
Jangan lupa Vote!Setelah memikirkan cukup lama undangan yang diberikan Ola, Meira mengalihkan pikirannya pada semua laporan laporan yang diberikan anak buahnya.
"Rodiah, kirimkan pengumuman bahwa aku sedang mencari seseorang yang berniat menjadi guru baca tulis. Imbalannya sangat tinggi, dan kapasitasnya hanya 4000 orang," Sambil memberi cap pada laporan yang ia kerjakan, Meira masih saja sempat memberi banyak perintah.
"Aku kan dayang, mengapa pekerjaanku jadi seperti ini!" gumam Rodiah.
Melihat wajah Rodiah yang agak merengut, Meira mengomentarinya,
"Kau sudah mirip dengan Naomi kalau kau seperti itu." Tawa Meira.
"Ah, Yang Mulia. Saya tak suka jika disamakan dengan Naomi. Saya lebih suka menjadi diri sendiri,"
"Kalau begitu kerjakan yang aku perintahkan!"
"B-baik, Yang Mulia"
"Apa Ratu Meira tidak paham dengan peraturan kerajaan. Dayangkan tugasnya melayani tuannya. Mengapa?" tanya Rodiah dalam hatinya.
"Yang sabar, bibi Rodiah!" Naomi menepuk bahu Rodiah yang kian mengerut.
"Kau, jangan memanggilku bibi!"
"Lais saja memanggilku kakak, mengapa kau dipanggil bibi! apa aku semuda itu." Naomi pun mengelus pipinya.
Rodiah pun tidak mengacuhkan Naomi lagi dan pergi begitu saja. Hari ini, naomi mendapat pekerjaan yang akan menghabiskan sebagian besar tenaganya.
__ADS_1
"Dasar pemarah!" Ejek Naomi.
***
"Yang Mulia, anda bisa mencoba salep Lidah buaya ini. Anda juga bisa mencicipi olahan minuman dari lidah buaya ini. Anda bisa mencicipinya," Ilmuan muda pun mempersembahkan persembahannya. Meira pun mencicipi olahannya terlebih dahulu, lalu mengoleskan lidah buaya ke tangannya.
"Rasanya enak, tapi kau terlalu banyak memberikan zat pemanis. Menurutku kau kurangi saja,"
"Olahan ini bisa mengatasi sembelit dan mempercantik kulit. Kita bisa menjualnya pada bangsawan luar dengan harga mahal. Sedangkan, pada rakyat kita sendiri kita memberikan harga yang sangat terjangkau! saya akan teliti lagi khasiat lidah buaya ini!"
"Baik. aku tak salah memilihmu. Salepnya tidak membuat tanganku memerah. Cairannya dingin. Ini sangat sempurna!"
"Terimakasih, Yang Mulia!"
"Baik, Yang Mulia!"
***
"2 bulan kedepan aku akan pergi ke negeri ungu. Jadi kita harus kerja keras menyelesaikan semua misi kita!"
"Kita harus benar benar bekerja!"
Meira mengakhiri Rapatnya yang diadakan 2 jam yang lalu. Meira berencana berkeliling istana untuk menghiruo udara segar. Naomi disibukan untuk menjaga Lais sedangkan Rodiah pergi menjalankan perintah. Kemana dayang yang lain? Mereka bertugas untuk menyediakan makanan, memerhatikan makanan, mempersiapkan air mandi dan menjaga kamar Meira.
"Yang Mulia, kemana gerangan Tuan Vartan?"
__ADS_1
"Apa dia lelah mengejar anda, Yang Mulia. wah, Pria lemah!" Ucap Naomi.
"Dia sudah mati aku membunuhnya kemarin! kau mau melihat mayatnya?" gurau Meira namun di percayai Naomi.
"Haa, pasti Tuan Vartan selingkuh makanya Yang Mulia membunuhnya. Kau melakukan hal yang keren, Yang Mulia!" Meira pergi dengan wajah cueknya meninggalkan Naomi yang berkenala dalam pikiran bodohnya.
"Dia kenapa bodoh sekali?" gumam Meira.
"Kalau saja Tuan Vartan tidak berselingkuh, pasti yang Mulia sudah bertunangan dengannya." Gumam Naomi.
"Ada apa dengan bibi ini. Kemarin dia memaksaku memanggilnya dengan kakak. Sekarang dia membiarkanku seperti orang gila yang terbengong.
"Ayo, Lais. Kita membaca buku,"
"Bibi bahkan tak mau membaca!"
"Bukankah kakak bilang kau harus memanggil kakak!"
"Aku akan mengadukanmu pada bibi Rodiah. Lihat saja nanti" Lais Pun pergi mengikuti Meira.
***
Thanks 60 k Nya.
jadi semangat nulis!!!
__ADS_1