
Saphira memeluk tubuh Alvin yang hari ini akan melangsungkan pernikahan dengan sahabat nya Soraya.
"Sudah Dek, jangan melow begini nanti luntur make up kamu. " Ucap Alvin mengusap punggung Saphira.
"Kedua Abang saya sudah menikah, Bang Alvin kini sudah nggak ada di samping saya lagi. " Ucap Saphira.
"Kata siapa, Abang akan selalu ada buat kamu. Seperti Bang Juni. "
"Tapi Abang kan yang paling dekat. "
"Dek, kita ini saudara. Bagaimana pun kita akan tetap dekat. "
"Kalian masih disini, yuk keluar tamu undangan sudah pada datang. Pak penghulu juga sudah datang. " Ucap Ibu Meri yang tampak terlihat cantik dengan balutan kebaya yang di kenakan nya.
"Bang, saya mengiring Abang sampai meja depan penghulu ya? "
"Iya Dek, kamu temani Abang. "
Saphira menggandeng dan selalu di samping Alvin hingga acara Adat selesai, tangan nya kembali menggandeng hingga sampai di depan penghulu.
Soraya tampak cantik, dengan pakaian pengantin nya. Tanpa di sadari Saphira, sorot mata teduh terus menatap ke arah Saphira. Tak henti - henti sepasang mata itu terus menatap hingga acara pun selesai.
SAH
Tampak wajah bahagia kedua mempelai, kini Alvin dan Soraya resmi menjadi sepasang suami istri.
Ucapan selamat tampak di berikan oleh para keluarga, sahabat dan tamu undangan.
"Selamat say, kini kamu jadi kakak ipar saya." Ucap Saphira pada Soraya.
"Iya, kamu harus panggil saya kakak. " Ucap Soraya.
"Iya Kak Soraya cantik. " Ucap Saphira tersenyum.
"Cepat menyusul. "
"Iya santai aja. "
Setelah itu mereka berphoto bersama, Para Sahabat dengan pakaian seragam berphoto bersama pengantin dengan berbagai pose.
Tanpa sengaja mata Saphira dan Firza saling menatap saat selesai berpose. Saphira langsung menghindari dan segera turun dari atas panggung pelaminan.
"Mamah, Papah. " Sapa Saphira menghampiri Ibu Sonia dan Pak Farhan.
"Eh.. sayang, apa kabar. Lama nggak lihat, setelah kamu fokus sama resort yang kamu kelola. " Ucap Ibu Sonia.
"Iya, Papah Mamah sampai kangen." Ucap Pak Farhan.
"Iya Pah Mah, soalnya sibuk. Dan suasana disini enak banget, jadi sampai lupa pulang karena saking betah nya . " Ucap Saphira.
"Kamu sekarang sama siapa? " Tanya Ibu Sonia.
__ADS_1
"Sama keluarga lah Mah, ih.. gimana sih Mamah. " Jawab Saphira.
"Maksud nya kamu sudah punya pendamping?" Tanya kembali Ibu Sonia.
"Oh itu, belum Mah. Nanti kalau ada juga tahu - tahu bakalan ada undangan. " Jawab Saphira.
"Firza juga masih sendiri. " Ucap Ibu Sonia.
"Maksudnya? "
"Firza putus sama Sinta. " Ucap Pak Farhan.
"Oh, gitu ya. " Ucap Saphira.
"Mamah Papah, masih berharap kalian bisa menikah. " Ucap Ibu Sonia.
"Benar Saphira, Papah juga begitu. " Ucap Pak Farhan.
"Ehm... Saphira kesana dulu ya Mah Pah. " Ucap Saphira.
*****
Acara malam di pesta pernikahan Alvin dan Soraya tampak meriah, sepasang pengantin baru itu pun bernyanyi bersama. Hingga suara sorak riuh terdengar.
"Terima kasih, untuk semuanya yang telah hadir di hari dan malam spesial bagi kami berdua. Dan terima kasih untuk Sahabat - sahabat kami berdua, kalian semua telah hadir sebagai kado spesial buat kami. " Ucap Alvin.
"Mungkin, dari salah satu kalian kasih hadiah buat kami berdua sebuah lagu saja. " Ucap Soraya.
Firza lalu bangun dan menuju ke atas panggung dan mengambil mix yang ada di tangan Soraya.
"Loh, jadi untuk siapa? " Tanya Alvin.
"Orang yang spesial, semoga dia dengar." Jawab Firza.
"Wow, siapa dia? " Tanya Alvin.
Firza mengambil gitar dan menatap ke arah semua tamu undangan lalu tatapan nya terarah pada satu titik.
Malam ini, rasa rindu terobati.
Rindu yang selalu di pendam.
Sayang, mungkin kita kemarin terasa sangat munafik. Tapi kemunafikan kita ini membuat kita seperti ini.
Ijin kan rasa rindu ini, saya ungkapkan pada sebuah lagu untuk kamu yang duduk disana.
Para Sahabat nya menatap ke arah Saphira, namun Saphira tetap diam dan terus menatap ke arah Firza yang sedang memetik gitar.
Cinta kita terlihat usai..
Namun kenyataan nya masih ada.
__ADS_1
Cinta yang tak pernah terlihat terbalas.
Tapi kita saling cinta.
Para tamu undangan ikut bernyanyi, tidak dengan Saphira yang masih terus menatap ke arah Firza.
" Jujur, sakit hati saya. Tapi rasa sakit hati itu terlalu kecil karena terlalu besar cinta saya pada kamu. Mencoba berlabuh pada cinta lain, semakin rasa ini kehilangan. Kenapa kita tidak coba saja untuk bersatu, kalau kita sama - sama cinta. Rasa kehilangan sangat terasa saat kita sekarang sendiri - sendiri." Ucap Firza setelah bernyanyi.
Tepuk tangan riuh untuk Firza saat usai bernyanyi dan turun dari atas panggung. Firza terlihat pergi dari acara dan berjalan sendiri meninggalkan tempat.
*****
"Semoga malam ini kalian bisa tidur nyenyak di resort milik saya. " Ucap Saphira.
"Pasti lah sangat nyenyak, apalagi kan ini gratis. " Ucap Hani.
"Nanti, spesial gratis ya buat honeymoon nya kita berdua. " Ucap Lila.
"Tenang saja, asal Ilham siap - siap pas pulang suruh ngepel ini resort. "
" Ih.. jahat. "
"Santai saja, pasti lah. Sebagai hadiah pernikahan kalian nanti bisa menginap gratis selama honeymoon. "
"Ah... makasih. " Ucap Lila memeluk Saphira.
"Wah.. gitu sih saya juga mau." Ucap Bayu sambil merangkul Tita.
"Ya Bangkrut dong kalau gitu. " Ucap Saphira sambil tertawa.
***
Seperti biasa, Saphira berjalan di bibir pantai. Sambil menikmati suara deburan ombak. Lalu meluruskan kedua kaki nya duduk seperti biasa di batang pohon.
Mata Saphira menatap seseorang yang sedang duduk di atas pasir putih tepi pantai. Tak terlihat asing bagi Saphira, lalu Saphira berjalan menghampiri Firza yang sedang duduk sendiri.
"Kenapa melamun? Nanti ada hantu bisa di culik. "
Firza menoleh ke arah sumber suara tersebut lalu duduk di samping nya. Firza melihat Saphira hanya mengenakan pakaian tanpa lengan dengan segera membuka kancing kemeja nya dan menutupi tubuh Saphira.
"Kenapa di pakaian kan sama saya?" Tanya Saphira mencoba melepaskan kemeja milik Firza namun di tahan oleh Firza.
"Tubuh ini tidak bisa memberikan kehangatan untuk kamu, biarlah pakaian saya yang memberikan kehangatan untuk kamu. Angin laut malam sangat dingin, saya tidak mau membiarkan seorang wanita kedinginan seperti ini. "
"Bagi saya sudah terbiasa, saya suka angin malam. "
"Saya hanya ingin kamu tidak sakit, karena saya tidak bisa menemani kamu. Saya juga bukan lah obat untuk kamu, tapi seandainya kamu mau jadikan saya obat mulai hari ini dan seterusnya saya pun mau."
"Apakah tadi itu untuk saya? " Tanya Saphira.
"Terus buat siapa lagi. " Jawab Firza.
__ADS_1
"Bukan nya kamu sudah melupakan saya. "
"Semakin saya ingin lupa, semakin saya dekat. Sangat terasa saat kamu tak terlihat lagi setiap hari. "