
"Kamar?? "
"Iya kamar, kita makan di kamar. Nanti kita sewa kamar beberapa jam di hotel. "
"Mau ngapain makan di kamar hotel? Saya lapar tahu nggak sih definisi lapar itu gimana?" Ucap Saphira kesal.
"Tahu, maksud nya kita makan berdua di kamar hotel sambil mendekatkan kita berdua." Ucap Firza.
"Bukan nya kita sudah dekat? " Ucap Saphira.
"Dekat dalam arti musuh. " Ucap Firza.
"Iya, musuh. "
"Gimana, sudah selesai? " Tanya Ibu Soraya.
"Sudah Mah, tapi kita mau jalan dulu." Jawab Firza.
"Baik, kalau begitu mamah duluan. Dah sayang..!! " Ucap Ibu Soraya sambil mencium pipi Firza dan Saphira.
"Cepat dong, saya lapar. " Ucap Saphira berjalan mendahului Firza.
"Ke Hotel ya? " Ucap Firza.
"Terserah, judulnya makan. Awas saja kalau yang aneh - aneh. Saya pites kamu. "
Firza hanya tersenyum dan mereka berdua pun dengan mobil nya menuju ke sebuah Hotel.
****
"Terima kasih Mas, ini uang tips nya. " Ucap Firza pada seorang pegawai hotel yang mengantar makanan nya ke kamar.
Saphira langsung membuka satu persatu tutup makanan nya, terlihat ada aneka seafood dan beberapa cemilan.
"Jadi sekarang kita makan seafood? " Tanya Saphira.
"Kenapa? Nggak suka? " Tanya Firza kembali.
"Nggak, suka kok. " Jawab Saphira langsung makan.
"Kamu nggak alergi udang kan? " Tanya Firza.
"Nggak tuh. " Jawab Saphira.
"Ya sudah, yuk makan. "
Tanpa suara Firza dan Saphira pun makan, Firza tersenyum dengan melihat cara makan dari Saphira. Dengan menggunakan tangan hingga saos pun menempel pada sudut kanan kiri bibir Saphira.
"Saphira, itu. " Ucap Firza sambil menunjuk pada sudut bibir nya.
"Apaan sih? " Tanya Saphira.
"Itu." Jawab Firza sambil menunjuk ke arah bibir Saphira.
"Apaan? " Ucap Saphira.
__ADS_1
Tangan Firza lantas menyeka kedua sudut bibir Saphira dengan ibu jari nya, dan saat itu kedua mata mereka saling bertatapan.
Saphira hanya berkedip kan matanya saat Firza menatap intens kedua bola mata Saphira.
Firza mendekatkan wajah nya, hingga sangat dekat dengan hidung mereka saling bersentuhan. Saat itu bibir nya akan menyentuh bibir Saphira namun Saphira memalingkan wajah nya.
Firza tersenyum dan menjauh kan lagi wajah nya, lantas melanjutkan makan nya.
Hampir dua jam mereka di kamar hotel, Saphira hanya berbaring di atas tempat tidur, sedang kan Firza menonton televisi.
"Ehm... kita pulang yuk, bete. " Ucap Saphira.
"Nanti, malam saja kita pulang. " Ucap Firza.
"Ngapain sih, kita disini. Mending di kost an nyaman, disini buang - buang uang dan waktu."
"Kamu tahu, kenapa saya ingin seperti ini?"Tanya Firza.
"Kenapa memang? "Jawab Saphira kembali bertanya.
" Saya ingin seperti ini, kalau kita bisa sama - sama saling membuka hati. Kamu tahu kan, hati saya sudah terbuka untuk kamu, tinggal kamu nya yang belum belajar untuk membuka hati. " Ucap Firza.
"Di bilang nggak bisa. " Ucap Saphira.
"Kalau tidak bisa kenapa mau menikah?" Ucap Firza.
"Saya akan coba terus, tapi nyatanya belum ada sedikit rasa. Kalau misal selama nikah nanti perasaan saya tidak berubah berarti kita harus jalan sendiri - sendiri." Ucap Saphira.
"Bagaimana pun, saya tidak akan menceraikan kamu. "
"Saya ingin pernikahan ini sekali dalam seumur hidup."
"Saya juga sama, tapi dengan pria yang tepat."
Firza bangun dan berjalan ke arah Saphira lalu naik di atas tempat tidur dan berbaring di samping nya.
"Kamu itu sangat nggak suka sama sekali ya sama saya? "
"Banget, malah kesal aja bawaan nya sama kamu. "
"Saya minta maaf, kalau suka bully kamu. Tapi jujur saya tulus mencintai kamu."
"Itu hak kamu, terserah saya nggak melarang."
Firza memiringkan tubuh nya dan menatap ke arah Saphira yang sedang menatap langit - langit.
"Seandainya pria yang di samping kamu ini pergi jauh dan tak pernah kembali apakah kamu tidak merasakan kehilangan? "
Saphira terus menatap ke atas langit - langit kamar hotel, dan memejamkan matanya.
"Kenapa kamu tak jawab dan hanya diam lantas memejamkan mata nya saja? "
"Kenapa kamu bicara seperti itu? "Tanya Saphira.
" Saya kan hanya tanya sama kamu, seandainya saya tidak ada lagi di dunia ini apa kamu akan kehilangan? "
__ADS_1
Saphira memiringkan kepalanya ke samping dan menatap ke arah Saphira dengan mata yang berkaca - kaca.
"Lebih baik kita berpisah dengan cara cerai, karena mungkin masih bisa ada kesempatan untuk memperbaiki semua nya tidak dengan cara berpisah untuk selamanya karena waktu tidak bisa lagi di putar dan tidak ada kesempatan kedua. "
"Apa kamu ikhlas bila suatu saat pria di depan kamu ini pergi untuk selama nya? "
"Harus ikhlas karena kita juga tidak bisa melawan takdir. "
"Saya hanya ingin kamu tahu saja, bila saya suatu saat nanti sudah tidak ada di dunia ini kamu harus ingat, kalau saya sangat mencintai kamu, walau waktu kita tidak banyak dan belum sempat merasakan bagaimana di balas nya cinta. Saya sampai kapan pun mencintai kamu. "
Saphira memilih memunggungi Firza dan mengusap air mata yang tiba - tiba lolos.
"Tolong hentikan kamu bicara seperti ini, kalau kamu terus bicara seperti itu seolah saya lah yang salah. Saya lah yang tidak mencintai kamu. Tolong beri saya waktu, kalau saya bisa pun saya akan balas cinta kamu. Tapi kalau saya tidak bisa, tolong jangan paksa saya untuk mencintai kamu."
"Maaf, saya nggak ada maksud menyudutkan kamu. Ini hanya perasaan saya yang harus kamu tahu. Hanya kamu wanita yang saya cintai hanya kamu. "
"Kita jalani tapi tunggu saya siap. "
"Iya saya akan terus menunggumu hingga waktu tertentu. "
*****
Tengah malam Saphira dan Firza pun pulang, saat itu hujan sangat lebat hingga Firza dan Saphira berlari masuk.
Tepat buka pintu lampu padam, dengan segera Firza menyalakan senter.
"Di dalam ada lampu emergency kan? " Tanya Firza.
"Ada kok. "Jawab Saphira.
" Ya sudah, masuk ya sudah malam. Terus cuaca dingin. " Ucap Firza.
"Iya."
"Semoga mimpi indah. " Ucap Firza langsung masuk kedalam kamar nya sedangkan Saphira terus menatap pintu kamar yang di dalam nya adalah calon suaminya.
"Semoga mimpi indah juga. " Ucap Saphira.
Sedangkan di balik gorden, Firza tersenyum melihat Saphira menatap ke arah kamar nya dan lantas masuk.
"Saya tahu, sebenarnya kamu juga memiliki sebuah rasa. Hanya saja kamu tidak ingin berkata jujur dan lebih memilih menahan rasa itu. "
Sedangkan di dalam kamar sambil berbaring Saphira menangis sesenggukan kan dengan wajah nya di tutup oleh bantal, Saphira masih mengingat apa yang di katakan oleh Firza.
"Hiks.. hiks.. kamu jahat kenapa bilang begitu. . hiks.. hiks.. hiks... kamu jahat Bang, saya belum mencintai kamu hiks.. hiks.. "
.
.
.
.
.
__ADS_1
.