Once Upon a Time

Once Upon a Time
Apa Aku Terlambat?


__ADS_3

"Ini gak mungkin! Friska? Di dalam aku? Apa... kamu roh Friska?" Glenn menggelengkan kepala. Tidak. Ini tidak seperti itu. Ini tidak logis. Ia semakin mundur hingga punggungnya menyentuh ke belakang dinding. Kepalanya mulai pening. Kemudian terdengar suara Ibu waktu itu.


"Bahkan ada kemungkinan kamu membentuk alter dengan 'mencuri' atau lebih tepatnya 'menjiplak' karakter seseorang yang masih atau pernah hidup. Mungkin kamu merasa kehilangan, ingin ia tetap ada. Kamu membuat 'orang itu' tetap ada sebagai alter baru. Atau mungkin sebuah obsesi, orang itu memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap kamu."


Tidak ini salah. Friska... Karakter Friska bukan yang selalu ingin membunuh diri...


"Enggak... kamu bukan Friska. Friska tidak punya keinginan sedikitpun untuk membunuh diri." Glenn merosot duduk. Refleksi dirinya di cermin tidak melakukan itu. 'Ia' tetap berdiri di sana.


"Aku memang gak punya keinginan untuk bunuh diri. Aku sedang membantumu mewujudkan mimpi terbesarmu. Yaitu mati. Lari dari kenyataan." Dia tersenyum miring, "kau mau tahu kenapa keinginan terbesarmu adalah mati? Coba kamu ingat lagi. Apa Ibu benar-benar mati karena sakit?"


Glenn terkesiap. Ia melebarkan matanya. Air mata jatuh tiba-tiba. "I-Ibu memang sa... kit..."


"Yah wajar aja sih kalau kamu lupa. You always forget. That's you. So, let me tell you a story. Once upon a time, there was a... little boy named Glenn. Hahaha terlalu frontal. Aku ulangi ya. Once upon a time, there was a little boy named Jack. Kamu tahu aku selalu mengubah dongengnya. Jadi... Jack akan kubuat menjadi bocah yang jenius." Dia tersenyum dingin, sementara Glenn terus mengeluarkan air mata. Ia berada di titik terbawah. Ia seperti berada di dalam penjara.


"Jack adalah bocah cerdas. Ia jenius. Sebelumnya ia tahu bahwa sapi yang ia tukarkan dengan 3 biji kacang polong adalah benar-benar biji ajaib. Bagaimana caranya? Ia dapat menganalisa dengan mudah perawakan pria tua yang memberinya biji kacang ajaib itu. Ia tahu bahwa pria itu adalah seorang penyihir. He took a deal, he brought the beans home. Dia bilang pada Ibunya kalau 3 biji kacang itu adalah biji kacang ajaib.


"Ibunya curiga. Ibunya tahu bahwa Jack bukan anak biasa. Jack masih berusaha meyakinkan kalau dirinya tidak berkhayal. Ia membuang biji itu keluar, ke tanah. Singkat cerita, keesokan harinya pohon raksasa tumbuh karena biji itu. Jack yakin ada sesuatu di langit. Ia membawa pisau sebagai perlindungan dirinya. Ibu mencegatnya, Ibu tidak mau Jack pergi ke sana. Sebelum Jack memanjat, terjadi pertengkaran antara Jack dan Ibunya. Hingga... secara tak sengaja pisau yang sedari tadi Jack pegangi menusuk tepat ke jantung Ibunya."


"STOP!!" Pekik Glenn menutupi telinganya kuat-kuat. Ia menangis. "Aku gak bunuh Ibu!!" Katanya lagi. Glenn menangis putus asa. Ia mencoba mencari ingatan di kepalanya. Tapi, sedikitpun ia tak bisa berpikir jernih.


"You did it. You can't deal with it. So, I help you. Things so mess here, i clean all for you. And the only way to help you is... by killin' you. Aku baru memberi tahumu hal itu. Dan ada satu lagi yang belum aku beri tahu. Hidupmu sangat sangat sangat berantakan. Tidakkah kamu ingin benar-benar mati? Ibu kandung brengsekmu itu kan yang membuat hidupmu berantakan? Kemudian, ia juga mati di depan matamu. Bukan di tanganmu. Apa itu adil?" Katanya.


Glenn berusaha menekan telinganya kuat-kuat. Semakin ia mendengarkan ucapan Friska, semakin ia marah. Marah pada dirinya sendiri. Apa yang ia lakukan waktu itu? Apa... ia benar-benar membunuh Ibunya? Itu tidak benar... Ibu bilang Glenn bukan pembunuh...


"Hidup ini sungguh tidak adil bukan? Aku membuatnya menjadi adil. Aku membuatmu menjadi pahlawan. Tapi... bukankah pahlawan juga harus memiliki musuh yang kuat? Maka aku sendiri yang akan menjadi musuhmu itu."


Glenn menurunkan kedua tangan yang menutupi telinganya. Ia mengepalkan tangan kuat-kuat. Percuma saja. Bukankah ia memang seharusnya menghadapi kenyataan ini? Bahwa... hidupnya memang sungguh berantakan?


"Ibu kandungmu sendiri menyiksamu setiap hari. Menjadikanmu pelampiasan atas kemarahannya dengan hidup yang berat. Kamu marah, tapi menahannya. Ia ibu kandungmu. Kamu membencinya, sungguh membencinya. Tapi kamu tidak bisa melakukan apapun. Kemudian, Marco dan Leo muncul, tepatnya setelah kematian Ibu kandung di depan matamu. Ia dipukuli sampai mati setelah memilih berhenti dari pekerjaannya. Ia mati di depanmu. Yah... Marco datang dan menutupi semua memori burukmu. Aku datang, setelah... Bunga, Ibu angkatmu mati." Dia menyeringai.


Glenn menunduk. Ia diam mendengarkan Friska. Ia harus tahu semua kenangan buruknya. Kemudian... tiba-tiba tergambar wajah Ibu kandungnya dan bagaimana Glenn setiap hari disiksa. Glenn mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Kemarahan terus menumpuk di hatinya.


"Bagaimana Bunga mati? Kamu membunuhnya. Menusuknya dengan pisau. Setelah itu... kamu lupa. Ayahmu, has to deal with it, he really loves you as hell. Dia menutupi kejadian itu darimu dan bilang kalau Bunga sakit. Dia sendiri yang melindungimu seperti orang gila." Gleen mmengangkat wajahnya yang kemerahan karena marah. Air mata terus mengucur deras. "The last question, who's Grimm? Akulah Grimm," katanya dengan penuh kebanggaan. "Dan aku... adalah kamu, dirimu sendiri."


Glenn berusaha menahan amarahnya sekuat tenaga. Tidak... tidak bisa lagi... perasaanya tambah bercampur aduk antara sedih, marah, tidak terima. Boleh ia marah pada Tuhan? Kenapa ia memiliki hidup seperti ini? Dia... dia bukan Grimm... tapi semua orang akan percaya bahwa dia adalah Grimm.


"Seperti yang kukatakan sebelumnya. Kamu adalah pahlawannya. Tapi, pahlawan tidak akan berguna tanpa penjahat. Maka aku penjahatnya. Bukankah dramatis bila musuh pahlawan itu adalah dirinya sendiri? Your biggest enemy is your self." Dia tertawa, tawanya menggema dan Glenn semakin marah.


"Kamu gak bisa melakukan apapun kan?"


Glenn tidak bisa menahannya lagi. Ia berlari menuju cermin itu, menghantamnya dengan kepalan tangan hingga retak. Tapi... cermin itu terlalu kuat. Hanya terjadi keretakan. Tangan Glenn merah dan berdarah. "AKU BUKAN GRIMM!!" Pekiknya marah.


"Yes you're not. But everyone believes what they see. And they see monster in you. They see Grimm in your eyes."


Glenn memegangi kepalanya yang mulai pening. Suara-suara muncul. Ia menutup matanya sebentar sebelum ia terjatuh ke lantai.


Tak butuh waktu lama ketika ia membuka matanya lagi kemudian tersenyum menyeringai, "bodoh lo, Glenn," katanya seperti pada diri sendiri. Ia bangkit dari posisinya terbaring, "si brengsek ini penipu ulung. Lo gak belajar sama sekali," katanya lagi. Dia diam beberapa lama, seperti sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia berbicara sendiri. Kemudian, Glenn kali ini menatap cermin itu, "trik yang sangat murahan, Adrian."


Refleksi di cermin itu balik tersenyum miring, "tapi cukup cerdas, bukan? Selamat datang, Marco."



*Je\-Jeo... enggak... gak mungkin*...



Leya menatap nanar ke arah laki\-laki itu. Tidak... sorot matanya tidak seperti Glenn yang ia kenal... suaranya... ini bukan Jeo... tidak... ini bukan Jeo.



Leya menggelengkan kepalanya kuat\-kuat. Laki\-laki itu seakan\-akan mengerti. "Kamu itu gadis favoritku. Jadi, ada hak khusus untukmu. Aku akan mendengarkanmu berbicara." Dia tersenyum, melepas lakban yang menutupi mulut Leya.



"Lo bukan Glenn! Atau Jeo!! Lo bukan keduanya!!!" Pekik Leya.



Laki\-laki berwajah seperti Glenn itu menunduk. Tangannya memegangi rahang Leya. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Leya, "sudah kuduga. Kamu memang spesial, Lily... *yeah you're right. I'm not* Gleen. Biarkan aku memperkenalkan diriku secara resmi padamu. Namaku Adrian Mahardika Pratama, salam kenal, Lily," bisiknya.



Leya melebarkan matanya tak percaya. Adrian menjauhkan bibirnya dari telinga Leya, tapi ia tetap menyeringai. Wajahnya masih begitu dekat dengan wajah Leya. Hanya berkisar beberapa sentimeter.



"Ta\-tapi... ka\-kamu..."



"Harusnya mati?" Potong Adrian, "yah. Harusnya aku mati. Sayangnya aku tidak pernah berada di dalam bis itu sama sekali. Pada kenyataannya, aku hanya kabur dari panti." Adrian mundur beberapa langkah, "Glenn mengingkari janjinya. Aku paling tidak suka seseorang yang mengingkari janji." Adrian mengangkat bahunya. "Dia mengingkari janji dengan orang yang salah."



"Ka\-kata Bunda... kamu nggak bisa berbicara..."



"Aku gak bisa bicara?" Adrian tertawa, "aku 'tidak' berbicara. Itu konteks yang berbeda," jawabnya. "Ah... kamu terlalu banyak bertanya dan aku terlalu banyak menjawab." Dia menoleh ke arah Rena, "Friska, tolong kamu cek. Apa Glenn sudah siuman? Aku ingin pertunjukkan kita terlihat dramatis. Kemungkinan, Marco juga akan hadir. Ah... sungguh menyenangkan." Dia tersenyum puas.

__ADS_1



"Fris\-Friska?" Ulang Leya. Berusaha memastikan.



"Ya, dia Friska Anastasia." Adrian menarik lengan Friska, mengecup puncak kepala Friska, "*she's my girl*." Friska ikut tersenyum miring.



"Ta\-tapi... wajah kamu..." Leya tidak bisa memahami semua ini. Kepalanya seketika pening.



"Ssttt sttt... tidak akan seru bila kuberitahu semua. Pertunjukan belum mencapai klimaksnya. Kita masih perlu menunggu satu lagi pendongeng kita." Adrian tertawa kaku, "yah... Grimm tidak punya pembantu. Karna aku dan Friska adalah Grimm. Dan ada satu orang lagi. Tenang saja, dia akan datang sebentar lagi."



Adrian memberi isyarat agar Friska pergi, Friska pun melangkah keluar dari ruangan. Leya melihat ke arah Rosa. Gadis itu masih tak sdarkan diri. Leya menangis, "Adrian... tolong jangan libatkan Rosa. Dia gak tahu apapun. Kalau kamu mau bunuh aku, kamu boleh melakukannya... aku gak peduli siapapun Grimm. Kalau kamu mau bunuh aku sekarang, lakukanlah..."



"Kamu tahu aku bukan tipe orang yang suka membunuh secara tergesa\-gesa. Aku lebih suka melihat para tokoh dongeng yang kami buat, menderita lebih dulu.



"Aku membunuhmu? Tidak. Aku tidak akan membunuhmu. Aku hanya akan membuatmu gila, Lily hahaha. Apa kamu tidak bertanya\-tanya kenapa aku melakukan ini? Kenapa Glenn bertemu denganmu? Apa benar itu takdir kalian?"



Leya diam. Ia menundukkan kepalanya, menangis. Ia membayangkan Glenn yang saat ini entah disekap dimana. Astaga... bagaimana keadaan Glenn sekarang? Laki\-laki itu jelas akan sangat tersakiti psikisnya...



"Di mana Glenn?" Leya tidak mengindahkan ucapan Adrian. Ia justru menanyakan keadaan Glenn.



"Hahaha Glenn? Tenang saja. Dia baru datang. Dia ada di kamar khusus. Aku akan melakukan sedikit pertunjukan hingga ia merasa ingin benar\-benar mati. Aku akan mengungkapkan rahasia\-rahasianya."



"Kamu iblis," kutuk Leya. Ia mengangkat wajahnya dengan begitu berani, bahkan ia menatap langsung ke mata Adrian. Tidak peduli penyiksaan apa yang akan Leya rasakan. Yang jelas, ia sangat membenci manusia di depannya ini. Ah, tidak. Dia bukan manusia. Dia iblis.



"Aku? Iblis? Hahaha kamu yang iblis, Lily. Kamu meninggalkan kakakmu sendiri. Kamu membiarkan dia sengsara seumur hidup. Ingin kuberitahu sebuah fakta lagi? Kakakmu adalah Adela. Ya, Adela yang tersiksa hingga di akhir hayatnya itu. Adela yang dikhianati pacar dan sahabatnya sendiri. Yang dihianati oleh iblis\-iblis seperti Raya, Ansel, Belvina, Alfi, Geby, bahkan Ibu tirinya sendiri. Adik macam apa kamu membiarkan kakakmu mati sendiri?" Sorot mata Adrian yang begitu dingin berubah jadi sangat marah. Ia berteriak\-teriak di depan wajah Leya.




Leya mengatupkan bibirnya rapat\-rapat. Adela? Kakaknya? Kakak... kandungnya... seketika air mata Leya tumpah ruah. Ia... ia membuat kakaknya hidup tersiksa seumur hidup... Adrian benar... ia adalah iblis...



"Tidak ada gunanya kamu menangis sekarang. Toh, Adela sudah mati. Semuanya berawal karna kamu." Adrian menutup matanya sejenak, "ah sial... aku seharusnya tidak menyentuhmu sebelum waktunya." Dia menghela nafas keras\-keras, seperti berusaha menahan emosi, "aku akan membuatmu gila bahkan lebih dibandingkan yang kulakukan pada Belvina. Aku tidak akan membunuhmu Leya, aku akan membuatmu tersiksa seumur hidup, seperti yang kamu lakukan pada Adela."



Friska kembali datang, "Dri, Glenn hampir bangun."



"Kamu jagain dua gadis ini dulu ya, Sayang. Jangan sampai ada yang mengganggu pertunjukanku dan Glebn." Adrian melangkah pergi, tapi sebelum ia benar\-benar meninggalkan ruangan ini, ia mengucapkan satu kalimat terakhir pada Leya, "aku akan membunuh semua orang, tepat di depan matamu. Bahkan Glenn sekalipun."



Leya tidak begitu mendengarkannya. Pikirannya jatuh pada Adela yang sebenarnya adalah Dandelion, kakaknya. Bahkan sebelum Adrian berkata ia akan membuat Leya menjadi gila, Leya sudah jadi gila lebih dulu. Terlebih setelah mendengar bahwa... Adela adalah kakaknya...



"Glenn? Glenn?"


Suara anak kecil laki-laki membangunkannya. Glenn menggosok matanya kemudian terbangun. Silau... perlahan, matanya mulai menyesuaikan cahaya. Ia berada di tempat yang sangat ia kenali, di bawah pohon di dekat panti. Ada Glenn kecil di sana, dia memandangi Glenn.


Glenn duduk perlahan.


"Aku Leo," katanya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Ah... ia masih berada di bawah alam sadar, walaupun ia berada di tempat yang berbeda.


"Le-Leo?"


Leo mengangguk. "Maaf, tapi aku cuma berusaha melindungi kamu, Kak. Aku gak bisa memberitahu siapa Grimm," katanya dengan mata berkaca-kaca.


"Bodoh lo, Glenn. Si brengsek ini penipu ulung. Lo gak belajar sama sekali." Gleen menoleh, ada dirinya berpakaian serba hitam dengan jeans robek dan jaket kulit berwarna hitam. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, "lo tuh manja dan gak pernah belajar."


"Marco?"


"Kami menutup memorinya karena... kami tahu kamu tidak akan bertahan." Tiba-tiba muncul sosok Gleen namun mengenakan dress selutut berwarna biru laut.

__ADS_1


"Jeo?"


"Biar gue yang ambil alih tubuh lo. Leo, jangan halangin gue." Marco menghilang. Hanya tersisa Jeo dan Leo.


"Je-Jeo tapi kamu... Friska..."


Jeo menggeleng, "kami akan membuka setiap ingatan yang kami miliki." Jeo menangis, "tapi kalau kamu tidak sanggup, aku bisa mengatasinya."


Glenn menggeleng, "enggak. Aku akan berusaha mengingatnya sendiri."


Jeo dan Leo menghilang. Tempat ini seketika berubah seperti luntur. Glenn berada di tempat baru, ia berada di dalam rumah yang... tidak ia kenali. Glenn melangkah, ia mendengar suara anak kecil menangis. Glenn membuka sebuah pintu dimana sumber suara terdengar. Ia melototkan matanya.


Ia menangis. Itu dirinya dan ibu kandungnya. Ibu kandungnya sibuk memukulinya. Memukuli anak yang masih berusia 4 tahun.


"Kamu itu anak pembawa sial! Kamu merusak pekerjaanku. Seharusnya kamu gak pernah ada!" Katanya masih memukuli Glenn.


Glenn menggigit bibir bawahnya. Ia menangis. Setelah puas memukuli Glenn, Ibunya pergi. Glenn meringkuk di sudut ruangan dengan tubuh penuh luka dan lebam. Tangisannya mulai berhenti, tapi ada sorot kemarahan di sana.


Itu masa lalu kelam pertamanya. Masa lalu yang membuat hidupnya hancur, bahkan di masa depan sekalipun.


Tempat ini menghilang, berganti tempat lain. Kali ini Glenn mendengar ringisan orang dan debukan beberapa orang yang sepertinya sibuk memukul. Glenn membuka pintu ruangan baru. Ia melebarkan matanya. Ada Glenn kecil di sana sibuk bersembunyi di bawah kolong tempat tidur, sementara Ibunya dalam keadaan terduduk di kursi. Mulut nya ditutup lakban, tangan dan kakinya di ikat. Ada 3 laki-laki yang sibuk memukuli Ibu Glenn.


"Dasar pelacur gak tahu diuntung!" Teriak salah satunya. Buukk!! Buukkk!! Bukkk!!!


Glenn memalingkan wajahnya. Ia tak kuat. Memori dan kenangan buruknya terus berjalan dengan cepat seperti cuplikan film. Glenn mulai paham, mengapa ia membuat alter-alter sebagai bentuk perlindungannya. Siapa pun tidak akan pernah tahan mengalami kenangan seperti ini. Bahkan orang dewasa sekali pun.


Ruangan kembali berganti. Kali ini ia berada di kamar panti. Glenn tahu kenangan yang satu ini. Ketika ia baru pertama kali berkenalan dengan Adrian dan Friska.


"Adrian tidak berbicara. Tapi aku bisa menyampaikan pesannya padamu," kata Friska.


"Kenapa?"


"Adrian malu. Suaranya seperti perempuan." Adrian menunduk.


"Tidak perlu malu. Itu tidak memalukan. Bicara langsung saja padaku," kata Glenn.


Adrian tersenyum.




"Selamat datang, Marco."



"Lama tidak bertemu Adrian Iblis," Marco terkekeh. "Ini sungguh\-sungguh trik yang murahan. Kaca? Ah yang benar saja. Glenn tidak menyadarinya. Dia langsung jatuh bodoh kalau sedang putus asa," kata Marco. "Bagaimana kabarmu iblis?"



Adrian menanggapinya hanya dengan tawa, "tidak pernah lebih baik dari hari ini. Aku merasa luar biasa," jawab Adrian, "tapi, tunggu sebentar. Iblis? Hahaha bukankah aku iblis yang selama ini kamu lindungi? Marco, mengaku sajalah. Alasan terbesarmu tidak memberitahu Glenn adalah karena kamu menganggapku seperti saudara, bukan?"



Marco tersenyum sinis, "yah, awalnya memang begitu. Kupikir kamu akan berubah, ternyata aku salah. Kamu tidak pernah berubah. Kamu membuat semua orang bahkan Leya berpikir kalau aku pembunuh. Oh sungguh Adrian, kamu sama sekali gak tahu caranya berterima kasih. Dan sekarang, kamu ingin menyakiti Leyaku? Hahaha..." tawa Marco menggema. "Kalau kamu sentuh dia sedikit saja, aku berjanji akan membuatmu ingin mati berkali\-kali. Sengsara seumur hidup."



"Itu yang ingin aku lakukan pada Leya. Dia membunuh Adela." Adrian tersenyum miring.



"Ckckck..." Marco menggelengkan kepalanya, "katanya kamu jenius. Tapi pikiranmu sebenarnya sangat kolot. Adela mati karna Leya? Ah... yang benar saja. Itu cuma alasanmu. Kamu melampiaskan rasa bersalahmu karena gak bisa melindungi dia ke orang lain. Kamu yang salah. Kamu selalu bertindak pengecut. Kamu pikir Adela bakal bangga kalau kamu membalaskan dendamnya? Terlebih lagi pada Leya, adik kesayangannya. Kamu gak tahu kalau Adela itu sangat sayang pada Leya. Kamu terobsesi pada Adela. Kamu terikat dengan rasa bersalahmu. Dasar pengecut."



Adrian diam beberapa saat. "Apa yang kamu ketahui tentang Adela? Kamu gak tahu apapun tentang dia."



"Bahkan hanya dengan membaca buku catatannya saja aku bisa tahu seperti apa Adela." Marco menatap Adrian dengan tatapan merendahkan, "kamu menyedihkan, Adrian. Dan kamu akan tetap seperti itu sampai kapan pun."



"RRGGGHHHHH!!" Adrian memukul kaca hingga kaca itu pecah berkeping\-keping. Ia menerjang Marco. Memukul wajah Marco beberapa kali. Kali ini, Marco mengambil alih, ia balik memukul Adrian.



Pertarungan sengit dimulai. Mereka beberapa kali melakukan tendangan, pukulan\-pukulan kuat, hingga akhirnya Marco menempelkan wajah Adrian yang babak belur itu ke dinding, begitu kuat. Ia menindih tubuh Adrian sambil berdiri.



Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Marco menoleh. Ia melebarkan matanya terkejut. Di saat itu pula, kuncian tubuhnya terhadap Adrian melonggar. Adrian secepat kilat mengambil alih, kemudian memukul kepala Marco dengan kepalan tangannya hingga ia terjatuh dan tak sadarkan diri.



"Apa aku terlambat?" Tanya seorang pria paruh baya.


__ADS_1


"Tidak, Ayah. Selamat datang."


__ADS_2