
Bug...
satu tinjuan berlabuh.
pak...
satu tamparan melayang.
bug..pak..bug..pak..
Tinjuan dan tamparan bersatu.
Kini mereka menjadi pusat perhatian pasar. Awalnya rakyat sedang menonton Vartan dan sarah memanah. Namun, berakhir mempertontonkan Meira dan pria bangsawan.
"Berani sekali wanita itu," seorang anak muda berbisik pada temannya.
"kalau aku akan sadar diri untuk tidak melawan,"
Bisik bisik terdengar. Mereka yang tidak mengenal Meira akan menganggap Meira rakyat kelas bawah dengan pakaiannya. Mereka yang mengenal Meira hanya diam ketakutan.
"Hey, wanita! kau terlalu berani, ya?!" Pria itu menjambak Meira kasar. Namun, Meira meraih tangan pria itu dan memelintirkannya ke belakang. Meira pun menyeret paksa pria itu kehadapan orang banyak dengan keadaan tangan pria itu yang masih terpelintir.
"Kalian mau di perbudak oleh bangsawan ini?!!" setelah menghempas kasar pria itu Meira tanpa segan menunjuk pria itu.
"Hey, kalian rakyat! kalian harus punya mental di atas. Jangan karena kalian rakyat, kalian malah merendahkan diri! saya tidak suka. Penggal kepala pria ini!!" perintah Meira.
"Yang Mulia! Saya akan memanggil pengawal," Izin Rodiah.
__ADS_1
"Segera!"
***
"Nona Meira, apa yang harus kami lakukan?" Pemimpin pengawal datang memohon diri.
"Penggal kepala Pria ini! Saya tidak suka melihat kecoak sombong!" Perintah Meira.
Meira duduk dengan kaki bersila. Ia memakan apel yang ia beli sewaktu ia menunggu pengawal.
Pria itu masih menyombongkan dirinya. Benar benar menyebalkan! apakah semua orang kaya seperti ini?!!
"Maaf, nona. Saya lupa membawa alat pemenggal. Bagaimana kalau pria ini dijadikan budak saja?" Meira menimang nimang pertanyaan pemimpin pengawal itu.
"kalian bawa dia ke istana!"
Mereka menyeret paksa Pria itu. Pria itu memberontak dengan membabi buta. Ia pikir wanita ini hanya bergurau.
"Berhenti, Meira! kau sudah keterlaluan!" semua mata memandang Vartan yang begitu gagah berdiri. Tangannya yang kokoh memberikan isyarat telapak tangan.
"Aku tak habis pikir. Setiap hari kau bertambah jahat. Kau benar benar berubah. Tidak seperti yang kubayangkan!" Tegas Vartan.
Meira yang mendengar itu hanya berekspresi dingin. Jauh didalam lubuk hatinya, ia kecewa. Kecewa dengan dirinya sendiri.
"Kau mengapa mengurusi aku? kita tak ada hubungan apa apa," Meira berkata sepelan mungkin.
"Dan aku mengucap selamat. Sebentar lagi kalian akan resmi tunangan!" Meira bertepuk tangan.
__ADS_1
Tepuk tangan Meira bergema ditempat yang seakan sunyi dengan kedatangan mereka. Meira mendekati Vartan dan Saraj dan tersenyum pada mereka.
"Aku bersyukur karena memilih Sarah. Dia wanita pengertian, baik, lemah lembut, dan sosoknya bisa dijadikan panutan. Sedangkan kau! Kau wanita kejam yang tidak punya hati,"
"Jadi aku telah menyesal pernah mengejarmu!" Ucap Vartan
Meira sebenarnya ingin menangis. Tapi ia terlalu tegar untuk mengeluarkan air matanya. Meira takut, suatu hari nanti, ia akan mengalami hal yang sama dimana namanya masih Clarissa.
"Aku punya alasan mengapa aku tak mau mencintai! dan kurasa alasan itu tak oerlu kuberitahu!" ucap Meira.
Meira memerintahkan para pengawalnya untuk melepas pria tadi dan menyuruh mereka ikut dengan Meira untuk segera ke istana. Namun, sebelum itu Meira berbalik dan mengucapkan sesuatu kepada Vartan,
"Kau pikir aku cemburu, huh?!!" Meira pun pergi setelah membuat Vartan berfikir,
"Rencanaku sebentar lagi berhasil!" Hati Vartan bersorak ria. Hatinya saja tidak dengan raut wajahnya.
Meira pergi dengan hati yang masih kecewa dengan dirinya yang berubah. Ia bahkan membenci perubahan ini. Ia tak mau menjadi wanita kejam. Tapi ini untuk menyelamatkan dirinya.
***
Hai hai, bagaimana dengan part ini.
Ayo berikan saran kalian.
Jangan lupa vote nya yaaa!
Maaf kalau Update lama
__ADS_1