Own Crowning: Reinkarnasi Menjadi Ratu

Own Crowning: Reinkarnasi Menjadi Ratu
ide


__ADS_3

"Aku harus mencari cara agar Vartan gila itu menjauh dariku!!" Gumam Meira.


BRAKKK.....


"Ahaa....Aku punya ide!!" Para dayang terkejut karena gebrakan yang Meira perbuat.


Sekarang dayang dayang bertambah bingung karena ulah Meira yang tiba tiba berjalan keluar dengan tawa bahagianya.


"Aku khawatir kalau Yang Mulia menjadi sakit jiwa karena Tuan Vartan," bisik Naomi pada Rodiah.


"Perhatikan kata-kata mu, Naomi!!" bentak Rodiah membuat Naomi terdiam.


***


"Semuanya! Maksud saya mengumpulkan kalian yang terhormat disini adalah untuk membahas mengenai pernikahan Tera dan Vartan!" Mendengar hal itu  keadaan ruang sidang menjadi sunyi. Tak lama kemudian terdengar gelak tawa Vartan yang kemudian diikuti seisi ruang.


"kenapa kalian? Ada yang lucu?" tanya Meira.


"Maaf Calon istriku! Tera sudah punya Hesa untuk dijadikan suaminya!" Ucap Vartan membuat Meira terdiam.


"Aku Ratunya disini. Jadi sebagai kakaknya. Kakak tiri lebih tepatnya. Saya yang bertanggung jawab atas perjodohan ini!" Tantang Meira dengan tatapan tajamnya yang ia tumpahkan pada Vartan.


"Baik. Baik. Aku terima!" Pernyataan Vartan membuat seisi ruangan melongo termasuk Meira. Seutas senyum mulai terbit dari bibir mungil Meira.


"kalau tau begini dari dulu saja aku jodohkan mereka. Ternyata Tera ada manfaatnya juga." gumam Meira diikuti dengan senyuman bahagianya, ia sudah membayangkan betapa bahagianya hari tanpa Vartan esok.


"Tapi," ucapan Vartan terhenti sebentar membuat Meira lantas memberhentikan lamunannya.


"Kau harus menikah dengan Hesa serentak dengan pernikahanmu dengan Tera saat nanti." Tawaran Vartan seperti umpan balik yang menikung tajam rencana Meira, membuat Meira terdiam memikirkan apa yang ia ucapkan.


  Sekilas Meira melihat Vartan tersenyum licik. Otak Meira seakan terintimidasi oleh tawaran Vartan barusan.

__ADS_1


"Licik. Kau benar benar picik. Diantara kalian berdua aku benar benar tak ada pilihan. Aku keluar dari neraka satu lalu masuk ke neraka lainnya. JANGAN HARAP!!!" Mereka semua membubarkan sidang secara tidak resmi karena Meira sendiri.


"Aku akan lihat sejauh mana dia akan bertindak." Vartan bergumam sambil menatap punggung Meira yang segera menjauh dan tertutupi oleh dayang dayangnya.


***


"Nona, Permaisuri meminta anda segera menghadap ke ruangannya," Pelayan itu masuk setelah mendapat izin dari si empunya kamar.


"Ada apa dia ingin memanggilku?!! Apa tidak cukup dia membuatku menderita!" Tera berdiri dan bergegas keluar dari kamarnya. Dia berjalan menuju kamar Risa. Mengetuk pintu. Dan menunggu pemilik kamar bersuara dari dalam.


"Masuk!!"


Pelayan dari dalam kamar Risa membuka pintu dan mempersilahkan Tera masuk dengan hormat.


"Ada apa ibu memanggil saya?" tanya Tera sementara dia masih mencari posisi duduk yang nyaman.


"Kupikir, kau harus memimpin negeri ungu. Negeri itu sudah kita kuasai dan membutuhkan seorang ratu. Seminggu lagi kau akan di nobatkan menjadi ratu disana!" Risa menyeruput teh nya sambil menghirup aroma melati di dalamnya. Setelah sadar Tera tidak memberi jawaban. Risa akhirnya buka suara lagi.


"Mengapa diam? Kau masih kuanggap anakku. Kau dan Meira sama sama anakku. Apa aku pernah membedakan kalian berdua?" Pernyataan dari Risa membuat Tera bungkam lagi. Sebenarnya itu membuat Tera sedikit merasa bersalah karena berbuat jahat pada Meira.


"Aku mengerti keadaanmu saat itu. Kau berada dipihak ibumu. Tapi aku menyayangimu sama seperti dulu," Ucapan lemah lembut dan belaian penuh kasih dari Risa membuat Tera tak bisa menahan semua emosi dalam dirinya. Ia ingin menangis saat ini juga. Ia bersalah. Ia minta maaf.


"Maaf!" Tera masih memeluk Risa sementara Risa masih membelai Tera.


***


Setelah perdebatan singkat dengan Vartan. Meira rasanya ingin bertemu dengan Risa. Ia ingin mengobrol sebentar. Mungkin ia bisa bernegoisasi dengan Risa agar ia tidak harus menikahi Vartan.


"Aku mengerti keadaanmu saat itu. Kau berada dipihak ibumu. Tapi aku menyayangimu sama seperti dulu," suara Risa terdengar dari luar membuat Meira membatalkan niat untuk masuk ke kamar Risa.


"Lebih baik aku tanya pada Rodiah saja. Aku yakin mereka pernah sangat dekat," Meira berbalik guna menuju kamarnya. Kali ini Meira sangat penasaran.

__ADS_1


"Naomi, panggilkan Rodiah ya. Bilang datang secepatnya ke kamarku. Ada hal penting!"


"Baik yang Mulia!"


***


"Ada apa Yang Mulia?"


"Sudah berapa lama kau bekerja sebagai dayangku?" Tanya Meira.


"Hmm, berapa ya? Sepertinya 7 tahun, Yang Mulia." Rodiah menggaruk tengkuknya karena dia benar benar lupa dengan hal itu.


"Apa kau tahu apa hubungan Tera dengan Ibuku?" Meira melepas riasan di rambutnya.


"Hmm, dulu anda dan nona Tera sangat dekat. Bahkan orang luar istana tidak tahu kalau kalian saudara tiri," Rodiah berhenti sejenak.


"Jangan cerita setengah setengah! Lanjut!" Perintah Meira.


"Baik, Yang Mulia!"


"Ibunya nona Tera. Selir kedua. Suka berfoya foya. Dia melahirkan Tera namun tak mau merawatnya. Katakan saja istri pertama raja. Nyonya Risa. Yang membesarkan Tera seperti anaknya sendiri. Bahkan ASI nya pun ia berikan." Meira semakin serius mendengar Rodiah. Ia bahkan tidak menyangka alurnya bakal seperti ini.


"Jadi bagaimana tentang selir pertama?"  tanya Meira.


"maaf, Yang Mulia. Soal itu hamba tidak tahu!" Ucap Rodiah.


  Meira kemudian memberikan kode  tangan agar Rodiah segera keluar dari kamarnya.


"membingungkan." gumam Meira.


***

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan share kalau bisa.


mimin pengen curhat tapi takutnya reader kacang.


__ADS_2