Panggil Aku Jin

Panggil Aku Jin
Episode 67


__ADS_3

Semua orang sudah terlelap. Setelah mereka merayakan ulang tahun Jin, pukul satu dini hari mereka semua memutuskan untuk tidur.


Awalnya ketiga perempuan akan tidur di kamar Satria, namun ketiga perempuan itu menolak dan lebih memilih tidur bersama mereka. Lagipula mereka tidak akan seranjang sebab para laki-laki akan tidur di bawah sementara para perempuan akan tidur di ranjang.


Kebersamaan seperti itu sengaja mereka lakukan, karena mungkin suatu saat mereka tidak akan seperti itu lagi. Ketika Jin sudah pergi untuk selamanya, mereka pastinya akan merasa kehilangan. Maka dari itu kesempatan itu digunakan sebaik mungkin untuk membuat kenangan yang indah. Kenangan bersama teman hantu mereka yang bertemu tanpa di duga.


Tim awan biru sudah tertidur pulas. Para lelaki membentang kasur di bawah. Terlihat Satria tidur dengan posisi terlentang sementara Zain memeluknya dari samping. Satu kakinya berada di atas perut temannya itu.


Danial dan Sharlin menggunakan satu selimut. Entah sadar atau tidak, posisi keduanya saat ini bagai pasangan kekasih. Kepala Danial berbantalkan lengan Sharlin kemudian remaja itu memeluk Sharlin. Sementara Sharlin pun tidak terusik dengan pelukan itu.


Jin melayang berdiri di atas empat remaja laki-laki itu. Bibirnya membentuk senyuman, ia merasa benar-benar memiliki keluarga setelah sekian lama terkurung di dalam gambar dirinya sendiri.


Namun kemudian ucapan Sri Dewi kembali melintas di kepalanya. Janji untuk mendapatkan tubuh baru, wanita itu akan membantu dan Jin hanya tinggal memilih saja.


Ditatapnya satu persatu wajah-wajah yang polos itu. Sungguh, akan tegakah dirinya membunuh salah satunya dan memiliki tubuh mereka sebagai wadah untuknya. Jin meneguk ludah berulang kali, ia kemudian memalingkan wajah ke arah ranjang.


"Tidak...itu tidak boleh terjadi" ia menggelengkan kepala dengan cepat. "Tanpa tubuh pun, aku masih bisa melawan dan juga bebas kemanapun aku pergi" Jin kembali menatap empat remaja itu.


"Tapi....."


Pikirannya kembali memberontak. Bukankah jika dirinya memiliki tubuh baru, ia bisa mencari keluarganya. Dengan tubuh barunya itu, dirinya bisa tinggal bersama orang tua dan juga saudaranya.


"Apakah harus aku mengorbankan salah satunya...?" Tatapannya berubah sendu.


Malam itu Jin hanya terus menatap tim awan biru tanpa beranjak sedikitpun dari tempatnya.


Pagi hari rumah yang besar itu sudah mulai riuh. Satu persatu tim awan biru mengenakan seragam sekolah mereka. Di lantai bawah, ibu Arini juga Airin serta Seil sedang menyiapkan sarapan pagi. Sementara Vania, membantu gadis kecilnya untuk bersiap ke sekolah.


Ragel juga Samudera dijaga oleh baby sitter keduanya di ruang keluarga. Kedua bayi itu sedang meminum susu di dalam dot. Asisten rumah tangga yang lain, membantu para majikan mereka menyiapkan sarapan.


"Langsung bawa pakaian ganti ya, pulang nanti kita langsung ke rumahku" ucap Sharlin yang sedang memakai dasinya di depan cermin. Sementara Jin sibuk menyisir rambutnya yang sejak tadi tidak pernah selesai. "Minggir dulu napa kak Kean, itu rambut dari tadi nggak selesai-selesai di sisir" Sharlin menarik kerah baju Jin membawa hantu itu di belakangnya.


"Astaga durhaka sekali kamu. Main tarik saja, kamu pikir aku layangan" Jin melayangkan protes sebab Sharlin mengganggu kegiatannya namun Sharlin tidak peduli.


Hanya para lelaki yang berada di kamar itu, para perempuan sudah pindah ke kamar Satria. Tidak mungkin bukan mereka bergabung dalam satu tempat untuk mandi dan berganti pakaian.


"Aku pakai baju yang mana ya...?" Jin sibuk memilih pakaian yang ada di dalam lemari Danial. Ia sibuk mencari baju yang cocok untuknya.


"Pakai daster saja, itu cocok untukmu" Zain kini sedang memakai kaos kakinya.


"Kenapa nggak sekalian kamu suruh aku pakai karung" sungut Jin dengan ekspresi wajah jengkel.


"Nah boleh juga tuh, kebetulan di dapur ada karung beras. Mau aku ambilkan nggak...?" Goda Satria.


"Nggak usah. Biar aku pakai bh sama ****** ***** saja, biar seksi dan menggoda "


Mereka tertawa mendengar jawaban Jin. Hantu itu semakin cemberut dan mengeluarkan semua isi lemari. Satu persatu ia periksa manakah yang bagus menurutnya.


"Ya ampun Jin, kita ini mau ke sekolah bukannya mau ke pesta. ASTAGA....kenapa jadi berantakin begini. Beresin nggak" Danial yang baru saja memakai celana sekolahnya, melotot melihat keadaan pakaiannya yang sudah amburadul.


"Tunggu sebentar, aku sedang mencari baju bagus" tanpa peduli Danial yang sudah naik darah, Jin dengan santai menggeledah isi lemari itu. "Pakaian mu jelek semua, sama seperti orangnya"


"Buahahaha"


Satria, Sharlin juga Zain sudah ngakak menertawakan ucapan Jin. Apalagi melihat ekspresi Danial yang melototkan mata. Tidak terima dibilang jelek, Danial melangkah menatap dirinya di cermin.


"Jelek pala kau. Memang mata kamu yang katarak. Ganteng begini dibilang jelek" Danial menyisir rambutnya dengan jemarinya.


"Udah ah ayo buruan, nanti telat dapat hukuman lagi" Sharlin menyambar tasnya di atas ranjang dan bergegas keluar kamar.

__ADS_1


Mereka tidak sempat lagi sarapan bersama. Hanya mengambil beberapa roti dan memasukkan ke dalam mulut juga meneguk susu hangat kemudian bergegas untuk pergi sebab jarum jam terus berputar berganti waktu.


Hari itu cuaca begitu cerah. Di langit sana, warna indahnya terbentang luas dengan awan yang menghiasi. Semuanya berharap hari ini akan berjalan seperti biasanya. Satu persatu tim awan biru menaiki motor mereka dan meninggalkan rumah keluarga Sanjaya. Hanya Danial yang mempunyai boncengan, siapa lagi kalau bukan Jin.


"Boleh aku yang mengendarainya...?" Jin mengeluarkan pertanyaan. Saat ini dirinya anteng duduk memeluk perut Danial.


"Kamu mau semua orang pingsan melihat motor jalan sendiri...?"


"Kan ada kamu"


"Iya emang, tapi mereka akan melihat kalau bukan yang mengendalikan motornya. Mau kamu kita jadi trending topik"


"Wah bagus dong, bisa masuk TV. Yuk coba yuk, sekalian aku kasih terbang motornya" Jin bersemangat.


"Maka pada jantunganlah semua orang Jin. Kamu ini masih pagi udah mau buat ulah. Pantatmu berulat ya, nggak pernah bisa mau diam" Danial melirik Jin di kaca spionnya.


"Bukan berulat tapi pantatku berkudis, puas" dengan ekspresi kesal, Jin menjawab. Hal itu membuat Danial terkekeh pelan. Selalu saja ada jawaban yang dilayangkan Jin, dan baginya itu sangat menghibur.


"Pengen liat dong bagaimana bentuknya pantat yang berkudis"


Plaaaak


tangan Jin memukul lengan Danial. "Dasar mesum"


Danial langsung tergelak mendapatkan gelar seperti itu. Bahunya bahkan naik turun, ia tidak bisa untuk tidak tertawa.


Setiba mereka di sekolah, sisa beberapa menit lagi pagar sekolah akan di tutup. Dengan cepat mereka memakirkan motor dan berlari masuk ke dalam. Ketika itu ternyata Adiatama keluar dari mobilnya, kepala sekolah muda itu tersenyum ke arah mereka dan melambaikan tangan.


"Pagi pak" mereka semua menyapa.


"Pagi juga. Oh iya siapa yang ulang tahun semalam...? Sharlin meminta izin ke rumah Danial untuk merayakan ulang tahun katanya. Memangnya siapa yang ulang tahun...?" Adiatama menatap mereka.


Adiatama tersenyum tipis kemudian kembali menoleh ke arah depan. "Apa yang kalian lihat...?" Pertanyaan itu membuat tim awan biru sadar dan saling pandang satu sama lain.


"Asisten di rumah kami yang ulang tahun pak. Kebetulan kami merayakannya dengan makan-makan, jadinya semalam saya mengundang teman-teman untuk datang ke rumah" Danial bersuara.


"Asisten rumah tangga...?" Pertanyaan Adiatama bersamaan dengan keningnya yang mengkerut. "Perhatian sekali ya" lanjutnya dengan alis terangkat.


"Ayah dan bunda memang begitu perhatian dengan art di rumah. Bagi keduanya, mereka sama seperti kami dan hanya pekerjaan saja yang membedakan" sahut Satria.


Adiatama manggut-manggut kemudian tersenyum. Ia kemudian menyuruh anak-anak itu untuk ke kelas mereka dan berkumpul di lapangan sebab bel apel pagi sudah terdengar. Tim awan biru semakin jauh dari tempatnya ia berdiri namun Adiatama masih terus memperhatikan mereka dengan tatapan datar. Di bibirnya terbit senyuman tipis. "Anak-anak yang pemberani" gumamnya pelan, Kemudian ia bergegas menuju ke kantor.


Hari itu berjalan seperti biasanya. Semakin siang matahari semakin terik dan terasa panas. Hingga siang itu berganti dengan sore hari. Bel pulang berbunyi dan semua siswa bersorak gembira untuk pulang. Namun masih ada juga, yang harus mengikuti kegiatan ekstrakurikuler diluar jam sekolah.


Begitu juga halnya tim awan biru, mereka belum pulang sebab dua dari teman mereka harus mengikuti kegiatan ekstra yaitu Kirana dan Ayunda.


"Aku lapar" Jin merengek memegang perutnya.


"Sejak kapan setan mulai lapar" ucap Alea.


"Sejak negara api menyerang" Jin menjawab asal. "Pulang saja yuk, nggak usah ikut latihan" bujuk Jin.


"Ya nggak bisa lah Jin" Ayunda sudah berganti pakaian begitu juga Kirana. "Begini saja, kalian pergilah cari makanan, sekalian belikan untuk kami berdua"


"Nggak apa-apa kami tinggal...?" Satria seperti ragu.


"Cieee.... perhatian banget besti" Kirana menyenggol lengan Satria.


"Apa sih, orang aku hanya nanya. Lagian maksudku kita itu harus tetap waspada dan jangan terlena dengan keadaan aman sekarang. Jadi ragu saja kalau tinggalkan kalian berdua" Satria meluruskan ucapannya.

__ADS_1


Ayunda hanya menampilkan senyuman saja, ia pun tidak berharap mendapatkan perhatian dari sahabatnya itu.


"Nggak apa-apa kalian pergilah saja, lagipula masih banyak siswa lain bukan hanya kami berdua. Pak Rahim juga sudah menunggu di tempat latihan" timpal Ayunda.


"Iya, pak Hamzah juga sudah menunggu. Ayo Ay, barengan habis itu kita berpisah di lapangan. Eh jangan lupa beli minuman yang bikin seger ya, haus pastinya nanti" Kirana segera menarik tangan Ayunda dan keluar dari kelas.


Kini mereka bersiap untuk keluar sekolah. Akan tetapi Jin saat itu berubah pikiran. Dirinya akan menjaga kedua teman mereka sementara yang lain pergi membeli makanan.


"Kalau begitu biar aku sama kak Kean dan Alea saja yang memantau Ayunda juga Kirana, Satria dan Danial dan Zain berangkat membeli makanan" Sharlin memberikan ide.


"Boleh juga. Tapi sebaiknya dua orang saja cukup sih. Biar aku sama Satria saja yang pergi. Kalian bagi tugas saja ke tempat latihan Kirana juga Ayunda" ucap Zain.


Demi keamanan mereka, maka rencana itu dijalankan juga. Satria meninggalkan sekolah bersama Zain sementara Jin ditemani Danial ke ruang latihan Kirana, Sharlin bersama Alea ke ruang latihan Ayunda. Siswa lain yang tidak ikut latihan bisa melihat saja asal tidak menganggu.


Jin menembus pintu masuk sementara Danial harus membuka pintu terlebih dahulu. Ternyata bukan hanya mereka yang jadi penonton. Ada juga beberapa orang siswa yang menjadi penonton, menunggu teman mereka selesai latihan. Danial dan Jin mengambil tempat duduk sedikit jauh dari semua orang. Keduanya memperhatikan Kirana yang sedang latihan bersama teman-temannya yang lain.


Begitu juga Sharlin dan Alea. Mereka kini tengah menyaksikan pak Rahim melatih Ayunda juga siswa yang lain. Keduanya memperhatikan tanpa berniat untuk bergabung.


Istirahat sejenak sebelum memulai kembali, Satria dan Zain tiba membawa makanan juga minuman. Satria bergegas ke ruang latihan Kirana sementara Zain ke ruang latihan Ayunda.


Melihat ayam bakar yang dibawa oleh Satria, Jin tersenyum lebar dan langsung melahap makanan itu.


"Pelan-pelan, nggak akan ada yang minta" Danial melap mulut Jin yang belepotan.


"Kamu mau...?" Jin menawarkan.


"Nggak, itu memang buat kamu" Danial menggeleng.


Tersisa beberapa menit lagi latihan ekstra akan selesai. Mereka kemudian menunggu kedua teman mereka di taman sekolah.


Ayunda meneguk habis minumannya. Ia melap wajahnya dengan tisu kemudian menyusul siswa yang lain yang sudah keluar dari gedung itu. Akan tetapi langkahnya terhenti karena masih ada satu orang siswa yang belum juga keluar.


"Ada Zifara...?" Ayunda mendekati gadis itu.


"Kalungku hilang, sudah ku cari kemanapun tapi nggak ketemu" Zifara mondar mandir mencari kalungnya.


Ayunda pun ikut mencari, di sudut ruangan bahkan di bawa kursi telah ia periksa namun dirinya tidak menemukan kalung yang dimaksud oleh Zifara.


"Udah sore banget Zi, pulang yuk. Besok kita cari lagi"


"Kamu duluan saja Ay, aku dijemput kok. Sebentar lagi aku keluar" Zifara masih sibuk mencari kalungnya.


"Benaran kamu dijemput...?" Ayunda memastikan.


"Iya, teman aku akan datang ke sini. Kamu duluan saja. Makasih ya udah bantu cari meskipun belum ketemu" Zifara melempar senyum.


"Ya sudah, aku duluan ya"


"Oke"


Ayunda mengayunkan langkah semakin dekat dengan pintu keluar. Saat itu dirinya berhenti dan berbalik memastikan kalau Zifara baik-baik saja sebelum akhirnya ia benar-benar keluar dari gedung itu.


"Kamu kenapa lama...?" Satria orang pertama yang mulai mengeluarkan pertanyaan. Dirinya terlihat khawatir dengan gadis itu.


"Maaf" Ayunda hanya mengucapkan itu, namun dalam hati ia senang sebab Satria mengkhawatirkan dirinya.


"Ayo pulang, udah sore banget ini" Zain mengambil tasnya.


Mereka semua berjalan ke arah parkiran guru kemudian keluar pagar dan menghampiri motor masing-masing. Sekolah sudah semakin sepi, tim awan biru bergegas meninggalkan SMA Citra Bangsa menuju ke rumah Sharlin. Di lorong sekolah mereka bertemu dengan seseorang yang mengendarai motor. Ayunda mulai merasa lega sebab ia berpikir pasti orang itu adalah jemputan Zifara.

__ADS_1


__ADS_2