
Baru saja Clarissa pulang dari kantornya, Lia dan Gita mengajaknya untuk shopping di tempat kesukaan mereka. Clarissa terpaksa mengatakan selamat tinggal pada jam istirahatnya.
"Kak Caca pokoknya harus lihat baju rancangan aku dipajang disana!" Lia menarik kencang tangan Clarissa.
"Aku mau kak Caca pakai terus upload deh di istagram!" tambahnya.
Clarissa hanya diam saja. Ia teringat kalau di ponselnya tak ada aplikasi instagram. Ia hanya menggunakan aplikasi khusus bisnis saja.
"Maaf Lia, kakak gak punya instagram," Ucap Clasrissa.
"Loh, 'kan bisa download!" Lia mengambil paksa telepon Clarissa dan membuka aplikasi playstore dan segera mengunduh aplikasi tersebut.
"Nih! aku buatin deh akunnya. Tenang aja kalau sama Lia, aman!" Dengan cekatan Lia mengetik di telepon itu, tampak sekali kalau Lia adalah orang yang populer di sosial media.
"Tenang aja kak, nanti Lia yang promote!" Ocehnya lagi.
Lia memberikan telepon Clarissa setelah selesai membuat akun. Clarissa hanya memandangnya sekejap. Clarissa tak mau jadi orang yang populer—lagi— karena sangat merepotkan.
Lia menunjuk manekin dengan gaun yang indah lengkap dengan aksesorisnya. Lia menarik paksa Clarissa untuk segera kesana.
"Itu rancangan Lia. Kemarin pemilik toko ini, membeli rancangan Lia!"
Clarissa menatap satu persatu toko yang ada di Mall ini. Rata- rata terlihat sangat mewah. Toko dengan brand terkenal bahkan dapat dilihat disini dengan harga selangit. Clarissa tak mau membebankan diri untuk membeli baju yang mahal. Lebih baik dirinya beli yang KW saja, toh cuman dipakai sekali.
"Pakai!" perintah Lia.
__ADS_1
Clarissa mau tak mau harus pergi ke tempat ganti baju, setelah keluar ia melihat mata Lia yang berbinar begitu pula Gita.
"Kamu udah cantik tambah cantik!" Puji Gita.
"Kakak pasti populer!"
Clarissa tersenyum sampai senyumnya pudar karena kedatangan seseorang yang tak ia harapkan. Siapalagi kalau bukan Yana, adik tirinya.
"Eh, ada kak Caca!" Yana terlihat manja dengan kekasihnya, mantan Clarissa.
"Hemm, kapan nikah?" tanya Clarissa tanoa basa-basi.
"Bulan depan kalau bisa, iya kan beb?" Yana menyikut lengan kekasihnya itu.
"Jangan lupa undang ya."
"itu siapa?" tanya Gita ketika menyadari raut wajah Clarissa yang agak berbeda.
"Hmm, adik tiri-ku dari Ibu kandungku." Jawabnya.
Gita dan Lia tidak bisa berkutik lagi jika menyangkut masalah ini. Biarlah Clarissa yang menceritakan terlebih dahulu.
"Oh, iya. Kita bayar dulu, oke!" Lia lari ke kasir dan kembali lagi dengan membawa paper bag klasik.
"ini! dipakai kala acara penyambutan CEO baru!" Lia memberikan itu pada Clarissa yang tak bisa menolak.
__ADS_1
Mereka lanjut mengelilingi pusat perbelanjaan hingga mereka lelah dan mencari tempat makan. Di cafe yang mereka pilih, Clarissa melihat sosok yang ia kenal. Jika, ia melihat sosok itu, jantungnya berdebar kencang dan aliran darahnya seakan terasa bergerak.
"Ibu." lirihnya.
Gita dan Lia menatap ke arah yang dipandang Clarissa. Mereka kenal orang itu, ia adalah ibu kandung Clarissa.
"Kita pergi yuk!" ajak Lia.
Mereka hendak pergi, namun Deva menghampiri mereka dengan kepala terangkat dan dada yang membusung seakan dia adalah penguasa negeri.
"Uh, Caca makin gemuk ya!" Deva memainkan rambut Clarissa segera ditempis Clarissa.
"Ternyata selama tinggal sama mereka, Clarissa jadi anak yang nggak sopan!" Deva mengusap tangannya yang baru ditepis Clarissa.
"Mereka adalah orang yang menguatkan aku. Aku sudah anggap ibu Gita sebagai Ibu kandung aku begitu juga Lia. Daripada ibu kandung tapi seperti ibu tiri, aku lebih baik tinggal bersama mereka!"
"Lebih baik aku kehilangan ibu kandungku dibandingkan ibu tiriku. Dia sangat berharga." Clarissa langsung meninggalkan Deva yang terpaku. Gita dan Lia berusaha menggapain Clarissa yang langkahnya terlau lebar.
"Tenangkan dirimu!" perintah Gita.
"Kak, kamu punya kami. Kamu harus tegar!"
Mereka mencoba menguatkan Clarissa yang tampak begitu lemah jika berhadapan dengan ibunya. Clarissa mengusap air matanya dan menatao Gita dan Lia.
"Terimakasih ya!"
__ADS_1
"Aku sayang kalian!"
Clarissa memeluk Mereka.