
Adela Melati Putri. Nama itu terus Leya gumamkan, sementara Glenn berusaha menelepon Pak Rasyid untuk meminta bantuan beliau melanjutkan wawancara dengan anak OSIS yang kemarin belum sempat diwawancarai serta mencari keterangan lebih lanjut mengenai Adela Melati Putri. Glenn dan Leya juga tetap akan mencari keterangan mengenai Adela.
"Sekarang kita kemana Glenn?"
Glenn menatap jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangannya. Pukul 8.20, hampir jam 9 pagi. Mereka punya kesempatan sampai paling lambat pukul 10 atau 11. Gleen berpikir sejenak.
"Kita tanya guru-guru di sini atau penjual kantin. Kita gak bisa cuma bergantung sama Pak Rasyid," kata Glenn akhirnya.
"Terus gimana nanya nya? Ini kan masih jam belajar anak SMP, gak mungkin kita nanya guru. Dan lagi, gak mungkin kita nanya tanpa dicurigai."
"Tunggu bentar." Glenn kembali mengangkat teleponnya. Menelepon seseorang di ujung sana.
"Ayah? Bisa ke SMP Juara sebentar gak? Glenn butuh banget."
Ternyata Glenn sedang menelepon Ayahnya. Glenn terlihat mengangguk-angguk dan mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya ia menutup telepon. Glenn kembali menatap Leya, "Masalah nanya guru atau kepala sekolah di sini, Ayah gue yang ngurus. Kita cari info di kantin aja," kata Glenn.
"Ayah lo?"
"Iya, dia alumni SMP Juara."
Leya pun mengangguk-aguk sambil membuka mulutnya membentuk O. Mereka bergegas keluar dari perpustakaan dan melangkah menuju kantin. Namun, sebelum keluar, Leya memoto isi buku tahunan itu dengan cepat, tak begitu memperhatikan.
Kantin sekolah terlihat sangat sepi karena seluruh siswa masih belajar. Leya dan Glenn memilih beli makanan di salah satu kantin penjual bakso. Sementara bapak penjual bakso menyiapkan bakso, Leya mengajaknya berbicara.
"Pak, kayaknya bapak udah lama ya jualan disini," ujar Leya memulai. Glenn hanya diam di samping Leya, ia tak jago berurusan dengan hal semacam ini.
"Oh udah lama, Neng, hampir 10 tahun."
"Oh gituu. Berarti bapak tahu Adela Melati Putri dong, ya?"
Bapak penjual bakso menghentikan kegiatannya sejenak, menatap Leya beberapa saat dan kembali fokus pada kegiatan yang tadi ia hentikan. "Tahu Neng. Siapa yang gak tahu Neng Adela. Paling cantik di sekolah ini dulu. Tapi sayang..."
"Kenapa, Pak?"
"Udah meninggal Neng. Waktu itu dia kelas 2, itu terakhir kalinya bapak ngelihat dia. Orangnya baik sekali, lemah lembut. Tapi, banyak yang iri sama dia karena cantik dan pintar. Dia gak punya banyak teman di sini. Kasihan anak itu." Bapak penjual bakso menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak.
"Bapak tahu gak kenapa dia meninggal?" tanya Leya lagi.
"Bunuh diri Neng. Gak tahu kenapa dia bunuh diri."
Leya melebarkan matanya terkejut. Semuanya seperti dugaan Glenn. Leya menatap Gleen dan Glenn terlihat mengangguk.
"Bapak tahu orang tuanya Adela?"
"Dengar-dengar sih orangtuanya itu guru. Eh, ibunya kalau gak salah guru di SMA Mentari."
SMA Mentari? Itu adalah sekolahnya Leya. Leya dan Glenn langsung saling berpandangan. Masing-masing dari mereka terkejut. Apa Bu Rika? Benar-benar Bu Rika?
"Bapak tahu gak namanya?"
"Oh gak tahu Neng kalau nama Ibunya."
"Oh gitu ya Pak."
"Ohiya, Neng sama Mas nya gak sekolah ya? Kalian dari SMA mana?"
"Dari--"
"Maaf Pak sebelumnya, baksonya belum ya? Saya sudah ditelepon Ayah saya." Glenn memotong pembicaraan dan menunjukkan telepon genggamnya yang berkedap-kedip.
"Ohiya maaf-maaf. Bapak jadi lama gara-gara diajak ngobrol begini. Ini sudah, Mas." Bapak tukang bakso menyodorkan 2 mangkuk bakso dan 2 gelas es teh seraya Gleen menyodorkan uang 50 ribu.
"Maaf ya Pak saya ajak ngobrol hehe," kata Leya cengar-cengir.
"Kembaliannya ambil aja Pak," tambah Glenn.
"Waahh makasih banyak ya mas."
Glenn dan Leya bergegas duduk di meja membawa semangkuk bakso dan segelas es teh. Mereka menyuap masing-masing makanan dengan sangat hening, seperti tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing.
"Makannya jangan lama," ucap Glenn.
"Duluan gue kali makannya." Leya cengar-cengir masih sibuk menyuap bakso dan mie nya dengan begitu lahap seperti kelaparan.
"Lo gak sarapan?"
Leya agak bersyukur karena paling tidak ada beberapa obrolan yang bisa mereka bahas. Tidak hening seperti tadi. "Iya, gak sarapan."
"Pantes."
Glenn kembali menyuap mie dan baksonya. Kali ini, Leya tanpa sengaja memerhatikan cara laki-laki itu makan. Leya tersenyum kecil.
"Apaan lihat-lihat," kata Gleen masih menunduk menatap baksonya tanpa melihat ke arah Leya.
"Cuma penasaran, makannya orang pinter itu gimana sih? Ternyata begitu haha."
"Garing."
Leya mengerucutkan bibirnya sebal.
"Gue kepikiran sama Adela. Ngebayangin kehidupan dia yang berat sampai akhirnya dia bunuh diri."
Leya terdiam. Mendengarkan Glenn dengan seksama.
"Dulu di panti, gue juga sering lihat temen-temen yang dibully."
"Hah? Panti?"
__ADS_1
"Iya. Terus Ayah dan Ibu ngerawat gue. Itu saat gue berumur 5 tahun. Selang beberapa bulan, Ibu meninggal."
Leya menundukkan kepalanya tak enak. Perlahan, ia mengetahui kehidupan Glenn lebih dalam. Dan ini tidak seharusnya. "Maaf, lo jadi bahas beginian, Glenn."
Glenn tersenyum. "Ya gak papa, emang gue mau cerita kok. Akhirnya, gue nemuin satu orang yang gue percaya selain Ayah gue, yaitu lo."
DEG! Kok gue berdebar gini, batin Leya.
"Gue gak pernah sama sekali ceritain kehidupan gue dulu sama orang lain. Lo yang pertama."
"Hahaha lo bisa aja, Glenn. Jangan gitu ntar gue baper, lo tanggungjawab loh haha." Tawa Leya terdengar sangat renyah. Leya sengaja tertawa seperti itu untuk menutupi kegugupannya sambil terus berkata di dalam hati bahwa ini bukanlah apa-apa.
Leya mengumpat, bego gitu aja baper.
"Glenn!"
Glenn dan Leya menoleh ke sumber suara. Seorang laki-laki tampan dengan baju kemeja abu-abu berlengan panjang tersenyum menghampiri mereka. Itu Ayah Glenn, penyelamat Glenn dari kehidupan di panti.
"Malah pacaran di sini. Gimana? Kamu udah dapat info?"
"Siapa yang pacaran? Cuma makan doang kok," tandas Glenn sebal karena ejekan ayahnya. "Udah ada info sih. Ibunya Adela adalah guru di sekolah Glenn. Tapi masih gak tahu siapa."
Ayah Glenn duduk di samping Glenn. Leya hanya tersenyum tanpa ikut berbicara.
"Guru kalian ada yang namanya Ibu Rika? Itu ibu tirinya Adela. Ayah udah tanya-tanya sama kepala sekolah SMP ini," jelas Ayah Glenn.
"Tuhkaannnn gue benerrrr Bu Rika. Yesss!! Lo sih gak percaya sama gue haha..." Leya kegirangan, seperti baru saja memenangkan pertandingan.
"Tepat pukul setengah 10 nih. Kita udah tahu Ratu itu siapa. Gak salah lagi, Ratu yang Grimm maksud adalah Bu Rika. Dan Bu Rika hilang udah 5 hari menghilang hingga hari ini," tambah Glenn.
"Teka-tekinya, Glenn. Clue tempat kemungkinan Bu Rika di sembunyikan." Leya menscroll layar handphone-nya untuk mencari foto clue yang diberikan oleh Grimm. Ia sengaja memotonya diam-diam tadi saat fokus Geby mengarah pada Glenn. "Kau akan menemukannya di tempat gelap bersama raksasa Eredorroc Murref kesayangannya."
"Mungkin Bu Rika disekap di tempat gelap yang luas," kata Ayah Glenn, "ada kata-kata raksasa di situ. Mungkin adalah suatu benda yang besar."
"Jadi, mungkin Bu Rika gak mungkin disekap di rumah kontrakannya sendiri. Karena yang gue dengar rumah kontrakannya itu kecil," tambah Leya.
"Gimana dengan rumah suaminya? Rumah Adela?" tanya Glenn.
"Mungkin bisa juga. Glenn, telepon Pak Rasyid, minta beliau mencari tempat tinggal Adela," saran Ayah Glenn.
Glenn mengangguk, kemudian ia langsung menelepon Pak Rasyid. "Pak, gimana? Ada informasi? Kami mendapatkan informasi bahwa Bu Rika itu Ibunya Adela. Apa Bapak bisa mencari tempat tinggal Adela?"
"Iya Glenn. Bapak udah dapetin alamat rumah Adela juga. Nanti Bapak minta tolong ke Pak Rafi buat jemput kamu. Kamu dimana?"
"Di SMP Juara, Pak."
"Baik, tunggu Pak Rafi 10 menit lagi."
Klik. Telepon dimatikan secara sepihak.
"Bahasa Latin? Tapi Ayah tidak pernah mendengarnya," jawab Ayah Glenn.
Leya mencoba mencari kata-kata itu di Google, tapi Google memberi keterangan bahwa kata-kata tersebut tak cocok dengan dokumen manapun. Sementara Glenn, terlihat diam berfikir. Ia malah menulis kata-kata itu di sebuah kertas kosong.
"F-e-r-r-u-m C-o-r-r-o-d-e-r-e. Ferrum Corrodere?" Kata Glenn setelah mencoba menyusun kata-kata itu.
"Besi berkarat," tandas Ayah Glenn, "Ferrum adalah bahasa Latin dari besi. Dan corrodere adalah bahasa Latin dari korosif."
Tak hanya Glenn yang jenius, bahkan Ayah angkatnya juga jenius. Leya terkesima seperti orang bodoh. Ayah Glenn tertawa melihat reaksi Leya. Leya cerdas, tapi ia tak punya pengalaman di bidang ini, jadi ia seperti baru saja menyelami dunia yang benar-benar asing. Tidak peduli dengan banyak membaca novel Conan Doyle. Rasanya setiap berusaha memecahkan kasus lapangan, otaknya terasa kosong melompong.
"Apa Ayah sudah cukup membantu? Boleh Ayah kembali ke rumah sakit sekarang?" Tanya Ayah Glenn pada Glenn.
Glenn tersenyum dan mengangguk. Ia kemudian menyium punggung tangan Ayahnya. Leya ikut menyium punggung tangan Ayah Glenn.
"Kalian hati-hati ya. Glenn jangan pergi sendirian. Harus ada Pak Rasyid. Ayah percaya sama kamu. Terus kamu harus jagain Leya baik-baik ya. Ayah pergi." Ayah mengacak pelan rambut Glenn dan akhirnya pergi.
"Kok ayah lo bisa sesantai itu sih? Maksud gue, pekerjaan lo sangat berbahaya dan dia gak masalah?" tanya Leya penasaran.
"Ayah gue men-support apa pun yang gue lakuin asalkan positif. Dan saat gue bilang kalau gue mau jadi detektif konsultan, awalnya dia gak setuju, dia takut gue kenapa-napa. Terutama setelah gue masuk rumah sakit jiwa. Ayah gue adalah orang yang paling terpukul. Dia tiap hari selalu jenguk gue, memberi semangat ke gue, dia juga berusaha cari pengacara untuk membuktikan kalau gue gak bermasalah. Tapi, gue tetap masuk rumah sakit jiwa. Kalau bisa tidur di rumah sakit, mungkin Ayah gue akan tidur di sana karena dia terlalu sayang sama gue. Dan dia adalah satu-satunya orang yang percaya kalau gue sehat.
"Tapi, keluar dari rumah sakit, gue memilih untuk ngebantu polisi mecahin masalah-masalah mereka. Kebetulan Pak Rasyid itu teman baik Ayah gue. Lama kelamaan, gue bisa dapetin kepercayaan Ayah gue dan akhirnya, dia terima freelance job gue."
Hidup Glenn benar-benar menarik dan penuh tantangan. Berbeda dengan hidup Leya yang datar-datar saja. Namun, sejak bertemu Glenn, Leya merasa hidupnya ikut berubah menjadi lebih menarik dan penuh tantangan pula. Sensasi mengejar pembunuh, memecahkan teka-teki, dan tantangan berbahaya lainnya bisa begitu Leya nikmati. Bahaya bagai candu yang mematikan. Salah langkah sedikit saja bisa menghilangkan nyawa.
Leya tak tahu apa respon ayahnya bila tahu bahwa Leya terlibat pekerjaan berbahaya seperti ini.
"Glenn!" Seorang pria berpakaian kemeja biasa memanggil dari dalam mobil. Ia melambaikan tangannya dan memberi aba-aba agar Glenn bisa masuk ke dalam mobil.
"Ya' tugas lo sampai di sini aja ya. Selanjutnya tugas gue."
"Kok gitu? Gak bisa gitu dong Glenn. Gue mau ikut."
"Bahaya Ya', lo harus balik ke sekolah. Gue gak tahu apa yang akan terjadi kalau lo ikut di misi ini karena pembunuh ini sangat berbahaya. Dia bisa aja langsung menyerang atau diam-diam kabur dan menyekap lo."
"Justru harusnya gue sama lo terus biar dia gak punya kesempatan untuk menyekap gue. Gak mau tahu. Pokoknya gue ikut." Tanpa aba-aba, Leya langsung melangkah cepat mendahului Glenn dan masuk ke dalam mobil.
Glenn hanya bisa menghela napasnya.
Glenn sudah berada di depan rumah besar bak istana milik Adela. Glenn dan Leya keluar dari mobil, sementara beberapa polisi mulai menyusuri tempat ini. Leya dan Glenn melangkah bersama-sama. "Tempat gelap tempat menyimpan raksasa besi rongsokan berkarat?" tanya Leya.
Glenn melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 11. Dimana Bu Rika disekap?
__ADS_1
"Gudang? Garasi?" tanya Glenn mereka-reka.
"Rumah ini tidak memiliki gudang," kata Pak Rafi.
"Kalau gitu kita coba ke garasinya dulu."
Mereka berdua ditemani Pak Rafi memasuki garasi. Garasi besar rumah ini terlihat sunyi. Tak ada suara sedikit pun. Ketika Pak Rafi membuka garasinya, tak ada apapun. Kosong. Hanya ada mobil-mobil baru di sini. Tak ada 'raksasa besi berkarat'. Glenn mengerutkan alisnya. Apa mereka salah tempat?
"Kok gak ada apapun selain mobil?" tanya Leya mulai khawatir.
"Ruangan lain di rumah ini bagaimana Pak?" tanya Glenn.
"Tunggu sebentar Glenn, bapak tanyakan." Pak Rafi menelepon personilnya. Setelah ia mematikan teleponnya, ia menatap Glenn sambil menggeleng. "Rumah ini bersih. Tidak ada tanda-tanda ruangan bekas penyekapan sama sekali. Semua personil sudah mengeceknya."
"Apa rumah Adela tak hanya ini? Pak, tolong cari lagi." Glenn mulai terlihat takut dan khawatir bila salah taktik. Ia mulai terlihat gugup.
"Tunggu seben-"
Tiba-tiba telepon genggam Pak Rafi berbunyi. Di layar itu tertulis nama Pak Rasyid. Setelah Pak Rafi mengangkat telepon itu dan berbicara sebentar, ia memberikan telepon itu pada Glenn.
"Glenn?"
"Iya Pak."
"Bapak sudah melacak nomor plat mobil van yang kamu beritahu waktu itu."
"Jangan sekarang Pak, lebih baik-"
"Mobil itu saat ini sedang berada di salah satu villa milik Pak Albert, ayahnya saudari Adela yang juga sudah meninggal."
Glenn memelototkan matanya.
"Masalahnya adalah..."
"Ada apa Pak?"
"Jarak dari tempatmu berada menuju villa memakan waktu sekitar 1 jam lebih."
SIAL!
Pak Rafi perlahan membuka pintu garasi besar milik villa Almarhum Albert yang tak lain adalah ayahnya Adela. Bau aneh zat kimia menyeruak. Mereka semua langsung menutup hidung dengan cepat. Leya gemetar seketika melihat pemandangan di depan matanya. Pemandangan paling mengerikan yang pernah ia lihat. Ia hampir menangis, tangannya gemetaran. Ia tak bisa melepaskan pandangannya dari apa yang ia lihat di dalam garasi itu.
Tiba-tiba, Glenn memutar tubuh Leya dan memeluknya. Leya menangis sesenggukan. Lagi-lagi mereka gagal. Dan ini adalah kegagalan yang kesekian kalinya. Glenn mendekap kuat tubuh Leya, menutupi mata Leya dengan dada bidangnya agar Leya tak melihat hal mengerikan itu.
Keadaan Bu Rika jauh lebih mengenaskan dari Ansel. Tubuh Bu Rika hancur dengan daging-daging meleleh hingga memperlihatkan tulangnya. Wajahnya juga benar-benar tersisa tulang dan sedikit daging. Seperti habis dibakar hidup-hidup, yang tersisa di depannya adalah sepatu high heels merah yang sering Bu Rika gunakan.
"Glenn, kita gagal lagi... gue takut..." kata Leya sesenggukan. Entah kenapa melihat Bu Rika dalam keadaan seperti itu membuat hatinya begitu sakit. Karena, jika mereka tidak terlambat, mungkin saja Bu Rika bisa diselamatkan.
"Gue udah bilang kalau lo gak perlu kesini," bisik Glenn pada telinga Leya, "jangan lihat. Tutup mata lo. Lihat gue aja. Gue yang akan melindungi lo."
Leya membeku di tempat, masih menangis dengan bahu yang gemetar dan ketakutan menguasainya. Namun, tangan kokoh Glenn berusaha menghentikan ketakutan Leya.
Leya tak takut apapun. Ia tak takut melihat mayat seperti apa pun. Tapi, melihat mayat yang sekujur tubuhnya meleleh seperti habis dibakar hidup-hidup, membuat Leya teringat akan sesuatu.
Ketakutannya dulu, bagaimana Ibunya menutup mata dengan cara yang sangat mengenaskan.
__ADS_1