Own Crowning: Reinkarnasi Menjadi Ratu

Own Crowning: Reinkarnasi Menjadi Ratu
Bukan untuk pertama kali


__ADS_3

2 bulan kemudian....


Meira bersiap pergi ke pesta Ola. Dengan baju yang tidak mencolok dan dengan pengawal yang sedikit. Bahkan, Meira hanya membawa Rodiah saja.


Tidak ada pengawalan khusus untuk mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan. Semua harus berjalan dengan yang diharapkan Meira.


Perjalanan dari Afroja sampai ke Negeri Ungu tepat sebelum pesta berlangsung. Saat memasuki pesta tersebut, Ola menyambut Meira layaknya seorang sahabat yang telah hilang selama beberapa tahun.


"Senang bertemu dengan Anda Yang Mulia," Ola menundukan kepalanya tanpa membungkuk dikarenakan gaunnya yang membuat badannya sangat sulit di gerakan.


"Kau membuat keadaan menjadi canggung. Cobalah anggap aku ini biasa saja!" Meira memicingkan matanya lalu memeluk sahabatnya itu.


"Kau benar benar bertambah gemuk. Pasti kau sangat bahagia. Semoga kau semakin bahagia, aku yakin Harry pasti sangat baik padamu."


"Kau juga, kau pasti akan menemukan yang terbaik. Aku harap seseorang seperti Harry yang menerimamu apa adanya,"


"ku harap begitu"


***


Acara masih dilaksanakan dengan lancar. Belum ada hambatan. Mungkin, penyamaran Meira memang efektif.


Sekarang waktunya mereka mengucapkan janji suci yang bahkan tidak di mengerti Meira sama sekali.

__ADS_1


"Aku kan belum menikah, mana aku mengerti kecuali Vartan melamarku! ahh sudahlah!" Meira menggeleng geleng kan kepalanya berharap dengan begitu bisa menghilangkan pikirannya akan Vartan.


Selanjutnya, acara makan makan lalu bernyanyi serta menari. Meira hanya duduk menatap dayangnya yang ikut menikmati suasana pesta.


Pesta tiba tiba menjadi sunyi. Seketika, Meira tertegun dari lamunannya. Meira berdiri dan berjalan menyusuri banyaknya orang yang terhenti dari dansa mereka.


Orang orang pun berjalan ke kerumunan.


Semua orang melingkar untuk menyaksikan sesuatu. Karena, penasaran Meira menorobos kerumunan dan melihat Vartan berdansa dengan Sarah. Meira terdiam. Dia tak menangis. Cukup diam dan saksikan. Meira menyilangkan tangannya. Memiringkan senyumnya juga kepalanya. Seketika, Vartan berhenti ketika menatap Meira. Vartan berjalan ke arah Meira.


"Tarianmu sangat indah," Meira memulai pembicaraan terlebih dahulu.


"Kau juga sangat cantik hari ini," Puji Vartan.


"Oh, sekarang aku ingat!"


"Aku pernah berjanji."


Meira menghentikan langkahnya. Membalikan badannya lalu menatap Vartan.


"Aku menjaga hatiku. Banyak yang mencintaiku diluar sana. Tapi, aku terlalu bodoh menilaimu. Dan aku tetap menjadi seseorang yang bodoh," Meira masih mempertahankan sikap dinginnya. Tak ada tanda kesedihan di matanya. Dirinya terlihat tegar dan menganggap enteng yang terjaid padanya.


"Kau terlalu sempurna. Bahkan, kesempurnaan tidak selau berakhir buruk. Selama ini aku salah, aku pikir kau orang yang tepat, nyatanya tidak," Tegas Vartan.

__ADS_1


Semua orang melihat sudut bibir Meira tertarik. Semacam senyum namun jika dilihat itu seperti sebuah penghinaan.


"Oke, benar kau salah aku pun salah. Kau salah karena memilihku dan aku salah karena menjaga hatiku untukmu!" Sekarang Meira membesarkan suaranya untuk pertama kali. Ia bahkan tak menyangka seperti itu. Dirinya membalikan tubuhnya. Pergi lalu berlari. Dia tidak boleh menangis. Hal yang sama tak boleh terjadi lagi. Ia di beri kesempatan kedua. Bahkan matipun tak perlu ia cemaskan lagi. Jangan sampai hanya cinta kau bisa di hancurkan.


"Maaf," Vartan menunduk mengucapkannya dengan pelan.


***


Dengan gontai, Meira berjalan. Kenangan Clarissa berputar lagi. Dimana ia memiliki ibu yang jahat, adik tiri yang mencuri kekasihnya, kekasihnya meninggalkan dirinya, perusahaannya bangkrut, Ayahnya yang jauh, dirinya yang sebatang kara, dirinya yang depresi, dirinya yang bunuh diri, dirinya yang terbangun lagi, dirinya yang menjadi ratu menyedihkan. Hanya karena cinta adalah kelemahannya.


Meira menguatkan dirinya, di dunia sekarang ia memiliki seorang ibu, memiliki seorang adik yang baik, memiliki kehidupan yang bisa ia atur sesuka hati, memiliki kisah yang mungkin berbeda dari yang pernahnia alami.


Meira tersenyum. Ia mengakui ia bodoh. Namun, ia tak boleh kalah karena kebodohan.


"Rodiah ayo kita pulang"


***


Sesampainya di Istana, Meira langsung mengistirahatkan dirinya. Tidak mau memikirkan hal yang tak perlu dipikirkannya.


"Lebih baik aku tidur, besok aku sudah melupakannya,"


Wanita itu tak peduli dengan kehidupan percintaan. Ia akan membuat kesibukan yang bermanfaat. Mencapai kejayaan pada kerajaannya, lalu pergi menghilang.

__ADS_1


__ADS_2