Once Upon a Time

Once Upon a Time
Ingatlah Apa yang Kamu Lupakan


__ADS_3

Perlahan aku membuka mataku. Dimana ini? Sepertinya... masih di ruang musik lama? Saat aku benar-benar sadar, aku sudah terduduk di tengah ruang musik dalam keadaan mulut tertutup, tangan terikat ke belakang dan kaki juga terikat. Aku berusaha sekuat tenaga melepaskan ikatan kuat ini, tapi tak berhasil sedikit pun. Sialan. Dan... dimana dia?


"Kamu udah bangun?" Suara itu terdengar dari belakang tubuhku bersamaan dengan suara langkah kaki yang menggema. Ruangan ini gelap dan pengap, walaupun ada ventilasi. Namun, cahaya bulan serta cahaya lampu jalan, masih mampu masuk melalui ventilasi panjang dan jendela ruang musik ini. Itu membuatku mengetahui bahwa aku masih berada di ruang musik.


Aku ingin sekali melihat wajah Grimm, namun ia terus berdiri di belakangku. Tiba-tiba, tangannya membelai rambutku kemudian berbisik, "hmm how sweet? Pangeran kodok menyelamatkan Putri laknat itu hahaha. Ia sebenarnya tak pantas mendapatkanmu. Kau tahu kenapa? Karena, ini tidak adil. Dia mendapatkan seseorang yang mau berkorban dan bahkan memberikan nyawa untuk menyelamatkan orang jahat sepertinya. Sementara, Putri Salju... oh bukan, anggap saja ia tokoh protagonis di setiap dongeng... ia malah bernasib buruk. Ia... tak dicintai oleh orang-orang yang seharusnya mencintainya. Kau tahu? Ketika aku baru saja hendak menyelamatkannya, aku selalu terlambat. Dan aku tak suka itu."


Suaranya... perempuan... dimana aku pernah mendengar suara ini? Ah... sial... kalaupun aku harus mati malam ini, aku ingin sekali saja memberitahu semua orang siapa gadis ini. Agar tak perlu ada korban lagi.


"Kau tahu apa kesalahanmu? Ah... kurasa tidak... kau tak cukup pintar untuk mengetahuinya. Baiklah biar kuberitahu. Suatu hari ada seorang gadis cantik bernama Adela Melati Putri. Aku yakin kamu pasti sangat mengenalnya." Ia mencengkram kuat rambutku dari belakang hingga kepalaku menengadah menatap langit. Kuat sekali hingga aku meringis. Ia seperti ingin menarik rambutku hingga terlepas dari kulit kepala. Sial. Namun, rasa sakit ini tak sebanding dengan ketakutanku.


"Iya! Dia gadis yang setiap hari kau perlakukan hina seperti binatang! Dia menceritakan siksaan yang dia rasakan setiap hari oleh manusia-manusia biadab seperti kalian. Bahkan hingga Tuhan memanggilnya, batinnya tetap tersiksa. Aku menunggu Tuhan menghukum kalian, tapi nampaknya kalian hidup dengan berbahagia. Itu tidak adil!


"Kemudian, kusadari suatu hal, bahwa mungkin aku dikirim Tuhan untuk menghukum kalian. Iya, pasti seperti itu. Aku, akan membalaskan kematian Adela." Tiba-tiba tawa dinginnya menggema. Membuat keringat dinginku semakin mengalir deras. Bulu romaku ikut merinding.


"Aku seharusnya memperlakukan kamu seperti binatang juga. Namun, karena kstariamu terlalu banyak membuat ulah, maka malam ini aku akan membunuhmu lebih cepat!" Ia berdiri di hadapanku setelah melepas cengkraman tangannya dari rambutku. Ia berdiri melawan cahaya sinar yang masuk dari jendela kaca, kemudian ia mencengkram rahangku dengan tangannya, mengangkat kepalaku hingga mataku sejajar dengan matanya. Tangannya mengenakan sarung tangan.


"Aku sepintar itu bukan mengingat kalimat Grimm seutuhnya untukmu? Hahaha... kamu beruntung malam ini karena bukan Grimm yang turun tangan menghabisimu. Kalau ia benar-benar menghabisimu, dia akan memutilasimu hidup-hidup. Mulai dari memotong kaki, tangan, membelah perutmu, baru memotong kepalamu. Seperti keadaan kodok itu. Kau pasti telah diceritakan oleh Putri jahat mengenai hal ini. Tapi, karena aku tak sebaik Grimm dalam membunuh orang, maka... Grimm memintaku memenggal kepalamu saja."


Aku menggeleng kuat-kuat. Tidak... tidak... jangan! Dia pasti gila! Astaga... apa yang harus kulakukan... seseorang tolong aku!! Aaarrggghhh bodoh! Aku tak bisa mengingat sama sekali suara itu, mata itu... Alfi! Ingatlah!!!


Dia mundur sejenak, seperti mengambil sesuatu, sementara aku berusaha melepas ikatan tangan ini. Sial! Kenapa ikatannya kuat sekali!!


Tak lama kemudian, ia kembali berdiri di depanku. Memperlihatkan sebuah jarum dan benang. "Kau tahu bukan apa maksud dari ini? Hmm iya, ini kebiasaan Grimm sebelum membunuh korbannya."


Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Tidak!! Astaga... sekuat apapun aku bergerak dan menggelengkan kepala, aku tetap tak bisa berbuat apapun. Kali ini ia kembali mencengkram rahangku dengan tangan kirinya, "Diam! Kalau kau semakin bergerak, ini akan lebih sakit!!!" Katanya dengan nada tinggi. Ia semakin keras memegangi rahangku, dan jarum itu semakin mendekat. Aku memicingkan mataku kuat-kuat, seakan pasrah tak bisa berbuat apapun. Sekuat apapun berusaha, tetap saja tak bisa kulepas ikatan tangan ini. Aku bukan magician.


Dan benda tajam itu pun akhirnya menusuk kelopak mataku. ARRRGGGHHHHH SIAL!!!! SAKIT SEKALI!!! Seakan tanpa ampun, benda tajam itu terus bergerak hingga ke ujung mataku. I-ini... menyakitkan. Perih! 1 tusukan... 2 tusukan... arggghhh sialllll kenapa setiap tusukannya terasa begitu menyakitkan!


Tiba-tiba... ARRRGGGHHHH aku berusaha berteriak semakin kencang! Jarum ini menusuk bola mataku. SAKIIITTT!!!


"Eh? Ops sorry aku gak sengaja hahaha..."


BANGST! MATILAH KAMU KE NERAKA PEREMPUAN LAKNAT!* Pekikku menyumpah dengan suara teredam.


"Baiklah satu lagi..."


Keringat dingin mengucur semakin deras. Air mataku juga tak kuasa keluar. Aku menangis menahan rasa sakit. Seperti ini kah yang Raya dan Ansel rasakan? Sesakit ini kah? Aku ingin semua ini cepat berakhir, namun detik demi detik dan menit demi menit terasa sangat lama dan semakin menyiksa.


"Tada... sudah selesai!" Katanya terdengar begitu bahagia. "Apa lagi ya? Hmm ohiya! Hampir lupa... bunga! Let's begin!" Suaranya lebih riang lagi.


Tunggu sebentar, kata-kata ini... suara khas ini... aku tahu dia siapa!! Tapi... bagaimana caraku memberitahu orang lain sementara tanganku terikat ke belakang seperti ini? AH SIAL!!!


Langkah kakinya terdengar menjauh dariku. Beberapa saat kemudian, jempol tanganku disentuhnya, dan bersamaan dengan itu, sebuah benda kecil yang tajam menusuk kedalam kulit jempolku. Aku meringis sebentar, namun ini tak sesakit mataku yang hingga kini masih terasa sangat perih.


Ah, kenapa tak terpikir olehku? Aku menggerakkan jari tanganku ketika langkah kakinya terdengar menjauh lagi. Yang kupikirkan saat ini hanyalah, semoga posisi jari tanganku tak benar-benar berubah ketika aku mati dan semoga siapapun yang melihat ini akan mengerti apa yang kumaksud.


"Baiklah Alfi, kita gak usah lama-lama ya. Aku juga muak melihat wajahmu. Sentuhan terakhir..."


Aku tidak tahu apa ia benar-benar akan memenggalku dan dengan apa ia akan memenggalku. Setidaknya aku tidak perlu melihat bagaimana aku mati. Aku menarik nafas panjang dan... semua gelap.



Glenn menghela napasnya gusar sambil memandangi buku catatan kosong di depannya. *Sial!* Ia masih tak punya ide apapun mengenai buku catatan ini, sementara ia tak punya banyak waktu lagi. Apa yang harus ia lakukan?



*Tenang... tenang Glenn... berpikir dingin...*



Glenn menarik napas kemudian menghembuskannya pelan. Ia raba perlahan kertas pada buku catatan Adela, ada sesuatu yang aneh... Bersamaan itu, muncul seseorang yang memecah konsentrasinya, "kamu sedang apa?" tanya laki-laki paruh baya yang tanpa Glenn sadari sudah duduk di sofa ruang tamu--tepatnya di samping Glenn.



Glenn tersentak sesaat, "Eh-ehm saya pikir Om beristirahat tadi."



"Manabisa Om tidur saat pikiran kacau seperti ini. Dan Leya sakit. Itu tambah membuat Om khawatir. Bagaimana bisa ada seseorang yang tega meletakkan kepala manusia di halaman depan rumah kami? Astaga... itu di luar akal sehat! Om bahkan tak mengenali mayat itu."



Glenn hanya mengangguk, ia bingung ingin berkata apa. Karena, memang ia tak pandai mengobrol seperti Leya.



"Om takut Leya menjadi incaran penjahat seperti itu. Ini mengerikan."



Untuk kalimat yang satu ini, entah kenapa membuat Glenn berbicara bahkan tanpa berpikir, "Saya akan berusaha melindungi Leya. Om tidak perlu khawatir."



Ayah Leya memicingkan mata, ia menatap Glenn dengan penuh tanda tanya, "Kenapa remaja sepertimu jadi kepercayaan polisi? Kenapa mereka memperlihatkan barang bukti kepadamu?" tanya Ayah Leya penuh selidik.



"Hah? Eh-a-anu Om... itu... so-soalnya kepala kepolisian daerah ini, keluarga saya. Beliau Om saya," ucap Glenn terbata-bata.



"Lalu-"



Tiba-tiba ponsel Ayah Leya berbunyi. Glenn cukup bersyukur, setidaknya telepon itu telah menyelamatkan nyawanya. Ayah Leya pergi menjauh, sementara Glenn kembali berkutat dengan buku kosong Adela, menyentuh lembaran itu kembali. Pada lembaran itu, terbentuk sebuah bekas huruf-huruf yang menonjol ke dalam, seperti kertas ini pernah ditulis sambil ditekan. Teksturnya jelas terasa berbeda.

__ADS_1



*Astaga... ini...* Mata Glenn melebar, ia segera berlari naik ke atas, membuka pintu kamarnya perlahan dan melangkah menuju laci mejanya. Adela sungguh cerdas.



Glenn mengambil sebuah bolpoin yang ujungnya memiliki *uv-light*. Bolpoin ini sudah lama Glenn miliki sejak ia masih kecil. Dulu ia sering menulis *secret message* menggunakan *invisible ink pen* yang tulisannya akan terlihat bila disinari *uv-light*. Ia lupa kapan mendapatkan bolpoin ini.



Glenn mematikan lampu kamarnya perlahan, tanpa suara, agar Leya tak terbangun. Gadis itu terlihat masih terlelap dalam tidurnya dengan tenang walaupun keringat terus mengucur.



Glenn menutup gordennya pula agar ruangan ini sebisa mungkin menjadi gelap, kemudian ia duduk di lantai, mengarahkan *uv-light* pada lembaran milik Adela. Benar saja! Muncul tulisan-tulisan dari buku kosong milik Adela. Glenn membacanya sekilas hingga halaman terakhir. Ia terkejut sesaat. Satu nama asing yang ia tangkap pada buku harian Adela, laki-laki yang dekat dengan Adela, teman curhatnya. Geri? Siapa Geri? Apa Geri adalah laki-laki pada foto berlubang itu?



*Geri... apa dia... Grimm?*



Dan di buku catatan Adela juga banyak terdapat nama Alfi, Raya, Ansel, Ibunya, Geby, dan Belvina. Namun, Glenn tidak benar-benar berkonsentrasi. Ia hanya mencari kalimat yang berhubungan dengan nama Alfi, karena di lain waktu ia bisa benar-benar mempelajari buku ini. Tentu saja ia tak berpikir sedikit pun tentang memberikan buku ini kepada Grimm, walaupun jelas Grimm akan marah besar.



Dan dari situ Glenn tahu di mana tubuh Alfi kemungkinan berada.



Jika ia tak salah menduga, ruang musik SMP Juara--tempat Alfi sering memperlakukan Adela dengan buruk--adalah lokasi pembunuhan Alfi.



Semoga saja benar.



Sebelum Glenn benar-benar pergi ke ruang musik, ia kembali masuk ke dalam kamarnya, tempat Leya tertidur pulas. Ia menyalakan lampu dan membuka gorden yang tadi ia tutup, kemudian ia berdiri di samping tempat tidurnya, menatap Leya sendu sambil menghela nafas pelan. "Maafin gue Ya', sepertinya gue harus pergi sendiri," bisiknya, "iya, gue tahu ini sangat bodoh, tapi ada suatu hal yang harus gue tanyakan ke Grimm. Dan, kalau sekali pun gue minta salah satu bawahan Pak Rasyid untuk temenin gue, Grimm pasti tahu dan dia akan bertindak lebih brutal lagi. Lo tahu kalau Grimm sangat jenius."


Tangan Glenn bergerak perlahan menyentuh puncak kepala Leya, mengusap lembut rambut Leya yang halus, "Gue janji bakal balik. Tapi, untuk sekarang, gue benar-benar harus menghadapi Grimm sendiri." Dengan berat hati, Glenn berbalik hendak melangkah pergi, namun tangannya yang belum benar-benar terlepas dari kepala Leya malah ditarik. Glenn tersentak dan kembali berbalik menghadap Leya.


Gadis itu masih tertidur, namun wajahnya tak lagi tenang. Keringat dingin terus mengucur deras melewati kening yang tertutupi oleh sebuah kompres instan. Gadis itu memegangi tangan Gleen begitu erat, "Bu, jangan pergi... Leya gak mau sendiri..." ujarnya lirih sambil menangis di dalam tidur. Ia semakin menggenggam erat tangan Glenn.


Hati Glenn sedikit teriris melihat Leya tak tenang seperti itu. Leya pasti sedang bermimpi buruk soal Ibunya. Glenn kemudian mengambil handuk kecil yang terletak di atas nakas dengan tangan kirinya yang tak digenggam Leya, kemudian mengelap perlahan keringat Leya, "Leya, tenang. Gue di sini... gue pergi sebentar aja kok. Pasti balik lagi. Lo gak perlu takut..." katanya menepuk-nepuk lengan Leya mencoba menenangkan.


Tampaknya hal itu berhasil membuat Leya tenang dari mimpi buruknya. Gadis itu perlahan melonggarkan genggaman tangannya dari Glenn. Glenn melepaskan tangannya dari Leya, menaikkan selimut hingga ke leher Leya, dan tanpa bisa Glenn sadari, dirinya sudah bergerak lebih cepat daripada logikanya berjalan, laki-laki itu mengecup lembut puncak kepala Leya, seakan tubuhnya bergerak bukan karena perintah otaknya.


Beberapa saat kemudian, ia tersadar bahkan tersentak. Ia bergerak mundur secepat yang ia bisa. "Astaga... gue ngapain?" Katanya menggelengkan kepala kuat sambil berjalan cepat keluar kamar dengan wajah merah padam.




Pada jam-jam siang seperti ini, Glenn bisa leluasa menyelinap masuk ke ruang musik belakang karena sedang berlangsung kegiatan belajar mengajar, jadi tak ada yang perlu tahu. Glenn lebih memilih gedung musik lama, karena alasannya mudah. Gedung tak terpakai adalah tempat paling baik untuk membunuh seseorang. Selain itu, tempat Alfi mem*bully* Adela dulu juga di gedung musik lama yang tidak terjamah banyak orang karena paling ujung belakang dan lebih seram.



Glenn menarik napasnya pelan, jantungnya berdegub tak beraturan ketika ia berada di depan pintu ruang musik yang sedikit berdebu. Ia terus berusaha mengatur jantungnya agar lebih tenang, agar ia bisa berfikir lebih jernih lagi. Namun, yang ia dapati hanyalah detak jantungnya yang bergerak jauh lebih kencang lagi.



*Baiklah, pelan-pelan aja. Belum tentu ada dia di sini, bisa aja gue salah tebak.*



Glenn membuka pintu ruang musik yang cukup besar ini--karena ruang musiknya terbilang cukup luas--dengan tangan yang ia paksa tidak gemetar. Saat baru membuka pintu, hal pertama yang menyambutnya adalah tubuh tanpa kepala, dengan baju yang sama seperti yang ia lihat tadi malam. Jelas itu Alfi. Glenn mengepalkan tangannya kuat.



Bau tak sedap menguar hingga ke hidungnya. Pintu ruang musik tertutup dengan sendirinya, karena sepertinya pintu itu memang dibuat tak bisa terbuka lebih lama.



"Oh, hai ksatria tampan. Akhirnya, datang juga. Aku cukup lelah menunggumu di sini." Gleen menoleh ke sumber suara, tepat di sudut ruangan terlihat seseorang berpakaian serba hitam yang kebesaran di tubuh, beserta topi dan maskernya. Dia duduk di atas kursi sudut ruangan--di dekat piano tua--dengan kaki yang terlipat di atas kursi karena ia memeluk sikunya. Setelah melihat Glenn, ia menurunkan kakinya dan langsung berdiri.



"Aku tidak mau berbasa-basi dengan menanyakan kabarmu, Glenn. Jadi, berikan aku kuncinya."



"Atau apa?" Tanya Glenn dingin, sedikit menantang. Kali ini entah kenapa ketakutan itu seakan sirna ketika mengetahui bahwa yang jadi lawannya hanyalah perempuan. Mungkin, ia terlalu meremehkan perempuan ini. Tak apa, ini ia lakukan agar otaknya bisa berjalan dengan baik saja.



"Hahahaha..." tawanya menggema di ruangan ini. "Oh, Glennku yang tampan. Kamu harus tahu kalau kamu gak akan pernah bisa menang dari Grimm. Jangan coba-coba menantangnya." Perempuan itu melangkah perlahan mendekati Glenn, namun ia tak benar-benar mendekat. Ia malah berdiri di samping tubuh Alfi yang berbau tak menyenangkan itu.



Glenn menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa?"



Kali ini ia melangkah lagi, mendekati Glenn. Lama kelamaan semakin dekat. Atmosfir berubah menjadi dingin seketika ketika perempuan itu benar-benar berdiri di hadapan Glenn. Glenn tak mengenalinya. Suaranya, sorot matanya, tidak. Tapi, entah kenapa hawa keberadaan perempuan itu... terasa begitu familiar. Gleen merasa... pernah mengenal gadis ini sebelumnya. Tidak, itu tidak mungkin.


__ADS_1


Perempuan itu mendekatkan bibirnya ke telinga Glenn. Anehnya, Glenn tak bisa bergerak sedikit pun seakan-akan tubuhnya lumpuh. Bahkan untuk menggerakkan tangan agar bisa membuka masker gadis itu saja tak mampu. *Sialan!* Kutuk Glenn dalam hati.



"Karena, kamu sedang melawan dirimu sendiri," bisik gadis itu. Beberapa saat kemudian, ia bergerak menjauh. Glenn bisa menebak bahwa gadis itu sedang menyeringai.



"Ma-maksudnya?"



"Kamu tidak akan pernah tahu apa yang terjadi selanjutnya dan bagaimana alur dongeng itu berjalan. Tapi, aku yakin kamu tidak akan pernah mau tahu siapa Grimm sebenarnya. Kamu akan menyesal telah mengetahuinya." Gadis itu menyentakkan kepala dan melipat kedua tangannya di depan dada, "Aku sudah terlalu banyak bercerita. Sekarang, berikan kuncinya."



"Kamu bukan Grimm?"



Perempuan itu tertawa lagi, tapi tak menjawab. "Cepat! Kamu akan benar-benar sangat menyesal kalau tidak memberikan kuncinya! Oh... apa perlu kuberitahu sesuatu yang akan membuatmu terdorong memberikan kuncinya?" Gadis itu meletakkan jari telunjuknya yang berlapis sarung tangan itu ke dagu, seperti tengah berpikir, "Siapa nama gadis itu? Gadis kesayanganmu. Ah... iya, Lily. Nama yang sangat indah."



Untuk yang satu ini Glenn tak bisa menahan dirinya untuk tidak meledakkan emosi. Dengan ajaib, tangannya yang tadinya tak bisa bergerak sama sekali, kini malah bergerak mencengkram leher gadis itu. "Jangan macam-macam! Jangan pernah sentuh dia!"



Gadis itu tertawa, walaupun kesulitan bernapas, "Hahaha... *easy boy... e-easy...* kalau kamu membunuhku sekarang, akan a-ada malapetaka yang jauh lebih besar! Bukankah Grimm masih berkeliaran? Je-jelas dia tambah akan menyiksa gadismu."



Glenn mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Arrgghhh!" Pekiknya tak tahan dan terpaksa melepaskan cengkraman tangannya dari leher gadis itu. Bodohnya, Glenn tak sempat berpikir sama sekali untuk melepas masker itu. Otaknya sedang tak bekerja dengan baik ketika menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan Leya.



Gadis itu memegangi lehernya, "Kamu tahu bahwa cinta akan menjadi kelemahan terbesarmu. Tapi dengan bodohnya... hatimu tetap terjatuh pada gadis itu. Hmm, baiklah, gak usah berbasa-basi lagi. Kamu sangat mengerti bahwa Grimm itu sangat jenius. Seperti apapun polisi melindungi gadismu, Grimm tetap akan mendapatkannya dengan mudah. Jadi, mana kuncinya?"



"Sebelumnya, jawab pertanyaanku. Siapa Geri?"



Lagi-lagi gadis itu tertawa. Itu memuakkan.



"Sudah kubilang, kamu akan menyesal seumur hidup bila kamu mengetahui semuanya. Saat kamu tahu, kamu akan berharap untuk tidak tahu."



Glenn bertambah muak melihat gadis di depannya ini. Rasanya ini mencekiknya hingga gadis itu mati. Tapi, tentu saja itu tindakan gila yang pasti akan membuat Grimm bertambah marah. Saat itu, Glenn semakin tahu kelemahan Grimm. Yaitu gadis ini.



Otak Glenn yang tadinya tak berjalan dengan lancar karena dikuasai emosi, kini berjalan lancar. Secepat kilat ia bergerak ingin menarik masker gadis itu, tapi gadis itu bahkan bergerak lebih cepat dari Glenn. Ia menangkap tangan Glenn.



"Kamu mulai nakal ya Glenn. Kamu kira aku hanya gadis lemah suruhan Grimm? Grimm memilihku karena aku istimewa." Ia kemudian memutar tangan Glenn. Glenn yang meringis tak tinggal diam. Dengan kakinya yang bebas, ia langsung menendang gadis hingga sang gadis terjatuh dan terpaksa melepaskan tangannya dari Glenn.



Perkelahian sengit antara Glenn dan gadis itu pun dimulai. Gadis itu menendang dan meninju wajah Glenn. Glenn menangkisnya beberapa kali, memutar tangan gadis itu dan menguncinya. Kemudian, gadis itu menendang kuat kaki Glenn hingga Glenn melepaskan kunciannya. Mereka masih sibuk bergulat satu sama lain. Gadis itu mengeluarkan sebuah pisau dari kantungnya, ia semakin bergerak cepat mengarahkan pisau itu ke arah Glenn, berniat untuk melukai bahkan mungkin membunuh Glenn.



Glenn menendang tangan gadis itu hingga akhirnya pisau terlepas dari tangannya. Glenn bahkan berhasil menjatuhkan tubuh gadis itu dan sudah menindih tubuhnya. Ia hendak membuka maskernya, gadis itu masih berusaha menangkis tangan Glenn dengan tangannya sendiri. Hingga tiba-tiba, pintu ruang musik terbuka. Seorang remaja laki-laki berpakaian biru putih melebarkan matanya syok melihat mereka, tapi lebih syok lagi melihat mayat tanpa kepala itu.



Glenn langsung menoleh, ini kesempatan gadis itu untuk kabur. Ia langsung mendorong tubuh Glenn kuat hingga Glenn terdorong menjauh dari tubuhnya. Gadis itu langsung berdiri dan berlari, ia kembali mengambil pisau yang terjatuh tak jauh dari tempatnya berada. Glenn tentu saja menyusulnya tanpa memedulikan siapa yang membuka pintu ruang musik.



Gadis itu masih berlari, berniat hendak kabur melalui jendela ruang musik, namun jendela ini sulit dibuka. Glenn sempat menggapai bajunya dari belakang. Secepat kilat gadis itu berbalik dan... langsung menusukkan pisau pada perut kiri Glenn. Glemn benar-benar tak menyadari bahwa gadis itu sempat mengambil pisaunya.



"TOLONGGGGGG!!!" Pekik anak laki-laki itu ketika ia tersadar dari syoknya, terutama ketika melihat langsung adegan penusukan itu.



Rasa sakit dan nyeri seketika menjalar. Glenn terhempas ke lantai sambil menekan kuat pinggir lukanya, namun membiarkan pisau itu masih tertancap di perutnya, karena ia tahu bahwa ia tak boleh sembarangan mencabut pisau tanpa bantuan medis. Ia meringis menahan rasa sakit, sementara gadis itu akhirnya berhasil kabur setelah jendelanya terbuka. Kata-kata terakhir oleh gadis itu sebelum benar-benar kabur adalah, "Ingatlah apa yang kamu lupakan, Glemn."



Glenn menahan rasa sakit, ia tak begitu jelas mendengarkan ucapan gadis itu. Hingga derap kaki berlari seseorang--yang ia duga sang pembuka pintu ruang musik--itu menjauhi ruang musik sambil berteriak, "TOLOOONGGGG!"



Hal terakhir kali yang Glenn dengar sebelum tak sadarkan diri adalah teriakan anak itu yang lama kelamaan lenyap.



Setelah itu, gelap.

__ADS_1


__ADS_2