
Jangan Lupa Vote😉
***
Kalian tahu efek dari seseorang yang berjanji? Mungkin jawabannya adalah bimbang. Karena kita tak yakin akan menepatinya atau tidak. Itulah yang di rasakan Meira. Namun, hati Meira tetap teguh bahwa dirinya akan menepatinya. Dengan hal ini, dia tetap akan menjadi Clarissa yang bodoh itu. Bodoh karena cinta. Tapi kita lihat, apakah ia masih menjadi si bodoh itu. Meira lah yang menentukan.
"Ibu, kenapa termenung? apakah sedang sedih!" Pertanyaan anak polos yang tak lain adalah Lais. Anak kecil yang baru saja ia angkat.
"Oh, tidak ada apa apa! Itu apa yang kau bawa?" Meira bertanya ketika ia melihat sesuatu yang di bawa dengan susah payah oleh Lais.
"Ini, ini adalah buku tebal. Aku suka membacanya walau tidak sampai habis!" Seru Lais sambil menjelaskan maksudnya.
"Kau bisa membaca? siapa yang mengajarimu?!" Meira membelalakan matanya melihat anak sekecil ini hobi membaca buku tebal yang bagi Meira membosankan.
"Kata nenek, anak bangsawan haruslah bisa membaca. Aku tak tahu mengapa harus anak bangsawan, bukankah anak lainnya lebih baik juga bisa membaca?" Anak polos itu mengerucutkan bibirnya dengan kebingungan yang ia nampakan.
"Kau jenius! lanjutkna saja membaca! mau ibu antarkan ketempat yang nyaman?" anak itu mengangguk lalu mengikuti Meira yang mengarahkannya ke taman yang memiliki air pancur di tengahnya.
"Terimakasih bu," Ucap anak itu.
Saat Meira menemani Lais, Meira melihat pelayan pelayan sibuk mengangkat benda benda yang tidak Meira lihat dengan baik sedang diangkut ke keranjang roda. Lantas, Meira pun berjalan menuju keranjanh roda tersebut.
"Kalian sedang apa?" Tanya Meira.
"Kami sedang membuang tumbuhan tidak berguna ini. Kami akan membakarnya di tempat khusus pembakaran!" Kepala pelayan yang bernam Yora menunduk setelah mendapati Meira yang tengah menghampirinya.
Meira pun membuka kain yang menutup keranjang roda lalu mengambil benda yang mereka sebut tak berguna tersebut.
"Ini lidah buaya," gumam Meira namun masih bisa di dengar Yora.
"L-Lidah buaya, Yang Mulia?" Meira mengangguk.
"ini adalah buah ajaib! bisa menyembuhkan beberapa penyakit. Bahkan kalian bisa mengolah dagingnya menjadi makanan ataupun minuman!" mendengar penjelasan Meira para pelayan hanya memiringkan kepalanya. Meira Pun mendenguskan nafas pelan.
__ADS_1
"Kalian kumpulkan saja! lalu susun di gudang!"
"Baik, Yang Mulia!"
Mereka pun membatalkan untuk membuang tumbuhan lidah buaya tadi. Meira punya ide untuk menjadikan lidah buaya komoditas di Negeri mereka.
"Dengan kesibukan ini, mungkin aku bisa melupakan kerisauan hatiku."
***
"Komoditas?!!"
Ditengah rapat kerajaan, Meira duduk di tengah para penasehat, para dayang, kepala pelayan, serta hadirin penting lainnya.
"Sedari dulu, tanaman itu tak berguna Yang Mulia. Bahkan setiap bulan kami membakarnya!" Penasehat utama berdiri.
"Dengan hal ini, Kita bisa menjadi kaya! Mungkin kita harus melakukan beberapa percobaan!" gagas ilmuan kerajaan.
"Dengan, hal ini kita bisa jadikan ini sebagai salah satu sumber pendapatan negeri. Dengan mejualnya dalam olahan mentah, setengah jadi, ataupun bahan jadi!" jelas Rodiah.
"Hal pertama adalah melakukan percobaan, lalu pengenalan produk!" Kepala pelayan memberikan pendapatnya.
"setelah semua selesai, maka hal terkahir adlaah promosi!" Lanjut kepala pelayan.
"kalian semua benar benar jenius! Walaupun kalian adalah pelayan, penasehat, ilmuan ataupun hanya dayangku! kalian tetap jenius dalam mengemukakan pendapat!" Puji Meira.
"Baik, kita akan mulai 3 hari lagi. Untuk waktu dekat kita akan adakan Rapat!" Rapat pun bubar, meninggalkan Meira dengan Rodiah di tempat tersebut.
"Rodiah, kau pergi temani Lais. Aku sedikit sibuk!"
"Baik, Yang Mulia!"
Sebelum Rodiah pergi, Lais sudah datang menemui mereka. Masih dengan keberatan membawa buku tebalnya, Lais akhirnya dibantu Rodiah untuk membawa bukunya.
__ADS_1
"Ayo, kita pergi. Yang Mulia sedang sibuk," Rodiah pun menarik Lais untuk lekas pergi. Namun, Lais menarik dirinya lagi.
"aku ingin bicara dengan ibu, boleh?" Pinta Lais.
"Baik, apa yang ingin kau katakan, nak?"
"Apakah ibu jadi akan mengajari anak anak lainnya untuk membaca?" tanya Lais.
"Astaga aku lupa membicarakannya dalam rapat," gumam Meira.
"Oh, baik ibu akan umumkan ke teman teman ibu ya!" Meira mengelus kepala anak polos itu.
"Baik, aku pergi dulu ya bu!"
"ANAK ITU TIDAK SOPAN MEMANGGIL YANG MULIA DENGAN SEBUTAN IBU!!!" Penasehat utama menyergah Lais yang hendak pergi membuat Lais ketakutan dan akhirnya menangis.
"Kau apa apaan! Dia anak yang kuangkat! kalau kau tidak tahu cobalah bertanya baik baik!" Penasehat itu pun terdiam lalu meminta maaf,
" Mohon ampun Yang Mulia, hamba yang salah!"
"Mau apa kau kembali ke ruang rapat?"
"Bukuku ketinggalan, saya pamit undur diri Yang Mulia!"
"Pergilah!" Ucap Meira sembari menenangkan Lais yang tengah menangis.
"Bibi Rodiah akan membawamu ketempat yang menyenangkan pergilah bersamanya!"
"*apa-apaan?!! aku dipanggil bibi? Bisa bisanya Ratu Meira, Hufttt" rungut Rodiah dalam hatinya.
***
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya. Semoga ibadahnya lancar dan penuh berkah. Amin*.
__ADS_1