
"Je-Je... Jeo?"
Sial...
Terdengar suara tawa 'perempuan' di ujung sana. Suara yang dibuat-buat lembut. Ini... benarkah ini Jeo? Leya langsung gemetar.
"Jeo... Jeo tolong jangan apa-apain Glenn. Jangan lukain dia. Dia gak salah apa-apa. Jeo... tolong... jangan lukai dirimu sendiri..." Leya memohon hampir menangis. Rumah Glenn sedang kosong, jarak antara apartemen dan rumah Glenn pun terbilang cukup jauh. Bagaimana ini?
"Kamu tahu kenapa aku selalu berusaha membunuh diri?" Katanya.
Leya diam. Ia berusaha keras menahan tangis. Otaknya mulai berpikiran yang tidak-tidak. Bisa saja saat ini Jeo sedang melukai dirinya sendiri sambil menelepon.
"Karena Grimm tidak akan pernah berhenti sebelum Glenn benar-benar mati. Aku menyelamatkan Glenn. Pada akhirnya dia juga akan mati. Dan mungkin jauh lebih menyakitkan. Jadi lebih baik aku yang membunuhnya lebih dulu," bisik Jeo dingin, "bukankah seharusnya Glenn berterima kasih? Ini keinginan terbesarnya. Aku cerminan dari keinginan terbesar milik Glenn. Yaitu... mati."
"Enggak Jeo enggak... Jeo dengarin aku, Jeo... Glenn masih bisa hidup, memperbaiki semuanya, dan menangkap Grimm. Dia gak harus berakhir dalam kematian."
Tiba-tiba terdengar suara sesenggukan di sana. Jeo menangis, tapi ia tak berkata apa pun.
"Jeo... Glenn masih bisa punya kesempatan buat hidup. Kamu gak berhak ngambil kesempatan hidupnya. Dan Jeo... aku tahu kamu mengenal Grimm. Tolong Jeo... tolong beritahu aku. Dengan begini, kita bisa menyelamatkan Glenn."
Jeo masih tak mengatakan apapun. Ia masih menangis.
"Jeo..."
"DIAM! Kamu gak tahu apapun. Gak usah ikut campur! Gak ada yang bisa menyelamatkanku. Aku... aku dan Glenn harus mati... sebelum semua orang mati!" Pekiknya marah. Telepon kemudian langsung dimatikan.
"Jeo? Jeo?!" Leya mulai panik. Ia mengacak rambutnya. Dengan cepat, ia berusaha menelepon kembali ponsel Glenn, namun tak ada jawaban. Ia segera menelepon Ayah Glenn, sementara tanpa pikir panjang, ia juga keluar dari kamar apartemen, berusaha menyusul.
"Om? Om tolong pulang ke rumah Om sekarang."
"Ada apa Leya?"
"Om... cepat... Jeo muncul..." Suara Leya semakin lama semakin parau. Kepanikan jelas terdengar di suaranya.
"Siapa?"
"Jeo..."
"JEO?! Astaga..." Klik. Telepon dimatikan. Jelas, Ayah Glenn terdengar begitu panik. Ia pasti langsung pergi menuju rumahnya.
Leya melangkah menuju lorong tanpa rasa takut sama sekali. Ia lupa bahwa sebelumnya ia takut keluar dari apartement. Tapi... bagaimana caranya ia bisa pergi ke rumah Glenn selarut ini? Sial...
Leya menggigit bibir bawahnya. Siapa yang bisa ia andalkan? Rosa? Tidak... hal gila adalah membangunkan Rosa di malam selarut ini. Tidak mungkin ia diizinkan oleh orangtuanya. Supirnya? Iya... ia harus menelepon supirnya.
Leya terus melangkah menuju lift. Baru saja ia ingin menelepon supirnya, langkah kakinya terhenti ketika lift terbuka. Leya diam mematung, seketika tubuhnya kaku. Itu... Glenn, menggunakan jaket jamper hitam dan topi hitam.
"Hai, Lily," katanya dengan suara seperti 'perempuan' yang dibuat-buat.
"Lo... Jeo?" Kata Leya gemetaran.
"Hmm... aku gak perlu jawab. Kamu bisa simpulin sendiri."
Leya mundur perlahan, "da-darimana kamu tahu rumahku..."
"Hmm sepertinya tadi Marco mau menemui kamu. Jadi, aku sudah berada di sini." Dia mengedikkan bahunya, "ah... pakaian ini menyebalkan..." tambahnya. Ia kemudian tersenyum miring, kembali menatap Leya, matanya masih sembab, "katamu aku gak boleh nyakitin diriku sendiri dan Glenn." Ia melangkah mendekat, mengeluarkan sebilah pisau dari saku jaketnya, kemudian memain-mainkan pisau itu. Leya semakin mundur.
"Menurutmu, kenapa Glenn ingin mati?" Tanyanya tersenyum dingin, namun air matanya menetes. "Dia seharusnya sudah mati. Dia seharusnya gak hidup saat ini setelah kejadian 3 tahun lalu. Ya, sejak saat itu keinginan terbesarnya adalah mati. Kalau tidak, Grimm tidak akan berhenti. Aku hanya membantunya mewujudkan mimpi itu saja." Dia mengedikkan bahu, tersenyum, kemudian menghapus air matanya. Pisau itu masih ia pegangi.
"Jeo... Jeo dengar aku... kamu gak harus ngelakuin ini..." Leya mulai ketakutan, "Jeo... aku gak tahu apa yang terjadi sama kamu. Aku juga gak tahu apa yang terjadi sama Glenn. Tapi... kamu harus tahu kalau banyak banget orang yang mencintai Glenn. Kamu gak boleh merenggut dia dari kami..."
"Diam," katanya dingin sekali.
"Glenn... Glen bangun..." Leya meneteskan air matanya.
"He isn't here. Dia sedang tidur." Jeo tersenyum, "Lily. Kamu tahu apa yang sekarang menjadi misiku? Membunuh Glenn di depanmu. Ya... ada kepuasan tersendiri membunuh diri di depan orang lain. Terutama kamu. Apa kamu bisa mencegahnya?" Dia tertawa kecil mengerikan.
"Jeo... jangan..." Leya menggelengkan kepalanya. Sebuah dilema muncul. Ia takut pada Jeo namun ia juga takut Jeo menyakiti diri sendiri.
Jeo mengacungkan pisaunya ke leher sendiri, "kamu gak berani kan mendekatiku?" Katanya tertawa, namun matanya berkaca-kaca. "Buka pintu kamar apartementmu, sekarang. Pisau ini kapan saja bisa menusuk leherku. Jangan terpikir sedikitpun untuk kabur. Kamu akan menyesal."
Leya meneguk salivanya. Ia ketakutan sambil menangis. Terpaksa ia mengikuti kemauan Jeo, walaupun ia sama sekali tidak tahu apa yang Jeo inginkan. Yang jelas, jangan sampai Jeo melukai dirinya sendiri.
"Kamu tahu betapa sulitnya aku hingga berada di sini? Ini menyebalkan. Untung saja si brengsek Marco sudah meretas CCTV-nya," katanya berbisik. Saat ini, ia berada di belakang tubuh Leya yang sedang berusaha membuka kunci pintu apartement gemetaran.
Tiba-tiba, pintu tetangga seberang terbuka. Mereka berdua terkejut. Jeo semakin menunduk hingga wajahnya tertutupi topi, sementara Leya menghentikan kegiatannya, kemudian berdiri menghadap tetangganya.
Tetangganya seperti baru bangun. "Eh? Leya? Aku kira siapa ribut-ribut semalam ini."
"A-ah... maaf tante. A-ada..."
"Sepupu... jangan macam-macam. Kamu gak mau ada keributan di sini kan?" bisik Jeo di belakang tubuh Leya.
"Sepupu saya baru datang tadi tante... ma-maaf mengganggu..."
"Ohiya... gak papa. Gak terlalu kedengeran kok di dalam. Tadi aku mau ke minimarket bawah aja kelaperan malem-malem, pas di depan pintu baru kedengeran, terus aku bingung ada keributan apa. Jadi ya sekalian aja aku cek. Yaudah, aku ke bawah dulu ya..." Tante Gisel, tetangga Leya langsung pergi menuju lift. Ia tak begitu memperhatikan mimik wajah Leya yang ingin minta tolong.
Setelah lift tertutup, Jeo langsung memutar tubuh Leya, "cepat buka pintunya!" Katanya gemas.
"I-iya..."
Pintu terbuka, mereka masuk, kemudian Jeo menutup pintu rumah, menguncinya dengan kunci dari dalam. Leya berdiri menjauhi Jeo. Jeo masih mengacungkan pisau ke lehernya sendiri, "hanya sama kamu aku bisa berbicara leluasa seperti ini. Aku belum pernah bicara panjang dengan siapapun." Dia masih memainkan pisau, berhenti mengacungkan pisau ke lehernya. Ia duduk di kursi tamu, "baiklah, kau ingin mendengar sebuah cerita?" Ia duduk menyilangkan kakinya dengan begitu anggun. Leya masih berdiri, entah apa yang membuatnya menangis. Ia sama sekali tak punya energi untuk melawan Jeo. Ia ketakutan. Mengerikan melihat Glenn berubah seperti ini.
"Kenapa kalian tiba-tiba muncul? Awalnya... awalnya..." Leya mulai sesenggukan.
Jeo diam, menatap Leya tajam. "Karena Glenn yang ingin kami muncul. Ah... yang benar saja..." Jeo memutar bola matanya, "apa kau benar-benar tak ingin dengar ceritaku?" Tanya Jeo.
"Jeo... apa kamu Grimm?" Leya akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. Ia sudah tak tahan.
Jeo justru tertawa. Tawa yang begitu mengerikan menggema di ruangan ini, hingga tawa itu hilang. "STOP CALLIN' ME JEO! IT ISN'T MY NAME!" Nada suaranya tinggi, ia melotot garang, tapi suaranya tak benar-benar begitu nyaring. Wajahnya memerah. "Kamu itu menyebalkan! Dan siapa tadi kamu sebut? Grimm? Hahahaha apa aku tampak sepertinya?" Jeo berdiri, mendekati Leya, mencengkram kuat leher Leya hingga gadis itu kesulitan bernapas, "we all knew who is Grimm. And Glenn knew it too, but he's too stupid to deal with it. Dia gak pernah menerima yang sebenarnya." Jeo berbisik ke telinga Leya.
Ia melepaskan cengkraman tangannya dari Leya, "I shouldn't kill someone. Tapi melihatmu, entah kenapa naluri pembunuhku semakin membara. Ah, tidak. Ini berbahaya, Lily."
Leya memejamkan matanya ketakutan.
"Tadinya aku ingin menceritakan sesuatu, tapi karena kamu menyebalkan, aku mengurungkan niatku." Jeo bergerak menjauhi Leya. "Aku sepertinya terlalu banyak mengulur waktu denganmu. Yang ingin kulakukan hanyalah mati di depanmu. Tidak tahu kenapa hahaha..."
Leya membuka matanya, saat ini Jeo sudah membuka jaket, menggulung baju kemeja hitam lengan panjangnya. Ia menggoreskan pisau beberapa kali ke tangannya sambil berhitung, "satu..." ia menggores bagian lengan di dekat siku, "ah ini menyenangkan. Dua..."
"Jeo stop!" Leya menangis.
"Tiga..." goresan semakin dekat dengan nadinya. "Empat..."
"Stop!" Entah kekuatan apa yang menggerakkan Leya, Leya berlari maju ke depan. Tubuhnya menghantam Jeo. Jeo terbaring di lantai, Leya duduk di atas tubuhnya, kemudian berusaha merebut pisau.
Pergulatan terjadi. Sekuat apapun Leya, ia akan tetap kalah dengan Jeo. Walaupun diri Jeo adalah perempuan, tubuhnya tetap tubuh lelaki. Kali ini, Jeo malah duduk di atas tubuh Leya. Ia tersenyum miring, mengacungkan pisaunya kali ini ke leher Leya. "Ssstt jangan bergerak," katanya. Ujung pisau benar-benar berada 1 inchi di dekat leher Leya. Bergerak sedikit akan tertusuk, "jangan ribut. Nanti seseorang akan datang," katanya. "Kamu tidak seharusnya mencegahku..."
"Glenn bangun..." Leya menangis, "Glenn... tolong bangun..."
"Dia gak di sini!" Kata Jeo geram.
"Glenn... gue mohon... lo bisa ngelawannya... bangun Glenn... ini bukan lo. Ini bukan salah lo... gue percaya ini bukan lo..."
"Rrggghhh!" Jeo memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit. Pisau terjatuh dari tangan. "Leya..." katanya kemudian pingsan. Itu... suara Glenn.
"Glenn..."
Gelap. Ini di mana? Glenn membuka matanya, ia berada di rumah yang... entahlah, Glenn tidak benar\-benar tahu ia berada di mana.
Glenn memijat kepalanya yang sakit dengan tangan ketika ia berusaha bangun dari tempatnya terbaring di lantai. Tapi... tunggu sebentar... ini... darah... dan pisau. Ada darah di tangannya yang sedang menggenggam pisau. Semua itu masih nampak jelas terlihat karena cahaya lampu di luar ruangan yang masuk melalui sela ventilasi.
Glenn menjatuhkan pisaunya ke lantai. Ia gemetaran. Apa yang baru saja ia lakukan?
Pandangannya teralih pada anak berusia belasan tahun yang tiba\-tiba muncul, bersimpuh di samping... mayat? Semuanya seketika muncul. Bahu anak laki\-laki itu terlihat gemetaran. Ia memegangi pisau berlumuran darah, jelas ia sedang ketakutan. "A\-aku... aku tidak melakukan ini..."
__ADS_1
Itu... Glenn saat usianya masih 13 tahun. Dan mayat pria itu tidak lain adalah Samuel Alatas. Glenn gemetaran melihat pemandangan mengerikan itu. Air matanya jatuh, bukan air mata sedih melainkan air mata ketakutan. Ia sedang berada di memorinya dulu. Memori paling mengerikan yang sangat ingin ia lupakan, dan memang memori ini sudah terlupakan. Dikubur dalam\-dalam oleh para alternya.
Kepala Glenn semakin sakit, air mata terus mengucur deras. Sementara, Glenn remaja masih gemetaran. Ia masih menggenggam pisau, seperti bertanya\-tanya apa benar ini dirinya.
"Kamu yang melakukannya," suara perempuan tiba\-tiba muncul. Dua Glenn langsung menoleh ke sumber suara. Seorang remaja perempuan menampakkan dirinya di balik kegelapan, "aku hanya membantumu," katanya.
Itu siapa? Wajahnya masih tertutup kegelapan, hanya rambut panjangnya yang samar\-samar terlihat, dan baju terusannya.
"Tidak! Aku tidak mungkin melakukan ini!" Pekik Glenn remaja sambil mengepalkan tangannya.
"Kamu lupa. Selalu begitu," tambahnya.
Siapa itu? Friska? Atau siapa?
"Aarrgghhh!" Pekik Glenn remaja memegangi kepalanya yang sakit. Ia menjatuhkan pisaunya.
"Kamu pendongengnya, Glenn."
"Bukan!!"
"Kamu tidak seharusnya hidup. Semua ini tidak akan berakhir kalau kamu masih hidup. Kamu seharusnya mati."
Glenn remaja tiba\-tiba pingsan, tak sadarkan diri.
Seketika semuanya menghilang. Hanya tersisa Glenn sendirian di ruangan gelap dan kosong. Glenn terduduk. Ia menangis putus asa dan ketakutan. Itu bukan dirinya... iya... ada yang salah dengan ingatannya, pasti begitu...
Glenn memeluk lututnya. Ia... ingin mati saja agar semua ini berakhir. Ia lelah. Benar, ia tak seharusnya ada. Grimm... adalah dirinya sendiri. Semua ini ada di dalam rencananya sendiri. Ia harus mati.
"*Glenn bangun*..."
Suara itu tiba\-tiba muncul dan menggema. Itu... Leya? Ya... itu suara Leya... isak tangis gadis yang sangat ia kenali.
"*Glenn... tolong bangun*..."
Suara itu masih menggema. Glenn tahu ia sedang berada di alam bawah sadar, tapi ia enggan bangkit. Ia ingin seperti ini saja. Berada dalam kegelapan sendirian.
"Leya..."
"Itu bukan kamu, Glenn. Ibu tahu kamu anak baik." Glenn menengadah, ada ibunya di sana tengah tersenyum manis. Ibunya menempelkan lutut di lantai agar wajahnya sejajar dengan wajah Glenn yang sedang memeluk lututnya sendiri. Ia mengelus lembut puncak kepala Glenn.
"Ibu!" Glenn langsung memeluknya erat, "Glenn rindu..."
"Ibu juga, Sayang..." kata Ibu membalas pelukan Glenn lebih erat.
"Glenn... Glenn capek. Glenn ingin ikut Ibu saja." Glenn menangis di pelukan Ibunya. Meluapkan segala rasa emosi, kesedihan, keputus\-asaan, dan kerinduannya.
"Glenn gak bisa ikut Ibu, karena banyak yang masih membutuhkan Glenn. Sayang, Ibu cuma mau bilang kalau kamu itu anak baik. Kamu bisa melawan ini semua. Ingatlah kenangan indah kita bersama. Ibu susah payah membuatnya, agar kamu menerima masa lalu kamu. Maaf, Ibu gak bisa selalu ada di sisi kamu secara langsung."
"Bu, Glenn ini pembunuh. Glenn... gak akan kuat Bu. Glenn seharusnya mati waktu itu."
Ibunya melonggarkan pelukan, ia tersenyum manis dengan mata teduhnya, "Sayang, ingatlah yang pernah Ibu ucapkan. Ketika kamu menerima semuanya, kamu akan tahu siapa diri kamu sebenarnya. Kamu akan tahu apa yang ada di dalam diri kamu. Dan... Ibu yakin kamu bisa sembuh. Kamu harus kuat. Lawan semuanya, terima semuanya. Kamu gak perlu siapapun untuk menutupi masa lalu kamu. Lawan! Karena kamu gak butuh 'mereka' untuk membentengi diri kamu."
"Tapi Bu... Glenn\-"
"Sayang. Kamu saat ini punya banyak orang yang bisa membuat kamu bahagia. Jangan mengecewakan mereka. *You're not a killer. You deserve a good people around you, Dear*." Tubuh itu lama kelamaan samar, senyumnya pun lama\-kelamaan menghilang.
"Ibu jangan pergi dulu..."
"*Stay strong*!" Kata Ibu untuk terakhir kalinya sebelum sosoknya lenyap dari pandangan. Bersamaan dengan itu, ruangan ini berubah seketika. Samar namun lama kelamaan terlihat jelas wajah Leya di depan Glenn. Glenn tengah menindih tubuh Leya.
"Leya..." katanya sebelum akhirnya kembali tak sadarkan diri.
Glenn membuka matanya. Apa ia masih berada di alam bawah sadar? Sepertinya tidak... ia duduk di atas kasur, memijat kepalanya. Ada Leya sedang tertidur dalam posisi tubuh yang sedang duduk, namun kepalanya menempel di atas ujung kasur. Gadis itu menggenggam tangan kiri Glenn dalam keadaan tertidur. Perlahan, Glenn melepaskan genggaman tangan itu.
"I'll be back after i know all about this. Saat gue kembali, gue akan membuktikan ke lo kalau gue bukan pembunuh, Ya'." Glenn bergerak mengecup puncak kepala Leya. Ia sedikit bersyukur bahwa gadis itu tak apa-apa. Glenn tahu dirinya tadi mengalami black out. "Dan saat gue benar-benar kembali, gue pastikan kalau lo gak perlu takut lagi dengan alter-alter gue, karena mereka semua akan menghilang," katanya dengan tatapan penuh keyakinan.
"Sorry, karena membuat lo selalu berada di dalam keadaan berbahaya, Leya. Thankyou for trusting me. Gue pergi. See you soon, Lily Cattleya Gardenia," kata Glenn berbisik.
Glenn bangkit dari kasur, melangkah menuju pintu. Sebelum ia benar-benar keluar dari sana, ia balik memandang Leya yang tengah tertidur pulas. Ia tersenyum lirih.
"You don't deserve a man like me. You deserve better."
*Ting tung... ting tung*...
__ADS_1
Silau. Leya mengerjap. Ia terkejut ketika di atas kasurnya tak ada lagi Glenn. Ke mana laki\-laki itu? Ia mulai panik.
*Ting... tung*...
"Leya!" Samar\-samar terdengar suara pria dewasa di luar. Itu pasti Ayahnya Leya bergegas membuka pintu.
"Kamu kok gak ke rumah sakit? Ayah telepon beberapa kali." Ayahnya terlihat sedikit sebal, di sampingnya berdiri seorang gadis yang tak lain adalah Dandelion. Dandelion tersenyum tipis.
"Maaf... Leya ketiduran..." kata Leya dengan nada suara rendah.
"Yaudah, tolong kamu anterin Dedel ke kamar ya. Kamu sekamar sama Kakak kamu. Ayah harus balik ke kantor. Bisa kan?"
Leya mengangguk. Ayahnya masuk dengan cepat menuju kamar sambil membawa koper berisi baju\-baju Dandelion. Kemudian, ia pergi lagi. Tapi sebelum pergi, ia mengecup kening kedua putrinya, "Hari ini kan minggu, kamu ajak Dedel jalan\-jalan ya. Pokoknya kalian berdua harus libur bareng. Ke mall kek, ke mana kek terserah. Oke?"
Keduanya tersenyum dan mengangguk.
"Kalau ada apa\-apa, langsung telepon Ayah. Jangan lupa makan, kalian makan di luar aja ya. Terus jangan lupa mandi, jangan lupa\-"
"Telepon Ayah nanti sore," tambah Leya seakan hapal dengan seluruh perkataan Ayahnya. Mereka bertiga tertawa kecil dan mengangguk.
"Ah... sayang... akhirnya Ayah bisa ngeliat kedua putri Ayah bersatu lagi." Ayah memeluk mereka berdua sekaligus, seakan\-akan tak rela meninggalkan keduanya, "Nanti Ayah pulang lebih sore, terus malam kita jalan bareng dan makan malam bareng. Oke?"
Leya tersenyum.
"Ayah fokus aja dulu. Beberapa hari ini Ayah gak fokus kerjanya. Dedel bisa kok berdua Leya."
Ayah tersenyum. Dandelion memang sedewasa itu sejak kecil. Ia mengelus puncak kepala Dandelion. "Kamu kembali, Ayah senang sekali," kata Ayah. "Baiklah, Ayah berangkat ya, sayang."
Dandelion dan Leya mengangguk.
Ayah benar\-benar telah berangkatn yang tersisa hanyalah mereka berdua. Leya masih merasa canggung, sementara Dandelion nampaknya biasa saja.
"Jadi... di mana kamar kita?" Tanya Dandelion tersenyum.
"Ah... ayo, Kak." Mereka berdua masuk ke kamar.
"Aku gak menyangka... kalau kita akan sekamar seperti ini..." katanya berbinar. "Ohiya... kamu uda sarapan pagi? Aku siapin ya?"
"Enggak usah, Kak... Kakak kan baru pulang dari Rumah Sakit..."
"Gak papa. Aku udah gak papa kok. Nanti setelah sarapan, kita nonton di rumah, oke?" Dandelion terlihat sangat bersemangat, "kamu mau *omurice*? Itu kesukaan kamu kan..."
Leya mengangguk, tersenyum lebar. Dandelion bahkan masih ingat makanan kesukaannya. "Aku bantuin ya Kak?"
"Ah gak perlu... aku pengen sarapan hari ini bener\-bener aku yang masak semua. Kamu tunggu di sini aja ya, Ya'..."
Dandelion pergi ke dapur. Leya berniat ingin membereskan koper milik Dandelion, agar Kakaknya tak perlu kelelahan untuk membereskan koper lagi sehabis masak.
Leya mengeluarkan seluruh isi koper Dandelion. Hanya ada pakaian. Tapi... Leya merasa ada sesuatu yang aneh ketika menyentuh dinding koper. Seperti... ada resleting lain. Seperti tempat lain di dalam koper ini. Entah kenapa, keingintahuan Leya semakin besar. Leya berusaha membuka resleting itu, kemudian dinding koper terbuka.
Leya syok. Ia terdiam di tempat.
Isinya adalah potongan\-potongan foto wajah. Wajah tersebut tidak lain adalah wajah Glenn. Leya mengambil satu potong foto. Apa... ini potongan foto milik Adela? Foto Adela bersama Raya dan... ini Glenn?
Ini pasti salah...
Leya segera mencari buku catatan Adela, ia ingat bahwa Glenn menyelipkan foto yang mereka temukan di villa milik Ayah Adela itu. Leya menemukan buku catatan itu, mencari foto Adela, kemudian mencoba menyocokkan foto itu dengan potongan foto kepala Glenn.
Dan... cocok...
Leya terduduk di tempat.
Inilah alasan mengapa Belvina mengenal Glenn. Ini juga alasan mengapa waktu itu Raya datang menemui Glenn.
Glenn adalah Geri... tidak salah lagi...
Glenn memiliki kepribadian Geri...
"Leya... kamu mau aku bikinin susu\-" Dandelion yang berdiri di depan pintu langsung terkejut melihat Leya terduduk lemas dengan foto dan potongan foto wajah di tangannya. Ia juga semakin terkejut melihat kopernya terbuka seperti itu.
__ADS_1
Leya menoleh, matanya mulai berair, "Siapa Kakak? Apa... Kakak yang selama ini membantu Grimm? Dan foto\-foto ini... kenapa ada di koper Kakak?" Tanya Leya gemetar.