
Danial tersenyum di depan cermin yang ada di kamar mandi itu. bukan, tepatnya bukan Danial yang tersenyum melainkan Jin yang kini tengah merasuki tubuhnya. Danial yang dirasuki ingin sekali mengeluarkan suara namun tubuhnya diambil alih oleh Jin sehingga dirinya tidak dapat berbuat apa-apa.
"setelah di sekolah nanti, aku akan keluar" Danial berbicara sendiri lagi, lebih tepatnya Jin lah mengucapkan hal itu
pintu kamar mandi di buka, kepala Danial menyembul keluar untuk melihat keadaan di luar. Airin dan Adam sedang terlelap pulas di sofa. pelan Danial keluar dan menutup pintu dengan sangat hati-hati. dirinya berjalan selangkah demi selangkah, bahkan dengan kaki yang berjinjit seakan begitu takut Airin dan Adam mendengar langkahnya. tepat di pintu, handle pintu di putar hingga terbuka. Danial keluar dari ruang rawatnya dan menutup pintu dengan pelan.
lepas dari kedua orang tuanya, Danial dengan buru-buru mencari lift untuk turun ke lantai bawah. ruang rawat yang ia tempati berada di lantai tiga, sehingga dirinya harus menuruni satu lantai lagi untuk bisa sampai di lantai satu.
tepat di lantai satu, dengan terburu-buru Danial berlari ke lobi rumah sakit menuju ke pintu keluar. dengan pakaian pasien khusus rumah sakit, Danial berlari lebih cepat. di jalan raya dirinya mencari kendaraan untuk bisa membawanya ke arah sekolah SMA Citra Bangsa.
banyak kendaraan yang berlalu lalang namun mereka tidak berhenti saat Danial melambaikan tangan memberhentikan mereka.
sebuah mobil putih yang ia lihat melaju akan melewati dirinya. dengan sigap Danial berhenti tepat di depan mobil itu dan merentangkan kedua tangannya. seketika mobil itu berhenti dan sedikit lagi hampir saja akan menabrak Danial.
"woi...apa kamu gila, kalau mau mati jangan bawa-bawa orang dong" pengemudi mobil itu keluar dan mengeluarkan amarah. namun saat melihat siapa yang hampir saja dia tabrak, dirinya mengernyitkan dahi dan menghampiri Danial
"Danial" panggilnya
"Sharlin"
"astaga, hampir aku menabrakmu Dan. kamu ngapain melompat di depan mobilku mau bunuh diri kamu"
"Shar, aku butuh bantuan mu. tolong bawa aku ke sekolah" Danial dengan cepat menarik lengan Sharlin untuk masuk ke dalam mobil
"hei hei, tunggu... tunggu... tunggu" Sharlin berhenti dan menepis tangan Danial "mau ngapain ke sekolah jam segini. kamu gila ya"
"ceritanya panjang Shar, yang jelas aku sangat butuh bantuan mu. ini menyangkut nyawa seseorang"
"nyawa seseorang...?"
"nanti saja aku jelaskan"
Danial mendorong Sharlin untuk masuk ke dalam mobil namun bukan di tempat kemudi melainkan di samping kemudi. sedang Danial, dirinya langsung masuk dan mengambil alih kemudi.
"ayo Shar" panggil Danial
Sharlin yang masih bingung dengan situasi yang dialaminya, dikagetkan dengan suara Danial. dirinya langsung dengan cepat masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengaman.
"kamu bisa bawa mob...woi woi woi, pelan pelan Dan. aku belum mau mati ya" baru juga Sharlin ingin menanyakan kepandaian remaja itu mengemudikan mobil, Danial sudah tancap gas dan melaju kencang
kalung yang dipakai Danial terus mengeluarkan hawa panas namun tidak sepanas seperti saat Danial sendiri yang merasakannya dan hampir pingsan lagi. untungnya Jin sendiri telah membantu Danial untuk meredakan hawa panas itu, sehingga meskipun panas namun tidak akan menyiksa lagi.
mobil itu melaju begitu kencang. Sharlin begitu was-was, takut mereka kenapa-kenapa sebab Danial begitu kencang melajukan mobilnya. di perempatan jalan tepat di lampu merah, seketika Danial membelokkan mobil itu ke arah kanan. Sharlin bahkan terbawa dan kepalanya terbentur di kaca jendela mobil.
"Danial...kamu mau kita mati" teriak Sharlin dengan kepala yang terasa sakit
"aku memang sudah lama mati" Danial menatap Sharlin tanpa berkedip, hal itu membuat Sharlin merasakan hawa yang aneh. tiba-tiba saja dirinya merinding melihat tatapan mata Danial
Sharlin mengalihkan pandangan ke depan, untuk menghindari tatapan Danial namun matanya hampir melompat saat sebuah mobil yang berlawanan arah melaju tepat ke arah mereka.
"MOBIL DAN"
Danial membanting setir ke kanan. ia kemudian menginjak rem dengan cepat dan mobil itu berhenti.
"haaah...haaah" nafas Sharlin ngos-ngosan, dirinya bagai telah melakukan olahraga yang membuat dirinya kelelahan dan berkeringat dingin
"minggir kamu" Sharlin membuka sabuk pengaman yang dipakai Danial dan membuka pintu mobil kemudian mendorong Danial keluar.
Sharlin ikut keluar dan menghampiri Danial yang berdiri di samping mobilnya.
"Shar, aku nggak bisa turun di sini. ada yang butuh bantuanku di sekolah. dia bisa mati Sharlin, tolonglah" Danial memohon dengan wajah memelas
"siapa yang mau menurunkan kamu di sini. kita ganti posisi, aku yang akan menyetir. cepat masuk ke dalam. kalau kamu yang menyetir, bukan kita sampai di sekolah tapi malah sampai di akhirat"
dengan terburu-buru Danial memutari mobil dan masuk ke dalam. Sharlin sudah duduk di samping Danial dan kembali keduanya memakai sabuk pengaman. dengan menginjak pedal gas, mobil itu kembali melaju. meskipun mobil melaju cepat namun tidak secepat saat Danial yang menyetirnya. Sharlin masih mengutamakan keselamatan mereka berdua.
__ADS_1
kini mobil itu telah memasuki jalan lorong yang akan membawa mereka ke sekolah SMA Citra Bangsa. di parkiran khusus untuk siswa-siswi, Sharlin menghentikan mobilnya. keduanya keluar dari mobil, Danial tanpa menunggu Sharlin, langsung melesat berlari masuk ke dalam halaman sekolah.
"benar-benar tuh anak" kesal Sharlin
Sharlin mengejar Danial dan saat di dekat remaja itu, tiba-tiba tubuh Danial kejang-kejang dan dirinya jatuh ke tanah. Jin telah keluar dari tubuhnya, maka saat itu Danial merasa lemas dan jatuh.
"Dan, kamu nggak apa-apa...?" Sharlin panik karena Danial tiba-tiba saja tidak bertenaga. ia takut terjadi sesuatu dengan teman satu kelasnya itu, apalagi saat ini Danial mengenakan pakaian pasien rumah sakit.
"aku lemas" Danial menjawab, wajahnya pucat begitu juga bibirnya
"kalian di sini saja, aku akan memeriksa sekolah ini" setelah mengatakan itu, Jin menghilang begitu saja
Sharlin memapah Danial dan membawanya ke taman. ia mendudukkan Danial di kursi kayu panjang tanpa sandaran.
"kita pulang saja, lagi pula siapa juga yang akan ada di sekolah tengah malam seperti ini Dan. lihatlah, tidak ada siapapun selain kita berdua"
suasana di sekolah itu begitu mencekam saat malam hari. terlebih lagi di belakang sekolah, hutan terlarang yang tidak ada seorangpun yang berani masuk ke dalamnya. untungnya di halaman sekolah itu di terangi dengan lampu yang memang sengaja di siapkan sehingga akan terlihat terang jika di luar sana.
setiap ruangan kelas dalam keadaan terang sebab lampu yang ada di setiap kelas sengaja tidak dimatikan agar suasana sekolah tidak begitu horor dan menakutkan. begitu juga dengan gedung dan ruangan yang lainnya.
"aku nggak bisa pulang Shar, aku harus menolong seseorang" Danial memegang kalungnya yang terus ia rasakan hawa panasnya
"menolong seseorang siapa sih Dan, memangnya siapa yang ada di sini"
"aku juga nggak tau, makanya itu aku harus menemukan dia. kalau kita pergi, apa kamu mau besoknya ada siswi yang meninggal lagi. kamu mau itu terjadi...?"
"kamu berkata seperti itu seolah mereka itu dibunuh Dan. padahal kan sudah jelas kalau mereka itu bunuh diri"
"kamu salah Shar, mereka bukan bunuh diri tapi mereka dijadikan tumbal"
"tumbal....?"
kedua mata Sharlin melotot. sebenarnya dirinya juga sempat mendengar desas-desus peristiwa dulu yang terjadi di sekolah itu. namun balik lagi bahwa semua itu hanya mitos dan dirinya tidak begitu memikirkannya. namun setelah mendengar apa yang diucapkan Danial, ia kini mulai merasa ada yang janggal dengan kematian para siswi kemarin.
"aaaaaa"
"di sana" tunjuk Sharlin
bergegas keduanya berlari ke arah suara itu. mereka menaiki anak tangga satu persatu hingga tiba di lantai dua dimana setiap kelas XI, saling berjejer.
"periksa kelasnya Dan"
Danial mengangguk, mereka memeriksa setiap kelas XI yang ada. karena pintu yang terkunci rapat, mereka hanya dapat memeriksa lewat jendela. tidak ada satu orangpun yang mereka lihat.
"kelas XII" ucap Danial
lagi, keduanya beralih ke tangga untuk menuju ke lantai tiga. di sana tepat di teras kelas XII, Danial melihat Jin sedang berdiri menatap lurus ke depan.
"Jin" panggil Danial
"Jin...? siapa Jin...?" kening Sharlin mengkerut, ia melihat di depan sana dan betapa terkejutnya ia saat melihat sosok yang begitu menakutkan, sedang seorang siswi sedang tercekik dengan tangan besarnya. Zalifa dicekik oleh makhluk mengerikan itu. kedua kakinya bahkan tidak lagi menginjak lantai
"innalilahi wa innailaihi Raji'un, astagfirullahaladzim...Zalifa" Sharlin menutup mulut begitu kagetnya
Danial menjadi patung di tempatnya. kedua kakinya seakan begitu berat untuk ia gerakkan. seluruh tubuhnya gemetaran, gemetar luar biasa dan begitu ketakutan.
"a-apa...apa yang harus k-kita lakukan...?" dengan bibir yang semakin pucat dan bergetar, Danial bertanya kepada Sharlin
"Zalifa" Sharlin melangkah maju
Danial tidak dapat menghentikan langkah kaki ketua kelasnya itu. tubuhnya saja sulit untuk ia gerakkan, apalagi untuk menahan Sharlin agar tidak mendekati Zalifa.
"Shar...Sharlin" dengan mata yang berkaca-kaca, Zalifa mengulurkan tangannya meminta tolong kepada remaja itu. lehernya yang dicekik membuat dirinya kesulitan untuk bernafas
sementara itu, ayah Zalifa dan Niskal kakak Zalifa. keduanya baru saja tiba di sekolah menggunakan sepeda motor. Niskal langsung masuk ke halaman sekolah dan memarkirkan motornya di sembarang tempat.
__ADS_1
"hubungi adikmu Niskal" ucap ayahnya
Niskal merogoh ponselnya dan menghubungi nomor Zalifa. masuk namun tidak diangkat. sementara ponsel Zalifa terus berdering di dalam kelas tempat dirinya bersembunyi tadi. ponsel itu terus berdering di lantai yang berwana putih.
"nggak diangkat yah"
"ya Allah" ayah mengusap wajahnya frustasi "kita cari dia"
keduanya melangkah masuk ke lapangan sekolah. lapangan sekolah itu berada di tengah-tengah semua gedung sekolah.
"Zalifa.... Zalifa" Niskal memanggil nama adiknya
"Zalifa... kamu dimana nak"
suara keduanya tentunya terdengar di lantai tiga itu. langkah kaki Sharlin terhenti dan melihat ke bawah sana, dua orang sedang memanggil nama Zalifa.
makhluk itu mengerang marah, dirinya gagal untuk mengambil tumbal. ia langsung melempar tubuh Zalifa ke bawah sana.
"ZALIFA"
"JIN"
teriakan Danial dan Sharlin mengejutkan Niskal dan ayahnya. Jin yang tadinya berada di depan makhluk itu, seketika menghilang dari pandangan Danial. Sharlin gemetar melihat tubuh Zalifa dilempar ke bawah bagaikan boneka. Danial berlari mendekati Sharlin dan melihat ke bawah.
melihat tubuh Zalifa melayang di udara dan Jin memeluk gadis itu, membuat Danial tersungkur di lantai. jantungnya hampir saja copot jika saja Jin tidak menyelamatkan gadis itu. sementara Sharlin, mulutnya mengangga lebar tatkala melihat tubuh Zalifa mengembang di udara, padahal tidak ada yang menangkapnya. tanpa ia lihat kalau Jin saat itu yang menyelamatkan Zalifa.
perlahan Jin melayang membawa Zalifa sampai di bawah. Sharlin semakin di buat shock dan beberapa kali ia mengucek kedua matanya untuk memastikan.
"a-apa yang terjadi, apa aku tidak salah lihat"
"huufffttt...untung ada Jin" ucap Danial
hal itu di dengar oleh Sharlin. remaja itu memutar tubuhnya dan meminta penjelasan. namun sosok di depan sana, membuat mereka tersadar kalau sekarang kini nyawa mereka lah yang sedang dalam keadaan bahaya.
Jin berhasil membawa Zalifa di tempat yang aman. tentunya ia mendaratkan gadis itu di dekat ayah dan kakaknya.
"uhuk...uhuk" Zalifa terbatuk-batuk
ayah dan Niskal segera berlari ke arah Zalifa. gadis itu terbaring lemah tidak berdaya di tengah lapangan.
"Zalifa, kamu baik-baik saja sayang...?" ayah memeluk Zalifa dengan erat
"sakit yah, aku takut" Zalifa gemetar dan menangis memeluk ayahnya
"tenanglah, semuanya baik-baik saja. ayah di sini"
"kita bawa Zalifa pergi dari sini yah, kita bawa dia ke rumah sakit" ucap Niskal
"iya, ayo kita ke rumah sakit" ayah menggendong Zalifa dan mereka menuju ke tempat parkiran
sementara Danial dan Sharlin, saling menelan ludah masing-masing dan mencoba untuk berdiri. makhluk itu tersenyum menyeringai, menjulurkan lidah begitu terlihat kelaparan.
"lari Dan"
Sharlin mengambil langkah seribu, berlari untuk menyelamatkan diri namun kemudian dirinya terhenti karena tidak mendapati Danial di sampingnya. hampir sampai di tangga, Sharlin merem mendadak kedua kakinya dan berbalik melihat ke belakang. Danial masih di tempatnya, berdiri menjadi patung di sana.
"DAN, AYO"
teriakan Sharlin tidak Danial hiraukan. bukan tidak ingin lari, dirinya bahkan ingin sekali berlari sekencang mungkin untuk menyelamatkan diri dari monster itu. namun kedua kakinya tidak mau bekerjasama. sama seperti tadi, tubuhnya gemetar kedua kakinya bagai menginjak lem yang sangat berat untuk ia angkat.
makhluk itu semakin maju ke depan dan semakin dekat dengan Danial. Danial semakin ketakutan, keringat dingin bahkan mulai membasahi kening dan punggungnya.
makhluk itu yang tadinya hanya berjalan, tiba-tiba berlari cepat kerahnya dan hal itu membuat Danial menutup mata.
"DANIAL" Sharlin ikut berlari ke arah Danial
__ADS_1
"JIIIIIIN"
satu nama itu yang Danial panggil, karena hanya Jin harapannya untuk bisa menyelamatkan dirinya. dengan kedua mata yang tertutup dan tubuh yang gemetar, Danial memanggil nama Jin dengan kerasnya.