
Langkah Clarissa terasa berat, pikirannya kosong, dadanya bercampur aduk, dan badannya panas dingin. Mendengar perkataan wanita tadi, ia menjadi bingung harus berekpresi bagaimana.
"Aku harus sedih atau bagaimana?" gumamnya sembari menyibak rambutnya.
Clarissa merogoh tasnya karena getar teleponnya itu, terpampang 'AYAH' di layar ponselnya itu.
"Halo?" Clarissa mengangkat ponselnya itu.
"Clarissa, kamu dimana?" terdengar nada khawatir dari ayahnya itu.
"Jangan khawatir, ayah. Aku akan segera pulang," jawabnya.
"Dimana?" Clarissa langsung memberikan lokasi terkininya.
"Kamu tunggu disana!"
Tut....
Telepon mati. Clarissa menghela nafas panjang. Ia tak habis pikir ayahnya itu menyuruh untuk mengulur waktu disini.
Tak berselang lama, pria yang Clarissa hindari itu datang. Ia berpura-pura tak melihat dengan memandangi sekeliling, sialnya ia malah menangkap manik mata pria itu.
"Jangan lari!" Pria itu menarik tangan Clarissa yang hendak berlari menjauhinya.
__ADS_1
"Sial!" umpat Clarissa.
"Maaf sebelumnya mungkin tingkahku tidak berkenan, tapi sudi-kah kau kalau kita berkenalan dengan baik? sebelumnya kita tak sempat berkenalan" ujar pria itu.
Clarissa menarik tangan yang digenggam pria itu, menyilangkan tangannya dan menatap masam pria itu.
"Clarissa"
"Adelio.."
Mereka merasa suasana semakin canggung. Clarissa berdehem agar Adelio tak menatapnya lagi.
"mau apa kau kesini?" tanya Clarissa.
"Aku menunggu mu dari tadi, sehingga calon mertuaku yang kasihan padaku meneleponmu untuk memberitahu dimana keberadaanmu."
"mau apa?"
"Kali ini aku tak membahas persoalan kita. aku hanya ingin membahas tentang hubunganmu dengan Vartan," kali ini Adelio berbicara dengan serius, mimik wajahnya menunjukan kalau dia sedang meminta jawaban.
"Untuk apa?"
"Aku hanya ingin menikahi seseorang yang tak memiliki hubungan dengan siapapun. Pernikahan kita memang kehendak orang tua kita, tapi kita harus berkomitmen karena pernikahan hanya satu kali seumur hidup" jelasnya.
__ADS_1
Clarissa yang awalnya menatap pria itu pun menunduk, ia tak tahu harus bagaimana? ia bimbang, gelisah, dan takut kalau di-cap sebagai orang tak waras.
"Tak ada" jawab Clarissa.
"bola Matamu sedari tadi bergerak kekiri dan ke kanan. Kau berbohong?"
"Aku akan menceritakannya, tapi aku yakin kau tak akan percaya." Clarissa menarik tasnya yang tadi melorot. Kelihatanya ia bergegas untuk meninggalkan tempat itu.
"Tenang saja. Aku bisa menjadi pendengar yang baik. Aku bisa membuat kesimpulan dan keputusan dengan bijak. Percayalah!" ujat pria itu meyakinkan Clarissa. Wanita itu hanya berbalik menatap Adelio, dan menaikan bahunya.
Adelio berlari sedikit untuk menyamai langkahnya dengan Clarissa. Ia berharap Clarissa berhenti berjalan sebentar namjn bagaimanapun wanita itu adalah ratunya kepala batu.
"Bagaimana kau menceritakannya hari ini? waktu mu luang dan aku juga." Tawar Pria itu.
"Dari mana kau tahu aku luang?" Clarissa menaikan alisnya serta memiringkan sudut bibirnya, namun lria itu hanya memberikan senyum pepsoden miliknya itu. Clarissa menghela nafas, lebih baik dia menuruti saja perkataan pria itu. Clarissa pun mengangguk membuat Adelio bersemangat dan menarik tangan Clarissa lagi ke mobilnya.
"Tunggu! aku bawa mobil sendiri!" teriak Clarissa.
Adelio menyuruh sopirnya untuk pergi dan memberikan kunci Clarissa kepada sopirnya itu.
"Dari mana kau dapat kunciku?" tanya Clarissa kesal.
"Sssst..." Pria itu menatap Clarissa dengan meletakan jarinya di bibir Clarissa.
__ADS_1
"Kau terlalu berisik rupanya" bisik Pria itu.
****