
Hari pernikahan Ibu Clarissa sedang diselenggarakan. Clarissa, gadis kecil itu meringkuk dalam selimut dan menangis.
"Mama, Clarissa lapar. Clarissa juga takut sendirian." Clarissa menangis.
Sudah beberapa jam ia didalam kamar dan tidak berani keluar. Namun, karena tekadnya yang kuat, akhirnya dia membuka knop pintu dan sedikit mengintip.
"Sudah jam 8 malam, Kok sepi?" Anak itu mulai melangkah keluar, ia sedikit berhati hati sehingga ia menoleh ke kanan dan ke kiri.
Plakk...
Sebuah tamparan di pipi kirinya membekas, karya dari ibu kandungnya yang tiba tiba mendapatinya sedang berjalan ke dapur.
"Kurang ajar!"
"Sudah saya bilang jangan kemana mana!"
Pakk...Pakk...
Deva masih saja memukul, anak itu belum menangis Sehingga Deva memukulnya lagi dan lagi.
"Sakit, Ma. Sasa cuman mau makan. Sasa lapar. Dari siang belum makan!" Setelah mengucapkannya, Clarissa menangis.
"Kamu sama aja seperti Ayah kamu, mending kamu waktu itu saya gugurin!" Clarissa tidak mengerti dengan ucapan Deva. Anak itu masih menangis dan membuat Deva marah karena tangisan Clarissa.
"DIAM!!! Gak usah nangis! Besok kamu saya buang!" Deva lanjut mengurung Clarissa di kamar. Tak lupa ia menguncinya.
"Mama, Sasa lapar! Mama tolong Sasa. Sasa cuman mau makan!" anak itu berteriak sambil menggedor-gedor pintu namun, Deva tetap tak memedulikan dan lebih memilih menyiapkan kamar untuk suami baru dan anak tirinya.
"Yana, yang disebelah kanan itu kamar kamu, ya!" Deva membimbing tirinya itu.
"Iya, mama. Yana senang deh punya mama" Yana memeluk Deva dan Deva pun begitu. Semua itu tak luput dari penglihatan Clarissa dan membuatnya sedih.
"mama, Sasa juga mau dipeluk!" gumamnya
Clarissa melihat semua itu dari celah pintu yang sedikit berlubang. Setelah itu ia menatap perutnya yang sudah berbunyi.
"mama, perut Clarissa kok sakit!" Gumam Clarissa sebelum ia benar benar pingsan.
__ADS_1
***
Pagi hari, keluarga baru terlihat ceria di meja makan. Tak tampak Clarissa disana. Gadis itu masih terkurung di Kamarnya.
"Kamu bukannya punya anak?" Tanya suami baru nya, Putra.
"Biarin aja, mas. Kan kamu tau kalau dia anak daei hubungan terpaksa," Jawab Deva.
" Aku tahu kalau kamu dijodohin secara paksa sama orang tua kamu, tapi gak seharusnya kamu benci dia. Dia darah daging kamu," Putra mencoba menasehati Deva.
"Udahlah, mas." jawab Deva.
Waktu sudah menunjukan jam setengah tiga sore. Namun, gadis kecil itu belum juga di bebaskan. Deva baru saja ingat bahwa ia harus membebaskan Clarissa dari kurungannya.
"Bangun kamu!" Deva menggoncangkan badan Clarissa kasar agar gadis itu bangun.
"Gak bangun juga!" Deva pun berniat menyiram Clarissa dengan air, namun ia mengurungnya karena melihat suaminya mengangkat Clarissa dan membawanya ke mobil.
"Kamu apaan, sih!" Oceh Deva.
"Kamu itu manusia atau bukan, sih. Pokoknya anak kamu harus dibawa ke rumah sakit!"
Clarissa sangat lemah, ia dirawat dirumah sakit. Sudah 2 hari ia berada di rumah sakit tanpa ada yang menjaganya. Hanya suster yang datang sekedar mengecek kondisinya. Setelah ia sudah boleh pulang, hanya sopir yang menjemputnya.
"Mama, Clarissa pulang!" anak itu langsung berhambur keluar dari mobil, namun ibunya sedang bermain dengan anak barunya.
"Mama, Clarissa pulang." anak itu mengatakannya dengan lemah.
"Mama dia siapa?" Tanya Yana.
"Oh, dia anak mama. Tapi mama gak sayang dia, hihi." Bisik Deva pada Yana membuat Yana juga ikut tertawa.
"Hai, nama aku Clarissa?" Clarissa mencoba berjabat tangan dengan Yana. Namun, tangannya ditepis kasar oleh Deva.
"Kamu masuk kamar, Yana gak boleh main sama Clarissa, ya!" Perintah Deva.
"Tapi, Yana senang punya Kakak!" Ucap Yana.
__ADS_1
"pokoknya kamu gak boleh dekat sama dia, Mengerti!" Perintah Deva lagi, semua itu dilihat oleh Putra, suaminya.
Kejadian tersebut dirasakan Clarissa hingga ia tumbuh remaja. Gadis itu berusia 17 tahun ketika ia mulai mencari ayahnya.
"Kamu mau ngapain?" Tanya Deva.
"Pergi,"
"Mentang mentang dapat beasiswa di australia, kamu sudah mulai sombong!" Deva menghina Clarissa seperti biasa. Namun, gadis itu mendiamkan saja.
Gadis itu pun membawa koper dan barang penting miliknya.
"Om Putra, Clarissa pergi dulu!" Clarissa biasa memanggil suami ibunya dengan om. Karena Deva akan marah jika Clarissa memanggilnya Ayah.
"ini uang saku buat kamu," putra mengeluarkan cek sebesar seribu lima ratus dollar.
"Terimakasih, om. Tapi, Clarissa gak apa apa," Clarissa mengembalikan cek tersebut.
"Ayah kasih buat Sasa buat Jajan Sasa disana! Ayah gak terima penolakan!" Bentak Putra.
"Terimakasih, om." Clarissa mau tak mau menerimanya.
"Dasar, malu malu tapi mau!" sindir Deva.
"Udah gak usah didengerin!" Ucap putra.
Clarissa pun meninggalkan negara kelahirannya. Dia sungguh bahagia karena ia paham benar pilihannya. Ia memilih Australia agar ia bisa menemui ayahnya disana. Ia mencari ayah kandungnya dengan nama perusahannya. Clarissa bernafas lega karena ia tak perlu memikirkan biaya hidupnya karena ia mendapat beasiswa dan juga uang saku dari Ayah tirinya.
***
Bagaimana part ini?
semoga suka ya.
aku mohon kalian berikan komentar untuk part ini, supaya aku tahu kedepannya bagaimana!
Jangan lupa like ya..
__ADS_1
kita lanjut ke Mimpi Meira yang ketiga. Nanti aku buat sampai 5 aja. Semoga suka.
sekali lagi mohon komentar nya