
"Sekarang kita sudah aman! Ceritakan semua padaku. Apa yang terjadi!" Perintah Harry pada Meira. Meira benar benar bingung kali ini. Bagaimana ia bisa menceritakan yang sebenarnya, kalau ia ratu di kerajaan Danina.
"Hmm, ibuku menjodohkanku pada Vartan. Aku tak mau jadi simpanannya." Ucap Meira
"Kau tau kan, kalau Vartan itu raja yang keji." lanjut Meira
"Baik, aku akan membantumu. Kau tinggal saja bersama Ola. Kau bantu dia bekerja." ucapan Harry sontak membuat Meira tersenyum bahagia. Ide Harry sangat cemerlang.
"Baik. Kalau begitu, besok aku ke rumah Ola ya!"
***
"Ratu menghilang Tuan! Kami kehilangan jejak. Anda boleh menghukum kami!" ucap salah satu pengawal.
"Ini bukan salah kalian. Wanita itu terlalu bodoh untuk melarikan diri. Dengan begitu, tanpa ia tahu. Dia telah memberi pentunjuk." Ucap Vartan
"Vartan, menurut saya, kita batalkan saja perjodohan ini. Mungkin Meira tidak mau, dan saya mencemaskan dia. Bagaimana kalau ia terus melarikan diri, dan takut untuk kembali?" Risa menangis, ia benar benar merindukan putrinya itu.
"Sudahlah, bu. Jangan menangis. Tera akan bantu bicara pada Meira." Tera menenangkan Risa.
__ADS_1
"Tera, kau tau kan! Kalau aku tidak pernah membedakan antara kau dan Meira. Walau Tera bukan darah dagingku, tapi aku tetap menyayangimu,"
"Jadi tolong, bantu Meira!" pinta Risa dibalas anggukan dengan Tera.
***
"Vartan, kau sangat berbeda. Kenapa kau menginginkan Meira? Bukankah dulu kau tidak mau dijodohkan dengan Meira karena menurutmu Meira adlaah gadis manja dan lemah." Ucap Felix selaku sahabat Vartan.
"Aku menemukan orang lain dalam tubuh Meira. Hal itu membuatku penasaran." Vartan meneguk anggur sembari membayangkan Meira.
"Melihat sifatmu. Kau seperti mengutip sampah yang kau buang dengan mulutmu. Kau ingat, dulu kau pernah menghina Meira saat ia menyatakan cinta padamu." Felix tertawa saat mengingat hal itu. Kejadiannya sudah lampau. 10 tahun yang lalu kalau tidak salah.
"Kau menghinaku, sobat!" Vartan mulai kesal melihat wajah Felix yang mengejeknya.
"Kau tahu. Dulu aku menyukai Meira. Saat aku mau menyatakan cinta padanya, dia ternyata menyatakan cinta padamu. Namun, kau menolaknya." Felix mengaku dan tersenyum kecil. Kemudian ia menepuk pundak Vartan.
"Tenang, sobat. Aku tak akan mengambil Meira. Sekarang aku kan sudah punya istri. Wajahmu mengerikan ketika marah. Hahaha." Ucapan Felix membuat Vartan merasa tertampar. Ia ingat waktu itu. Saat ia menolak Meira. Ia sungguh menyesal.
***
__ADS_1
Sekarang Meira sudah berada di kediaman Ola. Wanita bertubuh pendek dan berkulit bersih itu mempersilahkan Meira duduk. Kali ini ia datang tanpa Harry.
"Bagaimana resep buatanku?" tanya Meira pada Ola.
"Wah, menakjubkan. Aku bahkan kelelahan karena pelanggan yang begitu antusias mencicipi kue dengan resep buatanmu, terimakasih ya!" Wajah Ola tampak berbinar. Kecantikannya tampak dari kelembutan yang ia miliki, bukan karena tubuh yang kurus ataupun berkulit putih. Ola tetap cantik dengan tubuh gemuknya itu.
"Meira. Kau yakin mau tinggal dan bekerja denganku. Apa kau tidak malu jika berteman denganku?" tanya Ola
"Mengapa harus malu? Harusnya aku yang malu menumpang denganmu." jawab Meira
"bukan begitu. Maksudku, kau kan terlihat dari kalangan bangsawan. Apa kau tidak malu?" tanya Ola lagi.
"Tidak. Aku bahkan membenci bangsawan. Mereka kebanyakan suka pamer tentang kehidupan mereka!" ucap Meira.
"Kau seperti Harry, ya. Rendah hati!" Ucap Ola membuat hati Meira menghangat. Ralat. Sebenarnya mereka sudah menunjukan kehangatan. Meira mengklaim bahwa sekarang mereka sahabat. Begitu juga dengan Ola.
***
Next~
__ADS_1