
Matahari sudah naik bahkan sudah menembus tirai. Kulit Meira merasakan sinar itu menerpa dirinya. Hiasan yang begitu buruk menyemat wajah Meira. Mata panda dan keringat karena tak bisa tidur.
Ikan ikan itu terus tertawa. Seakan akan menertawakan sang pemilik mata panda itu.
"Dasar bedebah tak tahu diuntung!!!" Bukannya diam, Ikan itu terus saja tertawa. Hal itu membuat darah meira mendidih.
"Apa yang kalian tertawakan, huh?" Tanya Meira. Ia semakin mendekat ke arah akuarium tersebut, kemudian memasukan tangannya ke dalam akurium itu.
"Diobok obok air nya diobok obok ada ikannya kecil kecil pada mabok!!" Meira pun membuat gerakan memutar pada tangannya sehingga air dalam akurium itu bergerak tak karuan.
"Tolong!!! Ampun Ratu Meira...Ampun!!" Salah satu ikan berteriak kemudian diikuti teman temannya.
"Rasakan ini!! aku sudah menghentikannya sedari tadi! tapi...airnya masih saja bergerak," Meira tersenyum manis dengan menumpukan kedua telapak tangannya pada kedua pipinya. Ia senang sekali melihat ikan ikan itu tersiksa.
"akhirnya, airnya sudah tenang. Hei sobat, kau ingat lagu yang dinyanyikan gadis kejam tadi. Bagaimana liriknya?" Tanya salah satu ikan
"Di obok obok air nya di obok obok.." mereka pun bersama bernyanyi membuat Meira semakin geram.
"Kalian tidak jera juga, ya?" Meira menatap kesal kearah ikan ikan itu.
"Tidak! Kita dari kemarin selalu saja bertengkar. Bagaimana kalau berdamai saja? perkenalkan diri kalian!" Ucap Meira mengalah. Kalau dia selalu marah marah tak jelas, mustahil dirinya akan awet muda.
"Baik...baik, akhirnya kau menyerah juga. Baik, perkenalkan namaku Riri disebelah ku adikku namanya Ruru dan disebelah kiriku namanya Rere dia kakakku," Meirs mengangguk saja dan mendengarkan mereka yang terus bicara tiba tiba pembicaraan tambah menarik karena membahas Vartan.
"Ratu Meira, apa kau ingin tahu siapa yang membawa kami keruangan ini?" tanya Ruru ikan berwarna merah.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Meira malas.
"Namanya tuan Vartan. Dia sama seperti mu, dia bisa berinteraksi dengan hewan hewan laut." Jelas Ruru.
"Aneh ya, mengapa Ratu Meira tiba tiba bisa mempunyai kemampuan seperti itu? dan apakah tuan Vartan tau?" Tanya Riri ikan berwarna perak.
"Sepertinya dia tidak tau" jawab Meira. ia pun mendekat untuk menyimak perkataan ikan ikan itu.
"Ku dengar Tuan Vartan akan bertunangan. Tapi anehnya mengapa tidak dengan nona Meira. Apakah kalian ada masalah?" tanya Riri.
"Padahal sebelumnya Tuan Vartan berkata akan bertunangan denganmu!" Ucap Riri lagi.
Akhirnya mereka terdiam dan Meira angkat bicara.
"Aku tidak peduli dia mau bertunangan dengan siapa, mati, ataupun berjaya. itu bukan urusanku jadi kalau kalian ingin aku berbuat baik pada kalian," ucapan Meira terhenti.
keadaan kembali hening. Tiba tiba ikan ikan itu bebisik lagi. Sepertinya sedang berdiskusi.
"Katanya dia akan berbuat baik kalau kita tak membicarakan Tuan Vartan!" Ucap Ruru.
"padahal Tuan Vartan menyuruh kita untuk membicarakan tentang dirinya di depan Nona Meira, huft." Dengus Riri.
"Tak apa, Bagaimana kalau kita coba minta nona Meira menyelamatkan kita?" Ide cemerlang Rere yang sedari sedikit bicara membuat mereka bersemangat.
Akhirnya, Rere mengajukan dirinya utuk bertanya pada Meira.
__ADS_1
"Ratu Meira yang tehormat. Kami ingin meminta bantuan. Kami rasa anda adalah orang yang tepat. Anda adalah manusia yang dikirim dewa untuk menyelamatkan kami dari kutukan iblis" Kata kata yang di lebih lebihkan Rere cukup membuat hati Meira tergugah.
"Bagaimana ya, aku pikir pikir dulu ya. mungkin malam ini aku akan beri jawabannya!!" Meira pun melesat pergi setelah mengucapkan kata kata tersebut.
"Percuma aku tadi memujinya, huft." mereka pun lemas gara gara Meira.
***
Tbc.
hai hai hai.
suka dengan cerita ini jangan lupa Komen, vote dan like.
Kira kira Meira akan jawab apa ya pada ikan itu.
a) tidak
b) iya
c) dia bahkan gak ingat, hehe...
Butuh banget..
mau nanya gimana caranya kalau mau buat backsound disuatu part?
__ADS_1
terimakasih...
semoga ada yang jawab..