glenn? Kamu tahu? Cuma kamu satu-satunya orang yang gak ngerasain keanehan Glenn. Semua orang tahu ada sesuatu yang salah dengan Glenn!"
Leya tersenyum. Iya, sepertinya ia terlalu buta karna cinta. Hampir semua fakta yang ia temukan mengacu pada Glenn yang mungkin memiliki kepribadian sebagai seorang Grimm. Beberapa kali, Leya menemukan dirinya ketakutan saat berhadapan dengan Glenn atau alter-alter yang dimilikinya. Tapi, Leya lebih sering menemukan dirinya yang masih memiliki kepercayaan pada Glenn. Ia juga tak tahu kenapa ia sepercaya itu pada Glenn. Cinta? Tidak. Alasan itu belum cukup membuatnya percaya bahwa Glenn bukan Grimm. Tapi... entahlah. Ia juga tak tahu kenapa.
"Iya, mungkin aku buta karna sangat mencintai Glenn. Aku pikir, saat kakak memiliki seseorang yang disayang dan orang itu dituduh sebagai pembunuh, kakak juga akan melakukan hal yang sama sepertiku. Kakak percaya bukan dia, walaupun seluruh fakta berusaha membuat kakak percaya kalau dia pembunuhnya. Tapi, kakak yakin itu bukan dia. Kakak tahu bahwa laki-laki yang selama ini selalu membuat kakak tersenyum, membuat jantung kakak berdegub kencang, memeluk kakak, bahkan mencium kening kakak, itu bukan pembunuh. Matanya... kakak selalu mengenali matanya. Di dalam matanya hanya ada luka, tapi bukan nafsu buas pembunuh."
Leya menggigit bibir bawahnya, air matanya perlahan jatuh, "Mungkin lebih tepatnya, kakak menolak percaya dia pembunuh. Kakak berusaha meyakinkan diri kakak kalau laki-laki bermata teduh itu bukan laki-laki yang jahat. Aku... mencintai Glenn, bahkan setelah aku menemui dirinya yang lain. Aku tahu dia terlalu banyak memiliki luka. Luka yang tak bisa disembuhkan siapapun, membuatnya membentuk sebuah benteng pertahanan.
"Aku mencintai Glenn, bahkan mungkin masih akan tetap mencintainya sekalipun aku tahu dia pembunuh. Karna, bukan dia yang membunuh. Ada seseorang yang lain di dalam tubuhnya yang punya hasrat membunuh. Tapi, aku bahkan sampai sekarang masih percaya pada Glenn. Iya, aku terdengar gila. Tapi, sekali lagi aku yakin kakak juga akan melakukan hal yang sama sepertiku. Gila karna cinta. Kehilangan akal karna cinta. Buta karna cinta. Yang aku tahu hanyalah... aku mencintai dia sampai titik terbawah kepercayaanku sekarang."
Leya tersenyum. Ia mencintai Glenn begitu tulus, bahkan ia tak peduli jika Glenn tak punya rasa yang sama. Yang jelas, ia cinta. Tak peduli jika semesta tak merestui. Apa salahnya mencintai pembunuh? Ah... tidak. Glenn bukan pembunuh. Ia tertuduh sebagai pembunuh.
"Leya..." Dandelion balik mendekap Leya yang terlihat begitu tersiksa. Kali ini, Leya lah yang menangis didekapan Dandelion.
"Aku... aku menolak percaya, Kak... menolak percaya bahwa Glenn itu pembunuh. Dia bu-bukan pembunuh... Glenn gak tahu kalau ada pembunuh di dalam dirinya... A-aku... sayang dia. Aku benci, kenapa harus dia? Kenapa Tuhan memilih dia untuk melewati hal seberat ini. Aku bahkan gak akan kuat jadi dia.
"Aku rindu dia. Aku... cuma rindu dia..." bisik Leya. Leya memejamkan matanya perlahan. Yang ia lihat adalah senyum Glenn, bagaimana lelaki itu menjahilinya, bahkan bagaimana laki-laki itu sedang fokus. Kemudian, semua itu berganti dengan wajah putus asanya, air matanya. Itu menyakitkan. Leya sempat berharap bahwa ia tak pernah bertemu degan Glenn. Atau setidaknya berharap bahwa Glenn hanyalah remaja laki-laki normal, tak tahu apapun mengenai kasus pembunuhan. Iya, Leya berharap Glenn seperti remaja biasanya. Namun, ia langsung cepat-cepat menghapus pikiran itu.
Leya mencintai Glenn apa adanya. Ya, ia harus menerima kekurangan lelaki itu. Tapi, bagaimana dengan janjinya pada Pak Rasyid, bahwa ia akan memberitahu informasi apapun yang ia temukan untuk Glenn. Ia... tak tahu akan seberat ini...
"Leya, maaf kalau kakak malah bikin kamu sedih." Dandelion melepaskan pelukannya perlahan, ia menghapus air matanya, "maaf Leya. Maaf karna aku sempet gak ngertiin posisi kamu. Iya, aku juga akan melakukan hal yang sama kalau sampai seseorang yang aku cintai dituduh seperti itu. Maaf, Leya..."
"Gak papa kak. Itu hal yang wajar. Kakak cuma mau melindungi aku dan Ayah. Maaf karena aku meragukan kakak." Leya tersenyum kemudian menggenggam tangan Dandelion, "harusnya hari ini kita seneng-seneng, kenapa malah sedih begini. Gimana kalau kita jalan-jalan sekarang?"
Senyum Dandelion terbit, ia mengusap puncak kepala Leya, "ide yang bagus, tapi kita sarapan dulu ya?"
Leya mengangguk.
Sebentar saja, sebentar saja ia ingin melupakan semua ini. Sebentar saja ingin rasa rindunya pada Glenn hilang. Ia ingin waktu sebentar saja untuk bersenang-senang.
*Gak papa kan Glenn? Sebentar aja gue ngelupain lo?
*~~~
Leya masuk ke dalam kamarnya lagi, ingin bersiap-siap. Ia membersihkan kamarnya dulu sebentar sebelum pergi bersama Dandelion. Kemudian, tak sengaja matanya jatuh pada sebuah gambar anak-anak di atas nakasnya. Itu gambar Leo. Leya memandangnya sebentar, meraihnya, kemudian ia mengerutkan keningnya.
Gambar pertama, gambar tiga anak di depan pohon saling berpegangan, gambar kedua adalah gambar seorang putri duyung, disampingnya ada anak laki-laki dan perempuan, kemudian ada satu anak laki-laki berdiri di depan mereka bertiga. Leo... seharusnya tahu masa lalu Glenn bersama Friska dan Adrian...
Kemudian gambar selanjutnya lebih... mengerikan. Kenapa Leya baru benar-benar melihat gambar ini? Sekilas seperti gambar seperti hewan kecil berwarna hijau, mungkin kodok. Kodok yang lehernya diberi warna merah seperti darah. Awalnya Leya pikir itu hanya kalung atau selendang merah. Di depan kodok itu ada seorang anak laki-laki yang memegangi tongkat. Ada bercak merah di tongkat itu. Ah tidak... itu bukan tongkat, itu pisau!
Ah sialan, apa yang Leya pikirkan? Tidak... tidak... Leya terlalu overthink hingga gambar anak-anak polos saja harus terlihat semengerikan itu. Tidak. Itu selendang, dan itu tongkat.
"Leya? Ayo berangkat?"
"Ah... iya sebentar kak." Entah kenapa Leya memasukkan gambar-gambar itu ke dalam tas selempangnya, ia ingin melihat gambar lainnya nanti. Hanya... penasaran...
Leya tidak bisa berhenti berpikir. Ia kira bila ia menghabiskan waktu di luar, ia akan melupakan Glenn sejenak. Justru, setelah melihat gambar Leo, ia tak bisa menghentikan otaknya. Otaknya terus bergerak, tak berhenti. Apa maksud Leo? Apa Leo mengenal Friska dan Adrian?
Pagi ini, Leya dan Dandelion pergi ke taman. Mereka membeli permen kapas sambil berbincang\-bincang. Namun, sesungguhnya Leya tak terlalu fokus.
"Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat, lumayan jauh dari sini." Dandelion tersenyum. Mereka berdua masih berjalan kaki di taman kota sambil memakan permen kapas.
*Kenapa Leo menggambar hal seperti itu? Dia pasti tahu sesuatu*.
"Leya?"
"Hah? I\-iya Kak kenapa?"
"Aku mau nunjukin kamu tempat yang pasti bakalan kamu suka."
"Kemana?"
"Rahasia! Kamu tunggu di sini dulu ya, aku ambil mobil." Dandelion bergegas melangkah menuju parkiran, bahkan sebelum Leya menyetujuinya. Ah, sudahlah. Leya tetap harus memikirkan Leo.
__ADS_1
Leya duduk di bangku taman sambil berpikir. Ada sesuatu yang janggal dengan Leo. Leya mengambil gambar\-gambar Leo dari dalam tas selempangnya. Ia meneliti gambar putri Ariel. Tidak ada yang aneh dari gambar itu selain tas yang dibawa anak perempuan. Apa benar itu tas? Atau... apa? Ah sudahlah Leya tak mengerti. Ia mengambil gambar lain.
Gambar yang satu ini memiliki judul, ah sepertinya bukan judul, tapi nama pada salah satu bocah laki\-laki di gambar itu. Hansel. Ada dua bocah laki\-laki lain di sana dan satu bocah perempuan. Bocah laki\-laki yang lain hanya berdiri seperti melihat, bocah laki\-laki yang lain sedang memegangi... ini bungkus permen. 3 bungkus permen. Dan bocah perempuan kali ini memegangi... tali?
Astaga... ini gambar apa? Kenapa insting Leya mengatakan ini gambar yang... punya makna buruk? Leya menelan salivanya, ia berusaha mencerna semua gambar ini. Ada gambar serigala yang... rebah di lantai dengan kepala berdarah. Jelas ini darah... darahnya bersimbah di lantai. Sebelumnya, Leya bahkan tak begitu menyadari ini gambar darah. Hanya melihatnya sekilas, tak akan mengerti dengan gambar anak\-anak yang tak terlalu jelas ini. Leya hanya menerka\-nerka. Apa Leya terlalu berlebihan? Tidak mungkin Leo menggambar seperti ini. Cepat\-cepat Leya merogoh tasnya, bermaksud ingin mengambil ponsel dan menelepon Glenn. Tapi... berapa kali pun ia mencoba mencari ponsel di sana, tetap tak ada. Sial! Ponselnya ketinggalan!
Klakson mobil menghentikan kegiatan Leya saat ini. Kaca mobil terbuka, Dandelion melambai dan memberi isyarat agar Leya cepat masuk ke dalam mobilnya, Leya hanya menuruti permintaan kakaknya sambil bergegas masuk dan duduk di samping kursi kemudi.
Sepanjang perjalanan, pikiran Leya benar\-benar kalut. Ia tak bisa berhenti mencemaskan Glenn. Apa yang saat ini sedang laki\-laki itu lakukan? Ah sial... kenapa ia tak bisa barang sedetik saja melupakan laki\-laki itu dan berhenti mencemaskannya?
"Kamu pasti mikirin Glenn ya?" Kata Dandelion tanpa menoleh ke arah Leya, ia tetap fokus ke jalan.
"Hah? Eng\-enggak, Kak," kata Leya canggung.
"Gak papa, nanti kamu lupa juga sama dia kalau kita udah di tempat yang aku bilang tadi." Dandelion tersenyum lebar.
"Kita ke mana, Kak?"
"Nanti kamu tahu liat sendiri. Ini *surprise*!" Katanya sambil tersenyum ke arah Leya.
Leya mengangguk, ia kembali menatap jalan melalui kaca mobilnya, membiarkan pikirannya berkelana. Berkelana menemui Glenn.
Glenn melebarkan matanya. Ia tak berhenti memandangi layar ponsel. Matanya terfokus pada kata 'Alice'. Astaga... ia sempat melupakan Alice. Tapi... siapa yang akan menjadi Alice? Dandelion kah? Atau... Leya?
Sial. Ini gawat. Ia berusaha mencari kebenaran, namun malah dipertemukan dengan korban baru lagi. Sialan. Grimm sialan.
Sebentar, apa ia mengumpat dirinya sendiri? Dia kan... Grimm? Glenn tersenyum getir ketika terlintas pikiran seperti itu.
"Glenn? Ada apa?"
"Ada kira-kira 20 orang. Ada apa Glenn?"
"Oh... ada sesuatu Bunda. Glemn boleh lihat kan?"
Bunda mengangguk. Bunda mengantar Glenn ke ruangannya, sementara Glenn membuntuti dari belakang. Buku dongeng itu... tulisan tangan di belakang buku dongeng yang menjelaskan keberadaan 'pemilik dongeng' yang baru, tidak ada sewaktu Glenn kecil. Ia merasa tulisan itu dibuat sedikit lama setelah Glenn, Adrian, dan Friska meninggalkan panti. Bunda juga berkata bahwa kamar mereka selalu dikunci. Itu artinya, ada seseorang yang pernah membuka kamar itu. Entah kapan. Intinya, seseorang yang tahu tentang mereka bertiga, tahu tentang buku dongeng itu, dan mengerti isi buku dongengnya.
Seseorang yang... sangat mengenali Glenn. Tidak hanya mengenali Glenn, namun juga Friska dan Adrian. Siapa? Siapa yang sejauh ini mengenali mereka dan punya kuasa melakukan semua ini? Siapa mimpi buruk Glenn? Siapa yang berusaha dilindungi oleh alter-alternya?
"Ini..." kata Bunda.
"Ini daftar nama relawan pada tahun ini saja, Bunda?"
"Iya. Glenn ingin pada tahun berapa?"
"Ehm..." Glenn berpikir sebentar, "apa saja persayaratan untuk menjadi relawan di sini, Bun?"
"Satu-satunya persyaratan adalah berumur 17 tahun hingga 25 tahun."
Glenn berpikir lagi. Tulisan di buku dongeng itu sepertinya memang bukan ditulis oleh anak-anak, jelas. Berarti seseorang yang berumur 17 hingga 25 tahun dan mengenali Glemn. Siapa?
"Apa relawan bisa masuk ke dalam kamar Glenn?"
"Bisa. Tapi tidak pernah. Karena kamar kamu memang tidak terlalu sering dibersihkan lagi dan sudah tidak terpakai. Hanya Bunda yang boleh masuk. Bunda juga yang beberapa kali membersihkan kamar kalian."
"Apa benar-benar gak ada yang pernah masuk lagi?"
"Iya, gak ada kok. Kan Bunda yang pegang kunci."
Iya, tidak salah lagi. Salah satu relawan pada daftar nama itu mengenali Glenn. Rosa kah? Rosa baru saja berumur 17 tahun, Glenn tidak pernah bertemu Rosa sebelumnya. Tapi... Rosa seperti tahu banyak mengenai Glenn.
Glenn tidak pernah dekat dengan orang lain. Tidak ada yang pernah mengenali Glenn. Tapi... instingnya kemudian bekerja seperti biasa, "Bunda, Glemn ingin daftar nama relawan tahun ini dan tahun lalu juga."
Pada daftar nama tahun ini, terlihat nama Rosa. Dan... astaga...
Ia membuka daftar nama relawan tahun lalu... ini... selama ini salah menduga...
Pembunuh Alfi bukan WS, tetapi SW.
Serena Widyaningrat.
Rena.
Glenn terkesiap sesaat, kemudian ia berlari keluar dari ruangan Bunda secepat kilat. Ia langsung berusaha menelepon Leya, namun gadis itu tak mengangkatnya. Sialan! Kutuknya. Ia berlari menuju motor yang terparkir di depan panti, memacu kecepatan motornya menuju apartement Leya.
__ADS_1
Berapa kalipun Glenn mengetuk pintu apartement itu, tetap tak ada jawaban. Ia semakin khawatir. Keringat dingin mengucur. Ia takut terjadi sesuatu pada Leya. Sial, seharusnya ia menyadari ini semua dari awal, seharusnya ia mengindahkan instingnya yang merasakan keanehan akan kehadiran Rena sebagai Dandelion. Glenn tak tahu apa Rena memang Dandelion atau bukan, yang ia tahu adalah... Rena yang membunuh Alfi.
Kenapa ia begitu yakin? Tentu saja. Rena satu kelas dengan Ansel dan Raya. Ia tahu semua tentang Glenn, seperti yang dikatakan oleh Rosa, bahkan alamat rumah Glenn. Selama ini, Rosa hanya mendengar semuanya dari Rena, padahal Rena hanya mengaku pernah menjadi kakak kelas Glenn di SMP, tapi ia tahu sebanyak itu tentang Glenn. Glenn bukan tipe orang yang terbuka, jadi bagaimana caranya ia tahu semua tentang Glenn? Dan cukup aneh bila Grimm membiarkan korbannya lolos begitu saja tanpa ada alasan tertentu. Ini jebakan. Seharusnya, Glenn tahu dari awal. Bodoh.
Rena juga seangkatan dengan Ansel, Raya, juga Geby, jelas Bu Rika mengenalinya. Dan... Glenn pikir bukan sesuatu yang kebetulan bila Rena menjadi relawan di panti asuhan itu, kemudian mengajak Rosa. Ia mendekati Rosa juga pasti karena ada suatu alasan dibaliknya. Rena bertopeng, seharusnya Glenn tahu. Bahkan dari seluruh ucapannya, itu terdengar seperti sebuah kebohongan besar. Ia tak pernah percaya Rena.
"Kamu sepupu Leya ya? Yang tadi subuh itu?" Glenn menoleh, ada seorang wanita paruh baya yang tersenyum. Ia baru saja keluar dari pintu apartementnya di seberang apaartement Leya.
"Hah? Eng\-"
"Leya pergi tadi sama Kakaknya. Ibu ketemu waktu dia ngetuk pintu terus ngasih tahu kalau dia pergi, siapa tahu ada yang mencarinya, katanya."
"Dia pergi ke mana, Bu?"
"Kalau itu, Ibu gak tahu sih. Dia cuma bilang mau pergi." Sang Ibu nampaknya hendak pergi, "saya pergi dulu ya mau belanja nih."
"Ah... iya, makasih, Bu."
Glenn mengepalkan tangannya, sialan. Ia terlambat. Ponselnya berbunyi, sebuah pesan dari nomor tak dikenal telah masuk. Ini pasti Grimm. Glenn cepat\-cepat membuka isi pesannya.
*Coba tebak apa yang sedang kulakukan. Sebentar lagi, kamu akan pergi ke Wonderland dan menemui Alice. Sampai jumpa di Wonderland. Aku menunggumu *:\)
Rasanya Glenn ingin berteriak sekancang\-kencangnya. Ia begitu marah, wajahnya memerah. Tidak, ia harus mengendalikan diri. Marco tak boleh mengambil alih, tidak. Tidak boleh. Ini tidak boleh terjadi.
Glenn menarik napasnya dalam, mengeluarkannya perlahan. Iya, dia bisa mengatasi ini. Yang perlu ia lakukan adalah bergerak cepat namun tetap berpikir tenang. Ia tak perlu lagi menebak siapa yang akan menjadi Alice. Tentu saja Leya. Siapa lagi?
Yang perlu ia lakukan sekarang adalah memikirkan dimana *Wonderland* yang dimaksud oleh Grimm sialan itu. Pasti berhubungan dengan kenangan masa kecil Glenn. Tapi... dimana? Di mana ia bisa menemukan *Wonderland* itu?
Ah... sepertinya ia tahu harus kemana.
"Waaahhhh gila kak ini keren banget!" Leya bergegas keluar dari mobil, berlari hingga berada di tengah taman Dandelion. Indah sekali. Ada gunung-gung yang mengelilingi taman itu. Sunyi, namun menenangkan. Ketika angin bertiup, Leya bisa melihat benih Dandelion yang beterbangan, sungguh indah. Ada sebuah pohon besar di tengah taman. Leya berbalik kembali, menoleh pada kakaknya, "ini indah banget kak!"
"Iya dong, siapa dulu yang cari tempatnya." Dandelion tersenyum.
Leya memegangi bandul kalungnya, "kak, emangnya apa sih permintaan kakak dulu?" Tanya Leya tersenyum.
"Hah? Maksudnya?"
"Permintaan kakak. Di dalam kalung ini kan ada 5 benih Dandelion. Aku udah terbangin 1, kakak juga terbangin 1. Permintaan kakak apa?" Tanya Leya penasaran.
"Ehm... supaya aku bisa selamanya sama kamu," jawab Dandelion tersenyum simpul.
Senyum Leya seketika menghilang.
"Kak cepetannn... aku penasaran nih, apa sih permintaan kakak?"
"Ngeliat kamu senyum dan bahagia, walaupun suatu saat nanti kita gak sama-sama. Saat aku berada di atas sana, dan Tuhan menjemputku lebih dulu, aku ingin melihat kamu tetap tersenyum."
Leya mundur perlahan.
"Ada apa?" Tanya Dandelion melangkah perlahan mendekati Leya.
"Hah... eh-ehm... a-anu kak... a-aku tiba-tiba pusing. A-ayo kita pulang..." Leya gagap seketika.
Leya berjalan cepat hendak melewati Dandelion, tetapi Dandelion menjegatnya, "kita baru sampai."
"A-aku mau pulang."
Dandelion tertawa, "hahaha kamu ini apaan sih. Kita belum ngelakuin apapun di sini."
Leya berusaha melepaskan cengkraman tangan Dandelion yang semakin kuat. Ia berhasil, kemudian ia berusaha berlari sekuat tenaga menuju mobilnya. Sialan! Ia tak bisa mengemudikan mobil, dan tak ada tempat bersembunyi di tempat terbuka seperti ini. Ia berlari saja tak tentu arah. Dandelion mengejarnya dari belakang, ia berlari menyusul Leya. Dia berlari lebih kuat. Sialan, Leya gemetar ketakutan. Ia hampir menangis, apa yang harus ia lakukan! Ia tak bisa berpikir jernih. Keringat dingin terus mengucur, sementara ia hampir meraih mobil, baju belakangnya ditarik hingga ia tersungkur ke tanah dalam keadaan terlentang.
Secepat kilat, Dandelion menutup mulut dan hidungnya dengan saputangan. Mengunci tubuh Leya dengan tubuhnya. Leya meronta, memukul-mukul tak tentu arah, namun dari posisi saja sudah jelas posisi tubuhnya tak menguntungkan. Ia akan kalah. Ia berusaha sekuat tenaga membela diri dengan cara apapun. Kakinya meronta-ronta, tapi tetap saja tak bisa melakukan apapun. Posisi tubuhnya menyulitkan.
__ADS_1
Beberapa menit mengirup aroma menenangkan dari sapu tangan itu, Leya mulai lemas. Yang ia dengar terakhir kali adalah suara Dandelion. Ah... bukan Dandelion. Itu... Rena, pembantu Grimm atau bahkan dialah sang Grimm.
"Selamat tidur, Putri Alice."