
"Ibu..."
"Ibu, bangun!"
Hiks..hiks..
Lais menangis menatap wanita yang sudah menganggapnya sebagai anaknya. Anak itu berusaha agar tangisnya tidak terdengar, namun percuma itu hanya membuat sakit di dadanya.
"Baru saja aku merasakan kasih sayang ibu. Tapi, apa semua akan hilang begitu saja?" Lais menggenggam tangan Meira berharap agar ibunya terbangun.
Rodiah dan Naomi pun menangis. Jarang ada seorang Ratu yang mau akrab dengan seorang dayang bahkan pelayan. Rodiah dengan tidak tega membawa Lais keluar ruangan Meira. Meira belum sadar, padahal ini sudah 2 hari. Tabib bahkan sudah melakukan yang terbaik. Tapi, Ratu mereka juga belum bangun.
Hiks..ibu...
***
Dimana aku?
Tolong?
Disini gelap!
"Clarissa" Suara asing masuk kedalam pendengaran Meira. seseorang memanggilnya. Suaranya halus. Apa Dia mengenalnya?
"Siapa kau?!" Tanya Meira. Ia tidak tahu harus menatap ke arah mana. Semua gelap.
"Terimakasih!" Ucapnya.
Cahaya pun datang, namun suara wanita yang berterimakasih hilang beriringan dengan pudarnya cahaya itu.
"Aku kenapa?" Meira mengerjapkan matanya. Ia berada didalam ruangan dimana semua orang menatapnya dengan tangisan.
"Kalian?"
"Kalian mengapa menatapku begitu? aku sudah sadar! bagaimana kalau kita langsung mencari siapa yang membunuhku?!" Meira langsung bangkit dari ranjang. Ia melompat-lompat dan merenggangkan tubuhnya seolah tak terjadi apapun.
"Yang Mulia. Dada anda baru sembuh. Lebih baik anda istirahat."
"Pembunuhnya adalah Nona Sarah. Keluarganya malu atas hal itu!" Jelas Naomi.
__ADS_1
Meira tertawa karena Naomi bertingkah seperti orang linglung. Tapi, Meira tahu karena Naomi khawatir.
"Aku seperti bangkit dari kematian. Aku sembuh dan aku tak merasa sakit lagi!" Meira berjalan keluar ruangan. Ia melihat Rodiah yang sedang menenangkan Lais. Anak itu menangis dan tak mau dibawa ke kamarnya.
"Rodiah, biarkan aku memeluk Lais. Dia tidak akan berhenti menangis kalau tidak ibunya yang menenangkannya!" Rodiah pun membawa Lais kepada Meira. Meira pun menepuk nepuk punggung Lais pelan.
Cup..cup..cup...
"Ibu!" seru anak itu.
"Ibu, apakah kau kembali?" anak itu menyeka tangisnya setelah melihat wajah Meira. Meira pun mengangguk.
"Iya, kau bersama bibi Rodiah ya. Ibu ada urusan sebentar!" Meira pun memberikan Lais pada Rodiah dan meninggalkannya.
Meira masuk ke ruangan ibunya dan memeluk ibunya yang sedang frustasi.
"Ibu, aku kembali jangan sedih ya!" Ucap Meira yang memeluk Risa dari belakang.
"Aku tahu! kau anak yang kuat. Bahkan kau sudah mati 2 kali tapi kau selamat!" Risa menggenggam tangan Meira yang memeluknya dari belakang. Risa menghadap Meira dan tersenyum padanya.
"Jangan tinggalkan ibu lagi, ya!"
***
"Hentikan perbuatan bodohmu!" Vartan memperbaiki posisi duduknya.
"Vartan, tolong aku! aku tidak akan menganggumu. Sumpah!" Wanita itu berteriak dan suaranya menggema menganggu tahanan lainnya.
"Ck, kasihan. Ingat ******, semua ini karena perbuatanmu!"
"Kau masih ingat, kau sengaja mendekatiku agar Meira salah paham waktu itu!" Vartan mencoba mengingatkan Sarah tentang hal itu, namun Sarah tidak peduli. Ia semakin berteriak minta dibebaskan.
"Gara gara kau ******! aku tidak mendapat Meira. Aku bahkan tidak tahu kalau Meira sudah punya anak!" Vartan menjambak rambutnya sendiri. Ia menggeram dan kesal. Wajah nya memerah. Saking kesalnya, ia mengucurkan banyak keringat.
"Bagus kau tidak mendapat Meira. Setidaknya, sebelum aku bunuh diri, aku akan membuatmu tersiksa terlebih dahulu!!" Mata Sarah nyalang. Bibirnya bergetar. Tangannya mengepal. Ia bahkan meludahi Vartan beberapa kali, sayangnya tidak mengenai pria itu.
"Bunuh diri saja! Itu lebih baik untukmu. Dan kami akan menyaksikan kematianmu bersama sama!" Vartan meninggalkan Sarah yang mendengus kasar. Sarah bahkan terdengar mengumpat beberapa kali. Sekarang, Sarah terlihat seperti orang gila. Bukan terlihat lagi, tapi gila sesungguhnya.
***
__ADS_1
Meira termenung sejenak setelah mendengar perkataan Risa yang menyuruhnya jangan meninggalkannya lagi. Hal itu mengusik pikiran Meira seakan Meira akan pergi lagi.
"Suara wanita yang aku dengar, mungkinkah pemilik asli tubuh ini," gumam Meira.
"Dia berterimakasih padaku. Apa semua ini adalah rencana yang diatas?" Meira mendongakkan kepalanya. Ia menatap langit. Lagi lagi langit. Warna langit yang kemuning karena sore.
"Kalau aku mati. Akan kemana aku?" gumamnya lagi.
Meira bergegas keluar dari balkon. Ia berencana keluar istana. Namun, yang ia dapatkan Vartan yang berdiri di depan pintunya.
"Meira, apa kau percaya aku dari masa depan?" Pria itu menatap Meira sayu sedangkan yang ditatap merasa terkejut karena hal itu.
"Masa depan?" Meira memastikan lagi. Mungkin pendengarannya salah.
"Kalau begitu lupakan saja. Maafkan aku selama ini. Aku akan pergi dan berusaha menjaga harap darimu!" Vartan berbalik dan pergi. Meninggalkan seorang Wanita yang masih mencerna pikirannya.
"Kalau aku juga dari masa depan?"
***
hey Yo...
ada yang nunggu kah?
Jangan lupa komen untuk kelanjutan cerita ini, jangan lupa like juga vote! okee...
***
Numpang promosi ya...
Jadi aku buat cerita tentang gadis pengidap kanker yang sengaja memutuskan pacarnya dengan membuat pacarnya membencinya. Gadis itu menempuh pendidikan dan menjalani pengobatan di Milan, italia. Apa yang akan terjadi 10 tahun kemudian? Apa mereka masih semoat bertemu?
jangan lupa baca '***Perfect Tears'
Terimakasih
link disini:
Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Perfect Tears, di sini dapat lihat: http://h5.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=275965&\_language\=id&\_app\_id\=1
__ADS_1