
Saphira berjalan di kantor pusat bersama Firza, kehamilan kedua yang sangat lemah membuat nya gampang lemas.
Firza setia menggandeng tangan Saphira yang sedang memegang perut nya yang hamil usia tiga bulan.
"Apa kita ke kantin kantor dulu atau ke ruangan Papi? " Tanya Firza.
"Seperti nya di ruangan Papi saja Bang." Jawab Saphira.
Saphira dan Firza menuju ke ruangan Pak Hilman, dimana sekertaris Pak Hilman menyambut anak dan menantu nya.
"Mira, Papi sudah masuk ke ruangan nya?" Tanya Saphira.
"Bapak belum masuk, beliau sedang menemui klien." Ucap Mira.
"Kami mau pakai ruangan Papi. "Ucap Saphira.
" Siap Mba. " Ucap Mira.
Saphira langsung masuk kedalam kamar pribadi Papi nya dan merebahkan diri. Sedangkan Firza memijat kedua kaki istri nya.
"Abang ngerasa bersalah, kehamilan sekarang kamu tersiksa begini." Ucap Firza.
"Waktu hamil Ajeng juga begini Bang."
"Tapi kan nggak seperti ini banget, jalan aja sempoyongan begini."
"Nggak apa - apa Bang, saya menikmati nya kok yang penting kamu sehat - sehat ya nak yang kuat. "
Firza mengusap lalu mencium perut Saphira sedangkan mata Saphira langsung terpejam karena rasa lelah dan kantuk yang berat.
Ceklek
"Loh, kalian di kamar. " Ucap Pak Hilman sambil menatap Saphira yang sedang tertidur.
"Saphira tidur Pap. " Ucap pelan Firza.
"Oh, kirain nggak tidur. "
Firza dan Pak Hilman duduk di sofa ruang kerja nya sambil sesekali memeriksa laporan.
"Pap, kalau Saphira untuk sementara di bebas tugas kan saja gimana?"
"Bebas tugas bagaimana? "
"Jangan mengurus Resort dulu, biar fokus saja sama kehamilan nya. " Pinta Firza.
__ADS_1
"Oh itu, ya sudah nggak apa - apa. Papi lihat juga Saphira yang sekarang banyak lemas nya."
"Iya Pap. "
"Kalau begitu, bagaimana kalau kamu sementara ganti nya? " Ucap Pak Hilman.
"Aduh jangan deh Pap, saya sibuk nggak ada waktu. "
"Hanya sekedar memeriksa laporan bulanan saja dan tidak harus setiap hari ke kantor."
"Nggak Pap, saya nggak mau. Ini perusahaan milik Papi dan hak Saphira."
"Tapi kamu suaminya loh, nggak masalah. "
"Nggak pah, jangan makasih."
"Kamu harus mau. "
*****
"Bagaimana Bang? " Tanya Saphira.
"Yank, ini berat tahu. Ini sebuah kepercayaan." Jawab Firza.
"Resort sama kehamilan jauh berbeda Yank."
"Iya berbeda, tapi tanggung jawab nya hampir sama loh. "
"Beda Yank, jelas kamu hamil Abang tanggung jawab karena kamu itu istri Abang."
"Sama saja, tanggung Jawab nya. Hanya beda memimpin apa nya yang di pimpin."
"Bagaimana? " Tanya Pak Hilman.
"Baiklah Pap, saya akan sementara menggantikan Saphira. " Jawab Firza.
"Nah, ini baru namanya suami idaman. "
******
Saphira menyuapi Ajeng, sesekali. Ajeng kadang menepis sendok yang ditangan Mamah nya.
"Mam, dulu baru makan biskuit. " Ucap Saphira namun Ajeng terus meminta biskuit nya hingga menangis.
"Kenapa anak Papah nangis? " Tanya Firza saat baru pulang dinas.
__ADS_1
Ajeng semakin melow dan minta gendong sama Papah nya, dan Firza langsung menenangkan putri nya.
"Dia minta makan biskuit Pah, ini bubur nya masih banyak." Ucap Saphira.
"Jangan begitu sayang, makan yuk suapin sama Papah. " Firza pun menyuapi Ajeng, hingga Ajeng terus membuka mulut nya.
"Hem.. bilang saja mau sama Papah, manja nih anak satu ini. Bikin gemes. " Ucap Saphira.
"Iya dong Mah, Ajeng kan anak kesayangan Papah Firza. " Ucap Firza dengan menirukan suara anak kecil.
"Hore... habis Mamah. " Ucap Firza.
"Minum dulu. " Ucap Firza sambil memberikan minum pada Ajeng.
"Pah, menurut Papah anak kedua laki - laki atau perempuan? " Tanya Saphira.
"Apa saja Mah, yang penting sehat semua nya."
"Amin...!!"
*****
"Mah, ini laporan banyak banget? " Ucap Firza menatap beberapa berkas menumpuk di depan meja kerja nya.
"Papah pelajari dulu tentang Hilman Group dan Resort yang Mamah kelola." Ucap Saphira.
"Tapi Mah, ini banyak loh? "
"Makan nya pelajari dulu, karena Papah tidak hanya punya satu atau dua hotel saja."
Firza memijat pelipis nya dengan menatap ke arah tumpukkan berkas - berkas nya.
"Ya sudah, Papah pelajari dulu. "
"Semangat....!!! "
.
.
.
.
.
__ADS_1