Own Crowning: Reinkarnasi Menjadi Ratu

Own Crowning: Reinkarnasi Menjadi Ratu
Kembali kerutinitas


__ADS_3

Afroja. Yah, tempat dimana Meira bertahta. Dengan mahkotanya, sebagai identitas bahwa ia adalah pemimpin. Mahkota yang penuh kilau itu dipakainya. Jangan lupakan rompi kebesarannya. Ia berjalan menuju singasana dan duduk disana.


"Deas! Apa ada masalah disini selama aku tak ada?" Tanya Meira.


Dengan berkeringat dingin, Deas berdiri dihadapan Yang Mulia. Bibirnya tergigit olehnya. Ia ingin berkata, tapi takut. Begitulah.


"sejauh ini tidak ada, Yang Mulia." Deas masih dengan posisi berjongkoknya. Ia masih was was dengan pertanyaan selanjutnya yang akan dilontarkan Meira.


"Aku tak yakin dengan itu. Sudah berapa kepala yang kau sikat?"


Akhirnya pertanyaan itu keluar. Deas jelas sedang menahan tangis. Jika ia mati sekarang, siapa yang akan memberi makan anaknya?


"T-tidak ada Yang Mulia. Negeri aman." Jawab Deas dengan gugup.


"Kalau begitu pergilah! Kau pikir aku bodoh! Lain kali jangan ulangi. Kau tau kan apa yang kau dapat jika melanggar perintahku? masih untung kau kuberi kesempatan!" Gertak Meira.


Deas yang setengah mati pun berdiri dengan kaki yang bergetar. Ingus nya hampir keluar seiring ia menahan tangis. Sebenarnya, Meira ingin tertawa. Jika saja ia adalah figur humoris maka ia akan tertawa sekencangnya. Namun, diakan kejam.


***

__ADS_1


"Rodiah, apa kau sudah merancang kegiatan kita?" Tanya Meira.


"Tentu, di negeri bagian timur banyak sekali orang membutuhkan. Kami akan berkunjung kesana, Yang Mulia," Rodiah masih menulis dengan tinta cap yang kuno. Sementara, Meira masih menganalisis keadaan.


"Sepertinya aku harus ikut juga, aku ingin merasakan bagaimana kondisi rakyatku," ucapan Meira membuat Rodiah membelalakan matanya. Ia tidak mau ini menjadi masalah besar. Tak mungkin seorang ratu ataupun raja harus turun tangan secara langsung terhadap rakyatnya.


"Tidak boleh, Yang Mulia. Kau memerintahkan saja. Kami akan patuhi. Kau memantau saja jika kami melakukan kesalahan," Pinta Rodiah.


"Kau tak ingat aku ratunya disini. Aku berkata ini maka inilah yang harus dilakukan!"


Rodiah terdiam dan melanjutkan tugasnya yang setengah jadi. Ia tak mau berurusan lebih rumit dengan ratu galaknya ini.


"Mereka berani korupsi, maka mereka harus berani membayarnya dengan kepala yang indah."


Rodiah menelan ludahnya kasar. perkataan Meira begitu frontal dan menakutkan. Lebih baik ia diam saja.


"Aku kan hanya seorang dayang. Mengapa tugas ku seperti penasehat negara? apa aku naik jabatan?" Rodiah menggeleng guna mengusir pikiran anehnya itu. kemudian dia menghela nafasnya panjang agar pikiran itu tak ada lagi.


***

__ADS_1


"Jangan lupa. Obat obatannya di keranjang kuning. Bahan makanan ada di keranjang biru. Kain kain di keranjang Coklat." Meira berdiri mengawasi sambil memberi intruksi.


Banyak sekali keranjang. Ada 6 keranjang kuning, 10 keranjang biru dan 8 keranjang Coklat. Masing masing keranjang hanya bisa ditarik 10 kuda. Tak terbayangkan betapa besarnya keranjang itu? Jangan membayangkannya seperti matematika! itu mempersulit hidupmu!


"Ayo kita kesana! kita akan bermalam selama 2 hari," Ucap Meira setelah ia naik kuda. Diikuti oleh Rodiah yang naik kuda yang berbeda. Mereka sekarang adalah pasukan berkuda.


"Ayo!!!" perintah Meira.


Kuda kuda pun mulai berlari. Derap kakinya begitu mengundang perhatian orang orang. Keributan yang benar benar seperti festival. Mereka suka ini.


"KITA TAK AKAN SAMPAI TEPAT WAKTU. JADI SEGERA CARI PENGINAPAN!"


***


Bagaimana?


Kayaknya aku gak akan nuntasin sampai 35 eps deh.


Ada setan yang merasukiku dan membuat gairah menulisku lancar. Kalian mau sampe berapa partnya? hehe:canda **_**

__ADS_1


__ADS_2