
"Tuh Pak Bu, baby nya aktif banget, sehat lagi." Ucap Dokter kandungan saat melakukan USG pada Saphira.
"Alhamdulillah, itu laki - laki atau perempuan Dok? " Tanya Saphira.
"Laki - laki, nih belalai nya. " Jawab Dokter.
"Jagoan Mah, Papah punya jagoan."
"Iya Pah, kita punya jagoan. " Ucap Saphira yang kini masuk usia kandungan tujuh bulan.
"Ibu nya lemah ya di kehamilan sekarang, tapi Alhamdulillah anak nya kuat."Ucap Dokter.
" Benar Dok, istri saya sangat jauh sekali perbedaan nya hamil anak pertama nggak terlalu lemas , hamil anak kedua seperti ini."Ucap Firza.
"Memang kadang ada perbedaan sih Pak, kebanyakan seperti itu. Tapi nggak masalah yang penting Ibu sama Anak nya sehat semua nya. "
"Amin." Ucap Firza.
"Kalau begitu, saya buat kan resep nya. "
*****
"Jadi jagoan nih, kita punya cucu laki - laki tiga Mam. " Ucap Pak Hilman bahagia.
"Iya Pap, Mami senang dengar nya." Ucap Ibu Meri.
"Tapi sayang, buat kelahiran nya nggak ada masalah kan? " Tanya Ibu Sonia.
"Alhamdulillah nggak ada masalah." Jawab Saphira.
"Syukur Alhamdulillah kalau begitu, jadi lega dengar nya. " Ucap Ibu Sonia.
Niko, Haikal dan Ajeng bermain bongkar pasang lego, hingga terdengar suara keributan mereka bertiga. Juni lalu mendekati ketiga nya.
"Kenapa pada berantem? " Tanya Juni.
"Papah, Abang Niko kan hanya melerai Ajeng sama Haikal berebut mainan." Jawab Niki.
Terlihat Ajeng dan Haikal masih berebut dan saling pukul, lalu Juni mengangkat Haikal untuk menjauh dari Ajeng.
__ADS_1
"Haikal nggak boleh balas pukul ya. "
"Kakal." Ucap Haikal.
"Ajeng nggak nakal."
Firza pun mendekati Ajeng dan menggendong tubuh Ajeng yang semakin bulat dan berat.
"Ayo Salaman sama Haikal." Ajak Firza pada Ajeng.
"Nggak mu. " Ucap Ajeng.
"Ajeng nggak boleh. "
"Kakal Papah. "
"Nggak nakal, ayo salaman." Ucap Firza mengarahkan tangan Ajeng pada Haikal dan Juni pun sama melakukan hal yang sama.
"Nah enak kan sama saudara akur." Ucap Juni.
"Kabar Soraya bagaimana? " Tanya Pak Farhan.
"Tapi Haikal tidak cari kedua orang tua nya ya, apa sudah tahu kalau menelepon? " Ucap Ibu Sonia.
"Tahu, itu Mamah Papah. Nggak mencari terus juga belum mengerti jeng, ini juga kami bawa dari nenek nya nggak menangis. Tidur sama kami berdua juga anak nya nggak rewel, kemarin aja di bawa sama keluarga Juni nggak rewel, benar nggak Imelda? " Ucap Ibu Meri.
"Benar, liburan tiga hari anteng loh Mam. Anak nya nggak rewel pintar banget." Ucap Imelda.
"Semoga saja, kedua orang tua nya pulang membawa kabar bahagia."Ucap Ibu Sonia.
"Amin... ya Allah. " Ucap Ibu Meri.
******
"Mamah... hiks... hiks... gendong..!!! " Teriak Ajeng sambil menangis.
Ajeng terus menarik - tarik ujung pakaian Saphira ingin meminta gendong pada Mamah nya.
"Mamah nggak kuat sayang, perut mamah sudah besar terus kamu itu gemuk." Ucap Saphira.
__ADS_1
"Huuuuaaaaaaa... Mamah.. gendong... hiks.. hiks... "
"Berat Nak, Pah.. papah...!!! " Panggil lantang Saphira.
"Ajeng kenapa? " Tanya Firza sambil mengangkat tubuh Ajeng namun Ajeng tidak mau.
"Kenapa sih Mah? " Tanya kembali Firza.
"Biasa drama minta gendong, Mamah sudah nggak kuat Pah ini perut saja sudah besar." Jawab Saphira.
"Ajeng jangan nakal begitu, ikut sama Papah saja yuk jalan - jalan ke laut? "'Ucap Firza.
Ajeng semakin keras menangis hingga guling di lantai, Saphira hanya memijat pelipis nya saat melihat kelakuan Ajeng.
" Ajeng jangan begitu. " Firza mengangkat paksa tubuh Ajeng lalu menggendong nya.
"Sini Pah suruh duduk pangku sama Mamah." Ucap Saphira.
Ajeng pun di dudukan pada kedua paha Mamah nya lalu Ajeng yang masih sesenggukan langsung memeluk tubuh Saphira.
"Ajeng jangan nakal dong, Mamah bukan nya nggak sayang Ajeng. Ini perut Mamah sudah besar ada adik bayi. "
Karena menangis terlalu lama dan capek Ajeng akhirnya tidur di pangkuan Ajeng.
"Biar Papah pindah kan ke kamar."
"Sudah biar saja dulu, tidur nya masih belum nyenyak. "
"Anak Papah satu ini, bikin gemas. "
"Ajeng gitu loh Pah, kalau nggak buat drama bukan Ajeng namanya. " Ucap Saphira dengan menirukan suara khas anak kecil.
.
.
.
.
__ADS_1
.