Pak Polisi I Hate You But I Love You

Pak Polisi I Hate You But I Love You
Bermain Hati


__ADS_3

"Bang, Ayah bunda nanya kapan katanya saya bertemu sama keluarga Abang dan mereka ke sini. Walau mereka orang tua angkat, mereka itu peduli dengan saya. " Ucap Sinta.


"Sinta, kita jalani saja dulu ya. Saya ingin saling, agar tidak gagal seperti waktu saya sama Saphira. " Ucap Firza.


"Iya udah Bang, saya ngerti kok. "


"Saya minta, jangan terlalu anggap serius dulu. Kita jalani saja dulu, saya ingin memantapkan hati ini. "


"Iya Bang, saya paham. Saya pun walau seperti ini saya sangat bahagia bisa mengisi kekosongan hati Abang. "


"Maaf kan saya, dan terima kasih untuk semuanya. "


"Iya Bang, nggak apa - apa. " Ucap Sinta.


*****


"Maaf mau cari siapa? " Tanya Yuli.


"Ini rumah nya Saphira? "


"Benar, mba siapa ya? "


"Saya Sinta, bilang saja saya mau ketemu sama dia. " Ucap Sinta.


"Sebentar ya mba, silahkan duduk dulu. "


"Terima kasih. " Ucap Sinta sambil menatap seisi rumah yang terlihat sangat besar dari pada rumah dirinya.


"Mba, maaf. Ada tamu. "


"Siapa Mba? " Tanya Saphira saat sedang santai di depan TV.


"Namanya Sinta. " Jawab Yuli.


"Hah.. Sinta, ngapain dia kesini. "


"Dia nggak bilang apa - apa, katanya mau ketemu sama mba. "


"Ya sudah, mba buat kan minum buat nya. "


"Baik mba. "


Saphira berjalan menuju ruang tamu, dan duduk saling berhadapan.


"Ada apa? " Tanya Saphira.


"Saya hanya ingin mampir saja. " Jawab Sinta.


"Mau bertamu ke rumah calon mertua? " Tanya Saphira.


"Rumah nya di depan ya? "Jawab Sinta.


"Iya, kesana saja. Biasanya jam segini Mamah Papah ada di rumah. "


"Saya belum berani, soalnya Bang Firza belum mau ajak saya main kesana."


"Kenapa? "


"Nggak tahu, yang jelas belum. "


Lalu Yuli meletakkan dua gelas berisi minuman dingin berwarna merah, dan cemilan di dalam toples.


"Silahkan di minum. " Ucap Saphira.


"Terima kasih, saya tidak minum es hari ini karena sedang kena radang. "


"Oh, maaf. Saya ganti ya. "


"Nggak usah, biar saja. "

__ADS_1


"Terus terang, kamu mau apa ya kesini?"


"Saya hanya ingin kamu pergi jauh, sejauh mungkin dari kehidupan Bang Firza. "


"Saya sudah pergi, dan tidak bertetangga kost sama dia lagi. "


"Tapi kamu masih ada disini, kamu pergilah jauh dari kota ini. Mungkin hubungan kami akan lancar. "


"Memang nya saya orang ketiga ya, padahal saya nggak ngerasa gangguin loh. "


"Kamu nggak gangguin, tapi perasaan nya yang kamu gangguin. "


"Kamu nggak nyaman, kalau saya ini bekas mantan calon istri? Baru mantan calon istri loh bukan mantan istri. "


"Kamu tahu, gara - gara kamu. Saya terhalang ingin bertemu sama orang tua nya, terhalang untuk hubungan yang serius. Bahkan dia katakan kalau dia ingin jalani saja mengalir seperti air. "


"Ya terus, salah nya dimana si Firza. Dia bicara jujur, seharusnya kamu nikmati lah. Senyatanya cinta kamu bersambut, bukan nya kamu sangat cinta sama Firza. Dan ingat, kita kan ada hubungan. "


"Bukti nya, dia meminta saya untuk memilih hadiah ucapan selamat kamu wisuda kemarin."


"Oh.. berarti itu dari dia, dan kamu yang pilih."


"Iya, setelah pulang dari acara. Dia meminta saya untuk mencari hadiah buat kamu. Begitu sangat spesial nya kamu buat dia. "


"Terus, saya harus apakan hadiah dari nya? Apa saya titipkan saja sama kamu untuk di kembali kan sama dia? "


"Ya kalau itu terserah, saya malah senang kamu kembali kan saja. " Ucap Sinta.


"Terima kasih, dan kalau mau pulang silahkan itu pintu nya masih tetap di situ. " Ucap Saphira.


"Saya tahu, dan saya tidak amnesia. "


"Bagus lah, kalau mau mampir ke calon mertua jangan lupa ucapkan salam kepada kedua nya. Jangan sampai di kira tidak punya sopan santun."


Sinta langsung berdiri dan keluar dari rumah Saphira dengan terburu - buru. Dan saat itu berpapasan dengan Imelda kakak Firza.


"Siapa dia Dek? " Tanya Imelda.


"Calon istri nya Firza. " Jawab Saphira.


Sinta tersenyum lalu bersalaman dengan mencium punggung tangan Imelda.


"Oh ini ya, pacar nya Firza. " Ucap Imelda.


Sinta hanya tersenyum, dan Imelda memperhatikan Sinta dari ujung rambut hingga ujung kaki nya.


"Mampir ke rumah. " Ajak Imelda.


"Boleh Kak. " Ucap Sinta senang.


"Boleh lah, kalau calon istri kan harus kenal. Benar kan Saphira. " Ucap Imelda.


"Iya...!!! " Ucap Saphira memutar bola matanya dengan malas.


"Ayo mampir. "


Saphira hanya mencibir Sinta dan menutup pintu rumah nya dengan kasar.


*****


"Hah.. Sinta di rumah Kak? "


"Iya, tadi dia datang ke rumah Saphira. " Ucap Imelda dari sambungan telepon nya.


"Dia nggak kasih tahu saya Kak. "


"Makan nya, kamu kesini. Antar pulang calon istri kamu. "


" Calon istri apa sih, bukan calon istri."

__ADS_1


"Pokok nya terserah deh, kamu antar dia pulang. "


*****


"Kamu kenapa sih, nggak bilang dulu mau ke rumah? "


"Kalau bilang, Abang nggak mau. " Ucap Sinta.


"Firza, Papah suka sama Sinta. Dia nyambung kalau bicara, dan dewasa. " Ucap Pak Farhan.


"Sinta, kedua orang tua kamu tinggal dimana?' Tanya Ibu Soraya.


" Mereka sudah meninggal dunia, dan saya tinggal bersama orang tua angkat. " Jawab Sinta.


"Oh, dan kamu nggak punya saudara? "


"Saya anak tunggal. "


"Mah Pah, saya pamit ya antar Sinta pulang. " Ucap Firza.


"Iya hati - hati. " Ucap Ibu Soraya.


****


"Kamu kenapa datang ke rumah Saphira? "


"Hanya main. " Ucap Sinta.


"Kamu nggak bicara yang aneh - aneh kan? " Tanya Firza.


"Aneh - aneh yang bagaimana, tadi hanya ingin mampir saja. Apa nggak boleh? " Tanya Sinta kembali.


"Bukan begitu, Saphira pasti kaget tahu." Jawab Firza.


"Saya minta kamu jangan datangi Saphira lagi."Ucap Firza.


" Kenapa, bukan nya kami teman." Ucap Sinta.


"Teman dalam arti apa, teman dalam arti persaingan? Tenang saja, dia nggak akan pernah merusak atau jadi orang ketiga."


"Tapi bagaimana juga, hati Abang tidak pernah merasakan cinta saya sedikit pun. Yang ada hanya Saphira, dan Saphira. "


"Itu bagian masa lalu, tapi akan sulit melupakan dan sedikit demi sedikit."


******


"Bang, minta nomer nya Firza. "


"Hah.. kamu minta nomer nya, kamu nggak punya? " Ucap Alvin.


"Nggak."


"Kan sejak dulu satu group kamu nggak simpan? "


"Nggak Bang, sampai proses nikah kantor juga sama kita nggak bertukar nomer ponsel."


"Aneh, baru kali ini calon pasangan yang pernah gagal nomer ponsel saja kamu nggak punya. Terus kemarin cara komunikasi nya bagaimana? "


"Kan kost an kita samping - sampingan."


"Aneh, tahu kalian itu aneh bin aneh. " Ucap Alvin lalu memberikan nomer ponsel Firza melalui layar ponsel nya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2