Own Crowning: Reinkarnasi Menjadi Ratu

Own Crowning: Reinkarnasi Menjadi Ratu
Dia Gila


__ADS_3

Meira berusaha untuk tidur dari tadi, tapi dia bahkan tidak memejamkan matanya. Dia hanya berguling ke kiri dan kanan namun belum juga menemukan posisi nyaman pada tidurnya. Siluet seseorang tampak dari balkon, membuat Meira mengalihkan perhatiannya pada siluet tersebut. Meira bangkit dari ranjang dan berjalan mengendap-endap. Penerangan sangat minim. Disana ada lampu, tetapi lampu dengan cahaya yang redup. Meira terus berjalan berusaha tidak membuat suara , bahkan ia menahan nafasnya karena ruangan sangat sunyi.


"Siapa disana?" gumam Meira.


Meira terus berjalan ke arah balkon, tapi ia memiliki ide untuk mengintip terlebih dahulu. Seseorang dengan rambut panjang berwarna merah berdiri menggenggam sesuatu. Meira menyipitkan matanya untuk memfokuskan penglihatannya, dan akhirnya ia melihat bahwa orang itu membawa benda tajam. Meira menghampiri seseorang tersebut, lalu orang tersebut berbalik menatapnya dan menyapanya.


"Hai, Kau bisa menebaknya?"


"Aku akan membuatmu dalam kesulitan!" bisik Wanita itu.


Respon Meira hanya sedikit. Ia memiringkan bibirnya dan menggelengkan kepalanya.


"Kau meremehkanku?"


Arhhhhhhhh........


***


Di tempat lain, Seorang Vartan tidak bisa tidur. Ia bahkan sudah meminum banyak anggur namun tidak mabuk juga. Kepalanya pening dan nafasnya tersenggal. Ia masih khawatir dengan ancaman Sarah. Ini adalah penyebab dirinya imsonia, Vartan bertanya tanya apa yang akan dilakukan Sarah, apa ia benar membunuhnya.


"Sial, Dia gila. Sangat Gila. Shit, aku harus menemui Meira. Aku terlalu khawatir padanya!" Vartan bergerak cepat keluar ruangan. Ia bahkan memerintah pengawalnya yang terkejut karena gebrakan pintu yang kasar. Tanpa persiapan matang, Vartan bergegas pergi ke Kerajaan Danina.


***


"Suara apa itu!!!" Naomi keluar dari kamarnya bersamaan dengan Rodiah. Mereka bergegas ke ruangan Meira unruk melihat apa yang terjadi. Di tengah lorong, mereka bertemu Risa dengan wajah khawatir. Mungkin, Risa juga mendengar itu. Pelayan Pelayan terbangun karena itu. Pekikan yang berasal dari ruangan Meira seakan mengisi seluruh istana yang luas. Bulan bahkan sudah menghilang, suara jangkrik bahkan menggema. Seakan mengisi ketakutan yang ada.


"Meiraaaa!!!" Teriak Risa ketika melihat putrinya tersungkur dengan lemah. Badannya bersimbah darah. Wajahnya pucat pasi. Bibirnya bergetar seakan ingin bicara. Tangannya menggenggam sesuatu dengan erat bahkan ketika badannya lemah.


"Meira, katakan sesuatu!" Risa mengguncangkan badan Meira agar Meira mau mengatakan sesuatu. Meira berusaha mengatakan sesuatu dengan nafas yang tersenggal-senggal.


"P-penggal Ke-kepalanya." Setelah mengatakannya Meira kehilangan kesadarannya. Genggaman tangannya bahkan melonggar. Risa mengambil sesuatu yang berada dalam genggaman Meira. Rambut berwarna Merah yang tak asing baginya.


"Aku akan urus. Siapkan pedang. Kita akan penggal kepalanya!" Perintah Risa dengan mata menggelap.


"Kalian panggilkan tabib kerajaan!"

__ADS_1


"Kalian umumkan keseluruh rakyat agar besok pagi melakukan upacara!"


"Aku akan urus Meira dan membersihkan dirinya," Risa menangis menatao keadaan putrinya. Ia bahkan tidak membiarkan putrinya dibopong oleh siapapum kecuali dirinya. Risa pun mengusap air matanya dan bergumam,


"Aku akan mempermalukan keluargamu, Winoria!"


***


"Nyonya, engkau membawa sesuatu yang bisa membunuhmu," peringat Rodiah.


"Aku dulu sangat ahli menggunakan ini. Semoga ilmuku tidak berkurang!" Risa meregangkan kepalanya.


"kita tidak boleh bertindak gegabah. Keluarga Winoria memiliki kedudukan yang tidak kalah tinggi dengan Yang Mulia," penasehat berbicara.


"Aku sudah memikirkan secara matang! kalian tonton saja!" Perintah Risa.


Seluruh rakyat berkumpul, bahkan ada yang memanjat pohon untuk menonton. Hari tidak panas dan tidak dingin. Alam sangat mendukung mereka rupanya.


"TERIMAKASIH KARENA BERKUMPUL DISINI!"


"AKHIRNYA MEREKA DATANG! KALIAN BOLEH BARIS DI BARISAN TERDEPAN!" Keluarga Winoria pun menuruti mereka. Seorang gadis menutupi wajahnya dengan selendang. Datang bersamaan dengan keluarga Winoria.


"KAU!!" Tunjuk Risa.


"IYA, KAU. KAU YANG MEMAKAI SELENDANG. SI RAMBUT MERAH YANG GILA!" keadaan senyap seketika. Para Winoria tidak paham apa yang mereka maksud. Hanya putri mereka yang mempunyai Rambut Merah.


"SINI KEMARI!" Ketika Wanita itu mendekat Risa melepaskan kerudungnya dan menunjuk Wanita itu.


"DIA! DIA TELAH MEMBUAT PUTRIKU TAK SADARKAN DIRI. DIA MENUSUKNYA DENGAN BELATI!" Semua orang terkejut termasuk keluarga Winoria. keluarga itu tidak menerima tuduhan Risa.


"MOHON MAAF, PUTRI KAMI YANG LUGU TAK MUNGKIN MELAKUKAN HAL KEJI SEPERTI PUTRIMU YANG BAHKAN MEMENGGAL KEPALA RIBUAN ORANG!" Ayah dari gadis itu maju untuk membela putrinya. Wajahnya memerah penuh amarah. Ia tidak terima keluarganya dipermalukan. Banyak bangsawan lain yang menonton. Bahkan calon menantu mereka, Vartan juga menonton.


"KAMI PUNYA BUKTI. RAMBUT MERAH INI YANG SEMPAT DIAMBIL ANAKKU!" ucap Risa yang masih mencengkeram baju Sarah yang menangis. Sarah memohon pembelaan dari ayahnya.


"MUNGKIN ANDA KELIRU, TIDAK HANYA SARAH YANG MEMILIKI RAMBUT MERAH" Mendengar pembelaan ayahnya, Sarah tak mengangguk. Ia masih berharap ayahnya membelanya.

__ADS_1


"Rodiah!!" Panggil Risa.


Rodiah pun membawakan sebuah peti. Sebelum ia membukanya, Risa mengajukan sebuah pilihan.


"Kau mau putrimu mengaku, atau aku yang membuatnya mengaku agar aku bisa menjatuhkan hukuman?" Ayah Sarah terdiam, ia menatap putrinya. Matanya menyuruh Sarah untuk mengatakan sesuatu.


"Aku yakin diriku bukan pelakunya, aku akan bunuh diri jika memang aku yang bersalah" Sarah membela dirinya seakan ia melakukan kejahatan dengan bersih. Ia memelas kepada seluruh rakyat agar bersimpati padanya. Sehingga rakyat akan menilai bahwa pemimpin kerajaan mereka Kejam.


"DEAS! AMBILKAN CENANGKAS!" Pedang besar itu berkilau diterpa cahaya matahari. Cahaya matahari sudah terpancar, padahal tadi cuaca sangat mendukung. Tapi, Risa tak peduli. Ia tersenyum pada pedang tersebut dan mengelusnya.


"KARENA PUTRIMU TIDAK MENGAKU MAKA HARI INI JUGA NYAWANYA TIDAK AKAN SELAMAT!" Sembari mengacungkan Pedang dengan angkuhnya Risa menunjukan alat pengenal keluarga Winoria. Semua orang disana terkejut bukan main. Sebenarnya, Risa tak berniat memenggal Putri satu satunya keluarga Winoria. Dia hanya ingin Sarah mengakuinya dan harga diri keluarga Winoria yang terancam. Cenangkas itu mengenai kulit Sarah dan sedikit membuat goresan. Tiba tiba Sarah berteriak sangat keras.


"AKU YANG MEMBUNUHNYA. AKU CEMBURU KARENA VARTAN MENCINTAINYA!" Sarah akhirnya mengaku. Keluarganya tutup muka. Bahkan mereka meninggalkan putrinya karena malu. Sarah berteriak memanggil ayah dan ibunya. Namun, mereka mengabaikannya.


"kau tau akibatnya jika melawan" bisik Risa.


"Kami kejam lebih dari dirimu!"


"******!" Sergah Risa kemudian menampar Sarah lalu meninggalkannya. Hal itu membuat gadis itu dipenjara dan depresi.


Bagaimana keadaan Meira?


***


Bersambung.


semoga Viewnya nambah 20.000. Amin.


***


Oke aku mau numpang promosi di ceritaku sendiri, haha.


Aku punya cerita baru, judulnya Perfect Tears.


Menceritakan seorang Gadis yang memutuskan kekasihnya karena penyakit yang di deritanya. Bahkan, peramal bilang hidupnya tak lebih dari 10 tahun lagi. Gadis itu memutuskan untuk pergi ke Milan, Italia. Merenungi nasibnya dan berjuang antara hidup dan matinya.

__ADS_1


Ada yang mau baca, aku akan kasih link-nya. Terimakasih atas perhatiannya🤗.


__ADS_2