Own Crowning: Reinkarnasi Menjadi Ratu

Own Crowning: Reinkarnasi Menjadi Ratu
Liburan


__ADS_3

"Kamu bertemu siapa Meira?" Risa menghampiri Meira yang bergegas ke ruangannya.


"Sarah, Bu. Dia memberi undangan pernikahan," Meira pun memberikan undangan itu pada Risa.


"Undangan?" Risa membuka bungkus undangan tersebut dan melihat nama Vartan dan Sarah tertera di halaman utama undagan.


"Kenapa ada Vartan? bukankah Vartan ingin menikahimu? Dia bahkan mencarimu ke seluruh penjuru negeri! tapi apa ini!" Sontak Risa terkejut membaca undangan tersebut. Risa tak menyangka Vartan berani bermain main dengan putrinya.


"Makanya, sedari dulu aku tak mau menerimanya, bu. Huftt...padahal aku sudah mulai jatuh cinta padanya. Untung tidak terlalu dalam," Ujar Meira diselingi helaan nafas.


"Baguslah, Ibu tidak akan membiarkannya bertemu denganmu!"


"Jangan, bu. Aku ingin kerajaan ini mencapai masa kejayaan. Kerja sama dengan kerajaan Vartan membuat untung yang banyak,"


"Kamu sangat cerdas. Baiklah ibu ikuti jalanmu saja." Risa menepuk bahu Meira sebelum pergi. Tanda bahwa ia percaya pada Meira.


***


"Rodiah aku akan pergi ke Afroja!" Ucap Rodiah.


"Apa itu tidak akan menjadi buruk. Yang Mulia. Setelah apa yang di perbuat oleh Tuan Vartan?" tanya Rodiah.


"Urusan pekerjaan jangan dicampur dengan urusan pribadi. Aku akan mempropogandakan bisnis lidah buaya kita. Semoga di negeri mereka barang kita bisa laku keras!" Meira masih mencatat apa yang perlu ia bawa. Takut dia akan membuat kesalahan dan itu akan mempermalukan kerajaannya.


"Baik, Yang Mulia. Saya akan mempersiapkan semuanya,"


"Oh, iya. Jangan lupa ajak Lais juga Naomi. Kita akan sekalian berlibur disana. Berlibur, kita harus melupakan pekerjaan kita sejenak, oke!" Rodiah pun tersenyum mendengar itu. Dia sudah membayangkan apa saja yang ia lakukan saat ia bersantai. Meira pun memerintah Rodiah untuk memberitahukan ini kepada Naomi juga Lais. Intinya, mereka harus bersenang-senang.


Setelah semua beres, mereka pun masuk ke dalam kereta kuda. Mereka membawa 2 kereta kuda. Yang satu untuk di tumpangi mereka yang satu untuk barang yang mereka bawa.


"Ibu, apakah benar kita akan berlibur?" Tanya Lais.


"Ibu akan bekerja. Setelah ibu selesai bekerja, kita akan berlibur!" Mendengar pernyataan Meira Lais pun gembira. Dia bahkan tersenyum dengan lebar.


"Kau terlihat bahagia, Lais!" Meira mencubit pipi tembem Lais dengan gemas. Ia tak menyangka liburan bisa membuat anak polos ini sangat bahagia.


"Ini pertama kalinya aku berlibur. Ibuku dan ayah tiriku selalu meninggalkanku jika mereka berlibur dengan Vera, saat itu aku bermimpi untuk ikut," jelas Lais.


"Vera itu siapa?"

__ADS_1


"Vera adalah adik tiriku. Dia sangat tidak suka dekat denganku. Tapi dia kadang kadang baik. Ketika aku kelaparan dia akan mengendap endap memberikanku roti." Meira melihat perubahan air muka Lais. Terlihat bahwa Lais sangat sedih mengingat hal itu. Meira berusaha mengganti topik dengan menyuruh Lais tidur.


"Hal seperti itu jangan di ingat lagi. Kau sudah punya ibu Meira. Lebih baik kau tidur saja. Supaya kau tidak mual selama perjalanan." Lais pun menuruti Meira. Ia duduk di paha Meira. Meira pun mengelus rambut Lais.


***


(Disarankan dengar lagu Billie Eilish~Bellyache supaya feelnya dapet)


Sepanjang perjalanan Meira menimati pemandangan yang disajikan oleh alam. Kini mereka melewati kebun gandum yang beberapa mil jauhnya. Lais bangun ia ikut menikmati pemandangan yang ada. Meira mengajak Lais, Rodiah, dan Naomi bersenandung. Kebun gandum yang sudah menguning dan siap dipanen. Para petani gandum datang untuk mengusir burung yang siap memakani gandum mereka. Ada anak kecil yang bermain layangan tertawa riang gembira. Mereka puj melewati ladang gandum tersebut lalu memasuki area yang dipenuhi dengan sungai jernih dan dihiasi teratai. Saking jernihnya mereka bahkan melihat ikan yang berenang didalam air. Mereka menunjuk ikan yang melompat dan menghitung jumlah ikan yang dapat mereka lihat. Mereka tertawa tanpa henti, rambut mereka diterpa angin yang bergulung halus.


"Apakah lebih baik kita berlibur dulu, bu?" tanya Lais.


"Tidak buruk juga, bagaimana kalau kita ke pantai?" Tanya Rodiah.


"Wahh, ide yang bagus. Ayolah Yang Mulia," mohon Naomi.


"Aku juga berpikir sama seperti kalian kalau kita kepantai!" mereka pun tersenyum bahagia mendengar penuturan Meira. Mereka menyuruh kusir untuk membawa mereka ke pantai dan mereka sampai beberapa jam kemudian. Mereka mencium aroma pasir pantai yang menyeruak bercampur dengan aroma air laut yang terbawa angin. Benar benar menenangkan. Sejenak Meira melupakan jati dirinya. Dia melupakan kisahnya, masalahnya, juga pekerjaannya. Dia bahkan melupakan dirinya sebagai ratu. Ia benar benar ingin bebas.


"Ibu, ada penjual barang cantik disana!" tunjuk Lais. Meira pun melihat kearah yang ditunjuk Lais. Seorang pria dengan topi pantainya. Menjual sesuatu yang terpantul jika terkena sinar matahari. Terbesit dalam pikiran Meira untuk mendekati pria itu.


"Berhenti disana!" perintah Meira.


"Apa yang kau jual?" tanya Meira.


"Ah, ini namanya cermin, dia bisa memantulkan wajah anda nona. Selama ini kalian menggunakan alumunium, bukan?" Pria itu menunjukan beberapa barang dagangannya.


"Kau tau darimana cara membuat cermin?" tanya Meira.


"Aku sangat jenius tentunya, sebut saja aku adalah utusan dewa!" canda pria itu.


"Kau ikut denganku, aku akan memberimu pekerjaan!" Perintah Meira.


"Hah, siapa kau memerintahku, i will never follow you!" Ucap Pria itu dengan angkuhnya.


"Apa yang kau katakan! Coba ulang sekali lagi! Kau benar benar menghinaku! kau pikir aku tak bisa bahasa inggris!" Perdebatan kecil mereka mengundang perhatian Rodiah, Naomi, juga Lais. Pria yang menjadi lawan bicara Meira membelalakan matanya. Ia bahkan sempat menganga sebentar.


"Bahasa inggris? Kenapa kita tidak tahu? apa itu bahasa baru?" Ucap Rodiah sambil memiringkan kepala.


"Aku juga tidak mengerti!" ucap Naomi dan Lais.

__ADS_1


"Kau ikut aku, aku perlu bicara denganmu, ikut kami!" Perintah Meira.


Selama perjalanan, mereka hanya terdiam. Mereka bergegas mencari penginapan untuk istirahat. Setelah mendapat penginapan mereka pun segera diperintahkan oleh Meira untuk langsung istirahat kecuali pria tadi.


"Siapa namamu?" tanya Meira setelah menarik pria itu agak jauh dari mereka.


"Namaku Jordan. Apa urusanmu denganku?" ucap pria itu setelah menghempas tangan Meira.


"Perlu kutebak! Kau terdampar di jaman kuno ini?" Meira melipat tangan diatas perutnya.


"Kau benar! apa kau juga terdampar?" Ejek pria itu.


"Aku bahkan tak tahu cara kembali," sini Meira.


"Kita punya nasib yang sama. Tidak seharusnya kita bersikap bahwa kita adalah musuh!" ujar pria itu.


"Bekerjalah denganku! kau kelihatan sangat cerdas dilihat dari nada bicaramu,"


"Baiklah, asal kau beri aku tempat tinggal yang mewah!" Meira menganggukan kepalanya tanda setuju. Kini dia tak sendiri di dunia ini. Setidaknya, ia punya teman dari zaman yang sama.


***


Di istana Afroja, duduk seorang raja di singgasananya. Di dinding terhias permadani bersulam emas berpola bintang. Akan bercahaya jika tersentuh sinar mentari itulah yang disukai Vartan.


"Ada apa kau kemari?" penjaga gerbang Istana datang dan bersujud.


"Ratu dari kerajaan Danina datang untuk menemui anda besok pagi. Sekarang mereka berada di penginapan untuk beristirahat,"


"Izinkan saja mereka!"


"Baik, Yang Mulia!" penjaga gerbang istana itu pun pergi atas perintah Vartan. Kini Vartan bergelud dengan pikirannya.


"Mau apa ia kemari? apa dia mau balas dendam? Tapi tak mungkin juga!" Gumam Vartan.


***


Kita liburannya di rumah aja ya, sambil baca Own Crowning. Terimakasih sudah mendukung saya sejauh ini, saya udah dapat kontrak, tapi belum isi data, bingung ngisi nya.


Makasih, saya mencintai kalian semuaa

__ADS_1


__ADS_2