
Perjalanan pulang dari kerajaan Vartan sangatlah ditunggu. Bahkan sepanjang perjalanan mereka bercengkrama ria. Mereka juga sudah melupakan posisi mereka sekarang. Rasanya seperti keluarga. Anggota baru mereka, Jordan. Ia tak jarang ikut mengisi cengkrama mereka.
"Apa kalian tidak lelah bernyanyi dari tadi. leherku sudah sakit berteriak!" Jordan mengelus lehernya dan meneguk salivanya.
"Kupikir kau lebih baik diam saja. Kami masih mau bersenang senang!" balas Naomi.
Apa kalian tidak tau, Naomi dan Jordan selalu ribut. Mereka bahkan memperdebatkan suatu hal kecil. Meira bahkan menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku mereka.
"Akan ada yang berjodoh kali ini!" Sindir Rodiah.
Ah, iya. Rodiah yang sedari tadi memangku Lais kadang ikut menyindir mereka. Meira juga sering menimpalinya. Menggemaskan sekali.
***
Di lain tempat, duduk seorang raja yang memijat pelipisnya. Ia sedang geram dengan wanita yang sedari tadi menggerayangi dirinya. Ingin Vartan berkata kasar tapi, ia sudah terlanjur terikat janji dengan wanita gila ini.
"Kalau kau berani memutuskan hubungan denganku! aku akan membongkar semua rahasiamu!" ancam Sarah.
"Terserah, aku sudah lelah. Kau pergi saja beritahu rahasia bodoh itu. Aku sudah tak peduli!" Vartan mendorong wanita itu. Ia berjalan ke kamarnya masih dengan memijat kepalanya yang terasa sakit.
"Kalau begitu, aku akan membunuhnya. Biarkan saja aku akan mati. Setidaknya. aku melakukan hal yang menyenangkan sebelum aku mati," wanita itu sekarang mulai berani duduk di singasana milik Vartan. Dia merasa kuat dengan abcaman yang ia punya.
__ADS_1
"Aku tak yakin dengan itu. Mungkin, kau yang akan dibunuh oleh Meira. Rasanya menyenangkan sekali. Bahkan aku sudah menebak hal itu!"
"Baiklah, tidak ada salahnya mencoba. Selamat menikmati, Sayangku." Wanita gila itu mengedipkan mata sebelum pergi. Rambut merahnya seakan terbakar api. Seperti iblis, nyalang matanya. Senyumnya benar benar membuat siapapuj terbunuh sekaligus tergoda.
"Wanita itu sangat berani!"
***
"Akhirnya kita sampai. Kalian segera tidur. Aku akan mengantar Jordan ke ruangannya."
"Baik, Yang Mulia."
Meira pun menuntun Jordan yang sudah tak sadar lagi. Mereka sampai ketika tengah malam. Waktu yang seharusnya digunakan untuk tidur, harus dikorbankan Meira kali ini.
"Aku sudah biasa tinggal ditempat kumuh."
Pria itu pun tertidur.
Meira berjalan ke kamarnya. Ia memilih duduk sebelum tertidur. Ia duduk di balkon kamarnya, dan menatap bulan yang sedang purnama. Wanita itu menyelimuti dirinya dengan selimut tebal. Bintang bintang tak tampak karena awan tebal, Hanya sinar rembulan yang mampu bersinar terang.
"Apa kabar mereka disana?" Meria bertanya dengan bulan itu. Seakan bulan itu akan mendengarkannya. Wanita itu menitikan air mata.
__ADS_1
"Ah, ketika aku mati. Tak ada yang mencariku disana," Wanita itu menyeka air matanya dan tersenyum. Ia memeluk dirinya agar merasa hangat.
"Bulan, disini aku sangat bahagia. Apa aku salah?"
"Aku punya ibu, aku punya Tera, aku punya teman yang baik. Aku bahkan mengangkat seorang anak!"
"kalau aku kembali, apa yang akan kudapatkan?"
"adakah yang merindukanku?"
"Bulan, aku berjanji. Aku akan pulang ketika alam merestuiku." Wanita itu memejamkan matanya dan meresapi segala hal yang ia rasakan. Ia kembali ke ranjang dan segera tidur.
***
"Kamu dimana Clarissa?"
***
Ini aku kasih tau lagi, ada yang mau masuk ke grup whatsapp aku?
Kalau ada tulis nomor kalian di kolom komentar!
__ADS_1
oke, tunggu, ya!