Own Crowning: Reinkarnasi Menjadi Ratu

Own Crowning: Reinkarnasi Menjadi Ratu
Undangan dari Sarah


__ADS_3

***


"Meira, mengapa termenung?" Meira tertegun ketika mendengar suara yang akrab ditelinganya. Sejenak, ia menoleh ke arah seseorang menepuk bahunya.


"Ibu?!l


Meira pun refleks memeluk Risa. Sudah beberapa bulan ia tidak melihat Risa. Selama ini Risa ada bersama Tera.


"Kau masih memenggal kepala rakyatmu?" Meira tersenyum mendengar pertanyaan ibunya. Ia pun mengeratkan pelukannya dan membisikan jawabannya pada Risa.


"Aku sudha tidak pernah, bu. Terimakasih, ini semua berkat ibu,"


"Kau anak yang baik, kau pasti akan mendengarkanku."


Risa pun melepas pelukan itu dan menggenggam jemari Meira yang dingin.


"Suatu hari nanti, kau akan menjadi seorang ibu. Kau akan tau bagaimana perasaan khawatirmu jika anakmu melakukan sesuatu diluar kehendakmu!"


"Aku mengerti bu!"


Tok..tok..tok..


"Masuk,"


Rodiah pun masuk dengan Lais dalam gendongannya. Kemudian, menurunkan Lais yang membawa buku berat.


"Ibu, aku ingin memberitahukan sesuatu!" Anak itu melompat kegirangan, semua itu tak luput dari pandangan Risa.


"Anak siapa itu, kenapa ibu tidak pernah tau?"

__ADS_1


"Aku mengangkatnya. Dia anak dari seorang bangsawan. Keadaannya sangat menyedihkan saat itu!" Meira menggeleng kepalanya ketika mengingat hal itu kembali. Tidak ada yang tahu bahwa anak itu memiliki nasib yang sama seperti dirinya, sebagai Clarissa.


"Anak seorang bangsawan?" tanya Risa.


"Iya, Seorang bangsawan yang bernama Emerald. Ibu kenal?"


"Oh, astaga. Lais. Dulu, ibu juga ingin membawanya pulang ketika mengadakan rapat pertemuan antar bangsawan tapi apadaya, kondisi ibu sangat tidak memungkinkan!" Risa memegang dadanya dan ikut menggelengkan kepalanya seperti yang dilakukan Meira tadi.


"Ibu, ibu..." panggil Lais.


"Aku ingin berterimakasih kepadamu, karena telah mewujudkan mimpiku!!!" Anak itu pun memeluk Meira.


"Memangnya, apa mimpimu?" tanya Meira.


"Mimpinya adalah~" Ucapan Rodiah terputus.


"Baiklah"


"Jadi, apa mimpimu?" Tanya Meira sekali lagi.


"Mimpiku adalah memiliki ibu yang sangat baik. Ibu juga telah mewujudkan mimpi besarku dan mimpi anak anak yang ada di kerajaan ini. Karena ibu, tidak hanya anak bangsawan yang bisa membaca namun anak biasa juga bisa!"


Anak itu memberikan buku berat yang sedari tadi ia bawa kepada Meira. Meira pun membukanya dan tidak menyangka isinya adalah sebuah tulisan khas anak anak.


"Ini adalah buku jurnal mimpiku. Aku akan menulis, mimpi apa saja yang telah terkabul!"


Meira tersenyum bangga dengan Lais. Tidak menyangka anak seusianya bisa memiliki pikiran seluas itu. Risa pun ikut tersenyum dan membelai rambut Lais.


"Wah, apakah wanita baik ini adalah ibumu?" Meira pun mengangguk.

__ADS_1


"Nenek, adalah malaikat yang meyelamatkanku disaat aku kelaparan. Waktu itu aku dikurung ibuku di gudang saat teman ibu datang. Nenek ini memberikanku Roti dan susu yang enak, aku tak bisa melupannya"


***


"Yang Mulia, ada yang ingin menemuimu!"


Meira pun berjalan ke taman di mana tamy menunggu. Meira mendekatinya dan ternyata itu adalah Sarah.


"Wah, wah, wah, Kau punya waktu santai rupanya. Kupikir kau sibuk mengatur pernikahanmu dengan kekasih ter-cin-ta-mu," Meira memberikan sapaan halus sebisa mungkin untuk Sarah.


"Benar, berbicara tentang pernikahan. Aku Em...Maksudnya kami, Kami telah merencanakannya jauh jauh hari. Jadi aku kesini untuk memberi undangan," Sarah pun berbalik menghadap Meira. Tersenyum lalu menarik alisnya, Sarah benar benar melakukan sesuatu dengan usaha kerasnya.


"Wah, selamat. Aku akan usahakan untuk datang bila perlu aku akan memberikan mu hadiah yang spesial. Mungkin akan ku pikirkan hadiah apa yang pantas untukmu?" Meira duduk di kursi taman, lalu mengambil secangkur teh yang dibawakan pelayan lalu menawarkannya pada Sarah.


"Tak perlu repot. Kau hanya perlu menikmati acaranya. Aku tak yakin kau akan menikmatinya. Tapi, sebisa mungkin aku akan usahakan agar kau menikmatinya," Sarah pun mengambil secangkir teh yang ditawarkan Meira. Tak lupa ia menyeduhnya.


"Kau tak perlu angkuh karena menikahi seorang pria. Karena suatu hari nanti kau akan dihancurkan olehnya," Meira menyesap tehnya.


"Kau sangat yakin. Seperti kau telah dikhianati banyak pria. Padahal, aku rasa kau hanya dikhianati oleh Vartan," Mendengar itu, Meira pun meletakan cangkir tehnya lalu menjentikan tangannya.


"Uhm, uhm, uhm, Kau takut Vartan akan berpaling kepadaku? Kau takut Vartan mengkhianatimu? tenang saja, aku jelas berbeda darimu. Kau tak perlu khawatir pada orang yang baik sepertiku,"


"Langit terlihat gelap seperti hatimu. Aku akan pergi. Sampai jumpa Yang Mulia Meira terhormat!" Sarahpun pergi dengan wajah sebalnya. Dari langkahnya tampak ia sedikit menghentakan kaki untuk melampiasakan kekesalannya. Meira hanya tertawa melihat itu.


"Tenangkan hatimu, cantik!" seru Meira.


***


Next...

__ADS_1


__ADS_2