
"Cepat Pap. " Ucap Ibu Meri berjalan di Koridor rumah sakit dengan wajah yang sangat cemas.
"Iya Mam, tenang ya. " Ucap Pak Hilman.
Firza setengah berlari menuju ruangan dimana Saphira dirawat, bersama Juni , Alvin dan di susul oleh Soraya dan Imelda setengah berlari juga.
Firza tertegun saat melihat Saphira tergeletak lemas dengan selang infus yang tertancap.
"Ya Allah Saphira..!!! " Teriak Ibu Meri saat masuk langsung memeluk tubuh putri nya.
Saphira membuka mata nya dan sedikit memercing kesakitan. Tangis Ibu Meri pecah hingga di tenangkan oleh Pak Hilman.
"Mami, Saphira nggak apa - apa. " Ucap pelan Saphira.
"Sayang, Mami kaget saat mendengar kabar kalau kamu masuk rumah sakit, dan kamu menjadi korban pencurian dan kamu di tusuk." Ucap Ibu Meri.
"Nggak apa - apa Mam, ini sudah di jahit tapi jangan peluk Saphira terus ya sakit. "
Ibu Meri melepaskan pelukan nya, dan merasakan sangat lega kalau Putri nya telah sadar dan dalam keadaan masih terselamatkan.
"Bagaimana cerita nya kamu bisa kerampokan? " Tanya Pak Hilman.
"Abang akan melihat perampok itu, tadi Abang dapat informasi bahwa perampok nya sudah tertangkap. " Ucap Juni.
"Tadi saya habis jalan - jalan saja, di tengah jalan ada satu pengendara motor berboncengan menodong kan senjata, meminta paksa semua barang milik Saphira. Kami terjadi saling tarik menarik dan satu orang yang duduk di atas motor langsung menusuk perut Saphira hingga tiga kali, untung langsung dapat pertolongan namun mereka berhasil kabur. " Ucap Saphira.
"Mereka harus di hukum setimpal, hampir menghilang kan nyawa orang. " Ucap Alvin.
"Benar Bang Juni, kita tuntut mereka. " Ucap Soraya.
"Iya Abang akan ajukan kasus ini ke meja hijau. " Ucap Juni.
"Sekarang luka nya masih basah, kamu jangan banyak bergerak dulu. " Ucap Imelda.
"Iya kak. " Ucap Saphira langsung melirik ke arah Firza yang berdiri di belakang Juni.
Imelda yang tahu itu langsung menyuruh Juni untuk bergeser, dan kini Firza berdiri lurus ke arah Saphira.
"Abang akan ke kantor Polisi. " Ucap Juni ajak semua nya sengaja untuk memberikan mereka berdua kesempatan berbicara.
"Papi akan ke kantor Polisi bersama Alvin dan Juni. " Ucap Pak Hilman.
"Kalau ada apa - apa, Mami saja Kak Imelda dan Kak Soraya ada di depan. " Ucap Ibu Meri.
Firza berjalan mendekat dan menatap ke arah Saphira namun istri nya itu memalingkan wajah nya.
"Abang khawatir sekali saat mendengar kamu masuk rumah sakit. Di pesawat selalu kepikiran kamu. " Ucap Firza.
"Maaf, disaat kejadian Abang nggak bisa melindungi kamu. " Ucap Firza kembali.
"Buat apa perhatian, kalau kita ini akan berpisah. " Ucap Saphira.
"Bagaimana juga, Abang masih punya rasa walau hubungan kita sedang tidak baik. Abang juga tidak bisa langsung membuang rasa cinta begitu saja. "
"Seandainya saya mati saat itu, pasti Abang langsung melupakan saya kan, ya kan. "
__ADS_1
"Apalagi itu, pasti saat ini Abang akan menangis. "
"Sudahlah Bang, saya sudah nggak ingin pernikahan kita berlanjut. Apa salah nya kalau hari ini Abang talak saya, sudah capek Bang saya menjadi istri Abang. "
Firza hanya diam, sedang kan Saphira kini memunggungi nya.
Ceklek
"Mba Saphira, saya periksa dulu. " Ucap Dokter wanita yang akan memeriksa Saphira.
"Bagaimana keadaan nya? Apa masih ada keluhan paska operasi? " Tanya Dokter.
"Hanya masih nyeri. " Jawab Saphira.
"Wajar mba, nanti anti nyeri nya masih lanjut ya. Nyeri juga tidak terlalu kan? "
"Iya Dok. "
"Mba, ini dosis nya berbeda ya, karena mba sedang hamil. "
"Apa Dok, hamil? " Tanya Firza kaget.
"Benar Pak, Mba Saphira sedang hamil baru berusia satu minggu. " Jawab Dokter sambil tersenyum.
Firza tersenyum bahagia saat mendengar kabar Saphira hamil, dan Dokter pun memberikan photo hasil USG Saphira.
"Ini Pak, alhamdulillah janin nya masih selamat. Dan sehat, tolong di jaga. "
"Iya Dok, terima kasih. Saya akan ekstra jaga istri saya. "
Firza langsung mengusap perut dan mencium perut Saphira dan beralih ke kening nya.
"Kamu tahu, artinya apa ini? "
Saphira hanya diam tak membalas senyum Firza yang tampak bahagia, dan bahkan membiarkan Firza terus menciumi perut nya.
"Anak Papah yang sehat - sehat sampai lahir."
*****
"Saphira hamil. " Ucap Firza.
"Alhamdulillah." Ucap serempak.
"Kita punya cucu lagi Mam. " Ucap Pak Hilman bahagia.
"Wah.. kalian tokcer ya, kita yang menikah duluan saja belum di kasih. " Ucap Alvin.
"Selamat ya. " Ucap Soraya.
"Niko pasti senang, akan punya saudara. " Ucap Juni.
"Kalian harus tahu, Allah itu memberikan anak agar kalian tidak jadi bercerai. " Ucap Imelda.
"Benar, apa kalian tetap akan berpisah. Anak ini sangat butuh kasih sayang orang tua. " Ucap Pak Hilman.
__ADS_1
"Saya tidak akan menceraikan Saphira, kata talak pun belum pernah saya ucapkan. Karena hati saya tidak pernah bersungguh - sungguh untuk meninggal kan wanita yang pernah singgah di hati. " Ucap Firza.
Saphira hanya diam, dan lebih memilih memejamkan matanya.
******
"Kami pulang dulu , kamu nggak apa - apa disini berdua? " Ucap Pak Hilman.
"Nggak apa - apa Pap, saya akan menemani Saphira sampai benar - benar pulih. "
"Ambil hati kembali Saphira, jangan sampai kalian cerai. Ingat anak yang sedang di kandung Saphira. " Ucap Juni.
"Iya Bang, saya akan memperbaiki hubungan ini kembali. " Ucap Firza.
"Jaga Saphira. " Ucap Imelda sambil menepuk bahu Firza.
"Pasti Mba. "
***
"Yank, makan dulu ya. Dari tadi kamu belum makan. " Ucap Firza mengambil semangkuk bubur.
"Makan dulu, Abang suapin. " Ucap Firza mengarahkan sendok nya namun Saphira memalingkan wajah nya.
"Makan dulu, kamu nggak kasihan sama calon anak kita di dalam perut. Dia pasti lapar."
Saphira mengambil mangkuk dan sendok dari tangan Firza lalu memakan bubur ayam nya dengan sangat lahap.
Firza tersenyum saat melihat Saphira sudah sedikit membaik , tangan Firza pun mengusap perut Saphira.
"Jangan rewel ya nak, kasihan Mamah. "
Saphira memutar bola matanya yang sedikit merasakan jengah .
"Bisa nggak sih, nggak lebay begini. " Ucap Saphira menaruh kasar mangkuk nya di atas nakas samping nya.
"Saya kan Papah nya, kamu istri saya Saphira. Lebay bagaimana sih, suami kasih perhatian sama kamu. " Ucap Firza berusaha menahan emosi.
"Saya itu makin lama makin benci tahu sama Ababg.Jangan anak ini sebagai alasan kalau kita nggak akan bercerai, kata cerai itu akan tetap ada. Setelah anak ini lahir kita cerai, dan anak ini akan saya asuh sendiri. "
"Kamu jangan egois, bagaimana juga dia akan selalu membutuhkan kasih sayang kita. "
"Kasih sayang, saya akan berikan lebih besar kasih sayang. "
"Anak akan tetap merasakan hampa, walau kamu berikan satu ton emas. "
.
.
.
.
.
__ADS_1