Own Crowning: Reinkarnasi Menjadi Ratu

Own Crowning: Reinkarnasi Menjadi Ratu
Gila


__ADS_3

Clarissa memijit pelipisnya sembari menghirup udara segar di balkon kamarnya. Clarissa memandangi mobil pria tak sopan yang baru saja pergi, Clarissa sekarang memikirkan bagaimana cara agar pria gila itu tidak menyukainya. Jujur saja, Clarissa tak peduli lagi soal cinta dan menikah.


FLASHBACK ON


"aku suka wanita itu" ucap Pria itu.


"kau pria tak sopan!" balas Clarissa.


"kau hanya belum mengenalku," Pria itu mengambil botol anggur dan menuangkannya ke gelas.


"Entahlah, kita lihat saja sejauh mana kau bertahan." Clarissa tersenyum sini, memotong daging dengan tangan lentiknya.


Pria itu menggoyangkan gelasnya memutar kemudian menyesap anggurnya perlahan. Mereka saling bertatapan membuat orang yang berada disekitar mereka merasakan aura gelap dan dingin


"aku kembali ke kamar!" Clarissa meletakan alat makannya, kemudian bangkit dari tempat duduknya meninggalkan mereka.


Flashback off


.Clarissa menatap ponselnya, pesan masuk dari ibu kandungnya yang sedari tadi ia abaikan akhirnya ia baca juga.


"besok kau datang?"


Begitulah isi pesannya. Clarissa masing menimbang-nimbang untuk menjawabnya.


"Tidak, aku sibuk." Jawaban Clarissa hanya dibaca tanpa dibalas, mungkin ibu kandungnya sudah menyerah.


Clarissa melepaskan bajunya, mandi dan bersantai. Saking menikmatinya. Clarissa tak sadar kalau sudah dua jam ia dikamar mandi. Clarissa pun menyudahi kegiatannya itu, dan memakai piyama tidurnya.


Pagi ke malam, malam ke pagi begitulah seterusnya. Hidup manusia sangat membosankan. Melakukan sesuatu yang tak pernah lepas dari siklus. Melenceng sedikit kau akan di asingkan. Itulah isi pikiran Clarissa saat hendak memakai baju kantornya.


"Aku tak sempat membeli parfum, yang ini sudah habis" Clarissa mencoba untuk mengais sisa sisa parfum di botolnya. Walaupun tinggal sedikit. setidaknga Clarissa tidak pergi dengan bau rinso cucian.

__ADS_1


Clarissa memoleskan make-u**p di wajahnya mencoba untuk terlihat berwibawa, karena sungguh Clarissa benci dengan wajah kekanakan, itu hanya mengingatkan dengan dirinya yang dulu.


"Selesai!"


Clarissa ke kantornya sebentar, kemudian ia menyerahkan semua kerja kantornya ke asistennya. Clarissa pergi ke suatu tempat untuk menemui ibu kandungnya itu.


"Clarissa, kau datang! kau bilang kau--"


"Jangan banyak bicara, aku datang untuk menyelesaikan urusan!" Clarissa memotong ucapan Deva.


"Terimakasih sudah ingat untuk menemuiku," lirihnya.


"Ingat? aku hanya kebetulan bertemu denganmu!" Clarissa duduk di kursi tunggu dengan kakinya yang menyilang.


"Oh, tak apa kebetulan." jawabnya.


Clarissa menatap Deva dari atas kebawah, kemudian memutar bola matanya.


"Wanita seperti-mu bisa sakit? kupikir penyihir tak bisa sakit," Clarissa menutup mulutnya yang menahan tawa.


"Aku belum mau tidur!" Deva menolak ajakan anak tirinya itu dan duduk di sebelah Clarissa.


"Kau mau uang?" Tawar Clarissa.


Yana dan Deva menggeleng. Wajah mereka memelas.


"Ibu hanya butuh kehadiranmu! bukan uangmu!" bentak Yana yang sudah tak tahan dengan kelakuan saudara tirinya itu.


"Ibu? setahu ku aku nggak punya ibu seperti dia!" Clarissa menunjuk Deva dan tertawa keras, memukul kursi karena tak bisa menahan tawa.


"Kau Gila! kau depresi!" Teriak Yana.

__ADS_1


Yana memaksa Deva masuk ke kamarnya karena tak tahan melihat Deva yang menangis tak percaya.


"Kau gila!" ulang Yana.


Clarissa berdiri dan berjalan ke arah Yana yang membawa Deva. Ia mendekat dan berbisik,


"Sikap seseorang tergantung siapa lawan bicaranya, bukan berarti aku benar benar gila dan jahat."


Clarissa membiarkan mereka pergi, ia pergi ke resepsionis untuk membayar semua biaya.


"Anda putrinya bu Deva? Aku tak menyangka orang seterkenal anda adalah putrinya bu deva!" Ujar resepsionis wanita itu dan Clarissa membalasnya dengan tersenyum.


"Kasihan sekaki bu Deva. Hidupnya tinggal beberapa bulan lagi! Tubuhnya tak kuat untuk cuci darah!"


Mata Clarissa melebar, lidahnya tergigit. Ia tak menyangka separah itu.


"Sejak kapan?"


"Masa anda tak tahu? Sejak putrinya kecelakaan, kondisi kesehatan bu Deva menurun, dan penyakitnya kambuh," jelas Wanita itu.


Clarissa mengangguk masih penasaran, namun ia tak ingin terlihat peduli. sehingga ia memutuskan untuk menyudahi pembicaraan ini.


"sejak kapan dia punya penyakit?"


***


BERSAMBUNG!


hai hai hai!


Menurut kalian Clarissa harus bagaimana?

__ADS_1


Uhuyy....


Jangan lupa kasih aku koin ya🤣🤣🤣


__ADS_2