Own Crowning: Reinkarnasi Menjadi Ratu

Own Crowning: Reinkarnasi Menjadi Ratu
Bunuh diri


__ADS_3

kini Meira, Vartan dan Jordan mengitari sebuha meja yang terbuat dari akar pahat. Mereka dengan serius mencermati sesuatu yang mereka belum mengerti, kecuali Vartan.


"Aku bukan tereinkarnasi!" Ujar Vartan membuat Meira dan Jordan saling pandang dan menggeleng.


"Maksudmu?" ucap Meira dan Vartan serentak.


"Aku adalah seorang penjelajah waktu. Namun, kesempatanku tinggal 1 kali lagi untuk kembali ke masa depan, jadi ak umau berbuat semauku disini!" Terang Vartan.


"Wah, wah...Enak sekali hidup sepertimu. Menjadi penjelajah waktu dan sepuasnya kembali ke masa dimana kau ada seharusnya,"


"Sedangkan kami, tidak tahu harus bagaimana?" Jordan menggeleng gelengkan kepalanya. Ia sangat iri pada Vartan. Bertahun tahun ia terjebak, ia tak tahu kembali. Ia malah bertemu seseorang yang dengan sesukanya untuk kembali.


"Tapi kau tak tahu kelakuannya disini, Jordan. Dia itu adalah lelaki genit dan mudah tergoda. Intinya Vartan murahan. Cih, aku tak sudi dengannya!" ejek Meira dengan wajah sinisnya dan bibir yang sengaja ia miringkan.


"Aku hanya melakukan yang aku suka. Pernah aku berencana membawamu ke masa kita seharusnya. Namun, aku menjadi ragu dan merasa tak pantas."


Vartan menjadi aneh dan dingin karena ejekan Meira tadi. Bahkan, Vartan meninggalkan Meira dan Jordan yang termangu karena Vartan.


***


Kediaman Tera~Negeri ungu


"APA!!"


"Sarah mencoba membunuh Meira?" Tanya Tera menyakinkan.


"Iya, Yang Mulia. Sarah sudah di hukum karena perbuatannya. Yang Mulia Meira bahkan sudah sehat," ucap pelayan Tera.


"Tapi itu tidak bisa dibiarkan. Sarah itu sudah gila. Ia tidak bisa memakai otak dan hatinya lagi!" Tera menggeram marah. Ia bahkan tidak tahu kabar ini karena ia terlalu sibuk mengurus negerinya. Pelayan itu pun hanya diam tak dapat menjawab Tera.

__ADS_1


"Seharusnya aku tak usah jadi Ratu di negeri ini. Bahkan aku tak bisa bertemu keluargaku!" Tera memijit kepalanya gusar. Pelayan Tera tampak iba. Ratunya itu terlihat merindukan keluarga nya.


"Bagaimana aku bisa pergi ke Kerajaan Danina, sedangkan aku banyak urusan disini!" ucap Tera.


***


Penjara bawah tanah~ Sarah


Disana duduk seorang wanita yang terlihat gila. Mengigit-gigit jeruji besi dan berkhayal bahwa giginya mampu mengkoyakan besi itu. Sesekali ia tertawa dan menjambaki rambutnya sendiri.


"Aku akan membunuhmu Meira! Aku akan membuatmu memohon padaku untuk meminta dibunuh!" Wanita itu tertawa lagi. Seisi penjara terlihat ketakutan namun ada juga yang sebal karena si rambut merah itu membuat keributan.


"Apa kau Lihat lihat! Jangan sampai tubuhmu ku jadikan objek percobaan pembunuhan!" Ancam Sarah pada lelaki bertubuh kekar yang bahkan tak takut padanya.


"Dasar sinting!" Pria berbadan kekar itu membuat garis miring di dahinya dengan jarinya.


"Ah, ****** rupanya!" Sarah menyapa Meira dengan ejekannya.


"Aku benar benar ingin tertawa melihatmu dan kau berani menghinaku?" Meira menatap Sarah lekat. Meira memiringkan kepalanya dan tersenyum tipis.


"Bahkan kau hanya sekecil semut!" Meira mempraktekan gaya jemarinya yang menunjukan ukuran semut didepan wajah Sarah.


"Kau penggoda, kau merebut Vartan dariku. Apa itu tidak bisa di sebut ******?" Sarah menatap Meira nyalang. Bahkan, ia membenturkan kepalanya ke jeruji besi. Darah mengalir dari dahi dan hidung Sarah. Bukannya tampak sakit, Wanita itu tambah menggila.


"Panggilkan Vartan mumpung dia masih ada disini. Kekasihnya ingin bicara!" Meira memerintahkan Rodiah untuk memanggil Vartan.


"Meira kau itu sangat angkuh, aku akan membuat wajahmu seperti hantu. Kau akan jadi jelek. Hahaha! pasti Vartan tidak suka denganmu! Hahaha!" Seperti itulah racauan Si Gila Sarah. Apa perlu kisah hidup Sarah kita buatkan sejarah? tidak menarik, bukan?


Tak perlu menunggu lama, Vartan datang bersama pengikutnya. Semua memberi hormat seperti biasa. Vartan tampak bingung dengan alasan Meira yang menyuruhnya ke penjara bawah tanah. Jadi, Vartan tetap diam untuk menunggu intruksi Meira selanjutnya.

__ADS_1


"Sebelum kau mati, kau bisa menghabiskan waktu dengan kekasih pujaanmu!" Ucap Meira kemudian melirik Vartan. Tiba tiba wanita itu menangis, kemudian tertawa lagi. Lalu meloncat kegirangan.


"Vartan, kau baik sekali. Aku tak salah memilihmu!" ucap Sarah.


"Yang Mulia, tidak seharusnya kita menghukum orang gila. Mungkin kita bisa mengurungnya hingga mati didalam sel ini," Saran Rodiah.


"Benar juga, jika kita melawan orang gila. Maka, dimana letak kewarasan kita?" Meira menjadi tak peduli dengan kehadiran Sarah. Perkataan Rodiah memang benar.


Terdengar keributan diantara Vartan dan Sarah. Sarah mengambil pedang Vartan yang masih dapat dijangkau dengan tangannya dan masih bisa masuk diantara celah besi penjara. Wanita itu terlihat kacau, rambut acak Acakan. Ekspresinya berubah-ubah, Seperti sekarang, gadis itu tiba tiba menangis dan berbicara seperri orang waras.


"Kalian!" ucapan Sarah membuat semua menatapnya.


"Kalian tidak pernah merasakan bagaimana mencintai orang bertahun tahun!"


"Kalian tidak pernah berjuang sekeras mungkin berharap sekalipun perasaan kalian terbalas!"


"Kalian anggap aku gila karena cinta, Silahkan. Aku tak punya keluarga, teman, kekasih, atau siapapun di dunia ini!"


"Selamat tinggal!" Sarah tersenyum dalam tangisnya. Ia juga mengarahkan pedang itu pada diirnya sendiri dan menancapkan pedang itu ke tubuhnya. Dengan darah dan air mata yang terurai. Sarah mati dengan semua kata hati yang sudah ia sampaikan.


"Vartan kau menyia nyiakan seorang wanita," ucap Meira dengan tatapan yang terpaku pada wanita berambut Merah itu.


"Seandainya kau membalas cintanya, walau berpura pura, setidaknya kepura puraan itu bisa membawamu pada sesuatu yang nyata!" Meira tak menyangka akar dari semua permasalahannya adalah Vartan. Ia bahkan tak menyadari kalau Sarah mencintai Vartan sejak lama. Tapi Meira selalu menolak Vartan.


"Ini memang semua salahku, maafkan aku jika menimbulkan masalah untukmu. Aku berjanji untuk berusaha menjauh darimu," Setelah mengucapkannya, Vartan pergi dari hadapan Meira. Vartan pergi tanpa Meira tahu apakah Vartan serius.


"Kenapa aku merasa ini semua salahku?"


"Apa aku bertambah jahat?"

__ADS_1


__ADS_2