Once Upon a Time

Once Upon a Time
Serigala dan Gardenia Putih


__ADS_3

Seorang laki-laki dengan kepala bersimbah darah tewas mengenaskan di dekat wastafel dengan posisi tubuh telentang. Kaki dan tangannya terikat, mulutnya ditutupi sapu tangan putih dengan bercak darah. Dan di ujung wastafel terlihat cairan merah kecoklatan yang mulai kering.


Bagian yang paling mengenaskan adalah kelopak matanya terjahit, sehingga mata laki-laki itu menutup sepenuhnya. Walaupun mulutnya tertutup sapu tangan, Leya tetap bisa mengenali laki-laki itu dengan jelas. Lihat saja hidungnya runcing itu, lalu rambut gelapnya yang lembut dan acak-acakan, serta alisnya yang lebat. Ini jelas Raya!


Leya bisa menangkap sesuatu yang unik dari kematian laki-laki itu. Ada sebuah bunga gardenia putih yang tertempel di jempol kanan laki-laki itu. Tunggu sebentar, tertempel? Tidak mungkin.


Tanpa aba-aba Leya menerobos masuk tanpa bisa ditahan oleh Pak Karsa. Pak Sugeng menyulitkan pergerakannya, padahal ia ingin memeriksa apakah Raya sudah meninggal apa belum. Leya yang dihadang Pak Sugeng berusaha meraba denyut nadi tangan kanan Raya. Tidak ada... denyut nadi...


Tak ada yang berani mengangkat tubuh Raya karena terlalu takut. Bahkan Raya dibiarkan saja sambil menunggu tim medis dan polisi datang.


"Apa kita bawa ke UKS saja?" tanya Pak Karsa.


"Jangan sembarangan! Kita harus menunggu tim medis atau polisi datang! Mungkin saja kita bisa menghilangkan bukti yang polisi cari atau sidik jari kita tertempel." ujar Pak Sugeng.


"Tapi..."


"Tunggu sebentar lagi mereka pasti datang."


Pak Karsa terpaksa mengangguk. Ia membuang wajah, tak sanggup melihat wajah murid kesayangannya yang mati begitu mengenaskan.


Leya meneliti, ia bisa melihat bunga gardenia putih itu. Satu yang bisa Leya pastikan, tangkai bunga gardenia itu dijahit di kulit jempol kanan Raya.


Polisi dan tim medis datang memblokade toilet. Pengap, Leya keluar dari toilet yang saat ini jadi kepungan manusia.


Wajah mengenaskan itu terus terbayang di kepala Leya. Kelopak mata terjahit dan bunga Gardenia putih.


Tanpa pesan, tanpa jejak.


Siapa yang membunuh Raya?


 ~~~


Suasana berkabung masih kental terasa. Terutama bagi penggemar-penggemar gadis yang begitu memuja Raya. Hari ini, sekolah diliburkan karena semua orang pergi ke rumah Raya mengucapkan bela sungkawa. Polisi juga meminta keterangan pada orang-orang dekat yang kemarin sempat bersama Raya setelah mereka semua pulang dari rumah Raya dan kembali ke sekolah untuk pengarahan.


Tidak ada saksi mata yang melihat dengan siapa Raya pergi ke toilet atau siapa yang masuk ke toilet bersamaan dengan Raya, karena berdasarkan keterangan guru yang saat itu mengajari Raya, Raya pergi ke toilet pada pukul tiga sore dan tidak kembali hingga pukul empat sore--saat pulang sekolah.


Saksi pertama yang melihat mayat Raya adalah Chandra--wakil Ketua OSIS yang tidak sengaja pergi ke toilet dan menemukan Raya sudah tak bernyawa dengan keadaan mengenaskan. Ia langsung memanggil guru dan berteriak minta tolong.


Semua guru dimintai keterangan, siapa saja siswa yang keluar sekitar pukul tiga sampai empat. Atau yang tidak berada di kelas pada pukul itu--saat tragedi diperkirakan terjadi. Dan ada sederet nama yang muncul.




Geby Jacinda Alice, kelas XII IPS 1




Alfi Ganendra Ardani, kelas XI IPA 6




Ansel Gaozan Faustin, kelas XII IPA 1




Gleen Warren Rajendra, kelas X IPA 1




Hah? Gleen?


Leya mengerutkan keningnya, kemudian mengingat-ngingat kembali. Ah, itu jam pelajaran Sejarah. Jelas Leya tertidur pulas.


Saat ini Leya tengah bersembunyi di balik pilar besar dan menguping pembicaraan satu per satu guru yang memberi keterangan pada polisi. Leya mendekatkan wajahnya lagi, berusaha mendengar lebih jelas.


"Ya'! Ngapain!" Seseorang menepuk pundaknya keras. Membuat Leya hampir saja terjatuh. Leya mengusap-usap dadanya yang sakit akibat terkejut. Dilihatnya seorang gadis berambut gelombang yang berdiri di belakangnya.


"Rosa!" bisik Leya gemas, "Psstt! Diem! Ntar ketahuan!!"


"Lo ngintipin siapa?"


"Tuh...," Leya menunjuk polisi dan Bu Dini yang saat ini duduk berhadapan dengan polisi.


Rosa mengangguk dan membulatkan bibirnya yang membentuk huruf O.


"Katanya Gleen ikut dicurigai ya?" bisik Rosa, "Iyasih. Pas jam setengah tiga dia keluar katanya ke wc, terus balik lagi 15 menit kemudian."


Setengah 3, dan kembali 15 menit. Apa mungkin dia bisa ngelakuin semua itu dalam waktu 15 menit?


"Gitu ya?"


"Eh btw, kok lo jadi nguping gini? Tumben." Rosa menarik lengan Leya menjauhi pilar untuk kembali ke kelas karena sepertinya Pak Polisi telah selesai menanyakan beberapa pertanyaan pada Bu Dini.


"Penasaran aja sih."

__ADS_1


"Gak biasanya lo penasaran sama sesuatu. Tumben banget nih."


Leya hanya nyengir lebar menanggapinya, "Gue penasaran aja. Menurut gue pembunuhnya itu jenius. Rapi banget dia bunuh Kak Raya. Bayangin aja polisi gak nemuin sidik jari sedikit pun."


Ya, satu hal lagi. Polisi dan tim forensik tidak menemukan sidik jari, atau clue apapun di TKP kecuali bunga gardenia putih. Untuk informasi selanjutnya masih diteliti oleh tim forensik. Dan menurut Leya, ini kasus yang unik.


"Ih Ya' lo tuh creepy banget tau, gak? Di saat semua pada nangis kehilangan, lo satu-satunya orang yang bersikap biasa aja dan malah muji pembunuhnya. Jangan-jangan lo yang bunuh Kak Raya?"


"Asal aja kalau ngomong. Siapa yang bersikap biasa aja? Kemaren gue lemes liat kak Raya begitu. Dan lo tau sendiri gue bobo cantik di samping lo! Gak mungkin lah gue yang bunuh."


"Iya yah...," Rosa menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


Leya melangkah ke depan dengan pikiran yang melayang entah kemana. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi saat tragedi itu berlangsung.


"Sarung tangan..." gumamnya. Iya, pasti pakai sarung tangan! Gue harus cari ke tempat sampah!


Leya lantas berlari meninggalkan Rosa, "Woyyy kemana lu! Ya'!!! Biar polisi aja yang urusin! Lo jangan ikut-ikutan!!" pekik Rosa. Namun Leya tak menghiraukan sedikitpun.


Ia terus berlari menuju ke toilet laki-laki.


 


Leya sudah berada di depan toilet laki-laki. Ada 2 polisi pria yang berjaga, namun mereka sibuk mengobrol dengan Bu Andini--guru muda tercantik di sekolah--dengan jarak yang sedikit jauh dari toilet, mendekati lapangan. Sebuah police line berwarna kuning masih bertengger tepat di depan pintu toilet. Sudah jelas tertulis dilarang melewati batas police line, namun Leya tetap diam-diam dan secepat mungkin menerobos masuk sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.


Semua orang sedang sibuk berbaris di lapangan. Hanya Leya yang diam-diam menelusup masuk ke toilet. Langkah kakinya terhenti ketika ia melihat seorang laki-laki yang sibuk mencari sesuatu di lantai--Kak Ansel.


"Kak Ansel?" panggil Leya sedikit ragu. Ansel melebarkan matanya ketika melihat Leya. Kakinya langsung terlihat gemetar.


"Eh Le-Leya...," Ansel gagap seketika.


"Kak Ansel ngapain?" Leya mengerutkan keningnya.


"Eng-enggak ta-tadi mau ke toilet." Tanpa aba-aba Ansel langsung pergi perlahan--agar tak ketahuan--meninggalkan Leya yang bingung melihat gerak-geriknya. Alasan yang sangat jelas tak masuk akal.


Tapi, Leya tak peduli. Leya tak ingin membuang waktu, dengan segera ia mengecek tong sampah yang terletak di dalam toilet--dekat wastafel. Ia mencari sarung tangan yang digunakan untuk membunuh Raya.


Leya membongkar tong sampah itu. Ia tak menemukan sarung tangan. Yang ia temukan adalah sebuah kertas yang rusak akibat diremas. Namun, entah kenapa Leya tertarik mengambilnya setelah terlihat tinta merah kecoklatan di kertas itu.


Leya membuka kertas itu perlahan. Ini bukan tinta merah kecoklatan! Melainkan darah! Baunya sedikit amis...


Kutanya pada serigala, apa inginnya? Jubah merah ataukah kue? Namun, ia tak menjawab, maka kuberikan dia Gardenia Putih. Semoga ia menyukainya.


Tulisan tangannya tegak bersambung. Sudah pasti agar tak bisa direka siapa penulis sebenarnya. Atau memang sang penulis hanya bisa menulis tulisan tegak bersambung?


Leya memasukkan surat itu ke saku roknya. Ia langsung keluar dari toilet tentu saja sebisa mungkin dengan perlahan agar tak menimbulkan kegaduhan. Setidaknya, ia mendapatkan sebuah petunjuk walaupun petunjuk itu masih tak memberikan titik terang mengenai siapa terduga yang paling kuat.


Jubah merah? Kue? Serigala? Leya terus bergumam sambil melangkah menyusuri lorong dengan pikiran yang melayang entah kemana. Ia menunduk, memandangi ujung sepatunya dan lantai yang ia lewati.


Brukk


"Aduhhh sorry sorry," ujar Leya merasa bersalah.


Laki-laki itu tak menjawab, ia sibuk membereskan buku-buku yang berserakan. "Eh? Glenn? Lo gak ikut baris?" tanya Leya bingung.


"Gue disuruh bawa ini ke perpus. Lo sendiri?" Glenn bertanya tanpa melihat wajah Leya.


"Gue bolos, males ah baris," ujarnya acuh tak acuh. Leya ikut membereskan buku-buku itu. Tak lama matanya menemukan satu buku yang menarik perhatiannya. Little Red Riding Hood. Leya langsung menarik buku dongeng itu.


"Eh? Emang perpus kita punya buku beginian? Little Red Riding Hood?" Glenn langsung menarik buku itu dari tangan Leya. Leya menaikkan sebelah alisnya.


"Ini punya gue."


"Lo ngumpulin dongeng?"


"Iya."


"Lo suka dongeng?"


"Suka."


Leya mengangguk paham.


Tunggu sebentar, jubah merah, kue, serigala, bukankah ini dongeng Little Red Riding Hood? Kenapa mirip dengan... surat itu?


Glenn berdiri dari posisinya berjongkok. Ia berusaha membawa tumpukan itu lagi dan melangkah pergi. Leya membuntutinya dari belakang.


"Glenn, kalau lo disuruh ngubah cerita di dongeng Little Red Riding Hood, lo mau ngubah ceritanya gimana?"


"Gak ada yang perlu diubah. Udah happy ending kan?"


"Oh gitu..."


Terlalu cepat bila Leya menjatuhkan kecurigaannya pada Glenn. Hampir semua orang pasti tak ingin mengubah dongeng ber-happy ending dimana sang gadis berhasil diselamatkan oleh pemburu serigala.


"Lo mau gue kasih tau sebuah rahasia?"


"Apa?" Leya sedikit penasaran.


"Gue lebih suka versi Grimm bersaudara. Gadis berjubah merah mati di makan serigala."


"Kok gitu?"


"Karena semua manusia pada akhirnya akan meninggal. Kebahagiaan itu hanya ilusi sementara aja."

__ADS_1


Glenn melangkahkan kakinya lagi. Meninggalkan Leya yang diam membisu--berusaha mencerna kata-kata Glenn barusan.


Sebentar, itu bukan arah menuju perpustakaan. Itu arah menuju kembali ke toilet... kenapa Leya baru menyadarinya?


 ~~~


Gardenia putih, melambangkan kesucian, kemurnian, namun bila terdapat semburat kuning di pusatnya, menandakan cinta rahasia.


Serigala dan Gardenia Putih.


Sedikit bertolak belakang. Gardenia putih melambangkan cinta rahasia. Namun, apa hubungannya serigala dengan Gerdenia putih? Apa si gadis berjubah merah mencintai serigala? Ah, tidak masuk akal. Bahkan dongeng di versi Grimm bersaudara pun, sang serigala tega memakan sang gadis. Dan sang gadis tentu saja tidak mencintai serigala. It doesn't make a sense!


Leya menutup layar laptopnya asal. Ia tak seharusnya menyimpan barang bukti seperti ini, besok ia harus berikan pada pihak kepolisian. Tapi, apa tak apa menyimpan barang bukti semalam? Apa pihak kepolisian akan menjatuhkan dugaan pada Leya?


Ah, tidak bisa. Leya punya alibi yang kuat. Rosa melihat Leya selalu tidur pada jam akhir pelajaran.


Leya! Gunakan otakmu Ya'! Apa maksud pembunuh ini!!


Tiba-tiba pikiran Leya melayang lagi pada sosok Ansel. Apa laki-laki itu sepemikiran dengan Leya? Sedang mencari clue? Atau bagaimana? Lalu apa yang dilakukan Glenn? Kenapa berbohong?


Tok tok tok


Suara ketukan itu jelas membuatnya tersadar dari lamunan. Leya segera berdiri dari tempatnya duduk dan membuka pintu kamarnya.


"Ayah?"


"Leya, ada Rosa nih mau nginap."


"Hah?"


Muncul seorang gadis berambut hitam gelombang yang tersenyum lebar membawa tas ransel pink.


"Hai Leya!! Gue dadakan ya? Sorry hihihi abisnya kepepet." Leya hanya memutar kedua bola matanya dan mempersilakan Rosa masuk.


"Mau Ayah bawain snack?"


"Boleh Yah."


Ayahnya tersenyum dan pergi turun ke lantai 1. Leya menutup kembali pintu kamarnya.


Ibu Leya telah meninggal saat Leya berumur 5 tahun--Leya masih kelas 1 SD. Iya, Leya memang terbilang cepat untuk mendaftar menjadi siswa SD, namun ia bahkan lebih pintar dari teman-teman seumurannya. Di umur 5 tahun, ia sudah jago menghitung Matematika bahkan menghafal perkalian. Membaca? Jangan ditanya, ketika berumur 4 tahun ia telah fasih membaca dan menulis. Ibunya yang mengajari. Ia bahkan tak masuk TK, hanya belajar di rumah saja.


Awalnya Leya oleh Kepala Sekolah tak diizinkan akibat terlalu muda, namun setelah melihat kemampuan Leya, akhirnya Kepala Sekolah pun luluh.


Buku bacaan Leya sebelum tidur saat masih kecil, bukan dongeng melainkan Ensiklopedia.


"Tumben lu nginep?"


"Iya abisnya gue takut tidur sendiri."


"Kenapa?"


"Masih keingatan Kak Raya. Sumpah gue jadi gak bisa tidur kebayang mulu."


Leya menghempaskan tubuhnya di atas kasur, diikuti oleh Rosa.


"Biasa aja kali. Kalau lu takut, bayangin yang bahagia."


Rosa hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya, "Kira-kira siapa ya yang tega ngebunuh Kak Raya? Kak Raya itu baik banget. Ramah, polos, pinter, idola, hampir sempurna gak ada cacatnya. Ketos terbaik juga sepanjang sejarah. Dia tegas, disiplin, tapi gak semena-mena. Ada aja yang iri sama dia ya?"


"Ros, lo kan ratu gosip. Siapa aja sih yang suka sama doi?" tanya Leya tiba-tiba, tak menanggapi cerocosan Rosa yang panjang.


"Banyak lah. Aneh pertanyaan lo."


"Yang fanatik banget?"


"Ehm Geby kayaknya. Dia yang paling mencolok. And you know what? Pas tragedi itu dia lagi ngebolos. Patut gak sih dicurigai? Tapi dia kan cewek ya? Masa masuk toilet cowok?"


"Elah. Gampang mah tinggal nyamar. Kok repot?"


"Iya juga sih ya. Btw, dia emang fanatik banget. Bayangin deh dia udah nembak Raya 5x dan selalu ditolak. Bisa aja kan dia dendam?"


Leya manggut-manggut saja, namun sebenarnya saat ini ia masih berpikir keras. Geby? Mungkin saja bisa dimasukkan dalam daftar orang yang dicurigai. Alasannya juga masuk akal. Selain dirinya tak ada di kelas saat kejadian, Geby juga mungkin saja memiliki dendam dengan Raya yang terus menolaknya.


Geby Jacinda Alice, the most wanted girl. Ah, tidak... dia adalah the most cruel girl. Cantik seperti tuan putri. Namun suka semena-mena pada junior terlebih lagi pada junior yang menurutnya cantik.


Ia akan melakukan berbagai cara untuk membuat dirinya tetap dipuja dan tetap yang tercantik di sekolah, misalnya--dengan semudah membalik telapak tangannya--mengeluarkan siswa yang menjadi saingannya dalam masalah kecantikan. Maklum saja, ia cucu pemilik sekolah. Jadi mudah saja bila ia ingin mengeluarkan saingan-saingannya itu.


Sempat Leya dilabrak oleh Geby dan diancam akan dikeluarkan dari sekolah. Namun, Leya santai saja karena ayahnya juga merupakan donatur terbesar sekolah. Ayahnya merupakan teman baik Kakek Geby, jadi Geby tak akan bisa menggerakkan posisi Leya.


"Eh Ya', gue punya berita terhot. Lo pasti kaget naudzubillah."


"Apa?"


"Glenn itu sebenarnya gak waras! Hiii serem!"


"Hah lo ngomong apa sih?"


"Dia itu psikopat tau. Dia gila! Pernah masuk rumah sakit jiwa habis bunuh 1 orang dewasa dan 2 temannya sekaligus!"


"Hah serius?"


Glenn pernah masuk rumah sakit jiwa?

__ADS_1


 ~~~


__ADS_2