Pak Polisi I Hate You But I Love You

Pak Polisi I Hate You But I Love You
Lebih Baik Tidak Bersatu


__ADS_3

"Loh.. mata kamu kenapa bengkak begini?" Tanya Firza saat akan berangkat dinas dan melihat Saphira keluar untuk berangkat kerja.


"Nggak apa - apa. " Jawab Saphira.


Firza mendekati Saphira namun calon istri nya itu hanya menundukkan wajah nya.


"Kamu nangis? " Tanya Firza sambil mengangkat dagu Saphira.


"Tadi malam lihat film sedih jadi nangis karena terbawa suasana. " Ucap Saphira bohong.


"Saya antar ya. "


"Nggak usah biar naik motor saja. "


"Kita kan searah. "


"Makasih."


"Boleh bilang sesuatu nggak? "


"Bilang apa? "


"Kamu nggak usah kerja lagi ya, lulus kuliah kamu cukup di rumah nunggu suami. "


"Enak saja, sekolah sampai tinggi ujung - ujung nya di dapur. "


"Suami kamu itu mampu untuk kasih makan kamu, dan ini perintah suami harus nurut. "


"Perintah apaan, suka ngatur. "


"Ngatur juga demi istri."


"Nggak.akh.. jangan begitu. "


"Cuti lah beberapa hari lagi kita menikah, lantas kamu resign. "


"Sudah telat nih, berangkat. " Ucap Saphira melewati Firza dan menaiki motor matic nya.


Sedangkan Firza hanya menggelengkan kepalanya, dan menaiki motor nya untuk berangkat Dinas.


******


"Makasih ya undangan nya sudah saya terima begitu juga sama yang lain nya. " Ucap Anya.


"Sama - sama. " Ucap Saphira.


"Kamu kayak nggak senang begitu sih? " Tanya Anya.


"Bagaimana nggak senang, nikah nya saja begini. " Jawab Saphira.


"Memang nya gimana sih? " Tanya kembali Anya yang penasaran.


"Kamu tahu kan saya sama si Firza bagaimana , nggak bisa akur malah di jadikan satu. " Jawab Saphira.


"Terima saja nasib kamu, tapi dia itu sangat baik loh apalagi dia yang sekarang beda banget sangat cinta sama kamu."


"Sok tahu. "


"Ya sudah kalau nggak percaya sih. " Anya kembali bekerja.


******


"Mam, anak kita itu belum cuti juga apa atau resign dari kerja nya? " Tanya Pak Hilman.


"Nggak tahu Pap, mau nikah saja itu anak biasa saja malah yang repot kita, dia mah cuek bebek saja. " Jawab Ibu Meri.


"Anak tuh bagaimana sih, dimana - mana orang mau menikah nggak sabaran ini mah seperti nya kalau nggak jadi juga nggak masalah. "

__ADS_1


"Mami juga heran sama Saphira, padahal Firza nya suka loh Pah, walau dia itu bagaimana sama Saphira. "


"Mudah - mudahan saja cara kita bisa membuat mereka bahagia dan akur Mam. "


"Tapi kalau akur sudah Pap, hanya saja dari anak kita nya. Mungkin karena di jodohkan jadi mereka seperti ini. "


"Semoga nggak terjadi apa - apa sama pernikahan mereka. "


*****


"Kalian tumben pada makan siang di sini? " Tanya Saphira.


"Kenapa, nggak boleh? " Jawab Tita kembali bertanya.


"Apa sedang janjian mau pada ketemu Pak Pol? " Ucap Saphira.


"Nggak, kita hanya ingin makan siang saia disini. " Ucap Lila.


"Nih buku menu nya. " Saphira menyerahkan buku Menu pada ke empat sahabat nya.


"Say, kamu kenapa masih kerja sih? Bukan nya pernikahan kamu tinggal menghitung hari loh. " Ucap Soraya.


"Kenapa, emang masalah? " Ucap Saphira.


"Bukan nya begitu, dan kamu apa masih akan kerja di Resto? " Ucap Soraya.


"Kerja juga sambil nunggu ijazah nanti cari kerja lagi. "


"Firza setuju kamu kerja? " Tanya Hani.


"Nggak, sekarang saja saya di minta resign." Jawab Saphira.


"Ya kalau minta Resign turuti dong, kalau sudah menikah itu kita harus menurut apa kata suami. " Ucap Lila.


"Tapi saya ingin jadi wanita karir, bukan diam diri di rumah. " Ucap Saphira.


"Karena orang tua, saya pun bingung bagaimana hati dan perasaan saya sama dia."


"Sebelum terlambat kamu putus kan, pernikahan bukan lah untuk main - main." Ucap Soraya.


"Jujur hati saya masih bingung dan ragu. "


"Katakan, kamu suka sama Firza tidak? Jangan sampai kamu menyesal kemudian hari. "


"Nggak tahu. "


*****


Di depan halaman Polres Saphira menunggu Firza, hingga terlihat pria yang akan jadi suaminya keluar mengendarai motor nya.


"Loh kok nggak bilang kalau mau kesini? "


"Mau pulang? "


"Iya, mau istirahat nanti malam piket."


"Ehm... ya sudah kita ke kost an aja. "


"Iya, kamu duluan di depan biar Abang di belakang. "


****


Saphira bolak balik di dalam kamar nya, dan terus mengintip dari balik gorden nya. Saphira terus memperhatikan kamar Firza namun dengan langkah pasti Saphira membuka pintu kamar nya dan langsung mengetuk pintu kamar Firza.


Tok.. tok..


Ceklek

__ADS_1


Pintu pun terbuka, terlihat Firza yang hanya menggunakan celana pendek dan kaos santai nya.


"Bisa kita bicara? " Tanya Saphira.


"Bisa, masuk. " Jawab Firza dan Saphira langsung masuk, Firza pun menutup pintu.


"Mau bicara apa? " Tanya Firza.


"Kita batalkan saja pernikahan kita. " Jawab Saphira.


Firza hanya tersenyum kecut dan menundukkan kepala nya, dengan memainkan jari - jari nya.


"Kenapa? " Tanya Firza.


"Seperti nya kita tidak akan pernah cocok." Jawab Saphira.


"Tidak cocok nya dimana? "


"Saya masih ingin menikmati kesendirian, saya ingin menikmati kerja, saya kuliah ini berdasarkan apa yang saya cita - cita kan. Saya tidak bisa menjadi wanita rumahan.Dan saya tidak bisa mencintai kamu. Mungkin kita itu memang di takdir kan saling bertentangan. Kita kan tak pernah akur. "


"Pernikahan kita empat hari lagi. "


"Saya tahu, dari pada sudah menikah kita cerai. "


Firza memalingkan wajah nya dengan meremas kedua tangan nya dan terlihat memerah wajah nya seakan menahan amarah.


"Maaf kalau saya memaksa kamu, memaksa mencintai kamu. Memaksa untuk mau menikah sama saya. Tapi apa kamu yakin, kamu tidak memiliki rasa sama saya? " Ucap Firza.


"Iya, saya tidak memiliki rasa sama kamu. "


"Kemarin, kenapa kamu ucapkan selamat malam dari balik pintu, kemarin kenapa kamu balas ciuman saya? "


"Semuanya bukan berarti saya mencintai kamu kan? "


"Hanya alasan itu? "


"Iya, dari awal juga kita tidak pernah cocok. Kita kan selalu berantem. " Ucap Saphira.


"Kita batalkan saja. " Ucap Saphira.


Firza menatap Saphira dengan mata berkaca - kaca, dan tersenyum kecut.


"Baik, saya tidak akan memaksa. " Ucap Firza.


"Lebih baik kita hanya jadi teman, dan saudara ipar. Semoga kelak kamu dapat wanita yang lebih sempurna dari pada saya. Maaf kan saya, saya tidak bisa mencintai kamu. Maaf kan saya. "


"Iya, nggak apa - apa. Seharusnya saya yang minta maaf. "


"Saya pamit. " Ucap Saphira.


Firza hanya menatap punggung Saphira yang kini sudah menghilang, Firza hanya tersenyum sembari meneteskan air matanya.


"Saya mencintai kamu Saphira, saya cinta kamu. "


Sedangkan di dalam kamar, Saphira duduk bersandar pada pintu kamar nya. Air matanya lolos.


"Maaf Bang, saya bingung. Dari pada kita menikah dan tidak cocok lebih baik saya ambil keputusan ini. Hiks... hiks... saya cinta tapi saya tidak bisa di atur begini. "


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2