Pak Polisi I Hate You But I Love You

Pak Polisi I Hate You But I Love You
Ikhtiar Dan Kesenangan


__ADS_3

"Maaf baru bisa jenguk. " Ucap Saphira pada Soraya.


"Nggak apa - apa, saya juga mengerti kita kan sama - sama habis melahirkan." Ucap Soraya.


"Jadi kamu besok akan berangkat? "


"Iya, saya harus sembuh Saphira. Haikal butuh saya, dan Bang Alvin juga butuh saya."


"Semoga kamu pulang seperti dulu lagi."


"Amin.... doa kan saya. "


"Pasti, pasti doa saya untuk kamu tidak akan pernah putus."


"Terima kasih. "


Saphira memeluk tubuh Soraya yang semakin kurus, ada setetes air mata dari kedua nya.


"Saya tidak ingin ini sebagai pertemuan terakhir saya ingin selalu bersama kalian."


"Kamu jangan bicara begitu Soraya, kamu pasti sembuh."


Mereka pun saling melepaskan pelukan nya, dan saling mengusap air mata.


"Kita sahabatan sudah sangat lama, dari kita kecil hingga kita memiliki keluarga. Apalagi sekarang kamu menjadi Kakak ipar saya." Ucap Saphira.


"Terima kasih, kamu sudah menjadi sahabat yang terbaik. "


Sedangkan Alvin terus menatap dari jauh Soraya, Firza pun mengusap punggung kakak ipar nya.


"Soraya pasti sembuh." Ucap Firza.


"Amin, saya pun yakin dia kembali kesini dalam ke adaan sehat seperti dulu." Ucap Alvin.


"Haikal butuh Mamah nya, kamu tahu setiap tangisan Haikal hati saya perih. Bagaimana dia menjalani semua nya, saat usia nya baru beberapa minggu. Disini Haikal harus ekstra perhatian juga, Mamah nya pun sama." Ucap Alvin.


"Jangan putus doa dan usaha." Ucap Firza.


*****


"Ajeng, ini kamar Papah sayang. Mamah kamu tidur di sini baru hitungan jari."


Ajeng berbaring di atas tempat tidur milik Firza di rumah nya, kedua kaki Ajeng yang tak henti di gerakan dengan memainkan jemarinya.


"Mah, nanti malam kita menginap disini ya." Ajak Firza .


"Iya Pah. " Ucap Saphira sambil memainkan ponsel nya.


"Bang, coba lihat ini baju buat Ajeng lucu - lucu. Pengiriman dari luar negeri." Tunjuk Saphira lewat ponsel nya pada Firza.


"Mamah pesan lagi? "


"Iya, Mamah beli sepuluh stel. "


"Sudah Mah, jangan beli pakaian buat Ajeng terus. Sayang nanti banyak nggak ke pakai. Anak segini cepat pertumbuhan nya. "


"Biar Pah, namanya juga anak cewek banyak pakaian nya. "


"Mau cewek mau cowok juga sama, sayang uang nya. "


"Pakai uang Mamah bukan Papah kok. "


"Mulai, ngajak ribut. "

__ADS_1


"Siapa sih ngajak ribut, Abang sensitif banget."


"Suami ajarkan kebaikan malah di sangka sesat. Baru lusa kemarin sepuluh paket isi nya sama sekarang pesan lagi, kalau mau usaha baju tinggal bilang sama Abang nanti Abang modal kan."


"Ini buat Ajeng Bang, bukan untuk di jual."


"Ya.. ya.. terserah. "


*****


"Niko, kamu jangan gemas gitu sama Ajeng."


Firza merasa kesal pada ulah ponakan nya karena kedua pipi Ajeng selalu di cubit hingga Ajeng terkadang menangis karena sakit.


"Pipi nya gembul, di tarik gini kayak squishy." Ucap Niko terus menarik kedua pipi Ajeng.


Firza langsung mengangkat tubuh Ajeng untuk di jauhkan dari Niko.


"Kak Imelda, ini anaknya tangan terampil banget. "


"Kenapa sih Bang? " Tanya Saphira sambil membawa pampers ganti untuk Ajeng.


"Nih, ponakan satu. Nakal nya minta ampun, pipi Ajeng di kira squishy. " Jawab Firza.


"Jangan nakal Niko, kasihan Ade nya. " Ucap Saphira.


"Om sama Tante pelit, itu juga adik nya Niko."


"Iya adiknya Niko tapi di sayang dong jangan di sakiti. "Ucap Saphira.


" Niko nggak menyakiti Ajeng Tante , Niko hanya mencubit karena gemas. "


"Sama saja Niko. " Ucap Saphira sambil mengganti pampers Ajeng yang sudah penuh.


"Niko adukan sama Papah, biar Om sama Tante di tembak. " Ucap Niko langsung berlari ke arah Papah nya yang sedang duduk bersama Imelda.


"Kalian apakan anak saya? " Tanya Juni.


"Abang tanya begitu, tuh tanya balik sama anak Abang apakan anak saya. " Jawab Firza.


"Mereka nakal Pah, masa Niko sayang Ajeng nggak boleh. " Ucap Niko.


"Eh... kecil - kecil sudah gaya nya sok main adu domba. " Ucap Firza dan Saphira hanya diam saja tidak mau menggubris masalah Niko.


"Abang anak nya tuh cubit Ajeng, pipi nya kan sakit masa pipi Ajeng di kira squishy." Ucap Firza.


"Memang benar kan Pah, pipi nya di tarik - tarik kenyal seperti squishy."


"Niko jangan nakal dong Nak, kasihan ade nya. "


"Itu kan Ade nya Niko Pah."


"Disayang jangan di sakiti, kalau di cubit bukan di sayang tapi Niko menyakiti ade Ajeng. "


"Iya Papah. "


"Sana minta maaf sama ade Ajeng. " Ucap Juni.


Niko mengusap kedua pipi Ajeng, lalu mencium kening nya dan mencium pipi kanan kirinya.


"Maaf kan Abang Ajeng, jangan sedih ya." Ucap Niko.


"Nah, adem kan lihat nya begini. Awas kalau ulangi lagi, Om sunat kamu."

__ADS_1


*****


"Yank, ayolah. "


"Abang, saya masih keluar sedikit. Nanti lah."


"Banyak cara Yank. "


"Abang mau lewat mulut? "


"Iya, sensasi berbeda boleh kan? "


"Tapi nggak asik Pah, nggak puas."


"Itu sih nanti kalau Mamah sudah suci. "


"Ya tapi nggak puas. "


"Ayolah, ini Abang puasa loh. Hanya minta batal lewat jalur berbeda. "


Saphira melirik ke arah Ajeng yang sudah tertidur pulas, dengan perlahan Saphira membuka kancing piyama nya.


Firza yang tak tahan langsung melahap kedua nya, hingga Saphira me******mas rambut Firza.


Permainan Saphira membuat Firza merem melek, hingga mencapai puncak melepaskan semua sari cinta nya.


"Alhamdulillah, lega Yank. "


Saphira mengusap mulut nya sedangkan Firza mengancingkan piyama istri nya kembali.


Tepat Ajeng menangis minta susu , Saphira segera menghampiri Ajeng namun sebelum nya Saphira membersihkan dulu tubuh nya.


Firza pun memberikan dot karet pada Ajeng sambil menunggu Mamah nya di kamar mandi.


"Nanti sayang, mamah bersih - bersih dulu ya." Ucap Firza.


"Yank... sudah belum? "


Saphira segera menghampiri Firza dan mengambil alih Ajeng untuk di susui nya.


******


"Kalian cepat banget sudah mau pulang. " Ucap Ibu Sonia.


"Iya, padahal oma - oma nya masih kangen." Ucap Ibu Meri.


"Gampang Mah, Mam nanti kami kesini lagi. Saya kan harus Dinas dan Saphira harus segera tanda tangan dokumen." Ucap Firza.


"Papah nanti sama Mami, Mamah dan Papi akan kesana. " Ucap Pak Farhan.


"Kamu tunggu Pah. " Ucap Firza.


"Saphira, kamu fokus saja sama Ajeng biar pekerjaan di handle sama Wika. " Ucap Pak Hilman.


"Tapi tetap saja Pap tanda tangan harus Saphira." Ucap Saphira.


"Ya kamu atur saja, walau orang lain yang kerja , Wika selalu dalam pengawasan Papi juga. "


"Iya Pap. "


"Kalau begitu kami pamit. "


"Hati - hati di jalan. " Ucap Ibu Sonia.

__ADS_1


Firza dan Saphira serta Ajeng memasuki mobil nya, mereka semua melambaikan tangan hingga mobil tak terlihat.


"Kita akan rindu Ajeng , rindu Soraya juga." Ucap Ibu Meri.


__ADS_2