Pak Polisi I Hate You But I Love You

Pak Polisi I Hate You But I Love You
Kejujuran Hati


__ADS_3

"Bang, club ini yang akan jadi target kita? " Tanya Fahri Pada Juni.


"Iya, ini target pertama. Karena maraknya para pemakai di bawah umur. " Jawab Juni.


"Mending kita masuk. " Ucap Ikbal.


Ilham melihat motor yang dirinya sangat kenal, namun segera dia tepis.


"Warna sama model nya kan banyak. "


Saat masuk, suara musik sangat menggema. Terlihat DJ terus menari dengan aroma minuman keras yang sangat menyengat.


Dengan menunjukkan surat pada Manager Club untuk pemeriksaan para pengunjung club.


"Tolong, musiknya minta di matikan." Ucap Juni.


"Siap Pak., nanti saya akan bilang."


Musik pun berhenti, hingga para pengunjung yang menari kini berdiri berbaris dengan Para Anggota memeriksa mereka satu persatu.


Sebuah sorot mata tajam, tertuju pada meja nomer dua puluh yang sedang menegak minuman dan rokok yang terus terhisap dari bibir nya.


"Benar - benar tak di percaya. " Ucap Ilham.


"Bang, meja nomer dua puluh arah pukul dua belas. " Ucap Ilham.


Juni pun menatap sesuai arahan Ilham, dengan mengepalkan kedua tangan nya berjalan menuju ke arah meja tersebut.


"Sedang apa? " Tanya Juni dengan nada penuh amarah.


Saphira menatap Juni dengan tersenyum dan menghembus kan asap rokok ke arah wajah Juni.


"Mau gabung minum Bang? " Ucap Saphira sambil mengangkat gelas nya.


Terlihat lima botol minuman dengan kadar tinggi dan terlihat Saphira mabuk berat.


"Siapa yang ajarkan kamu minum seperti hah...!!! Bentak Juni.


" Santai Bang, ngapain sih bentak - bentak."


"Kamu tahu, Abang disini sedang operasi. Dan mau taruh dimana wajah Abang, lihat adiknya sedang mabok berat bahkan jadi target operasi. " Ucap Juni.


Saphira tak hiraukan Juni, dan langsung akan meminum dari botol namun langsung di ambil paksa oleh Juni.


"Abang...!! " Ucap Saphira.


"Sekali lagi kamu minum, Abang siram ini minuman ke wajah kamu. "


"Siram saja Bang, siram.... hiks.. hiks.. hiks.. "


Saphira bangun dengan tubuh sempoyongan, hingga terjatuh ke lantai. Juni hanya diam sambil berkacak pinggang.


"Bang, Saphira mabuk berat ini. " Ucap Ilham.


"Tahu saya juga, tolong katakan sama Bripka Anwar saya ijin pulang bawa Saphira. Nanti kamu bawa motor dia. " Ucap Juni.

__ADS_1


"Siap Bang. " Ucap Ilham.


Juni langsung menggendong tubuh Saphira bagai karung beras, adiknya terus meracau sambil menangis dan memukul - mukul Abang nya.


*****


Byuuuurrrr


Byuuuurrrr


"Abang... stop, jangan Abang siram terus Saphira." Ucap Imelda yang melihat Saphira yang masih belum sadar berada di kamar mandi.


Juni menyalakan Shower hingga Saphira menggigil dan langsung muntah. Dengan segera Imelda menolong Saphira.


"Hukuman buat perempuan seperti kamu, memalukan. Gara - gara pria kamu seperti ini." Bentak Juni.


"Kalau kamu cinta, kenapa kamu tolak dia dan batalkan pernikahan itu. Sekarang giliran Firza sudah punya kekasih malah kamu kejar - kejar. " Bentak Juni.


Saphira menggigil kedinginan hingga tiba - tiba tak sadarkan diri.


"Abang... Saphira pingsan. " Teriak Imelda.


***


"Gimana dia? " Tanya Juni saat melihat Imelda sedang memasang selang infus pada Saphira.


"Dia demam, dan pengaruh minuman." Jawab Imelda.


"Sok kuat, sok minum. Rasain badan kamu sendiri yang kena. "


"Sssttt Bang ini adik kamu loh, dia begini karena Firza. "


"Sudah lah Bang, apa saya hubungi Firza saja ya biar tahu kalau perasaan Saphira itu sayang sama dia. "


"Sudah lah, sudah terlambat. Firza sudah punya Sinta. "


"Tapi mungkin Firza akan kembali sama Saphira. "


"Kamu harus dengar, jangan paksa cinta. Jangan jadikan adik saya orang ketiga. "


"Tapi Bang, ini akan berdampak stress. Akan pengaruh pada kejiwaan nya. "


"Yank, kamu jangan kasih vonis yang lebai begitu. Biar saya kasih terapi mental sama adik saya. "


"Saya tidak lebai, saya tahu kondisi Saphira. Saya seorang Dokter, Firza harus tahu. "


*****


"Malam - malam begini hanya untuk melihat dia. " Ucap Firza saat melihat Saphira masih tertidur dengan selang infus menancap di punggung tangan nya.


"Dia seperti itu karena kamu. " Ucap Imelda.


"Karena saya? " Ucap Firza.


"Dia hari ini bukan Saphira yang biasa, Abang kamu menemukan dia di club sedang minum tinggal mabuk, dan merokok dalam jumlah banyak. Tolong kamu temani dia. "

__ADS_1


"Nggak bisa kak, saya harus menjaga hati Sinta. "


"Sinta, apa kamu serius sama dia? Katakan kalau kamu bersama Sinta hanya peralihan. "


Firza hanya diam sambil terus menatap ke arah Saphira.


*****


Saphira membuka matanya dan merasakan sangat silau karena lampu kamar. Rasa pusing di kepala pun Saphira masih sangat di rasakan.


"Kenapa kamu baru sekarang bilang kalau kamu cinta. "


Saphira menoleh ke arah Firza yang sedang duduk di seberang tempat tidur. Saphira langsung memalingkan wajah nya lantas memunggungi Firza.


"Kenapa kamu bohongi perasaan kamu yang sebenarnya, kenapa kamu lakukan itu? " Ucap Firza namun Saphira tetap diam.


Firza berjalan mendekati tempat tidur yang di tiduri Saphira dan duduk di tepinya.


"Seandainya kamu katakan sejak dulu, mungkin sampai saat ini rasa cinta saya tidak akan pernah hilang dan pudar. Bahkan saya tidak akan pernah berpaling. Kamu tahu kan sekarang ada rasa yang harus saya jaga. Dia sangat mencintai saya, dan wanita yang baik. Apakah saya harus duakan dia setelah tahu perasaan kamu sama saya. Mungkin saya akan katakan tidak, dan saya pun sekarang tidak memiliki rasa lagi sama kamu. "


Saphira memejamkan matanya hingga lolos air mata dari sudut kelopak matanya.


"Apa yang kamu lakukan sekarang, tidak akan merubah saya. Semuanya sudah terlambat, lupakan saya karena saya sudah melupakan kamu. " Ucap Firza langsung beranjak pergi dari kamar yang di tempati Saphira.


Saphira memutar tubuh nya dan menatap pintu yang telah di tutup oleh Firza. Dengan tangan nya mengusap air mata yang terus keluar.


"Iya benar, saya terlambat."


******


"Abang kenapa diam? " Tanya Sinta.


"Nggak apa - apa. " Jawab Firza.


Sinta memeluk lengan Firza sambil bermain jari tangan nya.


"Ehm... Abang kapan bawa saya bertemu dengan kedua orang tua Abang? Ayah Bunda ingin segera bertemu sama kedua orang tua Abang. "


"Berilah Abang waktu, kita jalani saja dulu."


"Abang serius kan sama saya? "


Firza menatap ke arah Sinta dan tersenyum lalu menatap lurus ke depan kembali.


"Kita jalani saja dulu, kita kan belum tahu cocok atau tidak nya. Saya hanya ingin sekali dalam seumur hidup dengan satu seorang wanita. "


******


"Abang minta, kamu pulang ke rumah. Bawa semua barang - barang di tempat kost kamu. Abang tidak mau kamu terus berada di samping Firza, Abang tidak ingin kamu rendah di mata seorang pria. Carilah pria lain, kalau kamu tak mau cari biarlah Abang yang akan mencarikan. " Ucap Juni namun Saphira hanya diam membisu dengan terus memunggungi Juni.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2