
"Dasar kamu... Firza...!!! " Bentak Pak Farhan langsung memukul Firza yang sempat berlari berlindung pada Mamah nya.
Buuughhh
Buuuugghhh
"Ampun pah.. ampun...!!! " Ucap Firza.
Pak Farhan terus memukul Firza, hingga Ibu Sonia langsung menarik Pak Farhan untuk tidak memukul putra nya.
"Sudah Pah, jangan di pukul terus. Anak kita sudah mau bertanggung jawab. " Ucap Ibu Sonia.
"Tapi Mah, ini memalukan. " Ucap Pak Farhan.
Firza menatap gemas pada Saphira yang hanya menunduk, sedangkan dirinya merasakan sakit di punggung nya karena Papah nya memukul punggung dengan gagang sapu.
"Kalau cerita nya begini, saya sebagai orang tua Saphira meminta anak saya segera di nikah kan segera. " Ucap Pak Hilman.
"Baik, kalau begitu. Juni kamu panggil penghulu untuk mereka nikah kan sekarang juga. " Ucap Pak Farhan.
"Baik Pah. " Ucap Juni.
*****
"Yank, kamu kenapa sih bilang begitu. Ini privasi kita, walau mereka keluarga kita. Abang malu jadi nya. "
"Ya kan habis mereka menyudutkan Abang terus. "
"Tinggal diam saja, jadi nya Abang malu."
"Tapi kan kita jadi nikah Bang. "
"Iya, tapi itu loh tadi kamu bilang gesek - gesek, Abang malu tahu jadinya kan Papah mukuli Abang. "
"Maaf sayang, maaf ya. " Ucap Saphira mengusap punggung Firza.
"Iya sayang, makan nya Abang itu minta cepat menikah sama kamu biar colek - colek basah nggak gesek - gesek lagi. " Ucap Firza sambil mencolek dagu Saphira.
"Ih... Abang, jadi geli dengar nya. "
"Kan sudah halal sayang. "
Saphira tersebut dan memeluk tubuh Firza, kekasih nya pun membalas pelukan Saphira lalu mengecup pucuk kepala nya.
"Akhirnya, beberapa jam lagi kita menuju sah yank. "
"Iya Bang, Saphira bahagia banget. "
Firza mengecup bibir Saphira, sehingga Saphira pun membalas kecupan Firza. Namun kegiatan mereka di perhatikan oleh Juni dengan berkacak pinggang.
Ekhm..
Firza dan Saphira langsung melepaskan pelukan dan akhiri ciuman nya, mereka duduk menjauh saat Juni menatap horor kedua nya.
"Enak banget ya yang sedang asik - asik an, sedangkan yang lain sedang sibuk menyiapkan pernikahan kalian. " Tegur Juni.
Fitza dan Saphira hanya diam, sedangkan Juni terus mengoceh walau sudah menjauh dari Firza dan Saphira.
"Kenapa sih Bang, ngomel terus kayak emak - emak. " Terdengar suara keras Imelda dari ruang tengah.
******
__ADS_1
"Bukan main, dapat chat ada info nggak ada angin nggak ada hujan, sahabat satu kita ini menikah mendadak. " Ucap Hani.
"Benar, katanya setelah saya menikah nanti kamu. Eh malah duluan sekarang, gimana ini cerita nya. " Ucap Tita.
"Biar semuanya halal mau icip - icip juga. " Ucap Saphira yang sedang di pasangan kan sanggul oleh MUA.
"Wah.. benar juga nih, memang iya kalau sudah menikah mah mau ngapain juga bebas. " Ucap Lila.
"Nah.. itu, makan nya kita langsung menikah saja. " Ucap Saphira.
"Jujur deh, asli senang banget akhirnya Tom dan Jeri sekarang bersatu. Tak ada lagi aksi saling membully, saling beradu mulut yang tak jelas asal usul mulai pertengkaran nya. " Ucap Tita.
"Iya benar, sekarang gantunya berantem di atas tempat tidur. " Ucap Lila langsung bersambut gelak tawa semuanya.
Soraya masuk, dan bergabung dengan ke empat Sahabat nya.
"Sudah siap, Pak penghulu sudah datang." Ucap Soraya.
"Dari tadi Kak, saya sudah siap. " Ucap Saphira.
"Nggak nyangka, masih nggak nyangka. Kamu hutang penjelasan sama saya kenapa bisa menikah mendadak ini." Ucap Soraya.
"Kan menikah itu suatu ibadah, jadi apa salah nya kita menikah secepatnya. " Ucap Saphira.
*****
Firza tiada henti menatap Saphira yang berada di samping nya, pernikahan mereka hanya di saksikan oleh tetangga dan Para Sahabat nya.
Saphira hanya menunduk tersipu malu , Firza yang tak henti membisikkan kata - kata indah pada calon istri nya yang sebentar lagi akan menjadi milik seutuh nya.
"Mas Firza, apakah sudah puas menatap calon istri nya?. " Ucap Pak Penghulu.
"Siap Pak, siap sekali. " Ucap Firza.
"Iya Pak, saya sudah siap. "
"Baik sekarang kita mulai Bismillahirrahmanirrahim."
SAH
Hati Firza lega, saat kata Sah sudah terucap, Saphira langsung mencium punggung tangan Firza yang kini sudah resmi menjadi suaminya secara agama, Firza pun lantas mencium kening Saphira.
"Alhamdulillah, kita sudah Sah Yank. "
"Iya Bang, Saphira kini jadi istri Abang. "
"Sudah dong, yang lain menunggu ingin mengucapkan selamat. " Ucap Imelda.
****
Saphira dan Firza di dalam kamar duduk saling berjauhan, antara ujung dan ujung tempat tidur.
Kedua tangan nya saling bermain jemarinya dan diam tak berkata satu kata pun. Rasa grogi dengan jantung yang sama - sama berdetak kencang serta keringat dingin membasahi tubuh kedua nya.
"Sayang, kamu grogi nggak? " Tanya Firza memulai pembicaraan.
"Iya Bang, kok jadi begini ya. " Jawab Saphira.
"Iya, padahal kita ini kan sudah sama - sama tahu. " Ucap Firza.
"Mungkin Bang, kita kan mau colek - colek basah nya ini lebih dalam Bang."
__ADS_1
"Benar juga ya. "
"Bang."
"Hem.. "
"Nanti Pas rudal Abang masuk, katanya sakit ya? "
"Katanya sih kalau yang pertama, tapi lama - lama enak juga . "
"Saya takut, punya Abang kan gede. Kalau sobek bagaimana? "
"Ya ampun Yank, memang nya punya Abang segede apa sih sampai robek. Ya nggak lah, lagian bentuk nya punya kamu elastis. "
"Tapi saya takut Bang, kita main gesek - gesek aja kayak kemarin. "
"Kok gesek - gesek, Abang minta nikah cepat itu buat biar colek - colek basah bukan lagi gesek - gesek. "
"Tapi itu gede banget loh Bang . " Tunjuk Saphira pada milik Firza.
"Gede juga lama - lama kamu nagih. "
"Tapi Bang, takut. "
"Sudah jangan takut, pasti kamu juga nanti nagih. " Ucap Firza sambil menaik turun kan alis nya.
"Janji ya Bang, awas kalau sakit. "
"Abang janji sayang. "Ucap Firza yang sudah bergeser ke arah Saphira.
Sedangkan di balik pintu Juni terus menempelkan telinga nya pada pintu kamar sang Adik.
"Kok nggak dengar suara krasak krusuk ya, mereka mode diam tanpa bicara apa. " Ucap Juni yang terus menguping.
"Abang.....!!! "
"Astagfirullah, Mah kagetin saya saja. " Ucap Juni kaget.
"Sedang apa disitu? " Bentak Imelda.
"Jangan marah dulu Mah, ini pintu kamar Saphira tiba - tiba terlihat miring. Kayaknya besok perlu di perbaiki. "
"Oh miring ya, perlu di perbaiki. Ok besok panggil tukang suruh sekalian dia perbaiki otak Abang yang miring itu sekalian. "
"Kok bicara begitu. "
"Abang nggak sopan, sedang apa menguping."
"Tadi Abang hanya ngecek, dan terus.. "
"Sudah jangan banyak bicara, kita pulang sekarang. " Ucap Imelda sambil menjewer telinga Juni.
"Sakit Mah, jangan jewer... ampun Mah...!! "
"Biar tahu rasa, buat orang yang suka menguping. "
.
.
.
__ADS_1
.