Own Crowning: Reinkarnasi Menjadi Ratu

Own Crowning: Reinkarnasi Menjadi Ratu
Pembicaraan dengan Vartan


__ADS_3

Meira mengejar Vartan yang terlebih dahulu meninggalkannya. Ia menyamakan langkahnya dengan Vartan.


"Vartan!" Panggil Meira.


Si Empunya nama itu pun menoleh. Mendapati Meira yang tengah lelah mengejarnya.


"Bisa kita bicara sebentar?" Meira menatap Vartan begitu pula Vartan.


"Apa yang mau kau bicarakan?"


"Begini, bagaimana cara agar aku bisa kembali ke masa depan?" Meira menegakan tubuhnya karena tubuhnya sudah tenang.


"Kau mau kembali? bukankah kau bilang disini lebih baik?" Vartan menatap Meira heran.


"Emm, aku hanya ingin tahu. Sehingga aku dapat menghindarinya," Balas Meira.


"oh, Apakah pembicaraan ini sudah selesai?" tanya Vartan kepada Meira.


"Buru-buru sekali! aku mau bertanya lagi!" Meira menarik tangan Vartan yang sedari tadi menatapnya dingin.


"Jika aku kembali ke masa depan, apa kau akan mengenaliku? Wajahku akan berbeda disana" Terang Meira.


"Entahlah, aku tidak berfikir sejauh itu,"


"Baiklah." Meira meninggalkan Vartan setelah menurutnya pembicaraan telah usai.


***


Meira kembali ke istananya. Ternyata ada Tera disana sedang menunggunya. Meira segera menyapanya dan memberinya teh.


"Tidak usah repot. Bukankah ini rumahku juga. Kau berperilaku seakan aku bukan adikmu," gurau Tera.


"Maaf kalau begitu, lain kali kau buat sendiri tehnya dan aku tak perlu menyambutmu,"


"Kau tak bisa diajak bercanda, hufft," Tera meniup anak rambutnya yang terjatuh di dahinya.

__ADS_1


"Aku juga sedang bercanda!" mereka pun tertawa.


"Kak!"


"hmmm?"


"Aku lelah menjadi ratu. Aku ingin jadi seorang putri saja. Sulit untuk mengatur sebuah negeri, apalagi aku perempuan!" keluh Tera.


"Apa yang salah dengan perempuan? Tidak boleh berbicara bergitu!" Meira berhenti menyedu tehnya.


"Melelahkan!" keluhnya lagi.


pluk..


Meira menepuk kepala Tera dengan bukunya. Sehingga, Tera kewalahan memperbaiki tiaranya.


"Uwhh, aku membuatnya selama 1 jam dan kakak malah menghancurkannya dalam 1 detik!"


"Jangan menatapku begitu, kau adalah seorang ratu! Kau tak boleh menyerah. Terima saja takdirmu!"


"Oh, ya. Tumben kau panggil aku kakak?" Tanya Meira penasaran.


"Aku sudah nyaman dengan itu." balas Tera.


"Meira, Tera!" Risa datang sambil menggendong Lais.


"Ada apa, bu?" Jawab mereka serentak.


"Ibu kandung Lais datang. Dia di depan gerbang sambil menangis! coba periksa!" Risa menurunkan Lais dan memberikannya pada Meira.


"Jangan pedulikan, ibunya sangat jahat. Aku juga tulus merawat Lais " Meira mengelus rambut Lais dan memeluknya.


Sejenak, Meira teringat dirinya sebagai Clarissa. Dimana dia tidak diinginkan ibunya. Dia dipukul, dikasari, dan tak pernah disayang. Dirinya menganggap Clarissa mirip sekali dengan Lais. Karena itulah, ia agak sensitif dengan hal yang mirip dengannya.


"Tapi kakak tak boleh memisahkannya dengan orang tua kandungnya, itu sama saja jahatnya!" Tera mencoba membujuk Meira. Meira akhirnya termenung dan pergi ke gerbang istana.

__ADS_1


Disana terlihat seorang wanita dengan pakaian lusuh dan wajah lembabnya. Gelar bangsawan yang dicabut Meira 'lah yang membuatnya seperti ini.


"Kau, kemari!" Perintah Meira pada Emerald.


"Ternyata kau tak ada gunanya kalau tak punya gelar bangsawan!" ejek Meira.


"Kau mau aku kembalikan anakmu? apa kau mau memperlakukannya dengan buruk? Apa kau akan menjualnya agar kau bisa membeli pakaian mahal?" Perkataan Meira yang penuh pertanyaan. Tidak hanya pertanyaan tapi juga pernyataan bahwa Meira sedangkan menghina wanita itu.


"Ampuni hamba, Yang Mulia. Hamba menyesal, hiks..." Tangis Emerald pecah kala itu. Dirinya sujud dihadapan Meira, membasahi sepatu yang digunakan Meira.


Pluk..


Meira menendang kepala wanita yang sedang sujud itu tanpa perasaan berdosa. Mereka yang melihatnya terkejut bukan main.


Seharusnya aku melakukan ini pada ibuku yang ada di masa depan, Gumam Meira.


"Anda telah bermain main dengan saya. Anda telah memberi maka anda tak boleh meminta lagi. Sama hal-nya seperti membuang ludah lalu menjilatnya lagi," Meira menatap wanita itu sinis. Bahkan, tanpa ia sadari alisnya naik satu.


"Anda boleh membunuh saya jika saya tak bisa memberi anak saya kembali. Saya tak punya apa apa selain dia!!" Wanita itu semakin menjadi. Dirinya teriak dan menangis. Kini, mereka menjadi tontonan gratis semua orang.


"Lais, apa kau mau kembali pada ibumu?" Lais tidak menjawab. Dirinya hanya termenung karena adegan menendang tadi.


Meira menyetarakan tingginya dengan Lais. Mengusap kepala Lais. Lalu bertanya lagi.


"Apa kau mau kembali?"


***


Hai teman teman.


Terimakasih sudah membaca novelku dan berada bersamaku sejauh ini.


Maaf ya lama update.


komen dong supaya tambah semangat.

__ADS_1


__ADS_2