Once Upon a Time

Once Upon a Time
Iblis Berhati Malaikat


__ADS_3

"Buku tahunan."


"Hah buku tahunan? Maksud lo? Bu tahunan SMA kita? Selama gue sekolah di sini, gak ada anak yang meninggal karena pem-bully-an. Dan Kak Raya sama Kak Ansel itu punya image yang sangat baik di sini. Justru mereka bukan pelaku pem-bully-an melainkan pahlawan orang-orang yang ter-bully. Dan jujur sebenarnya gue gak percaya kalau mereka terlibat kejahatan kayak gitu. Ya karena mereka baik banget. Sama adek tingkat juga baik," jelas Leya panjang lebar.


"Gue gak bilang buku tahunan SMA kita. Justru maksud gue buku tahunan SMP-nya Raya dan Ansel. Lo gak tahu bagaimana orang baik di masa lalu. Belum tentu baik. Kalaupun mereka berubah, belum tentu para pendendam dengan mudahnya menghilangkan dendam mereka."


Leya berpikir sejenak, kemudian matanya menyipit menatap Glenn. Seperti meneliti dengan seksama. "Kok lo bisa tahu kalau Raya dan Ansel satu SMP juga?"


Glenn menghela napasnya, "Walaupun gue tuli di sekolah, gue gak benar-benar tuli. Masih punya telinga buat denger obrolan cewek penggosip sekilas."


Leya menganggukkan kepala sambil membuka mulut membentuk O. Benar juga. Memang sering sih Leya dengar setiap mereka menceritakan kematian Raya dan Ansel, pasti diselingi obrolan lain seperti ya ampun kan mereka temen lama, mati bareng lagi, atau, eh mereka satu SMP kan? Bareng terus, jangan-jangan SMP Juara itu terkutuk? Alumninya bakal mati kayak mereka. Hiii serem. Dan masih banyak obrolan tidak memiliki dasar lainnya. Tapi, dari obrolan mereka, Leya jadi tahu kalau Ansel dan Raya itu pernah satu SMP, yakni SMP Juara.


"Terus rencana lo apa Glenn? Ke SMP Juara buat lihat buku tahunan di sana? Lo tahu ada berapa ratus muka orang di buku itu. And how can you know kalau ada sesuatu yang aneh di sana atau salah satu cara mengungkap hubungan Kak Raya dan Kak Ansel?" Tanya Leya lagi.


Glenn memutar bola matanya jengah, "Lo nanya mulu Ya'. Kasian otak lo berkarat gak dipakai buat mikir," jawab Glenn sambil meletakkan telunjuknya di kening Leya, kemudian ia menyejajarkan wajahnya mendekati Leya, "gue gak suka partner yang banyak nanya, gue sukanya partner yang ngajak berdiskusi dan bisa bantu gue buat membuka otak gue lebih luas."


Glenn menjauhkan telunjuknya dari kening Leya, sementara Leya meniup keningnya jenuh dengan bibir bawahnya sambil berpikir. Benar juga, hari ini Leya belum ada menggunakan otaknya sama sekali dan malah terus-terusan bertanya pada Glenn. Ini tidak membantu sama sekali.


Hening sejenak saat Leya berpikir. Ketika Leya berusaha membuka otaknya, di depannya, Glenn justru memperhatikan wajah Leya yang sedang berpikir dengan seksama. Glenn tersenyum sedikit, Leya memang terlihat imut jika sedang berpikir maupun sebal.


"3 buku tahunan selama 3 periode masa SMP bakal memperlihatkan wajah Kak Raya dan Kak Ansel serta teman-temannya dari kelas 1 sampai kelas 3 seluruhnya tanpa terkecuali. Berarti, kita harus lihat muka temen Kak Ansel yang mungkin gak ada di periode tahun ke 2 atau tahun ke 3 masa SMP nya Kak Raya? Kemungkinan muka temen mereka yang gak ada itulah muka temen mereka yang mati karena Kak Raya dan Kak Ansel? Itupun kalau memang si pembunuh ini mengincar para pembully yang bikin korban terbully meninggal."


Glenn tersenyum lebar, "Gitu dong, dipake otaknya. Jangan nanya mulu."


"Tapi, lo yakin kalau si pembunuh ini membalaskan dendam orang lain yang sudah meninggal? Gimana kalau ternyata orang yang mau dia balaskan dendamnya itu belum meninggal? Tapi dia nyuruh si pembunuh buat bunuh orang lain?"


"Gue yakin," jawab Glenn mantap, "pembunuh ini menurut gue adalah tipe orang yang mencari keadilan dengan cara yang salah. Dia mau nyawa dibalas dengan nyawa. Dan menurut gue, dia gak akan membunuh orang yang gak menyebabkan orang lain meninggal."


"How can you know? Gue cuma takut kita salah taktik."


"Insting. Dan itu juga masih asumsi. Asumsinya bukan asumsi sembarangan, ini asumsi berdasarkan pengalaman gue menyelesaikan kasus-kasus pembunuhan lainnya. Kasus-kasus pembunuhan yang gue tangani memang beda-beda, tapi 6 dari 10 kasus yang gue tangani memiliki persamaan yaitu pembalasan dendam. Dari situ gue bisa menarik benang merah bahwa setiap manusia yang normal jauh di lubuk hatinya yang terdalam, setuju dengan hukum mata dibayar mata dan nyawa dibayar nyawa. Namun, mereka gak berani buat memberlakukan hukum itu di sini."


Glenn menarik napas sebelum kembali berbicara, "Ada beberapa orang yang gak bisa mengontrol lagi amarahnya dan secara berani melakukan hukum nyawa dibayar nyawa itu tanpa pikir panjang. Merekalah yang disebut para pembunuh yang dendam dan marah atas ketidakadilan yang ada di dunia.


"Dan bagi gue, Grimm adalah tipe orang yang menjunjung tinggi keadilan. Dia pembunuh yang marah karena para penyebab kematian orang yang dia bela, bisa bebas tanpa ada hukuman apa pun oleh penegak hukum karena kurangnya bukti dan memang kasusnya tidak begitu terlihat. Contohnya kasus pembullyan yang menyebabkan korban bunuh diri. Gue belum pernah dengar bahwa seseorang yang bikin orang lain bunuh diri dengan menghancurkan psikisnya secara diam-diam bisa masuk penjara. Karena gak ada bukti kalau dia yang membuat si korban pembullyan bunuh diri, kecuali dia emang secara langsung membuat si korban pembullyan itu terbunuh misalnya dibully secara fisik sampai tewas."


Glenn punya pemikiran dan pengetahuan luas yang bisa membuka otak Leya. Dan entah kenapa bagi Leya semua kata-kata yang dikeluarkan dari mulut Glenn selalu terdengar berbobot dan cerdas. Glenn memang jenius, tapi ia juga tipe orang yang peka terhadap permasalahan sosial seperti ini. Glenn bukan tipe orang pintar yang acuh tak acuh dengan lingkungan sekitar. Dan Leya jadi semakin suka berteman dengan Glenn, karena Glenn membuat Leya sadar bahwa bahkan sebuah ejekan yang kita anggap kecil bisa juga berakhir pada penghancuran psikis seseorang dan bisa saja berujung pada kematian. Tergantung bagaimana kekuatan mental orang tersebut.


"Akhirnya, Grimm lah yang turun tangan. Tapi, cara dia salah di mata gue. Dan dia bukan tipe pembunuh bodoh yang membunuh orang lain sembarangan atau secara random hanya untuk memuaskan nafsu buas yang tersembunyi di dalam diri para psikopat. Walaupun dia psikopat, tapi gue mengacu pada kasus mengenai dia yang pertama, kalau dia membunuh orang bukan tanpa alasan. Dia jenius yang rasional."


Glenn seakan-akan sangat mengenal sang pembunuh. Leya kali ini percaya dengan segala asumsi yang diberikan Glenn, terlebih lagi memang masuk akal asumsi tersebut. Glenn pernah berhadapan dengan sang pembunuh dan pengalaman Glenn itu sangat berguna saat ini. Kalau dulu Glenn gagal karena tak tahu apapun, maka kali ini Leya bertekad tak akan membuat Glenn gagal lagi, justru Leya akan membantu Glenn sekuat tenaga untuk mengungkap sang pembunuh.


"Gue percaya sama lo Glenn. Tapi, apa sempat kita lakuin ini semua sampai pukul 12 siang? Paling lambat kita udah harus memecahkan teka-teki di pukul 10 pagi. Dan ini udah jam 8."


"Sempet. Asalkan kita bergerak cepat. Lo tahu gak SMP-nya Kak Raya dan Kak Ansel dimana?" tanya Glenn.


"SMP Juara. Dan untungnya jaraknya gak jauh dari sekolah kita, bisa jalan kaki dari sini sekitar 10 menit. Yaudah Glenn langsung cabut aja. Perpustakaannya setahu gue juga jadi perpustakaan umum, bisa dimasukin siapa pun."


Glenn mengangguk mantap, kemudian ia memegangi lengan Leya, "Kalau gue ajak lari lagi, lo gak pingsan kan?"


"Hahaha jangan ngeremehin gue, Glenn." Kali ini, Leya perlahan melepaskan genggaman tangan Glenn dari lengannya dan balik memegangi pergelangan tangan Glenn. Tanpa aba-aba, Leya berlari lebih dulu sambil menarik tangan Glenn.


Leya berlari penuh semangat. Nyawa seseorang ada di tangannya dan Glenn. Ratu butuh penyelamat, dan ksatrianya sedang berusaha mencari keberadaan sang Ratu.


Semoga para ksatria tidak terlambat.



Mereka berdua sudah berada di dalam perpustakaan SMP Juara, mereka langsung bergegas menuju rak berisi buku-buku tahunan. Leya langsung mencari buku tahunan periode 2012, 2013, dan 2014, periode dimana Raya dan Ansel berada di sekolah ini. Setelah mendapatkan 3 buku tahunan itu, Leya langsung memberikan buku tahunan periode 2013 pada Glenn dan Leya sendiri langsung meneliti buku tahunan pada periode 2012.



"Kak Ansel sama Kak Raya satu kelas Glenn. Di sini, mereka ada di foto kelas VII-A. Kalau di buku tahunan yang lo pegang mungkin dia ada di kelas VIII-A." Leya berdiri di samping Glenn. Mereka berdua berada di rak paling belakang perpustakaan ini. Kebetulan, perpustakaan sedang sepi karena tidak ada pengunjung dan siswa di sekolah ini masih dalam kegiatan belajar mengajar.

__ADS_1



Glenn ikut membuka dan langsung mencari lembaran khusus siswa kelas VIII-A. Ternyata benar, ada Ansel dan Raya di sana. Sepertinya kelas mereka tidak diacak sama sekali. Kemungkinan kelas A adalah kelas berisi murid-murid seperti Raya dan Ansel yang punya kemampuan lebih. "Iya, sama Ya'. Coba siniin buku lo, kita bandingin siapa yang gak ada di kelas 2 SMP dan kelas 3 SMP."



Mereka langsung menuju meja perpustakaan. 3 buku tahunan terbuka, kemudian mereka sejajarkan di atas meja perpustakaan. Mereka saling meneliti setiap wajah yang ada di kelas itu. Sekali lagi, mereka beruntung karena tidak ada pengacakan kelas. Di lembaran awal setiap kelas, terdapat foto Raya dan Ansel bersama teman-teman satu kelasnya. Di belakang lembaran, terdapat foto masing-masing siswa di kelas tersebut beserta nama dan kolom komentar berisi kesan dan pesan untuk kakak tingkat yang hendak lulus maupun untuk angkatan mereka sendiri.



"Eh Glenn... coba lo cek Aaron Anwar. Ada gak di periode 2013 sama 2014?"



"Ada."



"Abila Sukma Dini?"



"Ehm... ada."



"Acia Lestari?"



"Ada."




Agak lama Glenn menjawabnya. Ia terlihat mengecek nama itu beberapa kali. Bahkan Leya bisa melihat Gleen mengecek nama itu berulang-ulang secara scanning di 2 buku tahunan.



"Gak ada di buku periode 2014."



"Serius?"



Gleen mengangguk.



Leya langsung merebut buku tahunan periode 2014. Matanya bergerak cepat mencari nama Adela Melati Putri, tidak ada. Sekali lagi, Leya mengulangi pencarian nama itu, kali ini perlahan-lahan. Tidak ada. Tidak ada nama Adela Melati Putri di sana.



Leya bahkan menghitung jumlah siswa di setiap kelas dalam buku tahunan tanpa terkecuali. Hanya kelas Raya dan Ansel di tahun ke 3 masa sekolah yang jumlah siswanya berkurang 1 orang.



Leya dan Glenn saling berpandangan, kemudian mengangguk. Tidak salah lagi, Adela punya hubungan dengan semua ini.


__ADS_1


Hari kedua


Aku lapar. Aku haus. Tubuhku jadi lemas kekurangan cairan. Aku bahkan tak bisa menahan diri untuk tidak buang air kecil, dan akhirnya aku tak punya pilihan lain selain buang air kecil di tempatku duduk. Tubuhku terus mengeluarkan cairan berupa keringat dan air seni, namun tak ada asupan cairan sama sekali yang masuk ke tubuhku, padahal ini masih hari kedua.


Perempuan itu belum masuk ke ruangan ini untuk mengecek keadaanku. Kemarin, ia tak begitu menyiksaku kecuali hanya penyiksaan psikis dan penusukan di tanganku yang akhirnya ia cabut gunting itu secara paksa, tentu saja disertai dengan teriakan histerisku. Hanya itu. Tapi, aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan padaku hari ini.


Sinar lampu jalan di malam hari masuk melalui ventilasi panjang. Silau. Tapi setidaknya aku masih bisa bersyukur karena dalam keadaan seperti ini aku masih bisa melihat sinar lampu.


Tuk tuk tuk, suara sol sepatu terdengar lagi dari luar saking sepinya tempat ini. Seseorang bermasker membuka pintu ruangan luas ini. Silau beberapa saat sebelum orang itu kembali menutup pintu garasi.


"Apa tidurmu nyenyak, Ratu?" tanyanya.


Aku menggeleng lemah. Tidak mungkin aku bisa tertidur nyenyak dalam keadaan seperti ini. Dia mungkin masih bisa melihat wajahku yang berantakan terpapar sinar lampu jalan yang masuk melalui ventilasi, tapi aku tetap tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Ia tetap memakai topi serta masker. Yang kutahu hanya suaranya. Suara perempuan.


Ia tertawa melihat gelengan kepalaku. Kemudian ia mendekat. Suara sepatunya menggema di ruangan ini. Keringat dingin kembali bercucuran. Tapi saat ini perasaan haus lebih menguasaiku dibandingkan perasaan takut.


Ia mengangkat wajahku yang menunduk dengan satu telunjuknya. Kali ini aku bisa melihat matanya, mata yang tidak asing. "Putri salju juga tak pernah tidur dengan nyenyak selama beberapa tahun tinggal bersamamu. Bahkan kamu selalu memberikan mimpi buruk padanya sejak ia berumur 7 tahun. Yang kamu rasakan saat ini tak akan sebanding dengan yang ia rasakan," katanya dengan nada lembut namun menusuk.


Air mataku tiba-tiba mengucur tanpa bisa kukontrol. Aku merasa sangat bersalah. Tapi, kurasa semuanya terlambat. Tak ada gunanya, karena putriku sudah tak ada di sini.


"Kau lupa bagaimana Putrimu tersenyum padamu padahal ia sedang bersusah payah menahan tangisnya? Ia waktu itu masih terlalu kecil untuk kau siksa setiap hari. Pada kenyataannya, tak ada kurcaci maupun pangeran yang membantu Putri Salju. Ia berjuang sendirian hingga akhirnya ia menyerah."


Kudengar suara perempuan itu berkata lirih seakan-akan ia menahan tangis. Aku bahkan sudah menangis mengingat semua yang kulakukan pada putri tiri ku. Aku dibutakan harta dan kecantikan. Akulah antagonis pada cerita ini. Dan baru kusadari, aku memang pantas mati. Tapi, tak bisakah ia memberikanku kesempatan untuk membayar semua kesalahanku? Tapi ia bahkan tak sedikit pun membiarkanku bicara.


"Kalian semua hanyalah iblis yang menjelma menjadi manusia. Ya, aku tahu di dalam diri setiap manusia ada iblis yang bersembunyi. Tapi kalian malah membantu iblis itu keluar dan menjadi hewan buas," tambahnya lagi.


Bukankah dia tak ada bedanya denganku? Dia juga iblis yang menjelma menjadi manusia. Pembunuh berdarah dingin.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan, Ratu. Aku berbeda. Aku terpaksa mengeluarkan sifat iblisku karna jika tidak begitu, tidak ada yang bisa membuat kalian membayar semua yang kalian lakukan pada sang Putri. Tidak adil bila kalian bisa hidup dengan baik tanpa merasa bersalah. Iblis lebih baik dikalahkan oleh sesama iblis. Karena manusia diciptakan bukan sebagai pendendam, dan kau tahu betul bahwa iblis adalah mahkluk penuh dendam, kesombongan, dan kemurkaan. Bukan begitu?" Katanya dengan mata yang sedikit menyipit karena tersenyum dibalik masker.


Aku meneguk salivaku sendiri. Ia kemudian meraba tanganku, meneliti setiap jariku satu per satu seperti mencari sesuatu. "Tak apa bila aku berubah menjadi iblis seutuhnya, yang penting aku bisa membuat Putri Salju tertidur nyenyak tanpa harus merasa tak adil. Apa aku iblis berhati malaikat? Hahahaha."


Aku sudah tak bisa begitu jelas mendengar suaranya. Aku lemas, kelelahan, dan haus. Sementara keringatku terus saja mengucur bersama air mata. Tiba-tiba ia menjauh, mengambil sesuatu di ruangan ini. Ketika kembali, ia sudah membawa sebuah... gunting? Ah bukan, jika aku perhatikan benar-benar, itu adalah sebuah tang. Apa lagi yang ingin ia lakukan dengan tang itu?


Ia kembali menyentuh tanganku. Jangan bilang ...


"Kau punya kuku yang cantik, Ratu. Katanya, kau lebih menyayangi kukumu dibandingkan Putri salju bukan? Bagaimana jika kukumu kurenggut seperti kau menghancurkan kuku Putri Salju waktu itu. Kau masih ingat?"


Siapa dia sebenarnya? Bagaimana ia tahu setiap detail apa yang kulakukan pada putriku? Lagipula waktu itu aku benar-benar tidak sengaja membuat kuku putriku patah...


Aku menangis dan menggeleng sekencang-kencangnya. Tolonggg langsung bunuh aku saja! Jangan menyiksaku perlahan seperti ini!!! Tolongggg...


Aku tahu, ia bisa melihat mataku yang menangis dan memohon. Tapi ia berdarah dingin, ia tak peduli sama sekali dengan air mataku. Ia justru tertawa, mendekatkan tang itu pada jari jempol kananku yang panjang kukunya.


Aku terus bergerak, berusaha melepaskan tanganku dari ikatan kuat tali ini pada tangan kursi. Sebelah tangan kirinya yang kuat menahan tanganku agar aku berhenti bergerak. Aku meringis karena ia menekan luka di punggung tanganku bekas penusukan kemarin. Luka dalam yang setengah kering itu terasa basah lagi. Ada cairan yang kembali keluar dari punggung tanganku.


Ia tertawa, kemudian menjepit tang itu pada ujung kukuku dan.... dia menariknya hingga kukuku terlepas dari daging jari jempolku. AAARRRGGGHHHH!! Aku menangis dan berteriak sekuat-kuatnya. Energiku yang tersisa kugunakan untuk berteriak kesakitan. Sayangnya suaraku teredam kain penutup mulut ini. Ia masih tertawa. IA GILA!!


Tes... tes... tes... cairan hangat terasa meluncur dari jari jempolku membasahi tangan kursi.


Seakan tak puas bila hanya satu kukuku saja yang terlepas, ia kembali mencabut kuku telunjuk kananku. Sial! SAKIT SEKALI!!! Rasanya seperti mencabut paku yang tertancap di jarimu, tapi ini lebih sakit lagi. Rasa sakitnya bahkan menutupi rasa sakit luka bekas penusukan gunting di punggung tanganku, yang ia tekan agar tanganku tak bergerak saat pelepasan kuku dari jariku. Sialan aku sudah mati rasa, tak punya energi lagi untuk berteriak kesakitan.


Pada pencabutan kukuku yang ketiga, aku tak sadarkan diri. Semua terasa gelap. Namun, tak selang beberapa lama, aku terbangun akibat tamparan keras yang ia luncurkan ke pipiku hingga pipiku memanas. Ketika aku membuka mataku, ia kembali mencabut kukuku yang ke empat. "Tak seru bila kau tertidur, Ratuku. Aku akan terus membangunkanmu."


Aku hanya bisa menangis. Sakit sekali. Aku ingin mati saja mengakhiri penderitaan ini. Detik demi detik yang kulalui di tempat ini terasa begitu lama dan sangat menyiksa. Setiap aku pingsan, ia akan menampar atau memukul wajahku dengan kuat agar aku terbangun dan kembali mencabut kukuku. Berulang-ulang seperti itu. Aku pingsan berkali-kali dan ia membangunkanku berkali-kali untuk mencabut kukuku, hingga kesepuluh kuku tanganku benar-benar habis.


Aku benar-benar lelah. Apa sudah berakhir? Aku... tolong langsung bunuh saja aku... bisakah kau dengar? Bunuh saja aku...


"Kau tampak kelelahan setelah bermain, Ratuku. Kuberikan kesempatan untuk beristirahat sebelum kita bermain kembali."


Itu kata-kata terakhir yang kudengar, sebelum semuanya gelap dan aku tak sadarkan diri.


__ADS_1


__ADS_2