
Saphira merasakan perut yang sangat sakit, dirinya pun langsung membangun kan Firza yang sedang tertidur pulas.
"Pah, bangun Pah. " Ucap Saphira sambil mengguncang tubuh Firza.
"Pah."
"Hem.. ya Mah ada apa? " Ucap Firza dengan suara serak khas orang bangun tidur namun mata nya masih terpejam.
"Pah, perut nya sakit. "
"Hah... apa Mah, sakit ? " Tanya Firza langsung sigap bangun.
"Melilit banget seperti mau lahiran. " Jawab Saphira.
"Yang benar saja Mah, kandungan Mamah kan baru tujuh bulan loh. "
"Tapi ini benar mumet banget Pah, udah nggak kuat. "
"Kita ke rumah sakit sekarang. "
Firza pun menyiapkan semua kebutuhan untuk di bawa ke rumah sakit, dan membangun kedua asisten rumah tangga nya.
"Duh.. Neng yang lancar - lancar, semoga sehat dan selamat semua."
"Terima kasih bi, tolong jaga Ajeng. " Ucap Saphira.
"Iya Neng, Mas hati - hati di jalan jangan ngebut. "
"Iya bi, kalau Ajeng bangun bilang saja dede bayi mau lahir. "Ucap Firza.
****
" Aduh Pah, cepat ini mules banget. " Ucap Saphira sambil memegang kencang paha Firza.
"Sabar, bentar lagi. "
"Mamah udah nggak kuat Pah. "
"Iya sabar. "
****
Firza diam berdiri di depan pintu IGD, lalu Dokter keluar menemui Firza.
"Bagaimana Dok? "
"Pak, Ibu harus melahirkan sekarang. Walau belum waktu nya si anak sudah ingin keluar awal. "
"Nggak apa - apa Dok, usahakan yang terbaik untuk anak dan istri saya. "
"Siap Pak,kalau begitu kami siapkan untuk persalinan ibu secara cesar. "
"Baik Dok. "
Firza duduk sendiri tanpa di temani siapa pun, sedangkan kedua orang tua dan Mertua nya akan sampai esok hari.
Hati Firza tak tentu arah, dan pikiran nya pun sedikit kacau.
__ADS_1
"Ya Allah lancarkan proses persalinan mereka. " Ucap Firza sambil duduk di depan ruang operasi.
Hingga setelah tiga puluh menit menunggu, suster membawa bayi yang di lahir kan Saphira dalam box bayi.
"Ini anak saya sus? " Tanya Firza sangat terharu.
"Benar pak, tapi harus di masukan dalam inkubator karena usia baru tujuh bulan lahir. "
"Tapi anak saya sehat kan? "
"Alhamdulillah sehat Pak, mari Pak ke ruangan untuk di Adzan kan dulu. "
"Baik Sus. "
******
"Ajeng punya adik sayang. " Ucap Saphira lemah sambil mengusap Ajeng yang sejak tadi hanya diam dan cemberut.
"Muka nya kenapa Pah? " Tanya Saphira.
"Nggak tahu, dari datang begitu. " Jawab Firza gemas dengan kelakuan putri gembul nya.
"Tadi Mamah, Mami, Papi sama Papah sudah melihat baby boy kalian. Tampan seperti Papah nya. " Ucap Ibu Sonia.
"Mam, jangan bilang mirip saya nanti ada yang marah. " Ucap Firza sedangkan Saphira hanya tersenyum sambil menahan sakit.
"Sekarang mirip Papah nya juga nggak apa - apa, biar adil. " Ucap Saphira.
"Benar nih Yank, nggak apa - apa kalau persis seperti Papah nya. "
"Nggak apa - apa, asal jangan sifat nya saja turun. "
"Nyebelin."
"Papah nggak nyebelin, mamah yang nyebelin." Bentak Ajeng kemudian tiba - tiba semua nya terdiam saat mendengar suara Ajeng marah.
"Kamu kenapa sayang? " Tanya Firza.
"Mamah sejak di pelut ada dede nggak pernah mau gendong Ajeng. " Jawab Ajeng.
"Oh... itu, kan Mamah nggak kuat kalau gendong Ajeng, habis Ajeng gemuk." Ucap Firza.
Huaaaaaa
"Eh sayang jangan nangis ini rumah sakit." Ucap Firza.
Huaaaaaa
"Firza kamu bawa Ajeng, tadi sampai mohon - mohon biar masuk karena drama Ajeng nangis ingin lihat dede bayi malah begini. Bawa keluar cepat. " Ucap Ibu Meri.
"Ajeng ikut Papah yuk, kita keluar. "
Firza membawa Ajeng keluar dari kamar rawat untuk menghentikan tangisan nya.
"Ajeng iri Mam. " Ucap Saphira.
"Namanya juga anak - anak, Ajeng belum mengerti nanti juga mengerti sendiri kalau sudah sedikit besar. " Ucap Pak Farhan.
__ADS_1
"Iya Pah. " Ucap Saphira.
*****
Dengan kursi roda Firza mendorong Saphira menuju ruang bayi, terlihat baby boy nya sedang tertidur lelap.
"Pah, lucu ya anak kita. "
"Iya Mah, lengkap sudah kita punya anak laki - laki dan perempuan. "
"Anggara Prakasa, Mamah kasih nama nya. "
"Bagus Mah, Baby Angga. Welcome baby Angga. " Ucap Firza.
*****
Satu Minggu Kemudian
Seperti biasa Ajeng merajuk, meminta gendong pada Saphira. Hanum Saphira menolak karena masih merasakan sakit bekas jahitan cesar.
"Nak, nanti ya kalau sudah kuat Mamah nya. Ini luka nya masih terasa sakit. " Ucap Saphira menenangkan Ajeng.
Namun Ajeng semakin menjadi hingga Baby Anggara menangis. Saphira di buat pusing Angga menangis dan Ajeng pun menangis semakin keras.
"Ya Allah Ajeng, kamu jangan nakal dong nak. Ini adik nya nangis loh gara - gara kamu nangis nya kencang. "
Huaaaaaa
"Mamah.... gendong... huaaaaaa...!!"
"Papah.... tolongin dulu ini, Ajeng nangis malah diam aja sih. " Teriak Saphira.
"Apa sih Mah, Papah sedang terima telepon."
"Ini Ajeng minta gendong, Mamah kan belum kuat Pah. Perut saja masih sakit. "
"Ajeng, jangan nakal nak. Yuk sama Papah. "
Hiks... hiks.. hiks..
"Mamah...!! " Isak Ajeng.
"Iya, Mamah nya masih sakit. Ajeng yang nurut jangan nakal. Katanya sayang Mamah sama adik, kok Ajeng nakal. " Ucap Firza menenangkan Ajeng.
"Ajeng sayang, nanti kalau luka nya sudah sehat banget Mamah gendong Ajeng ya. Jadi Ajeng harus nurut jangan kayak gitu, nangis guling - guling itu jelek. " Ucap Saphira.
Ajeng pun terdiam dan langsung memeluk Papah nya, Firza pun langsung memberikan susu dalam botol untuk di berikan pada Ajeng hingga matanya terpejam tidur karena lelah menangis.
"Luar biasa Mah. "
"Nikmat nya Pah. "
.
.
.
__ADS_1
.
.