Once Upon a Time

Once Upon a Time
Mencari Istana Ratu


__ADS_3

Aku masih sibuk memeriksa nilai-nilai ujian Biologi yang menumpuk di mejaku. Kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku, pukul 5 sore. Semua guru sudah pulang, yang tersisa hanya aku sendiri. Biar saja, yang penting aku harus menyelesaikan tugasku sebelum berangkat menemani muridku olimpiade Biologi di Jakarta.


Aku meregangkan tubuhku sebentar, tak terasa sudah hampir pukul 6 sore, sebaiknya aku pulang saja. Aku merapikan barang-barang yang berserakan di mejaku, kemudian kusampirkan tas dan aku melangkah pergi keluar dari ruang guru.


Tak, tuk, tak, tuk, suara high heels merahku menggema hingga terdengar seantero sekolah saking sepinya sekolah ini. Kenapa hari ini tidak ada polisi yang berjaga ya? Ah, sudahlah, yang penting aku harus pulang cepat.


Semenjak seorang pembunuh yang meneror sekolah ini masih berkeliaran, aku jadi tak bisa pulang lebih malam atau lembur. Tapi, biasanya jam segini polisi masih berkumpul, kenapa sepi sekali ya? Aku jadi sedikit takut.


Aku melangkah sedikit cepat menuju ke parkiran mobil, dari kejauhan kulihat ban mobilku kempes. Wah... kok bisa kempes? Bagaimana ini caranya aku pulang? Udah jam segini lagi. Apa aku pesen go car aja ya?


Tit tiittt, aku menoleh ke sumber suara, salah satu siswi ku tersenyum di dalam mobil yang kacanya ia buka, namun ia tak menyembulkan kepalanya, sepertinya ia baru saja ingin pulang ke rumah karena baru mengeluarkan mobilnya dari parkiran. Dia mengendarai mobilnya menghampiriku. Kenapa dia baru pulang jam segini?


"Selamat sore Bu Rika!" serunya tersenyum manis.


Eh, namanya siapa ya? Aku lupa. Aku memang jarang menghapal nama murid terutama murid yang tidak mencolok di kelas. Yang kuhapal hanyalah murid-murid yang sangat mencolok. Entah pintar, atau sebaliknya.


"Selamat sore juga, kok baru pulang?" tanyaku.


"Iya nih Bu, tadi ada kerja kelompok, temen-temen udah pulang duluan. Saya menyelesaikan tugasnya sendiri. Ibu juga baru pulang?"


"Iya, ada kerjaan tadi. Itu pacar kamu?" tanyaku setelah melihat laki-laki yang sedikit asing bagiku, dia duduk di samping siswiku yang mengemudi. Sepertinya aku pernah melihat laki-laki ini, tapi dimana ya? Laki-laki itu hanya tersenyum ramah padaku.


"Ohiya Bu, masih kelas 1 hehe." Siswiku menoleh ke arah mobilku, terlihat ban kanan depan mobilku kempes. "Bu, itu mobilnya..."


"Iya nih kempes, gimana ya?"


"Kami anter pulang aja dulu Bu, nanti mobilnya biar saya telepon kenalan saya, Ibu mau nunggu kenalan saya atau kami antar?" tanyanya sopan.


Aku menimbang-nimbang, kalau aku nunggu disini, aku gak enak minta temani mereka, apa lebih baik aku diantar saja ya? Takut juga sendirian di sini. Mana cctv belum dipasang juga lagi, ntah kapan dipasangnya. Setelah beberapa menit menimbang-nimbang, akhirnya aku menyetujui ajakan mereka.


Laki-laki itu turun dari mobil dan duduk di belakang, ia mempersilakanku duduk di depan. Sopan juga dia. Aku pun duduk di depan. Setengah perjalanan kuhabiskan untuk mengobrol dengan siswiku, sementara laki-laki itu tak banyak bicara, terkesan dingin. Suara laki-laki itu sedikit aneh, tapi aku tak begitu peduli. Dan lagi, akhirnya aku mengingat nama siswi baikku ini.


Namanya...


Tiba-tiba tangan dari belakang menutup hidung dan mulutku. Aku membelalakkan mataku dengan sapu tangan. Membekapku kuat. Aku yakin, tangan laki-laki inilah yang membekap mulutku. Aroma menyengat namun menenangkan menyeruak masuk langsung ke hidungku. Terasa tenang dan membuat hasrat ingin menutup mataku menjadi lebih kuat. Astaga... apa ini...


Beberapa menit kemudian pandanganku kabur dan semua jadi gelap.


Apa aku tertidur?



Hari pertama



Aku membuka mataku perlahan, kepalaku masih pening. Tunggu, tunggu sebentar... tanganku... kakiku... terikat! Aku duduk di bangku dalam keadaan tangan terikat di atas 'tangan' kursi dan kaki yang terikat, sementara mulutku tertutup kain. Kupandang sekelilingku, remang-remang. Aku tak bisa mengenali ruangan luas ini dengan jelas akibat tak adanya penerangan yang cukup di ruangan ini. Namun, masih ada cahaya lampu jalan yang masuk melalui ventilasi panjang, terlihat jauh di depanku saking luasnya tempat ini.



Aku menoleh ke arah kiri, kira-kira 3 meter di samping kiri tempatku duduk terlihat sebuah truk besar--lebih mirip barang rongsokan--yang sebagian 'tubuhnya' telah berkarat karena tak terurus, terkena paparan cahaya lampu jalan yang masuk. Ini... aku mengenalinya... apa aku di garasi mantan suamiku? Tidak salah lagi, aku berada di garasi mobil mantan suamiku. Dan ini... mobil truk kesayangan almarhum kakekku. Di tengah penerangan yang minim ini, aku masih bisa mengenali mobil khas ini.



Tuk, tuk, tuk suara sol sepatu terdengar menggema bersamaan dengan decit pintu garasi yang terbuka. Silau lampu jalan membuat siluet tubuh seseorang di depanku terlihat jelas, namun wajahnya menunduk, tak terlihat jelas. Ia balik menutup pintu bagasi kembali, tetap tak menyalakan lampu. Aku tak bisa melihat wajahnya kembali.



Yang sejauh ini bisa kulihat adalah siluet seseorang bertopi hitam yang terus menundukkan wajahnya dibawah sinar yang masuk melalui ventilasi. Pria?



"Selamat datang di istanamu sendiri, Yang Mulia Ratuku." Suaranya seperti perempuan, namun postur tubuhnya seperti laki-laki. Siapa dia? Kenapa memanggilku dengan sebutan 'Ratu'?



"Bagaimana rasanya membunuh putrimu sendiri setelah menyiksanya? Putri salju tertidur, kenyataannya ia tak pernah bangun setelah memakan racun. Tidak seperti dongeng, bukan?"



Aku tak mengerti apa pun yang dia katakan. Suara langkah kakinya semakin mendekat, dan baru kusadari saat ini ia mengangkat tangannya yang sedang memegangi sebuah gunting, terlihat dari siluetnya. Aku meronta ketakutan, apa yang ingin dia lakukan padaku? Apa dia pembunuh yang berkeliaran dan membunuh murid sekolahku? Seseorang tolong aku!!



"Hukuman apa yang pantas untuk sang Ratu? Sepertinya, aku tidak bisa memberikan pilihan apa pun padamu seperti pada yang lain, karena kamu tidak pantas diberikan pilihan." Aku mencoba melepaskan ikatan tanganku, kenapa kencang sekali ikatannya? Dia malah semakin mendekatiku. Keringat dingin mulai bercucuran, aku tak bisa memikirkan apa yang ingin ia lakukan padaku.



Ia pun sudah berdiri di depanku, kemudian ia melangkah ke belakang tubuhku dan membelai rambutku. Ia juga melepas cepolan rambutku, "*K*atanya, kamu lebih mencintai rambutmu dibandingkan putrimu. Kamu lebih mencintai wajah dan tubuhmu dibanding putrimu. Bagaimana kalau aku renggut semuanya perlahan, seperti kamu merenggut kecantikan Putri Salju dengan perlahan pula?" Ia berbisik di telingaku, membuat bulu kudukku berdiri. Aku menangis, aku ketakutan. Bahkan helaan nafasnya saja begitu mengerikan. Ya Tuhan... aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku.



Jantungku bergerak semakin cepat ketika ia menyentuh pipiku dengan guntingnya. Aku menutup mataku, tak bisa bergerak. Aku yakin, sedikit saja bergerak, gunting itu bisa saja menusuk wajahku.

__ADS_1



Sret... sret... terdengar suara gesekan rambutku dan gunting. Ia menggunting rambutku. Apa yang akan ia lakukan lagi? Aku takut...



Ia mengeluarkan sebuah kaca, "Apa wajahmu masih terlihat di kaca ini? Wahai kaca ajaib, apa aku sudah cantik? Hahaha..." Ia berbicara seakan-akan sedang memerankan peranku di depan kaca. Tawanya terdengar mengerikan, aku tidak tahan.



"Kamu tidak akan pernah secantik dia, wahai Ratu. Hatimu sebusuk bangkai tikus! Akan kubuat tikus memakan tubuhmu ini!" Ujarnya memekik kasar di samping telingaku.



Dia siapa? Putriku? Apakah... maksudnya... Putri tiriku?



Tangisku semakin kencang, padahal ia bahkan belum melakukan apapun, tapi psikisku sudah runtuh, hancur lebur.



"Ah, tidak. Tikus saja jijik memakanmu. Apa yang harus kulakukan padamu? Hahahaha."



Aku semakin berusaha melepaskan diri, walaupun aku tahu ini percuma. Aku menggerak-gerakkan tanganku terus-terusan.



"DIAM!!" Ujarnya marah.



Arrrrgggghhhh!!! Suaraku teriakanku teredam setelah benda tajam terasa menusuk punggung tanganku. Sesuatu tertancap. SAKIT SEKALI!! APA INI?! APA INI GUNTING?!! ARRRGGGHHH.



Aku menangis, tanganku gemetaran, sementara tangan kananku tambah tak bisa bergerak. Sakit sekali, seperti tulang-tulang tanganmu hendak dipecahkan, dagingmu ditusuk dan ditancapkan pisau. Tak akan ada yang bisa bayangkan rasa sakitnya. Cairan hangat mengucur deras dari tanganku, darahkah? Ya Tuhan... dia gila!



Aku masih menangis putus asa, keringat dingin terus saja mengucur. Rambutku, entahlah aku tak sempat memikirkan rambutku lagi sekarang akibat rasa sakit ini.




"Serius nih kita bolos?" tanya Leya berbisik-bisik. Leya dan Glenn mengendap-endap hendak kabur dari sekolah, masih bersembunyi di balik tembok besar, sementara Pak Robert--guru Matematika kelas 3 yang paling killer itu--hari ini yang berkeliling mencari para pembolos dan sedang bersiaga di pintu gerbang belakang. Padahal cukup mudah untuk kabur dari sini akibat gembok pintu gerbang belakang rusak, jadi tak akan bisa dikunci. Namun jadi sulit karena Pak Robert berdiri di depannya.


"Ssttt!!" Bisik Glenn sambil meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya sendiri, "Diem. Lo pilih bolos atau ada korban lagi?"


"Iyaa tapi gimana kaburnya nih... kenapa lo gak minta surat dispensasi aja, ijin mau nyelamatin orang gitu. Toh pembunuhnya juga uda tau kalau yang nanganin kasus ini sebenarnya lo."


Tukk, Glenn mengetok kening Leya hingga Leya meringis, "Bego jangan dipelihara," katanya datar.


"Aduh..." Leya mengusap-usap keningnya yang sakit.


Wajah Leya dari dekat tambah terlihat lucu, Gleen menahan tawanya.


"Siapa disana!!" Pekik seorang pria yang tak lain adalah pak Robert. Pak Robert pun melangkah semakin mendekat.


"Mampusssss... gimana nih Glenn?"


"Hitungan ketiga langsung lari kencang ke gerbang belakang lewatin Pak Robert."


"Hah serius lo?!"


"1... "


"Glenn... Glennnn bentaarrrr gue gak siap asli mau kabur lewatin dia gitu aja? Lo gila?!"


"2... "


"Ah sial!"


"3! Lari!!!"


Glenn langsung menarik pergelangan tangan Leya dan berlari kencang melewati Pak Robert. Leya pun begitu, ia mengerahkan seluruh tenaganya agar bisa menyamakan langkah kakinya dengan langkah kaki Glenn yang begitu panjang.


"HEI KEMANA KALIAN!!" Pak Robert ikut berlari menyusul mereka. Ia sedikit terkejut ketika Glenn dan Leya langsung berlari begitu saja melewatinya.


Yang Leya tahu, Pak Robert tak akan berlari sekuat itu untuk bisa menyusul Gleen dan Leya. Namun ternyata Leya salah, Pak Robert masih saja berlari di belakang mereka sambil berteriak-teriak memanggil mereka, "HEI BERHENTI!!"

__ADS_1


Ada tikungan! Ini kesempatan mereka untuk mencari tempat persembunyian. Dan untungnya ada gang kecil--yang lebih terlihat seperti sela diantara satu rumah dan rumah sebelahnya--yang mungkin bisa mereka jadikan tempat persembunyian, sepertinya cukup mereka masuki berdua.


Glenn masih memegangi tangan Leya dan mereka pun masuk ke sela-sela rumah itu. Mereka berhadapan, punggung mereka sama-sama berhimpitan dengan tempok rumah. Glenn menutup mulut Leya ketika Pak Robert pun muncul di tempat itu, berusaha mencari mereka. Beberapa detik kemudian, Pak Robert kembali berlari mencari mereka tanpa melihat ke sela-sela rumah. Akhirnya mereka pun bernafas lega.


Glenn menurunkan tangannya dari mulut Leya dan mulai mengatur nafasnya yang terengah-engah sambil menutup matanya, masih bersandar pada tembok dan menghadap Leya. Sementara Leya, terlihat seperti orang bodoh yang jantungnya berdebar tak beraturan ketika dirinya jadi sedekat ini dengan laki-laki. Ia tak pernah sedekat ini sebelumnya. Wajah Leya hanya berjarak beberapa senti dengan dada bidang milik Glenn. Leya menengadah, memperhatikan wajah Glenn yang terpapar sinar matahari pagi.


Glenn menunduk, ikut memperhatikan Leya, "Ya'..." ujarnya sambil menatap Leya begitu intens.


Dag dig dug... sial kenapa gue deg degan sih! pikir Leya.


"I-iya Glenn..." Leya gagap seketika.


Mata gelap Glenn terlihat berkilauan, wajahnya cerah, bibirnya kemerahan, hidungnya runcing, bahkan rambut hitam pekatnya ikut berkilauan diterpa sinar matahari pagi. Baru Leya sadari Glenn setampan ini.


"Lo keluar duluan, sempit nih. Lo gendut."


Ah kampret, kirain apa! Leya menghela napasnya lega.


"Anjir. Gue gak gendut ya! Timbangan gue cuma 43 kg!" Bukannya keluar dari tempat ini, Leya justru cemberut dan membuang muka.


"Iyadeh gak gendut tapi chabi."


"Ish!!!" Leya menyubit lengan Glenn hingga Glenn tertawa sambil meringis.


"Udah, udah. Cepetan nih keluar. Orang sekarat, kita malah becanda."


"Lo duluan!!"


"Iya Ya' maaf maaf haha..."


Baiklah, ini pertama kalinya Leya melihat Glenn tertawa. Glenn tak pernah tertawa selepas ini walaupun Leya berusaha membuatnya tertawa. Justru ketika Leya tak berniat membuat tertawa sama sekali, ia malah tertawa. Aneh memang.


Leya pun perlahan bergeser keluar diikuti dengan Glenn.


"Lagian ngapain sih sembunyinya berhadapan gitu, harusnya bersebelahan aja biar gampang keluarnya!" Leya masih terlihat sebal. Sebal karena Glenn seenaknya saja bertindak seperti itu, membuat jantung Leya bisa-bisa berhenti mendadak akibat terlalu keras bekerja.


"Biar bisa ngerjain lo sekalian hahaha."


"Kok lo jadi berubah resek gini sih!! Biasanya lo datar-datar aja!"


"Ah udah gausah dibahas, sekarang pikirin siapa Ratu dan dimana dia disekap." Wajah Glenn berubah serius.


"Udah gue bilang, Ratu itu Bu Rika pasti. Yang hilang di sekolah kita cuma Bu Rika." Leya terlihat begitu yakin.


"Gimana kalau orang lain?"


"Harus ya cari siapa Ratu itu? Kenapa gak langsung cari tempatnya?"


"Karena di salah satu clue ada berbicara mengenai raksasa kesayangan Ratu. Gue berasumsi, kemungkinan Ratu ini disekap di rumahnya sendiri sama barang kesayangannya dia. Dan karena benda itu besar, agak merepotkan dan sulit kalau si pelaku mindahin benda itu ke tempat lain. Jadi dibiarin aja di rumah Ratu itu," jelas Glenn panjang lebar. Glenn hanya akan berbicara panjang lebar bila menjelaskan kasusnya. Selain itu, jangan harap Glenn akan bicara panjang.


Leya mengangguk-angguk paham, "Bener juga. Jadi harus tahu ya Ratu itu siapa?"


Glenn mengangguk mantap.


"Bu Rika udah, fix. 2 korban sebelumnya adalah anak sekolah kita. Dan mungkin korban ketiga ini juga berasal dari sekolah kita. Gue menduga sang pembunuh ini punya dendam tersendiri sama sekolah," ujar Leya yakin.


Glenn diam sejenak. "Enggak. Dia gak punya dendam sama sekolah kita. Justru dia membalaskan dendan orang lain."


Leya menatap Glenn penuh tanda tanya.


"Lo ingat gak di sms pembunuh yang menandakan gue pernah berhubungan sama dia?"


Leya mengangguk.


"Cara dia membunuh dulu persis kayak gini. Dan itu waktu gue masih kelas 1 SMP. Dia membunuh orang-orang di sekolah gue, kemudian melimpahkan semuanya ke gue. Semua tanda yang dia kasih ternyata balik menyerang gue. Itu sebabnya gue dikira membunuh orang dan masuk rumah sakit jiwa akibat mereka mikir gue gak waras. Gue bilang pendongeng yang membunuh, tapi nyatanya gak ada yang tahu dia siapa, dan mereka pikir itu teman imajinari gue, which is emang gue yang bunuh sendiri.


"Permainan teka-teki dongeng yang gue mainin sama dia itu sebenarnya untuk mengungkap dia siapa, dan gimana cara dia ngebunuh korban. Gue pikir itu cuma lelucon, tapi akhirnya kejadian beneran. Temen gue mati, persis kayak clue yang dia kasih. Gue takut, mau berhenti. Tapi dia bilang, dia bakal membunuh lebih banyak orang lagi kalau gue berhenti. Semuanya melalui surat. Dia tahu gerak-gerik gue, dan gue duga dia selalu mengawasi gue." Glenn menulan ludah sebentar sebelum kembali bercerita.


"Setelah gue masuk Rumah Sakit Jiwa, gue berusaha dekatin salah satu perawat yang nganggap gue anaknya dan dia sadar kalau gue gak gila. Dia yang kasih gue akses buat terus bisa main komputer di ruangannya dan ngecek info apa pun. Gue menyadari 1 hal, semua orang yang dia bunuh itu punya 1 hubungan. Mereka semua adalah orang-orang dibalik kematian salah satu siswi di SMP gue. Siswi itu mati karena bunuh diri dengan menggantung dirinya di rumah, stress akibat sering dibully dan dipukuli di rumah."


Leya menutup mulutnya sambil gemetaran mendengar cerita Glenn.


"Intinya, pelaku membunuh orang yang punya 1 hubungan sama. Sama-sama pernah ngejahatin orang yang sama. Belum tentu semuanya dari sekolah. Dulu, ayah dari siswi itu dibunuh pelaku karena dia yang mukulin dan memperkosa anaknya di rumah."


"Jadi... gitu... kalau gitu, kita harus tahu hubungan antara Raya sama Ansel. Mereka pernah jahatin siapa. Apa waktunya sempat?"


"Gue kurang yakin. Tapi ini masih pagi, mungkin sempat."


"Gimana caranya kita nyari tahu?"


Gleen berpikir sejenak.


"Buku tahunan."

__ADS_1



__ADS_2