
Glenn membuka pintu rumahnya. Rintik hujan turun, lampu ruang tengah sesubuh ini sudah menyala. Ah... ia hampir lupa, Ayahnya pasti sudah pulang.
"Glenn?" Itu Ayahnya, menyambut Glenn dengan tatapan ragu sekaligus sangat khawatir.
Glenn tersenyum simpul. Setelah ini pasti ia akan dihujani banyak pertanyaan oleh Ayahnya.
"Is that you?" Tanya Ayahnya memastikan. Wajah Ayahnya kelihatan sangat kusut sekaligus takut dan khawatir.
"Yes, Dad."
"Dari mana aja kamu? Ayah khawatir sekali. Tadi... Leya telepon... Ayah cari kamu kemana-mana, pas Ayah telpon Leya lagi, dia gak angkat. Kamu gak papa?" Sebelum Glenn mengangguk, Ayahnya sudah membuka jaket Glenn, "apa ada yang sakit?"
"Gak ada Ayah..."
Ayahnya seakan tahu apa yang harus ia lakukan. Ia menarik lengan baju Glenn ke atas. Tangannya telah ditutupi beberapa plaster luka dari bagian lengan di atas siku hingga hampir ke nadi. Ada 4 plaster luka yang berarti ada 4 luka goresan. Wajah Ayah Glenn semakin khawatir, "Jeo?"
Glenn menutupi lukanya dengan memanjangkan lengan bajunya lagi, "Cuma luka kecil." Ia memang tak merasakan sakit apapun. Mungkin karena beban di kepalanya jauh lebih memberatkan dibanding harus memikirkan rasa sakit pada luka kecil ini.
Ayahnya menghela napas keras, "Kita harus ke Jepang."
"Glenn gak bisa pergi sebelum menyelesaikan semua masalah yang ada di sini. Lari ke Jepang sama aja lari dari masalah, Yah."
"Tapi kamu-"
"I'm okay, Glenn lagi berada di kondisi terbawah. Itulah sebabnya mereka muncul. I swear, setelah ini mereka gak akan bisa muncul. Glenn sedang mencoba bangkit. Obat Glenn-"
"But we need Doctor Gerald. Ayah... Ayah gak mau kalau semakin banyak masalah yang menghampiri kamu karena kemunculan mereka. Obat aja gak akan mempan. Dan... Glenn... Ayah ingin kamu bisa ngerasain menjadi remaja normal, yang sewajarnya..." Mata Ayah Glenn mulai berkaca-kaca, "Ayah sayang kamu. Dan Ayah gak mau sama sekali kamu terluka. Ayah bisa berhenti kerja dulu. Ayah gak mau ninggalin kamu sendirian..."
Glenn memegangi pundak Ayahnya, "Ayah... yang Glenn butuhkan sekarang adalah kebenaran. Glenn gak akan pernah sembuh sebelum Glenn bisa tahu kebenaran dan kenangan apa yang berusaha mereka tutupi. Glenn... harus menerimanya. Itulah yang akan menyembuhkan Glenn. Dan tolong jangan berhenti kerja, Ayah. Gak cuma Glenn yang butuh Ayah, semua orang butuh Ayah, terutama polisi. Kalau Ayah berhenti, Glenn gak akan bisa memaafkan diri Glenn sendiri..."
"Glenn..."
"Ayah... i'm just too tired. Glenn sudah lelah dengan semua ini. Itulah sebabnya, Glenn harus benar-benar mencari kebenaran. Kalaupun Glenn memang seorang pembunuh, i've to deal with it." Glenn memaksa senyumnya, "Sekarang, Glenn mau nanya, apa Ayah bisa ngebantu Glenn?"
"Tentu saja... apa yang kamu inginkan, Nak..."
"Kenapa Ayah meminta Glenn masuk SMA Mentari?"
Ayah Glenn terdiam sebentar, mencoba mencerna ucapan Glenn. Ia menatap Glenn lamat-lamat, "Karena kamu yang minta."
Glenn diam. "Glenn gak pernah minta..."
"Iya, kamu yang minta waktu itu."
Glenn menutup matanya sebentar, "Apa Ayah sudah memastikan kalau itu Glenn? Bukan 'mereka'?"
Ayah terdiam ragu beberapa detik. "Waktu itu... sedang sarapan. Kamu bilang ingin sekolah di SMA Mentari. Ayah tanya kenapa? Padahal kamu seharusnya pergi sekolah ke London. Kamu diam, terus bilang 'ada sesuatu yang harus Glenn selesaikan'. Ayah gak bertanya lebih lanjut, Ayah pikir mungkin berhubungan sama kasus kamu yang baru, jadi Ayah ijinkan."
"Gak ada sesuatu yang aneh sama Glenn, Yah?"
"Satu-satunya yang aneh saat itu adalah kamu terlalu diam. Yah, walaupun biasanya kamu memang tidak banyak bicara." Ayah mengerutkan keningnya, "Ada apa?"
"Ayah pernah bertemu mereka semua kan?"
"Iya, pernah. Tentu saja."
"Harusnya Ayah tahu... itu bukan Glenn." Glenn menggigit bibir bawahnya.
"Itu bukan Marco. Ayah sangat hapal tingkah lakunya ketika bertemu Ayah, dia akan bersikap kurang ajar. Itu jelas bukan Leo, tingkahnya tidak seperti anak kecil. Dan bukan Jeo, suaranya tidak seperti... kau tahu... perempuan."
"Tapi Ayah harus tahu bahwa Jeo bisa menyamar sepertiku. Bahkan ia bisa menirukan suaraku kan?"
"Ya, Ayah tahu. Tapi... Ayah tidak berpikir itu Jeo karena kamu bahkan sangat tenang memegangi pisau untuk mengoles selai kacangmu. Kalau saat itu Jeo mengambil alih tubuhmu, dia tidak akan tenang memegangi pisau. Itu sifat alaminya."
Glenn terdiam sebentar, "Apa Glenn memiliki kepribadian baru yang tidak diketahui orang lain? Apa... dia dengan begitu cerdiknya bersembunyi diantara kepribadian yang lain? Dan apa... itu Grimm?" Glenn sekuat tenaga menahan getaran pada suaranya. Ia takut, tapi ia harus berusaha menerima jika memang Grimm adalah salah satu kepribadiannya.
"Itu tidak mungkin... kamu selalu berada di sini dan-"
"Ayah gak akan tahu kalau aku menyelinap keluar pada tengah malam. Atau mungkin aku menelepon seseorang untuk menyuruhnya membunuh orang lain. Kalaupun bukan tangan Glenn yang secara langsung membunuh orang, otak Glenn bisa saja merencanakannya. Dan itu artinya, Glenn tetap pembunuh."
"Kamu ngomong apa sih?" Terlihat kilatan marah di mata Ayahnya, "Kamu itu bukan pembunuh!"
Glenn tersenyum kecut, "Sebagian diri Gleen bilang kalau Glenn bukan pembunuh, sebagian lagi percaya kalau di dalam diri Glenn ada pembunuh. Glenn ngerasa... ragu? Plin plan? Entahlah... berkali-kali Glenn ngomong ke Leya walaupun gak secara langsung, kalau Glenn bukan pembunuh. Tapi semakin Glenn cari, kebenaran malah mengarah pada pembuktian kalau Glenn memang pembunuhnya. Glenn mencoba bangkit, berusaha menerimanya." Glenn menatap sendu Ayahnya. Ayahnya pasti tidak terima, tapi... entahlah, Glenn tetap harus mencari.
"Dan coba Ayah lihat lagi, kenapa Glenn bisa sekolah di SMA Mentari? Kenapa? Dan dari awal Glenn masuk, sekolah itu langsung berubah. Padahal awalnya gak terjadi apapun. Glenn ingin percaya Ayah dan Ibu, kalau Glenn bukan pembunuh. Tapi sekali lagi, makin kesini Glenn makin ngerasa bahwa semua fakta balik menyerang Glenn."
Ayah Glenn terlihat marah, namun nada bicaranya tetap setenang permukaan air danau, "Kalau memang kamu Grimm, kenapa setelah keluar dari rumah sakit jiwa, kamu gak langsung membunuh orang? Kenapa butuh waktu 3 tahun?"
"Karena Grimm butuh seseorang yang patut dibela. Dan orang itu ketemu 2-3 tahun setelah Glenn keluar."
"Seharusnya kamu juga sekolah di SMP Juara... tapi nyatanya enggak kan?"
"Cukup mudah untuk seseorang yang memiliki kepribadian ganda dalam menjalani 2 kehidupan sekaligus." Glenn meneguk salivanya, menahan tangis, "Glenn... sampai sekarang masih gak percaya, Ayah... pertama kalinya dalam hidup Glenn, Glenn merasa sebimbang dan sebingung ini. Untuk pertama kalinya dalam hidup Glenn, Glenn merasa seplin-plan ini. Glenn gak tahu apa yang terjadi."
Ayah mendekat, mendekap Glenn lebih erat, "Ayah gak akan percaya kalau kamu itu pembunuh. Satu yang Ayah percaya, kamu itu anak Ayah. Dan kepercayaan Ayah gak akan goyah sedikitpun. Kalau memang setiap fakta yang kamu temukan itu malah membuat kamu semakin yakin bahwa kamu adalah Grimm, maka carilah terus. Cari sampai kamu benar-benar menemukan faktanya. Karena terkadang, 99 hal yang kamu lihat seperti 'benar' akan dipatahkan oleh 1 hal akhir yang memang benar-benar kenyataan. Kalau sampai akhir, ternyata kamu benar-benar menemukan titik terang bahwa kamu memang Grimm, Ayah tetap akan selalu ada di samping kamu, Nak."
Glenn membalas pelukan Ayahnya. Ia menemukan Ayah yang sangat baik, lalu apalagi yang membuatnya tak bahagia dan terus mengalami blackout? Kehilangan Ibunya? Mungkin... tapi bukankah ia tak punya lebih banyak alasan untuk membunuh? Ataukah... sifat alaminya adalah seorang pembunuh? Keinginan masa lalunya adalah membunuh seseorang?
Entahlah. Benar kata Ayah, Glenn harus mencari 1 hal akhir yang akan mematahkan 99 hal yang terlihat 'benar'.
"Ayah bisa temani Glenn mencari Ibu Sarah?"
"Kak! Jawab! Kakak ini siapa? Dandelion? Atau siapa?" Bentak Leya dengan kilatan penuh kemarahan sekaligus tangisan.
"Aku Dandelion," kata Dandelion pelan, ia menunduk, "aku... Dandelion. Yang memberikan kalung itu padamu." Tangannya gemetaran, ia mengangkat wajahnya lagi, matanya berkaca\-kaca, "aku sama sekali gak tahu itu apa dan kenapa bisa ada di sana... Leya... percayalah sama aku. A\-aku gak tahu kenapa ada foto Glenn di koperku... ini... aku pasti dijebak!" Dandelion bersimpuh, memegangi tangan Leya sambil menangis, "a\-aku kenal Marco. Tapi aku gak tahu kenapa ada fotonya di situ... itu Glenn? Atau Marco? Kupikir itu Marco..."
__ADS_1
Leya melebarkan matanya, "Ma\-Marco?"
"Geri Marco Maldivani. Ya, aku sering bertemu dengannya karena ia 'murid' Ayah angkatku. Dia sering belajar bedah dengan Ayahku. Ayahku bertemu dengannya di perpustakaan kota. Dia pernah menolong Ayahku, tapi Ayahku tidak cerita lebih detail. Ayahku sudah sangat tua, dia saat itu baru saja pensiun dan ia bahagia bisa berbagi ilmu dengan anak muda. Sejak saat itu, Marco beberapa kali menemui Ayahku dan selalu meminta Ayahku mengajari ilmu kedokteran dan lainnya. Terkadang ia juga ke rumah untuk belajar.
"Waktu itu dia mengaku kelas 3 SMP, aku juga kelas 3 SMP. Aku satu sekolah dengan Glenn, dia masih kelas 1 SMP. Jadi, jelas aku kaget banget ngeliat Marco. Aku ngerasa ada keanehan dengan mereka. Kalaupun kembar, seharusnya mereka seumuran kan? Terus waktu itu aku pernah tanya apa dia kenal Glenn, Marco selalu diam aja. Aku selalu ngerasa Marco jauh lebih muda dariku, tapi pikirannya bahkan lebih dewasa dariku. Tubuhnya tinggi. Gak ada yang menduga sekalipun kalau dia masih kelas 1 SMP dan ngaku ke aku kalau dia kelas 3 SMP. Siapa yang tahu kalau sekalipun dia bohong? Terus... apa mungkin dia memalsukan data diri atau bagaimana caranya dia masuk ke SMP Juara sebagai anak kelas 2 SMP sampai kelas 3 SMP? Yah... aku juga gak tahu. Gak ada yang gak mungkin, karena dia jenius. Ayahku sendiri bilang, kalau dia anak yang jenius luar biasa. Ayahku bahkan ingin menyekolahkannya. Dan... harus kukatakan sekali lagi... Glenn dan Marco sangat mirip, bahkan hampir tidak ada perbedaan."
Dandelion menggigit bibir bawahnya, "Aku berkata yang sebenarnya Leya... percayalah... dan harus kukatakan... aku merasa bahwa Glenn itu Marco. Dia aneh. Mereka berdua aneh. Marco dikabarkan bunuh diri, menghilang sama sekali di bulan Mei saat Adela meninggal. Terus, kamu tahu? Glenn juga masuk rumah sakit jiwa di bulan Juni, sebulan setelah Marco hilang. Leya, percayalah padaku. Aku merasa Marco belum mati. Aku yakin berita tentang dirinya yang meninggal karena bunuh diri itu tidak benar. Dan sekarang... dia berubah menjadi Glenn. Entah bagaimana caranya...
"Aku... aku gak pernah percaya Glenn. Dia... aku melihatnya seperti kepalsuan. Dia bertopeng. Aku gak tahu kamu mau percaya apa enggak saat aku mengatakan ini. Tapi... bagaimana caranya Marco dan Glenn begitu mirip? Apa kembar? Gak mungkin. Mereka beda 2 tahun..."
Leya memijat kepalanya. Ini terlalu rumit. Tidak masuk akal. "Ini gak masuk akal. Gimana caranya dia bisa menjalani 2 kehidupan sekaligus? Dan lagi... saat Geri kelas 2 SMP, artinya Glenn masih kelas 6 SD. *Nonsense*! Gak masuk akal!!"
"Aku juga beberapa kali bilang kalau itu gak masuk akal. Kemudian aku menyadari satu hal. Seperti yang aku bilang tadi. Marco gak terlihat seperti anak seusianya. Dia terlihat lebih muda dengan tubuhnya yang tinggi dan pemikirannya yang sangat cerdas. Dia dewasa. Apa orang dengan kepribadian ganda akan kesulitan menjalani 2 kehidupan sekaligus? Ya, mungkin. Tapi tidak ada yang tidak mungkin. Lagi pula, Glenn jarang masuk sekolah waktu kelas 1 SMP, mungkin saat SD dia sering kabur? Begitu juga dengan Marco. Marco sendiri bilang kalau dia sering bolos. Dia memang suka belajar dengan Ayah, tapi tidak setiap hari. Mungkin seminggu 2x aja. Leya, ini memang gila. Tapi kamu harus hati\-hati sama Glenn. Aku ngerasa ada yang gak beres sama dia."
Leya bingung ingin percaya siapa di saat seperti ini. Tapi wajah Dandelion begitu meyakinkan. Wajahnya yang khawatir dan ketakutan... itu sangat meyakinkan. Ia rasanya mau gila saja. Ia langsung beralih pada pertanyaan lain, "apa Kak Dedel kenal Grimm? Bagaimana caranya Kakak bisa ada di planetarium?" Leya masih sedikit sulit percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dandelion. Masalahnya, ini menyangkut Glenn. Sebagian hatinya berusaha teguh percaya pada Glenn, namun sebagian lagi mulai goyah terutama ketika Kakaknya sendiri yang berusaha meyakinkan. Siapa yang benar? Itulah sebabnya Leya mencoba mengetes Dandelion dengan pertanyaan ini.
"Ya aku kenal," katanya yakin, "ceritanya panjang. Dan... intinya... dia ingin membunuhku, Leya." Dandelion memegangi kedua pundak Leya, "Ya' aku sayang kamu. Aku di sini cuma sebentar aja karena cepat atau lambat dia akan jemput aku lagi. Aku udah jadi miliknya dan gak ada yang bisa mengganggu gugat."
"Maksud Kakak? Apa... Kakak benar\-benar pembantu Grimm?"
Dandelion menggelengkan kepalanya, "enggak Ya'... enggak... dia punya orang yang membantunya membunuh orang lain, asisten setianya. Tapi bukan aku. Aku hanya akan menjadi korbannya... tidak tahu alasannya."
Leya diam lagi, memandangi foto di tangannya. *Sial... kenapa gue harus lupa wajah Kakak gue sendiri? Bahkan di mimpi pun gue gak begitu ingat jelas wajah dia. Sial. Kenapa semuanya meragukan*...
Leya berusaha mencerna situasi rumitnya. Siapapun bisa gila saat berada di posisinya saat ini. Yang mana yang harus ia percaya? Glenn? Dandelion? Dua\-duanya sama\-sama meragukan. Sepertinya, Leya memang harus menyelidikinya sendiri. Tapi... mendengar bahwa Dandelion hanya punya waktu sebentar saja sebelum ia dijemput kembali oleh Grimm, tambah membuat Leya dilema sekaligus takut. Takut, bila gadis di depannya ini memang benar\-benar Dandelion dan Leya pasti akan sangat menyesal karena tidak mempercayainya. Tapi... apa Geri benar\-benar Grimm? Apa... dugaan Leya benar kali ini?
"Aku kenal dia. Tapi aku sama sekali gak pernah ngeliat wajah dia. Dia selalu menghubungiku lewat ponsel. Suaranya perempuan. Tapi aku tidak tahu juga, mungkin asistennya yang menelepon. Ah... aku hampir lupa... suara Marco itu seperti perempuan. Jadi... apa mungkin Glenn membuat suara seperti itu?"
Leya mengerutkan keningnya, "kenapa Kakak yakin banget kalau Marco itu Glenn? Suaranya aja beda kan?" Leya tidak bisa berhenti bertanya. Marco, kepribadian Glenn tidak memiliki suara perempuan. Ini membingungkan.
"Insting, Leya. Sumpah aku sendiri takut dan aku berharap Grimm bisa ditangkap. Kamu gak percaya sama aku? Yah... itu wajar. Kita baru bertemu dan kamu pasti curiga padaku. Tapi kamu harus tahu kalau aku ketakutan setengah mati..."
"Kakak gak perlu khawatir, aku yang akan ditangkap olehnya. Bukan Kakak." Nada bicara Leya terdengar sangat tenang padahal hatinya justru bergemuruh. Ketakutan, ragu, marah, sedih, semuanya bercampur menjadi satu. Ia bahkan sama sekali tak terdengar khawatir saat Dandelion berkata akan dibunuh Grimm. Ia... tidak merasakan apapun. Ia kehilangan rasa. Dan itu aneh. Ia... hanya sulit percaya. Apa ini wajar?
Semua cerita yang dikatakan Dandelion soal Marco terdengar benar. Tapi... Leya masih sulit percaya. Entah harus bagaimana lagi membuatnya percaya. Yang ia lihat saat kematian Geby itu mungkin saja Marco. Dan yang sering menerrornya di apartemen mungkin saja Marco pula. Jeo sendiri berkata bahwa ia sudah berada di apartemen. Marco yang membawanya. Marco juga meretas CCTV. Untuk apa Marco melakukan itu?
Tapi... kenapa Leya tetap sulit percaya. Tidak. Bukan sulit percaya, lebih tepatnya menolak percaya. Beberapa kali ia terombang\-ambing dalam keraguan, dan kali ini... ia memang berada di titik terbawah. Kepercayaannya pada Glenn semakin menipis. Tapi di satu sisi, ia yakin bahwa ini bukan salah Glenn. Ini... salah... entahlah Leya bingung. Tapi, jujur Leya ikut sulit percaya pada Dandelion.
Leya sendiri menanyakan pada dirinya, kenapa? Kenapa ia tak percaya Dandelion? Namun, hatinya tetap bersikukuh untuk tidak percaya. Yang jelas, ia harus mencari tahu dan menyelidiki semuanya sendiri.
"Leya?" Dandelion terlihat sungguh terkejut, "enggak. Nggak mungkin. Dia udah janji..." Dandelion hampir menangis, "dia janji gak akan ganggu kamu. Itu sebabnya aku nyerahin diriku kemarin sama dia..."
Leya baru saja hendak bangkit dari tempatnya duduk. Ia berhenti. Terutama ketika melihat Dandelion kali ini menangis, menutupi wajahnya. Leya bergerak memeluk Dandelion, membiarkan tangisan gadis itu membasahi pundaknya, "Leya... aku gak akan biarin dia ngambil kamu..." kata Dandelion sesenggukan.
"Kalau begitu, Kakak harus jujur sama aku soal Grimm."
"Aku udah jujur!" Dandelion melepaskan pelukan Leya, "segitu gak percayanya kamu sama aku? Kamu lupa siapa yang kamu tinggalin di mall itu? Siapa yang ninggalin aku saat kebakaran itu? Kamu!" Bentak Dandelion penuh amarah.
__ADS_1
Leya terdiam, terkejut.
"Kamu lupa Leya, kamu lupa. Kamu melihatku, tapi kamu berpaling. Kamu sengaja meninggalkanku, membawa Ayah pergi. Ya. Kamu sangat membenciku. Sekarang aku tanya, kenapa kamu ngelakuin itu ke aku?"
Mulut Leya gemetaran. Ia syok. Ia lupa... kenapa? Kenapa ia meninggalkan Dandelion? Tidak mungkin... tapi ia bahkan tidak bisa mengelak sedikitpun. Sial. Kenapa... masalah ini harus bersamaan dengan masalah Glenn dan psikopat gila itu. Seakan\-akan semuanya telah direncanakan dengan begitu rapi agar semua ini terjadi bersamaan.
Dandelion bangkit dari tempatnya duduk. "Aku gak pernah nyalahin kamu. Bertahun\-tahun aku berusaha percaya kalau mungkin aku melakukan sesuatu yang membuat kamu begitu membenciku. Tapi, sampai sekarang aku gak bisa menemukannya." Dandelion pergi keluar dari kamar, meninggalkan Leya yang kembali duduk bersimpuh dengan pundak gemetaran, syok.
Benarkah? Kenapa? Kenapa ia lupa? Kenapa... ia melakukan itu?
Yang mana yang harus ia temukan lebih dulu? Kebenaran soal Glenn, atau... masa lalunya?
Banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepala Glenn. Itulah sebabnya ia berada di sini, di depan pohon besar sambil memandangi 3 nama anak kecil yang terukir di sana. Ia membiarkan angin pagi menampar wajahnya perlahan. Ia bertanya pada angin, bertanya pada rumput tentang apa yang terjadi. Mencoba memahami situasi yang luar biasa aneh dan tidak masuk akal ini. Berharap ada satu saja petunjuk di saat ia sedang buntu seperti ini.
Apa aku benar-benar Grimm? Kenapa pembantuku sendiri menusukku waktu itu namun di lain sisi ia berkata bahwa aku akan menyesal mengetahui semuanya. Apa yang sedang ditutupi oleh alter-alterku? Masa laluku yang bagaimana? Ada apa di masa kecilku? Dan... kenapa harus aku yang mengalami ini semua?
Ia menyentuh perlahan ukiran nama itu. Terlintas diingatannya bagaimana ia dan kedua teman kecilnya itu mengukir nama di sini. Ini tulisan tangan Adrian. Ini tulisan tangan Friska. Dan ini tulisan tangannya sendiri. Mereka mengukir nama mereka masing-masing. Bersusah payah menaiki kursi agar ukirannya bisa diletakkan di tempat yang sedikit lebih tinggi. Alasannya mudah. Kata Adrian agar saat dewasa, mereka tak perlu berjongkok untuk menyadari dan melihat tulisan ini, seandainya mereka lupa. Jadi ketika dewasa mereka memandangi pohon ini, tulisan ini akan langsung terlihat bahkan dalam posisi berdiri.
Tunggu sebentar, Adrian berbicara?
Glenn menaikkan sebelah alisnya. Ah, tidak... Friska yang mewakili Adrian saat berbicara. Ah... Ya Tuhan... apa saja yang mereka lakukan? Apa benar-benar hanya menulis dongeng? Atau... ada hal lain?
"Glenn?"
Glenn menoleh, tersenyum. Itu Bunda, saat ini melangkah menghampirinya. "Sedang berusaha mengingat?" Kata Bunda.
Glenn mengangguk, masih tak mengeluarkan sepatah katapun. Pikirannya berusaha terbang ke masa lalu. Tapi tetap saja yang ia ingat hanyalah... masa... SMP nya? Sulit mengingat masa kecilnya. Ia pernah berada di rumah sakit jiwa, mengalami kegilaan tiada tara ketika suara-suara di kepalanya memberitahu apa yang harus ia lakukan. Kemudian... blackout. Yah seperti itu terus. Namun, ia mulai jarang mendengar suara 'mereka' yang Glenn yakini merupakan alter-alternya. Justru sekarang, ia lebih sering mendengar suara masa lalu?
Apa mungkin ia butuh hipnotis untuk menggali masa lalunya? Tapi... apa penting untuk mengetahui masa lalunya? Mungkin penting. Terutama masa lalu di saat Glenn masih bersama Friska dan juga Adrian. Mungkin hipnotis adalah jalan terakhir? Tapi bukankah seharusnya dokter Gerald sudah melakukan itu?
"Tidak perlu dipaksa-"
"Bunda seharusnya mengatakan yang sebenarnya soal saya." Glenn berkata tanpa menoleh, "kalau saya tak hanya berbeda, tapi juga... gila."
Bunda terkesiap sesaat. Bingung ingin berkata apa. Ia memilih diam, mendengarkan Glenn berbicara yang selanjutnya.
"Seharusnya Bunda cerita kenapa kamar kami tak pernah digunakan lagi untuk anak lain. Seharusnya Bunda cerita ada rahasia apa di balik kamar itu dan hal gila apa yang pernah saya lakukan dulu." Glenn balik menatap Bunda yang tak bisa berkata-kata. "Apa asumsi saya salah? Cukup aneh untuk sebuah kamar tidak difungsikan lagi di sebuah panti. Kamar yang cukup terisolasi dan jauh dari jangkauan kamar lain. Apa yang terjadi Bunda?"
"Bu-Bunda..."
"Bicaralah jujur, Bun. Saya sudah 17 tahun, jadi saya akan mengerti." Glenn tersenyum menenangkan sekan-akan menegaskan bahwa tak akan terjadi apapun dengan dirinya setelah mendengar cerita Bunda.
Bunda menghela nafas, "Bunda tidak tahu kalau kalian 'berbeda'. Bunda selalu berusaha percaya kalau kalian adalah anak-anak yang spesial. Tapi, seiring berjalannya waktu, Bunda merasa ada sesuatu yang aneh pada kalian. Kalian tidak suka bermain dengan anak lain, kalian lebih suka bertiga menghabiskan waktu bersama. Saat anak-anak lain lebih suka bermain mobil-mobilan dan boneka, kalian lebih suka membedah hewan, membuat hewan-hewan mati, seperti kucing, kodok, dan entahlah. Itu... aneh. Bunda berusaha percaya, kalian anak-anak yang luar biasa cerdas dan punya keingintahuan yang jauh lebih besar dibanding anak-anak pada umumnya. Tapi itu tetap aneh.
"Kalian suka membaca dongeng Grimm yang lebih menakutkan untuk anak seumur kalian. Bunda juga tidak tahu darimana kalian dapatkan dongeng-dongeng itu. Sampai pada akhirnya Bunda buang buku itu." Bunda menatap dalam mata gelap Glenn yang terlihat sangat terguncang saat ini, "Kamu lebih sering melihat. Tapi, terkadang kamu ikut melakukan hal aneh seperti yang Friska lakukan. Sementara Adrian, lebih banyak diam seperti biasanya dan diam di sampingmu. Jadi, Bunda panggil psikiater, almarhumah ibu angkat kamu, Bunga. Terutama ketika melihatmu bertingkah berbeda dari yang biasanya. Sering. Bunda sering dapat laporan dari sekolah kalau kamu bahkan mematahkan tangan kakak kelasmu. Dan dia kelas 6 SD. Sementara kamu masih kelas 1 SD. Kamu terkadang marah untuk alasan yang tak jelas, namun terkadang begitu ceria. Bunda kesulitan mengenalimu. Ya... kamu... yang paling berbeda di antara mereka, tapi Bunda yakin kalau kamu sebenarnya adalah anak yang baik." Suasana hening menyergap ketika Bunda diam sebentar.
Ada kekosongan hampa yang merasuki dada Glenn. Membuat Glenn... mati rasa? Tak tahu lagi bagaimana harus mengekspresikan wajah yang bagaimana. Bingung? Syok? Takut? Ntahlah.
"Bunda tidak mengisolasi kalian. Tidak pernah. Kalian sendiri yang menjauh. Lalu ada kenangan buruk apa di kamar kalian hingga Bunda memilih tidak menggunakannya lagi untuk anak-anak lain? Salah satu relawan bernama Dewi, mati menggantung dirinya di kamar kalian. Di depan kalian bertiga. Dan saat ibu menemukan kalian bertiga, kamu dalam keadaan tertidur di lantai, sementara Friska dan Adrian dalam keadaan ketakutan di pojok kamar, syok, menangis. Tapi tak sanggup berkata-kata. Ketika kamu bangun, Bunda bertanya. Kamu menjawab lupa. Setelah itu, Bunga mengadopsimu. Dia menduga kamu punya kelainan psikologis, itu yang membuatmu berbeda dari anak lain."
Glenn tertawa getir. Ia seperti tak terkejut lagi dengan apa yang dikatakan oleh Bunda. Seperti... pasrah? Mungkin sekarang ia justru terlihat gila dengan tertawa putus asa seperti itu. Bahkan setelah itu... dia terduduk dan menangis. Bunda... Bunda bingung melihatnya, namun ia sedikit takut melihat tingkah aneh Glenn.
Glenn benar-benar putus asa, terlebih lagi ketika ia menemukan bahwa perawat Sarah telah meninggal. Semua orang yang ingin ia tanyakan tentang kebenaran telah meninggal. Ibu Sarah, Friska, dan Adrian. Dan kini... Glenn benar-benar sudah sangat buntu.
"Kebohongan besar adalah... ketika saya terlihat bisa menerima semua ini dan berkata ingin bangkit..." kata Glenn terbata-bata, "kebohongan besar adalah ketika saya terlihat tak apa-apa. Terlihat kuat dan bahkan dengan penuh percaya diri berkata bahwa saya bisa mengatasi ini. Yang sebenarnya terjadi... saya tidak bisa mengatasi apapun. I can't handle all of this... i can't... even when mom said that i'm not a killer. Even when you said i'm a good boy. Even when daddy said he trust me and wanna help me to find the truth. Bahkan sampai sekarang, kebenaran balik menyerang." Glenn menangis putus asa, ia menunduk, wajahnya merah.
Bunda memeluknya, "Glenn..."
"Bunda tolong jangan katakan apapun. Gak ada satupun kata-kata yang akan menenangkan Glenn."
"Bunda tidak tahu harus berkata apa... Kamu harus menghadapi kenyataan. Hanya kamu yang bisa. Hadapi, kamu harus bisa melawan dirimu sendiri. Dan mimpi burukmu sendiri."
Aku akan terus menjadi mimpi burukmu. Sehebat apa kamu bisa melawannya? Aku adalah kamu, dan akan menjadi kamu seutuhnya. Karena kita satu.
Glenn merasakan kepalanya berdenyut hebat. Sakit sekali. Sekilas terlihat cuplikan-cuplikan bagaimana ia berada di depan mayat Samuel. Bagaimana tangan Glenn penuh darah. Dan bagaimana mengerikannya malam itu.
Aku memberimu mimpi buruk. Can you handle it without me?
Glenn mencengkram rumput begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Ia menghela napasnya perlahan. Ia teringat lagi pesan balasan yang ia baca di surat yang ia tinggalkan.
*Geri, apa kau ada di dalam tubuhku? Apa kau adalah... Grimm?
Kau bodoh, Glenn. Bodoh. Siapa mimpi burukmu*?
Air mata Glenn masih jatuh, tapi jantungnya berdebar tak karuan mengingat kata-kata itu. Dan berusaha mengingat siapa yang mengatakan hal itu di malam itu.
Aku akan melakukannya untukmu. Glenn melebarkan mata. Itu suaranya. Apa yang ia katakan?
Siapa mimpi buruk Glenn? Dirinya sendiri? Benarkah? Glenn rasa, bukan. Sesorang yang akan menjadi mimpi buruknya... siapa?
Ponsel Glenn bergetar. Bunda meregangkan pelukannya dari Glenn. Glenn melihat ponsel yang kacanya telah retak akibat ia lempar. Tapi... kenapa ponsel ini bisa ada di kantongnya lagi? Ah... itu bukan hal yang aneh. Alternya pasti yang melakukan ini.
*Aku akan menjemput Alice. Selamatkanlah dia. Kita akan bertemu lagi, aku tidak sabar. Dimana kita akan bertemu? Wonderland, tempat kesukaanmu :) aku cukup adil bukan? Itu terlalu mudah.
-Grimm*
__ADS_1