
"Loh Mamah Papah dari tadi? " Tanya Saphira saat baru bangun tidur.
"Mamah sama Papah, nggak bangunin kamu kata Firza kamu nggak tidur semalam karena mual, jadi Mamah sama Papah biarkan kamu istirahat. " Ucap Ibu Sonia.
"Sekarang kamu gimana, masih mual? " Tanya Pak Farhan.
"Sudah nggak terlalu waktu malam, mual jiga sedikit. " Ucap Saphira.
"Syukur deh, biasa itu. Waktu dulu Mamah Sonia saat mengandung Firza begitu. Sampai Papah khawatir karena nggak mau makan, minum sampai di infus. " Ucap Pak Farhan.
"Benar Mah? " Tanya Saphira.
"Benar sayang, beda sama waktu mengandung Kak Imelda dia mau anteng nggak rewel makan apa saja masuk. " Jawab Ibu Sonia.
"Berarti pasti anak dalam kandungan saya ini watak nya pasti seperti Abang Firza. " Ucap Saphira.
"Buah itu jatuh tak jauh dari pohon nya. " Ucap Pak Farhan.
"Aaaiiisssh.. mirip Abang. "
Ibu Sonia dengan Pak Farhan hanya tersenyum melihat tingkah menantunya.
*****
Haaaaattttciiiimmm...
Haaaaattttciiiimmm
Firza bersih berkali - kali saat akan pergi ke rumah sakit, tubuh yang sudah merasakan sedikit demam dan pusing dirinya kuatkan untuk berganti berjaga dengan kedua orang tua nya.
"Aduh ini kena flu. " Ucap Firza sambil mengucek hidung nya.
Dengan langkah di buat kuat, Firza pun meninggalkan kamar hotel.
*****
"Abang kesini lagi jam berapa? " Tanya Saphira karena sudah melewati waktu Ashar Firza belum juga datang.
"Sore an bilang nya sih. " Jawab Ibu Sonia.
"Pasti Abang istirahat puas. " Ucap Saphira.
"Mumpung ada Mamah Papah disini." Ucap Ibu Sonia.
"Assalamu'alaikum." Sapa Firza saat masuk.
"Walaikumsalam." Balas Pak Farhan, Ibu Sonia dan Saphira.
"Istri kamu nanyain kamu terus kapan datang." Ucap Pak Farhan.
"Oh iya, ada yang kangen nih. " Ucap Firza.
"Yang kangen itu anak nya bukan Mamah nya." Ucap Saphira.
"Mamah nya yang kangen juga nggak apa - apa. " Ucap Firza mendekat.
"Firza sudah datang, Papah Mamah kembali ke Hotel. Nanti besok kemari lagi sekalian pamitan. " Ucap Ibu Sonia.
"Makasih Mah Pah, sudah jagain. "
"Iya sayang, Mamah Papah pamit ke hotel ya." Ucap Ibu Sonia.
"Hati - hati Mah Pah. " Ucap Saphira.
Firza tersenyum ke arah Saphira, sedangkan Saphira mengerucutkan bibir nya hingga membuat Firza sangat gemas melihat nya.
"Kenapa? "
"Abang kenapa nggak bilang sama Saphira kalau mau pulang dulu. "
__ADS_1
"Maaf sayang, Abang nggak tega bangunin kamu. Kan semalam kamu mual terus. "
"Mau di usap. "
Firza tersenyum kembali dengan mengarahkan tangan nya ke perut Saphira lalu tidak lupa mencium perut nya.
"Anak Papah kangen ya . "
Saphira tersenyum saat Firza terus mengusap dan sesekali mencium perut nya. Sedikit demi sedikit tangan Saphira mengangkat ke atas kepala Firza lalu mengusap rambut suaminya.
Firza menoleh saat merasakan gerakan tangan di kepala nya, Firza pun tersenyum lalu memeluk tubuh Saphira dengan perut nya sebagai bantalan.
"Abang kangen Yank, kangen di belai begini." Ucap Firza sambil memejamkan matanya.
"Tolong Yank, jangan minta cerai lagi. Ada anak diantara kita, dia butuh kasih sayang kita. " Ucap Firza sehingga sedikit lolos air mata nya.
Saphira menghapus air matanya, dan merasakan tubuh Firza demam. Saphira mengecek kembali kondisi tubuh Firza dan merasakan demam.
"Abang sakit? " Tanya Saphira.
"Abang hanya kena flu. " Jawab Firza.
"Abang capek ya, karena sering begadang temani Saphira. "
"Nggak apa - apa sayang, ini hanya flu. "
"Tapi Abang demam."
"Nggak apa - apa. " Firza mengangkat wajah nya terlihat memerah kedua bola matanya.
"Abang kenapa nangis? " Ucap Saphira mengusap kembali air mata nya.
"Abang mohon, jangan minta cerai. "
Saphira hanya diam dan terus menatap kedua bola mata Saphira.
"Abang mohon, Abang ingin selalu dekat sama kamu dan calon anak kita. Abang ingin di kala sedang tidak sehat begini ada istri yang memanjakan Abang. Hati Abang tidak akan pernah berubah walau kamu ingin meminta cerai. Apa yang Abang ucap saat kamu bilang, Abang tidak pernah anggap. Mungkin Abang seperti ini karena terlalu cinta, cemburu berlebihan karena terlalu sayang. "
Firza tersenyum dan merubah posisi nya menjadi duduk.
"Abang kangen sayang. " Ucap Firza sambil membelai kedua kedua pipi Saphira.
"Saya juga kangen sama Abang. "
Firza mengecup bibir Saphira, dan menarik tubuh nya ke dalam pelukan.
"Kita sekarang baikan sayang, kita mulai dari awal lagi ya. "
"Iya Bang. "
******
"Sudah boleh pulang nih Pak, soal nya jahitan nya juga sudah bagus dan kondisi Ibu juga sudah membaik. " Ucap Dokter.
"Alhamdulillah, sudah bisa pulang. " Ucap Firza.
"Kita bisa pulang sama - sama Saphira. " Ucap Ibu Sonia.
"Iya Bu, sudah ingin tidur di kasur yang empuk." Ucap Saphira.
"Pasti ya bu, tidur di rumah sakit nggak enak. Saya sebagai Dokter juga merasakan." Ucap Dokter.
"Jelas lah Dok. " Ucap Saphira.
"Kalau begitu saya tulis resep obat nya dulu nanti ambil di Apotek sambil mengurus Administrasi nya. "
"Siap Dok. " Ucap Firza.
"Abang tinggal sebentar ya urus semuanya, Mah Pah maaf Firza mint tolong untuk bantu Saphira. "
__ADS_1
"Baik Nak, kamu urus administrasi nya saja, biar Saphira jadi urusan Mamah Papah." Ucap Pak Farhan.
*****
Di dalam pesawat, Saphira terus bersandar dipundak Firza menahan mual. Minyak kayu putih jadi andalan Saphira untuk tetap bertahan agar tidak mual.
"Kalau nggak nyaman, Abang antar kamu ke toilet. "
"Nggak usah Bang, begini saja. Saya masih lemas. "
"Oh yaudah, kamu coba untuk tidur ya. "
" Nggak bisa Bang, mual nanti tambah pusing."
"Perjalanan nya masih dua jam lagi."
"Nggak bisa Bang buat tidur, pusing. "
"Terus? "
"Begini saja. "
"Yasudah, biar sambil Abang usap perut nya."
*****
"Kalian naik mobil sama Mamah Papah saja." Ucap Pak Farhan.
"Saya kan bawa mobil Pah, parkir di bandara. " Ucap Firza.
"Barang kali nggak bawa mobil nanti kami antar. "
"Nggak usah Pah, makasih. "
"Bang, ayok cepat nggak kuat nih. " Ucap Saphira.
"Mah Pah maaf ya kami duluan. " Ucap Firza langsung menggandeng Saphira.
"Mah Pah Maaf ya saya mual banget. " Ucap Saphira.
"Iya sayang, istirahat ya. " Ucap Ibu Sonia.
******
"Abang minta kamu nggak pulang dulu, kamu tinggal sama Abang. " Ucap tegas Firza.
"Apa kata Abang saja, saya sudah nggak tahan Bang ingin muntah. "
"Kita turun di pinggir jalan ya. "
Mobil yang di kendarai Firza pun berhenti di tepi jalan, Saphira langsung membuka pintu mobil dan memuntahkan semua isi perut nya yang sejak tadi di tahan.
"Sudah lega? " Ucap Firza sambil memijat tengkuk leher Saphira.
"Lemas banget Bang, benar ini anak kayak Abang. Waktu Mamah hamil Abang katanya begini. "
"Seperti Abang kan Abang ini Papah nya Yank, masa nggak mirip. "
"Tapi jangan mirip menyiksa begini."
"Ini sih bukan menyiksa Yank, sudah kodrat nya. "
"Pokok nya Saphira nggak mau anak ini mirip. Abang. "
.
.
.
__ADS_1
.
.