Panggil Aku Jin

Panggil Aku Jin
Episode 30


__ADS_3

"bunda lepasin Jin, bunda" Danial memeluk Airin, mencoba meraih tangan bundanya untuk melepaskan Jin.


tidak ada yang bisa melawan penguasa kerajaan karing-karing hutan timur kalau bukan suaminya sendiri. Adam dengan cepat mendekat dan menarik Airin, memukul tangan istrinya itu sehingga Jin jatuh ke tanah.


uhuk... uhuk...


sesak nafas bahkan terbatuk-batuk, Jin terkulai lemas. Danial juga Sharlin mendekat dan membantu Jin untuk duduk. dengan mata berkaca-kaca, Danial memeluk Jin yang tidak berdaya.


"lepaskan mas" Airin memberontak dipelukan Adam.


"Ay, tenang Ay..." sekuat tenaga Adam mengeratkan pelukannya.


"aku harus melenyapkan arwah itu. dia berbahaya mas, dia bisa menyakiti anak kita"


Sharlin menghapus air matanya dengan kasar, berdiri dan mendekat ke Airin juga Adam.


"kalau tante mau menghabisi kak Kean, maka langkahi dulu aku tante. aku siap melakukan apapun seperti halnya kak Kean yang siap mati untuk kami. kenapa tante langsung mengambil kesimpulan kalau kak Kean jahat tanpa tante tau siapa sebenarnya dia" dengan bibir bergetar, Sharlin menjadi tameng untuk Jin saat itu.


El-Syakir bingung harus melakukan apa, situasi saat ini benar-benar diluar apa yang ia pikirkan.


"kak Kean rela mati demi menyelamatkan nyawa manusia tante, dan itu yang tante nilai kalau kak Kean jahat...? atas dasar apa tante berhak menghabisi arwah yang melindungi dan menyelamatkan anak tante dari maut"


Airin diam mendapatkan serangan seperti itu. air mata Sharlin membuat dirinya melunak dan menatap Danial yang histeris sebab arwah yang dipeluk putranya itu tidak membuka mata. tidak disangkanya Danial begitu dekat dengan arwah itu.


"Jin...hei buka matamu, aku mohon jin" menepuk pelan pipi Jin, Danial semakin terisak.


"Sharlin.... Jin mati Shar, Jin... Jin mati. apa yang harus aku lakukan. hiks... hiks, bangun Jin" berusaha membuat Jin membuka matanya, bahkan mengerakkan hantu itu, Jin tidak merespon sama sekali.


"kak Kean" Sharlin panik juga ikut mencoba membangunkan Jin.


Satria bersama yang lain ikut mendekat. terlihat di leher Jin, tangan Airin tercetak sempurna di sana. bahkan leher hantu itu melepuh dan sebagian menghitam.


"Jin, apa dia benar-benar mati...?" Alea, walaupun baru saja sehari mereka berteman namun dirinya begitu sedih melihat keadaan Jin sekarang.


"bunda jahat, bunda membunuh Jin. hiks... hiks, bunda jahat. aku kan sudah bilang bunda, Jin nggak jahat, dia nggak jahat" emosi menguasai dirinya, Danial menatap marah ke arah Airin yang kini membeku melihat air mata Danial jatuh hanya karena sosok arwah.


Adam melepas Airin dalam pelukannya dan berjalan mendekati Danial juga Sharlin. El-Syakir pun ikut mendekati dan duduk berjongkok di samping Adam.


"ayah, tolong.... Danial mohon" memeluk erat arwah Jin, Danial sesegukan. sebegitu besar rasa takut kehilangannya kepada sosok hantu itu.


melihat Danial seperti itu, El-Syakir seperti melihat dirinya beberapa puluh tahun silam saat ia kehilangan Adam. rasa sakit itu begitu terasa bahkan berbulan-bulan lamanya.


"om, tolong kak Kean om. om bisa melihat dia, itu berarti bisa menyembuhkannya kan...?" Sharlin merapatkan kedua tangan di dada, memohon kepada El-Syakir untuk membangunkan Jin kembali.


"pah" Satria mendekat dan memegang bahu papanya itu. ia sebenarnya tidak menyangka jika ternyata Airin, Adam dan juga papanya sendiri, dapat melihat keberadaannya Jin.


bukan hanya Satria yang terkejut, semua anak-anak itu tentu saja ikut merasakan hal yang sama seperti Satria. apalagi Airin, mereka saat ini berasumsi bahwa Airin memiliki kekuatan tersembunyi dalam dirinya dan apa yang diasumsikan mereka adalah benar adanya.


"kita akan obati dia setelah sholat subuh. sekarang, ayah perlu botol untuk bisa membawanya masuk ke dalam rumah" ucap Adam.


"aku punya" segera Sharlin berdiri dan mendekati mobilnya. ia mengambil apa yang dibutuhkan oleh Adam, sebuah botol kaca kemudian ia kembali dan diberikannya kepada Adam.


Adam memegang kepala Jin sambil menutup mata. tidak lama, hantu itu berubah menjadi kumpalan asap dan perlahan-lahan masuk ke dalam botol yang dipegangnya.


"apa om Adam dukun...? kok dia...bisa sakti seperti itu ya" Kirana menganga takjub dan juga kaget. kaget karena lagi-lagi mereka dipertontonkan hal yang sama sekali diluar pikiran mereka.


"bagaimana bisa...?" Zain menggaruk kepala. tidak percaya namun ia melihatnya sendiri. ingin percaya tapi seakan baginya itu mustahil.


"sayang"


panggilan dari halaman rumah membuat semua orang menoleh. tidak terkecuali Airin. dirinya masih diam ditempatnya. apalagi saat Danial menatap ke arahnya, seketika putranya itu langsung membuat muka.


"loh, anak-anak udah ketemu...?" Seil datang bersama ibu Arini dan juga Vania. keduanya datang menghampiri saat melihat orang-orang yang berkerumun di depan pagar rumah yang ternyata adalah anak-anak tim samudera.

__ADS_1


"kenapa kalian berkerumun seperti ini, macam penjual ikan saja. ayo masuk dan sholat subuh. sudah mau lagi" ibu Arini memperingati mereka.


wanita yang sudah tidak lagi muda itu, mengayunkan langkah lebih dulu. Adam mengkode anak-anak agar segera menyusul ibu Arini. sementara Danial juga Sharlin masih sibuk menghapus air mata mereka.


"kalian baik-baik saja kan, tidak terjadi apa-apa kan...?" Vania bertanya dengan nada khawatir sebab ia melihat mata Danial juga Sharlin terlihat seperti seseorang yang telah habis menangis.


"kami baik-baik saja tante. kalau begitu kita masuk saja ke dalam" El-Syakir menjawab dan menarik pinggang Seil agar melangkah bersamanya.


semua orang telah masuk kembali ke halaman rumah namun tidak dengan Adam dan juga Airin. wanita itu masih bisu di tempatnya. Adam menghela nafas dan melihat ke arah semua orang yang telah masuk ke dalam rumah.


"kenapa kamu begitu sekejam ini Ay" Adam mengeluarkan suara, memutar kepala untuk melihat wajah istrinya.


"aku hanya ingin yang terbaik untuk anak kita mas. aku tidak ingin dia celaka"


"namun tidak sampai seperti ini juga Ay. lihatlah, betapa Danial tadi begitu takut kehilangan arwah yang bernama Jin itu. rasa takutnya itu sama seperti yang dialami El-Syakir dulu saat aku pergi meninggalkannya. bukankah kamu dulu tahu bahwa aku ini dulunya adalah sosok arwah yang berteman dengan manusia"


"tapi kamu berbeda dengannya mas"


"tidak ada yang beda Ay. yang menjadi permasalahannya di sini adalah, kamu gegabah" Adam begitu menyayangkan


"kamu menyalahkan aku..?" Airin menatap sengit suaminya itu.


"bukan menyalahkan, hanya memberitahu kalau kamu terlalu gegabah. bukankah kita sudah membicarakan hal ini. jika memang Danial terbukti berteman dengan makhluk gaib, maka langkah pertama yang harus kita ambil adalah menangkap dan bertanya dengan cara baik-baik. kita tanya Danial, apa alasannya dan bagaimana sampai dia bisa berteman dengan makhluk tak kasat mata. adakalanya makhluk seperti mereka mengikuti kita karena sesuatu hal yang kadang tidak sengaja kita lakukan. seperti aku yang mengikuti El-Syakir karena dia mengambil kalung milikku dari kamar tidurku" Adam mendekati Airin, berdiri di depan istrinya itu hanya dengan jarak satu langkah.


"bukan hanya kamu yang khawatir dengan Danial Ay, aku sebagai ayahnya jelas juga khawatir. namun tidak seperti ini hal yang harus kita ambil. dan lihatlah akibat dari apa yang kamu lakukan, Danial histeris bahkan panik begitu juga temannya yang bernama Sharlin itu. dia sepertinya begitu kenal dengan arwah itu dan juga anak-anak, mereka juga panik dan khawatir. kalau sudah seperti ini, lalu apa yang bisa kamu lakukan Ay...?"


Airin diam, terdengar helaan nafas panjang yang keluar dari mulutnya. wanita itu kini merasa bersalah telah membuat anaknya menangis.


"Dirga, apa yang kalian lakukan di situ. ayo masuk, sholat subuh" ayah Adnan memanggil keduanya.


"iya yah" Adam menjawab mengiyakan. dirinya mendekati Airin selangkah lagi dan merengkuh pinggang wanita itu. "kita selesaikan nanti, sekarang kita menghadap Tuhan terlebih dahulu. kewajiban adalah nomor satu".


Airin mengangguk kemudian keduanya melangkah masuk kembali ke halaman rumah. mobil yang mereka keluarkan tadi, akan diurus oleh penjaga rumah itu.


dan disinilah Jin berada, di sebuah ruang rahasia yang ada di dalam kamar Adam juga Airin. Jin terbaring di ranjang dengan kedua mata yang masih terpejam.


Adam, El-Syakir dan anak-anak remaja itu diam memperhatikan Airin yang kini sedang duduk di samping Jin. dirinya yang membuat Jin terluka seperti itu maka hanya dirinya pula yang bisa menyembuhkannya. untuk saat ini Ragel anteng bersama Gibran yang sedang bermain bersama Samudera di taman belakang rumah, hal itu membuat Airin lebih leluasa mempunyai waktu untuk menyembuhkan Jin.


"tante Airin sungguh luar biasa" Satria begitu takjub


Danial saat ini sedang memeluk Adam, putranya itu begitu manja kepadanya itulah mengapa jika mempunyai masalah maka orang pertama yang akan Danial beritahu adalah ayahnya itu. namun untuk masalah ini, Danial sama sekali tidak berani bercerita kepada siapapun. selain mereka akan menganggap dirinya kurang waras sebab dia belum tau bagaimana sebenarnya ayah dan bundanya, dirinya juga sudah terikat dengan Jin sehingga tidak mungkin menceritakan hal itu kepada siapapun. bagaimana mungkin dirinya akan menceritakan kalau ia terikat perjanjian darah dengan Jin, sungguh itu benar-benar diluar pikiran manusia.


telapak tangan kanan Airin diletakkan di kening Jin. kemudian tangannya itu bergerak turun sampai ke kaki Jin. diulangnya sampai tiga kali, setelah itu Airin berdiri dan sedikit menjauh dari ranjang. detik berikutnya, cahaya hijau muncul dari kening Jin, semakin turun dan menyelimuti arwah itu. perlahan cahaya itu hilang dan lenyap. tidak berapa lama, jemari Jin bergerak dan di susul dengan terbukanya kedua matanya.


"Jin bangun" ucap Ayunda dengan begitu senang.


Danial bergerak cepat mendekati ranjang. Jin berusaha bangun namun hampir terhuyung lagi tatkala Danial tiba-tiba memeluknya. Jin merasakan ada cairan hangat yang membasahi bahunya, itu adalah air mata Danial.


"hei...kamu menangis...? Jin melerai pelukan mereka.


"aku begitu takut kamu pergi. katanya kamu kuat tapi kenapa sekarang kamu malah tepar. harusnya kamu melawan bunda, bukannya malah pasrah begitu saja" Danial menghapus ari matanya dengan kasar.


"bundamu....aku bukan tandingannya Danial. bagaimana bisa aku menang melawan ratu penguasa hutan timur"


"ratu...?" anak-anak itu refleks melihat ke arah Airin. bahkan Danial pun ikut terkejut dan melihat ke arah bundanya.


Airin mendekat, refleks Danial menarik Jin bersembunyi di belakangnya. ia takut bundanya itu akan kembali mencelakai teman hantunya.


"bunda hanya ingin berkenalan dengannya" Airin menatap lembut putranya.


Danial melihat ayahnya, Adam menganggukkan kepala dan tersenyum sebagai jawaban kalau semuanya akan baik-baik saja. barulah Danial bergeser pelan ke arah samping, namun bukan berarti dirinya jauh dengan Jin. sementara Sharlin, pun ikut berdiri di samping Danial, berjaga-jaga jangan sampai kejadian tadi terulang lagi.


"kalian berdua kenapa tegang seperti itu...?" Airin menatap keduanya.

__ADS_1


"siaga dalam segala hal terburuk yang kemungkinan akan terjadi, itu tidak salah kan" Sharlin menjawab dan melirik Jin yang hanya diam.


Airin menghela nafas namun kemudian tersenyum dan mengambil tempat duduk di samping Jin. sementara Danial dan Sharlin berdiri di samping Jin.


"siapa namamu, saya ingin nama aslimu" Airin bertanya tegas.


"Keanu Alexander" Jin menjawab


"kenapa bisa kamu bertemu dengan putraku dan berteman dengannya...?"


Jin mengangkat kepala menatap Danial, ingatannya tertuju kepada pertemuan mereka pertama kali di rumah kosong itu.


"dia.... melakukan perjanjian darah denganku"


"perjanjian...?" suara Airin meninggi


"Ay" Adam mendekat, dirinya tidak ingin Airin kembali emosi.


"itu tidak sengaja bunda. lagipula, itu bukan perjanjian untuk melakukan hal yang melarang agama. aku...aku terikat untuk membantunya mengungkap misteri siapa yang membunuhnya dengan tragedi yang terjadi di SMA Citra Bangsa" Danial cepat-cepat menjelaskan semuanya.


"tragedi...? maksudnya bagaimana...?" El-Syakir mulai ikut dalam pembicaraan.


Danial melihat semua teman-temannya, mereka mengangguk sebagai jawaban kalau Danial sebaiknya cerita apa yang mereka alami saat ini.


"begini tante, om. sebenarnya di sekolah kami itu...." Sharlin mengambil alih untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


dan sekarang, terbongkarlah apa yang mereka sembunyikan. Airin kini begitu merasa bersalah dan menyesal telah menyakiti Jin.


"jadi kamu korban tumbal dari iblis itu...?" Airin menatap Jin dengan lembut.


"iya" satu kata itu Jin menjawab.


"dimana kamu bertemu dengan Danial, apakah di sekolah itu...?"


"tidak...kami bertemu di rumahku yang sudah kosong. aku terjebak di sebuah gambar diriku sendiri. aku tidak tau kenapa sampai aku bisa berada di tempat itu, namun saat jiwaku terpisah dengan ragaku, semuanya menjadi gelap dan saat aku tersadar, aku sudah terjebak di dalam gambar ku sendiri. aku bisa keluar hanya pada saat magrib menjelang. lewat dari itu aku tidak bisa kemanapun sampai Danial dan teman-temannya datang ke rumah itu"


"ini aneh. bagaimana mungkin kamu bisa berada di dalam gambar mu sendiri kalau bukan karena seseorang yang melakukan itu" ucap El-Syakir.


"kamu berada di dalam rumah mu sendiri...?" tanya Adam.


"lebih tepatnya rumah orang tuaku"


"aku pun tidak tau kemana om Wisnu dan tante Aira pergi. setelah kematian kakak, mereka menghilang bagai ditelan bumi. nomor kak Kaisar pun sudah tidak bisa aku hubungi" ucap Sharlin.


diam beberapa saat memikirkan hal yang menurut mereka ada keanehan.


"lupakan dulu alasan kenapa bisa sampai kamu terkurung di rumah mu sendiri. sekarang, mari kita bahas iblis yang selalu mengambil tumbal itu" kini Adam kembali bersuara.


"tim samudera sepertinya harus turun tangan kak" ucap El-Syakir.


"tim samudera...?" lagi-lagi anak-anak itu dibuat bingung dan garuk-garuk kepala.


"kalian semua terlahir dari orang tua yang luar biasa. akan ada saatnya kami bercerita pengalaman saat masih muda. sekarang mari menyusun rencana untuk menjebak iblis itu" ucap Adam.


"om akan membantuku...?" Jin sungguh tidak percaya keluarga Danial akan ikut membantu dirinya.


"tenang saja, iblis itu akan tertangkap dengan secepatnya. kalian semua tinggal menjalankan instruksi dari kami" El-Syakir menjawab.


"apa perlu aku ikut...?" ucap Airin.


"nggak Ay, tugasmu adalah menjaga putra kecil kita" Adam menolak.


"baiklah" Airin tidak memaksa.

__ADS_1


__ADS_2