
"Aku harus menemui Ibu. Aku harus tahu kebenarannya. Agar kedepannya, aku tahu bagaimana harus bertindak!" Meira yang masih terdiam kini mondar mandir menebak nebak apa yang terjadi.
"Yang Mulia, Tuan Vartan menunggu di ruang tengah." sampai Rodiah pada Meira.
"******** itu lagi. Mau apa ia kemari?!!"
Meira memakai mahkotanya dan memberi pewarna pada bibirnya. Setelah ia rasa cukup, ia menyelesaikannya dan pergi menuju tempat yang dimaksud Rodiah.
***
"Ada keperluan apa kau datang?!!" Meira berkacak pinggang dengan wajah kesal khas miliknya.
"Baik, aku akan langsung pada intinya,"
"Pernikahan kita akan dilaksanakan 20 hari lagi,"
"jadi, bersiap-siap untuk menjadi pengantinku. Aku pergi dulu. Sepertinya, calon istriku adalah orang yang pemarah." Vartan mengedipkan matanya pada Meira.
"Kau pikir karena kau seorang Raja yang kaya aku mau padamu. Dasar ********!!!"teriak Meira namun tak dipedulikan oleh Vartan.
"aku harus mencari cara untuk kabur!" Gumam Meira.
***
Meira kembali ke kamarnya. Dan mengambil harta benda secukupnya. Ia juga membawa baju yang menurut Meira sederhana. Meira juga tak lupa membawa panahan terbaik miliknya.
"Untung aku adalah seorang pemanah hebat di duniaku yang lalu." Meira tersenyum memandangi panahan dengan ukiran mawar yang indah. Ada label kerajaan dengan tinta emas di setiap anak panah.
Setelah ia rasa cukup, ia pun pergi dengan mengendap endap melalui jendela utama istana.
__ADS_1
***
"Ayo Naomi cepat jalan. Nanti Yang Mulia akan marah jika mengetahui makanannya dingin!" perintah Rodiah pada Naomi membuat Meira yang mendengar itu harus bersembunyi diantara tirai dan guci.
"Persetan dengan makanan. Yang penting kabur saja aku sudah tenang." setelah memastikan mereka pergi, Meira melanjutkan aksinya menuju pintu utama. Ternyata ada penjaga berjumlah 12 orang.
"Sial!" umpat Meira.
Setelah memikirkan untuk pergi tanpa kecurigaan. Meira kemudian melancarkan aksinya kembali.
"Yang Mulia, Anda harus pergi dengan pengawal. Diluar begitu bahaya. Banyak orang jahat mengincar Yang Mulia!" ucap salah satu penjaga tersebut.
"Itu yang mau kutanyakan. Apa kalian melihat Rodiah dan Naomi. Dayang yang biasanya ada bersama denganku," Penjaga tersebut menatap satu sama lain. Sehingga membuka kesempatan Meira untuk melarikan diri.
"Akhirnya!" seru Meira.
***
Hufftt...
Sekarang, Meira menemukan kusir bayaran.
"Pak, Saya ingin anda membawa saya ketempat yang jauh terpencil!" Pinta Meira pada kusir tersebut.
Kusir tersebut pun menatap Meira dari atas hingga bawah sambil melepaskan puntung rokok yang ia hisap barusan.
"anda pasti dari kalangan teratas. Saya yakin anda bisa memberi saya bayaran yang~" Sebelum Kusir tersebut menyelesaikan kata katanya Meira terlebih dahulu mengeluarkan seratus keping emas.
Kusir tersebut membelalakan matanya dan memuji Meira.
__ADS_1
"Anda pasti adalah orang kaya yang murah hati. Silahkan." Kusir tersebut mempersilahkan Meira untuk masuk kedalam keretanya.
***
"Yang Mulia. Makanannya sudah sia~" Rodiah membelalakan matanya mengetahui Ratunya yang tak ada di tempat biasanya.
"Naomi. Apa ratu diculik?" tanya Rodiah.
"Aku tak yakin. Seorang kejam seperti Yang Mulia diculik. Aku rasa dia kabur!" pernyataan Naomi membuat Rodiah menerka nerka apakah yang menjadi penyebab ratunya kabur.
"Rodiah, kau lambat sekali! Apa kau tak ingat kalau Yang Mulia tak suka di jodohkan dengan Tuan Vartan,"
"Aku yakin Yang Mulia kabur agar tidak menikah dengan Tuan Vartan!!!" Ucap Naomi.
"sebaiknya kita laporkan pada permaisuri Risa!!!" Perintah Rodiah.
"Secepatnya!!"
***
Terimakasih telah membaca.
Jangan lupa kritik dan sarannya bagaimana Meira harus lakukan kedepannya.
Oh, iya...
Untuk menghindari silent reader. Komen berdasarkan asal kota kalian.
Terimakasih atas partisipasinya.
__ADS_1
Tahun baru ini, bantu aku wujudkan mimpi ya...