
Siang yang sangat terik. Terbukti dari peluh yang berada di dahi Meira. Wanita itu sibuk menandatangi dokumen sembari menyeka peluhnya.
"Masuk!" Perintah Meira setelah mendengar ketukan pintu.
"Yang Mulia, Negeri kita sedang berjaya. Rakyat sangat puas!" Rodiah berbicara langsung pada intinya.
"Bagus. Lalu?"
"Banyak pemimpin-pemimpin negeri lain yang ingin bergabung dalam kerja sama antar negeri!"
Meira menatap Rodiah, memberhentikan kegiatannya sejenak.
"Sekarang tingkat pendidikan rakyat kita meningkat menempuh standar persentasi yang kita tentukan!" Meira mengangguk dan tersenyum. Kini, ia sudah memperbaiki kerajaan yang terpuruk ini. Meira pun mengizinkan Rodiah meninggalkan ruangan.
"Yang Mulia, saya rasa anda butuh surat kabar ini!" Naomi tiba tiba masuk setelah Rodiah keluar.
"Kau ini! terbiasa tanpa.sopan santun!" komen Meira. Dayang satu itu hanya menyengir lugu.
"Baiklah kau boleh pergi!" Naomi pun pergi setelah Meira mengambil surat kabar itu.
"NEGERI DANINA DIPIMPIN OLEH SEORANG WANITA?"
Berita utama itu membahas tentang negerinya. Meira lanjut membaca surat kabar itu.
"Bagaimana seorang wanita memimpin kerajaan?"
"Tidak mungkin seorang wanita, itu hanya gosip!"
"Sosok misterius dibalik Negeri Danina!"
Meira mencampakan berita sampah itu. Apa salahnya seorang pemimpin adalah wanita?
Bahkan Tera adalah seorang Ratu wanita di Negeri ungu.
__ADS_1
"Jangan jadikan lemah adalah alasan bahwa wanita tidak bisa memimpin, bukankah memimpin sesuatu selalu menggunakan otak, bukan fisik?" Gumam Meira yang melihat berita itu.
"ck..."
Meira langsung merobek surat kabar yang rata rata membahas mengenai dirinya.
"Bahkan seorang pria berlaku sesuka hati pada wanita karena wanita dianggap lemah!" Meira memiringkan bibirnya.
Meira pun kembali duduk namun, ia harus kembali berdiri lagi karena menerima pesan bahwa Vartan datang.
"Huftt, menghabiskan waktuku saja!" gumam Meira.
Meira segera menemui Vartan yang tengah menunggunya. Bahkan, ia harus mempertahankan wajah yang kelihatan ramah.
"Ada perlu apa?" Meira bertanya langsung pada intinya.
"Aku hanya mengecek keadaanmu. Apa kau sudah lihat berita?"
"Oh, sudah. Berita sampah itu? aku sudah membuangnya, tidak penting," Vartan memandang Meira tak percaya. Ia pikir wanita itu akan memohon bantuannya untuk acara temu antar beberapa pimpinan negeri.
"Jangan pikir aku butuh sikap perhatianmu. Kau pikir wanita yang sudah sering dibodohi akan mampu dibodohi, hahaha!" Wanita itu tertawa sekencangnya. Setelah itu terdiam. Menatap Vartan yang berusaha mengalihkan pandang.
"Kerajaan ini membutuhkanku, tapi aku tak butuh kerajaan ini. Aku ingin bebas berkelana menikmati waktuku!" Meira menarik dagu Vartan lalu menghempaskannya kasar.
"Aku benci pria sepertimu! sampai berjumpa lagi!" Vartan menatap Meira. Bahkan, ia mengerjap matanya beberapa kali.
"Ia seperti iblis." gumam Vartan.
***
"Akhirnya aku bisa istirahat. Di istana yang megah ini aku terlihat kesepian," Meira memandang dirinya di cermin. Mengasihani dirinya sendiri.
__ADS_1
"Aku bersikap seperti ini agar hal yang sama tak terulang lagi. Kau tak mau merasa dibodohi." Meira tersenyum pada pantulan dirinya di cermin. Seolah-olah cermin itu adalah lawan bicaranya.
"Aku terlihat gila karena lelah!"
Meira berbaring di ranjangnya dan tertidur.
"Mama, Clarissa mau peluk mama!" gadis berusia 5 tahun itu menatap ibunya penuh harap.
"Diem, gak usah peluk peluk!" tak hanya kata kasar, Clarissa bahkan menerima dorongan dari Deva.
"mama, Clarissa bukan anak mama ya?" Anak itu bertanya sambil menangis dan Deva hanya tersenyum sinis pada bocah polos itu.
"Harusnya bukan, tapi syukur kamu saya lahirin daripada saya gugurin!" Clarissa diam saja mendengar perkataan ibunya, karena dia sama sekali tidak mengerti ucapan ibunya.
"Mama, makasih ya udah lahirin Clarissa!" anak itu mencoba memeluk Deva, namun wanita itu malah mendorongnya lagi sampai lutut anak itu berdarah.
"Mama, lutut Sasa berdarah!"
"obati aja sendiri. Saya gak peduli. Pokoknya, besok kalau saya nikah kamu jangan keluar kamar. Kalau kamu berani keluar kamar, maka kamu akan mendapat hukuman, Mengerti!" Perintah Deva.
Gadis itu hanya mengangguk. Ia berharap dengan menuruti ibunya, ia akan disayang.
"Oke, Clarissa janji!"
***
Mimpi Meira berhenti dulu ya
Komen dong supaya aku semangat.
Sedih liat yang komen dan like cuman sedikit😥
__ADS_1
Kalau tembus 150.000 view aku up besok pagi pagi.
janji deh😙