Own Crowning: Reinkarnasi Menjadi Ratu

Own Crowning: Reinkarnasi Menjadi Ratu
Undangan??


__ADS_3

Perhatian!!!


Jangan lupa Vote, komen, like dan follow 😚


***


Wanita itu menatap jendela yang mengarah ke kolam. Dia teringat sesuatu bahwa ia pernah membawa ikan di akuarium hotel yang terakhir kali ia kunjungi. Saat ini, ia ingin mendengar nyanyian itu. Ia pun bergegas bertanya pada Rodiah, kemana ia meletakan ikan ikan itu.


Wanita itu menuju perpustakaan kerajaan. Karena ia yakin, Rodiah pasti akan membawanya kesana. Bagaimana tidak? Lais sangat suka membaca buku. Kali ini ia harus benar.


"eh, Yang Mulia" Naomi menunduk.


"Kemana Rodiah?"


"Mereka ke perpustakaan, Yang Mulia,"


"Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu."


Meira pun melanjutkan jalannya menuju perpustakaan. Ia membuka pintu perpustakaan, lalu mendapati Rodiah sedang berbincang dengan Lais.


"Bibi, apakah kau bisa membaca?" Meira pun mengintip setelah ia mendengar suara anak itu bertanya.


"Tak perlu ditanya, aku adalah seorang dayang. Itu menuntutku agar bisa membaca," Lais pun mengangguk sambil menelusuri buku yang sedang ia cari.


"Akhirnya aku menemukan seseorang yang bisa aku ajak membahas sesuatu yang ada di buku,"


"Kau bisa membaca?"


"Hum,"


"Tak salah Yang Mulia memilihmu" Rodiah pun mengelus pelan kepala Lais.


Setelah mendengar perbincangan kecil itu, Meira pergi. Ia enggan untuk bergabung karena ada sesuatu yang ingin ia lakukan.


***


"Maaf, Yang Mulia" Seseorang menyela.


"Apa pernyataanku ada yang salah?" Tanya Meira.


"Kalian bisa berdiri bagi yang tak setuju."

__ADS_1


Bendahara utama pun berdiri dengan gagahnya. Ia memperbaiki dasinya lalu mempersigap berdirinya.


"Baik, silahkan!" ucap Meira.


"Kalau kita membiarkan rakyat bisa membaca, maka mereka akan menjadi pintar. Apakah Yang Mulia tidak tahu? Hal ini bisa mendorong besarnya pergeseran posisi!" Tegas Pria itu.


"Bagus kalau mereka akan jauh lebih pintar darimu. Maka mereka tak perlu menyuruhmu untuk mengelola semua keuangan negara. Karena mereka pasti memiliki orang yang lebih baik," Meira pun menyesap kopinya.


"Apa aku tak lebih baik?"


"Kau renungkan saja di rumahmu, kau boleh duduk kembali!"


Penasehat utama pun berdiri. Kepalanya menunduk. Ia memainkan jarinya. Tampak sekali ia cemas dengan kata katanya, apakah akan membuat ratunya tersinggung seperti sedia kala karena dia tak tahu apa apa.


"Silahkan"


"Baik, Yang mulia. Menurut saya ide ini sangat bagus. Mendorong kemajuan negeri kita agar lebih maju. Namun, apakah ada orang orang yang bersedia menjadi guru? Mereka pasti meminta imbalan yang banyak," Penasehat utama itu pun menunduk.


"Kuta tak perlu takut. Uang kita banyak kan, Bendahara terhormat!" Meira tersenyum sambil menaik-naikan alisnya.


"Benar, apalagi kita sudah mempunyai komoditas utama untuk negeri kita!" Tanpa perintah, Ilmuan muda berdiri.


"Tak apa, asalkan dia tidak membunuhku saja. oke, ilmuan muda, bagaimana kabar komoditas kita?"


"Sangat baik, tumbuhan aneh itu ternyata sangat ajaib. Ia bahkan bisa membuat kulit pemakainya menjadi awet muda bahkan kita bisa mengobati luka dengan itu!"


"Bisa menjadi obat untuk suatu penyakit, namun masih dalam penelitian. Tumbuhan ini benar benar ajaib. Kita bisa membuat salep dengan ini. Aku yakin negeri kita bisa kaya!"


"Baik, aku senang mendengarnya. Kalian sangat bisa diandalkan. Aku percaya pada kalian."


Meira pun menatap Bendahara utama dengan senyum tulusnya. Sehingga Bendahara itu menarik nafasnya dan ikut tersenyum.


"Aku harus melakukan sesuatu untuk negeri ini. Agar aku tak hanya menghitung uang." Gumam Bendahara itu.


"Baik, kita bisa bubar!"


***


Setelah rapat yang agak panjang, Meira memutuskan untuk menemui Rodiah karena ia ingat sesuatu. Ia ingin bertanya mengenai ikan yang suaranya indah. Akhirnya, Meira bisa mendapatkan Rodiah sedang berbincang dengan Naomi sambil memangku Lais yang tengah tertidur.


"Kalian,"

__ADS_1


Mereka pun mendunduk.


"Kalian kemanakan ikan yang pernah aku berikan sewaktu kita pulang dari hotel tengah hutan?"


Rodiah dan Naomi pun saling pandang. Lalu mereka saling menyenggol dalam artian 'kau harus menjelaskannya' Melihat itu Meira memicingkan matanya.


"Mmm-Maaf Yang Mulia," Naomi pun cengigiran tak jelas.


"Ikannya saya masak, rasanya enak sekali. Dagingnya manis. Lalu saya padukan dengan cabai hijau. Sekarang ikan ikannya di perut kami berdua," Naomi pun mengedipkan matanya berulang ulang.


Mendengar itu, Meira ingin marah. Tapi, tak mungkinkan seorang ratu marah hanya karena perkara kecil.


Mereka kan tidak tahu kalau ikan itu bisa Meira ajak bicara.


"Hufft, yasudahlah kalian boleh pergi. Bawa Lais ke kamarnya!" Perintah Meira.


"Yang Mulia, ada surat dari seorang wanita. Ia telah pergi dan meninggalkan surat ini,"Penjaga gerbang pun menunduk untuk memberikan surat.


"Baik, kau boleh pergi!"


Meira pun pergi ke ruangannya untuk membaca isi surat itu.


'DARI OLA' itulah kalimat yang di cantumkan di bagian luar surat.


Meira pun membuka Surat itu pelan, dan ia terkejut karena isinya undangan pernikahan.


"jadi Ola mengundangku datang, Tak apa lagian negeri ungu tidak tahu kalau aku Ratu jika aku menggunakan baju yang tak menonjol," gumamnya.


"Baiklah, aku akan datang. Hmm, hadiah apa yang aku berikan. Tapi tunggu, bukankah Harry sedang marah padaku? bagaimana ini? Aku akan mengurusnya nanti," Gumamnya lagi.


Meira pun menatap undangan tersebut dan melihat acaranya akan diselenggarakan 2 bulan lagi. Meira pun termenung memikirkan apa yang harus ia lakukan.


***


Next?!!


oke, nambah 10k lagi, bolehkah??


Terimakasih untuk 50k nya!!!


Kalian benar benar the best!!!

__ADS_1


__ADS_2