
"Hei, sepertinya aku jatuh hati pada adikmu itu. Dia terlihat menggemaskan!" Bisik Damian pada Clarissa.
"Jangan pernah main main dengannya!" Clarissa menepis kepala Damian untuk memperingatinya."
"Apa yang kalian bicarakan?" Lia menatap mereka bergantian.
"Tidak ada, dia agak gila." jelas Clarissa dengan asal.
Makanan datang dan mereka mulai fokus pada makanan mereka dan sesekali membicarakan betapa lezatnya hidangan itu.
"wanita disana kasihan ya, sepertinya dia datang dengan wajah yang lesu. Lihat saja ia menatap kosong makanan dimejanya." tunjuk Lia pada seorang wanita yang duduk di seberang mereka.
Mereka pun mengalihkan pandangan mereka ke arah wanita yang ditunjuk oleh Lia. Damian yang melihatnya pun mengeluarkan jurus yang biasanya ia pakai.
"Aku mau menghampirinya!" Damian berdiri.
"Mau apa?" tanya Vartan.
Damian hanya mengedipkan matanya pada Vartan membuat yang melihatnya menjadi geli dan jijik.
"Maaf, jikalau sesama manusia diciptakan untuk saling membantu, bolehkah aku tahu mengapa kamu membawa wajahmu yang lesu itu!" Damian duduk didepan wanita itu.
"Terimakasih," Jawab Wanita itu namun memalingkan wajahnya dari Damian.
"Kau harus berbicara untuk meringankan bebanmu" rayunya.
"Apa ada orang yang bisa dipercaya?" Wanita itu tersenyum sekilas lalu memalingkan wajahnya lagi.
"Aku salah satunya, ayo ceritakan!" Pinta Damian.
Sedikit demi sedikit rayuan Damian membuat Wanita itu mulai menceritakan mengenai dirinya.
"Terimakasih atas perhatiannya, aku kehilangan pekerjaan dan ibuku sedang sakit parah. Aku bingung bagaimana cara melewati maslaah ini," wanita itu menundukan kepalanya.
"Oh, aku tahu. Aku punya teman yang memiliki perusahaan besar! aku akan menyuruhnya untuk memberimu pekerjaan!" Tawar Damian.
__ADS_1
"semudah itu kah? kalau kau ingin menghiburku, terimakasih!"
"Kau pikir aku tukang bohong!" protes Damian dan wanita itu hanya menjawabnya dengan senyuman ketidakpercayaan.
"Aku juga pernah bertemu seorang sepertimu. Jadi aku sudah terbiasa!" balas Wanita itu.
Damian bertepuk tangan memanggil teman temannya dan menghampiri mereka.
"Hei, Clarissa! kau berikan saja wanita ini pekerjakan, bukankah kau seorang bos!" Teriak Damian membuat Clarissa malu.
"Bawa saja dia bergabung, jangan teriak seperti orang tak waras!" sindir Vartan.
"Hei, teman temanku memanggilmu, ayo!" wanita itu pun mengikuti Damian kemeja Clarissa.
"Ini dia! cantik bukan?"
Clarissa beradu pandang dengan wanita itu, dunia seakan berputar dirinya terlalu dalam memandang sorot mata wanita di hadapannya itu.
"Terimakasih karena membiarkanku bergabung dengan kalian," Ucap Wanita itu seakan bernada.
"Namaku Meira," degub jantung Clarissa bertambah kencang setiap ia mendengar ejaan kata itu dari bibir merah wanita itu.
Clarissa menatap Vartan yang juga sama terkejutnya dengan dirinya. Entah kenapa hati Clarissa menjadi sakit menghadapi kenyataan itu.
"Aku akan mewawancaraimu besok," sulit mengatakannya tapi tetap ia katakan, begitulah Clarissa.
"apa yang terjadi di dunia ini? mengapa membuatmu bingung!" batin Clarissa.
"Terimakasih!" Tampak semburat bahagia dari wanita itu membuat Clarissa tak tega membiarkannya sengsara.
"Kau yakin? lihat tatapan Vartan pada wanita itu!" bisik Lia pada Clarissa namun hanya dibalas gelengan olehnya.
"Clarissa, kita harus bicara!" Vartan berbicara secara informal pada Clarissa dan mengajaknya berbicara di suatu tempat jauh dari mereka.
Clarissa mengikuti Vartan, dan mereka berbicara di ruangan yang hanya ada mereka berdua.
__ADS_1
"Kau harus membantuku!" papar Vartan.
"Kau mengenal Meira 'kan?" imbuhnya namun Clarissa hanya menatap Vartan.
"Iya," sakit sekali hati Clarissa, namun dia harus menjalankan rencananya.
"Kau harus membantuku bersatu padanya!" tegas Vartan.
Clarissa mengangkat kepalanya, lalu menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
"kenapa kau tidak ingat ketika aku bertanya tentang Sarah?" tanya Clarissa.
Vartan meremas rambutnya dan mengalihkan pandangannya sebelum menatap Clarissa kembali.
"Karena kau orang asing yang tak kukenal sama sekali!" ungkapnya.
"Ahh, kenapa kau harus sedih Clarissa. Ingat hidupnya tidak selalu tentang cinta!" gumam Clarissa menguatkan dirinya.
"Oh," balas Clarissa.
"Kau harus membantuku dan aku akan menyetujui investasi kita!" tawarnya.
"Baik, kau sepertinya sangat mengenalnya?" tanya Clarissa dengan keadaan miris. Tatapannya kosong seperti kehilangan sesuatu. Mencoba tegar namun sebenarnya rapuh.
"Aku bahkan sudah berjanji padanya. Jika bertemu dengannya, aku harus mencintainya juga!" Vartan tersenyum pada Clarissa.
"kau salah, kau berjanji padaku" gumam Clarissa.
"Terimakasih mau membantuku!" ucap Vartan sembari mereka berjalan ke meja mereka.
" Kita rekan kerja bukan?" jawab Clarissa dengan senyum lebarnya.
***
Episode selanjutnya hari sabtu ya!
__ADS_1