
"Bang."
"Iya sayang. "
"Boleh tanya sesuatu nggak? "
"Tanya apa? "
Saphira berjalan ke arah lemari dan membuka laci lemari pakaian lalu mengambil amplop dokumen dan di serahkan pada Firza.
"Abang kenapa nggak bilang kalau beli rumah?" Tanya Saphira.
"Oh ini, Iya Abang beli rumah di sekitar sini. Abang lihat karena ada yang cocok jadi beli." Jawab Firza.
"Kenapa nggak di bicarakan dulu sama istri?" Tanya Saphira kembali.
"Ini niat nya kejutan buat kamu sayang, maaf ya. " Jawab Firza.
"Kejutan apa Bang, ini uang nilai nya besar. Setiap pengeluaran sebesar ini harus di bicarakan sama istri. "
"Kan namanya juga kejutan Yank. "
"Abang kenapa mau beli rumah? " Tanya Saphira.
"Ini juga tempat tinggal Abang, tempat tinggal kita. " Ucap Saphira kembali.
"Saphira, Abang ini seorang kepala rumah tangga. Seorang suami dan seorang pria. Apakah akan selama nya tinggal di rumah hasil jerih payah istri, apalagi ini semua nya warisan dari orang tua kamu. Abang tidak mau di cap sebagai hidup di atas kesuksesan istri. "
"Siapa yang bicara begitu, bagi saya tidak bicara begini. "
"Bagi kamu, tapi bagi orang lain tidak. Abang keluarkan semua tabungan Abang untuk ini semua. Abang ingin boyong anak kita di rumah hasil jerih payah Papah nya selama ini. Abang bukan seorang pengusaha, Abang hanya seorang Polisi mungkin gaji nya lebih besar kamu. Tapi Alhamdulillah, Abang bisa menabung hingga beli sebuah rumah tanpa berhutang di Bank. Abang tidak mau menikmati ini semua milik kamu, Abang seorang laki - laki, kepala rumah tangga."
"Tapi tabungan Abang akhirnya habis. "
"Tabungan bisa di isi kembali, tapi harga diri tidak bisa di kembali kan kalau sudah terinjak - injak selama nya akan teringat. "
"Itu kan tetap saja Bang, sekian lama Abang menabung. "
"Sssttt jangan bicara begitu, ini sudah ke niatan Abang. Jadi tolong jangan bicarakan ini lagi. '
" Terima kasih Bang. "
"Iya sayang. " Ucap Firza langsung memeluk tubuh Saphira.
*****
"Bang, ini luas banget. "
"Iya, Abang suka sama rumah ini. Saat lewat mau berangkat dinas lihat ada plang di jual Abang langsung datangi ini rumah dan hubungi pemiliknya. "
"Halaman belakang juga luas. "
"Iya, Abang niat ingin buat tamam bermain untuk anak - anak sama kolam renang."
"Bagus banget Bang, dan untuk furniture nya juga Bang bagus banget. Ih.. pintar deh pilih nya. "
"Iya dong, suami siapa dulu. "
Saphira tersenyum lalu melanjutkan keliling setiap ruangan.
****
__ADS_1
"Bang, capek banget ini rumah besar. " Ucap Saphira.
"Nanti Abang akan bawakan asisten rumah tangga, adik nya Bi Inah. "
"Emang mau? "
"Mau lah, nanti sama suami nya juga."
"Saya setuju, kenal mereka. Kita juga Bang cari Asisten rumah tangga itu yang bisa di percaya. "
"Iya betul, kalau cari yang muda takut nya nyonya malah darah tinggi terus tiap hari."
"Awas aja kalau pembantu nya cari yang muda, tahu - tahu ke gatelan saya sunat nih punya Abang. "
"Nah makanya, dari pada di sunat. "
******
Empat Bulan kemudian
...Saphira mengusap perut nya yang sudah membesar, Firza selama satu minggu sedang pelatihan di luar kota....
"Wika, laporan bulanan sudah kamu kirim kan ke kantor pusat? " Tanya Saphira.
"Sudah bu, minggu depan akan di adakan rapat bulanan. " Jawab Wika.
"Kamu saja, saya sudah nggak sanggup."
"Iya Bu, oh iya untuk bulan depan ada yang ingin menyewa gedung untuk acara lelang ibu - ibu sosialita. "
"Kamu tanda tangan saja, asal harga sesuai."
"Neng Saphira, ini bibir buatkan jamu biar lancar persalinan. " Ucap Bi Surti.
"Terima kasih Bi, selama Bibi disini saya jadi rajin minum jamu." Ucap Saphira.
"Waktu bibi hamil, hampir rutin neng biar lancar. Namanya juga orang jaman dulu kalau jaman sekarang mana ana beginian. Jamu yang Neng Saphira minum ini buat tenaga ibu hamil."
"Terima kasih bi."
Namun saat akan meminum jamu, perut Saphira merasakan mulas dan meletakkan kembali gelas nya.
"Ibu kenapa? " Tanya Wika yang tiba - tiba panik.
"Neng, kenapa neng. " Tanya Bi Surti yang ikut panik.
"Perut saya mules. " Jawab Saphira.
"Ya Allah ini mah mau melahirkan." Ucap Bi Surti.
"Kita ke rumah sakit sekarang. " Ucap Wika.
"Iya, iya nanti bibi siap kan perlengkapan bayinya. " Ucap Bi Surti.
"Bapak...cepat kemari, Neng Saphira mau melahirkan. " Panggil Bi Surti pada suaminya.
******
"Apa, mau melahirkan? " Ucap Ibu Meri saat menerima panggilan telepon dari Wika.
"Iya, Papah segera kesana. " Ucap Pak Hilman menerima telepon dari Alvin.
__ADS_1
"Saphira Soraya mau melahirkan. " Ucap Ibu Meri dan Pak Hilman.
"Saphira mau melahirkan." Ucap Ibu Meri.
"Soraya juga sama. " Ucap Pak Hilman.
"Soraya bukan nya sebulan lagi Pap. " Ucap Ibu Meri.
"Kata Alvin, Soraya di rumah sakit. Cesar persalinan nya. " Ucap Pak Hilman.
"Jadi bagaimana nih Pap anak sama menantu lahiran di hari yang sama. "
"Aduh gimana, Papi juga bingung."
"Saphira mau melahirkan. " Ucap Ibu Sonia datang.
"Iya tadi Wika telepon, masalah nya Soraya juga sama malah cesar. " Ucap Ibu Wika.
"Sudah begini saja, biar saya sama Mas Farhan kesana, kalian ke Soraya. " Ucap Ibu Sonia.
"Begini saja, Mami ke Saphira. Papi ke Soraya." Ucap Ibu Meri.
"Baik kalau begitu, Mami siap - siap ya. Papi juga mau siap - siap. "
******
Firza di perjalanan pulang tak tenang, memikirkan Saphira yang sedang mengalami kontraksi.
"Banyak berdoa Bang, semoga anak sama istri Abang selamat. " Ucap Pandu.
"Iya, ini untung saja dapat kabar saat mau pulang. " Ucap Firza.
"Abang bisa dampingi walau nggak tepat waktu. "
"Iya Pandu, semoga saya sampai sana mereka sehat dan selamat. "
"Amin."
******
"Bi, Abang Firza sampai mana? " Ucap Saphira yang sedang dalam ruang persalinan.
"Nanti Neng, Mas Firza sedang di perjalanan."
"Sakit Bi, saya mau sama Bang Firza. Dia juga harus menyaksikan saya kesakitan begini jangan buat enak nya saja. " Ucap Saphira.
Dokter hanya tersenyum sambil menggeleng - geleng kan kepalanya.
"Dok, bayi nya keluarnya nanti saja nunggu Papah nya. " Ucap Saphira.
"Nggak bisa minta Bu, kasihan anak mau lahir cepat keluar malah Ibu tahan."
.
.
.
.
.
__ADS_1