
"jadi siapa yang akan kita pilih...?" Melati menatap tujuh anak remaja yang berdiri di hadapan mereka, sementara tim samudera duduk di sofa.
Saling lirik dan mengerutkan kening, ekspresi wajah anak-anak itu menampakkan tanda tanya dalam kepala mereka. Jin pun sudah bersama mereka, hantu itu berdiri di dekat Danial, sementara remaja itu menyandarkan kepalanya di bahu Jin.
"memangnya kenapa mah, kenapa kami dilihat seperti pencuri saja yang ketahuan habis maling" Ayunda pada akhirnya bertanya, ia tidak bisa memendam rasa penasaran itu.
"siapa yang mau menjelaskan kepada mereka...?" ucap Nisda.
"Adam saja lah, kan ini idenya dia" ucap Leo.
"iya...kak Dirga saja" timpal Bara.
"hei...ini ide aku tapi kan kalian semua setuju, gimana sih" Adam mencebik, selalunya apapun itu selalu dilimpahkan padanya atau kalau tidak biasanya El-Syakir.
"bisa duduk nggak sih, capek nih dari tadi berdiri terus" Zain mengeluh.
"ya sudah, duduklah" pinta Airin.
Segera anak-anak itu mengambil tempat di sofa yang empuk, menyandarkan kepala dengan mata yang sudah nampak mengantuk sebab waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
"jadi, apa rencananya...?" tanya Satria.
"jadi begini, dua diantara kalian harus menjadi umpan agar iblis itu keluar. satu laki-laki dan satu perempuan" Adam menjawab, manik kedua matanya menatap satu persatu anak-anak itu.
"umpan...?" mereka tergelak, saling pandang satu sama lain.
"aku siap jadi umpan om" Sharlin mendaftarkan diri sebelum dirinya ditunjuk.
"kalau Sharlin siap berarti tinggal satu orang lagi dan itu harus perempuan. siapa diantara kalian yang siap menemani Sharlin" Vino mulai mengeluarkan suara, menatap tiga gadis remaja yang duduk bersama di satu sofa panjang.
Ketiganya saling pandang dan menelan ludah, diajak ronda malam saja di sekolah, sudah membuat mereka ketakutan apalagi harus dijadikan umpan dan pastinya bertemu langsung dengan iblis itu, sudah pasti mereka mungkin akan kencing di celana.
"memangnya harus perempuan ya, kan laki-laki keduanya bisa" Kirana berucap dengan ragu.
"tidak bisa, korban yang dia ambil sudah 18 orang siswi. Itu artinya untuk mencapai angka genap 20, maka korban berikutnya harus laki-laki dan perempuan. Setiap tumbal terakhir pasti selalunya laki-laki" Sharlin angkat bicara.
"dan aku pun pernah menjadi tumbal terakhir" ungkap Jin di samping Danial.
"tapi...."
"tidak ada kata tapi, jika kalian berniat membantu Jin maka kalian harus berani dalam melakukan sesuatu hal ekstrim. Membuka mata batin saja kalian tidak takut, kenapa sekarang kalian ragu" Leo berucap tegas, tiga remaja perempuan itu menunduk dan meremas jemari mereka.
"jangan khawatir, kami tidak akan jauh dari kalian dan juga Jin akan ikut bersama kalian" ucap Bara.
"benar Jin akan bersama kami...?" Alea bertanya memastikan.
"iya, dia akan masuk ke dalam tubuh Sharlin agar iblis itu tidak mencium keberadaan makhluk lain selain Sharlin dan juga temannya yang tentunya salah satu diantara kalian bertiga" El-Syakir bersuara.
"apa itu tidak akan ketahuan pah...? Bagaimana kalau iblis itu mengetahui ada sosok makhluk gaib yang merasuki tubuh Sharlin" Satria ragu dan tidak percaya akan berhasil.
"tentu saja tidak, dia mungkin hanya akan merasakan ada energi kuat dari dalam tubuh Sharlin, namun dia tidak akan tau kalau itu adalah Jin. Sekarang buatlah keputusan siapa yang akan menemani Sharlin...?" sekali lagi Adam bertanya kembali.
"kalau Ayunda sama Kirana nggak mau, biar aku saja yah" ucap Alea.
"kamu yakin sayang...?" Alana berat hati dengan keputusan putrinya.
"yakin mi, lagipula kan ada Jin yang bersama kami, jadi insya Allah pasti aman"
"kalau Alana yang yang akan bersama Sharlin, kalau begitu biar aku saja yang menggantikan Sharlin. Alana adik aku, aku nggak mau dia kenapa-kenapa. Bukan berarti aku nggak percaya Sharlin nggak bisa jagain dia, tapi aku akan lebih tenang kalau aku atau mungkin Satria yang menjadi umpan bersama dengan Alana"
Kasih sayang seorang kakak kepada adik perempuan mereka, sungguh begitu besar. Meskipun tidak terlahir dari rahim seorang wanita yang sama, namun bagi Danial dan Satria, Alana adalah adik mereka yang harus mereka jaga.
"aku setuju, Danial atau Satria saja yang menggantikan Sharlin. Maaf Sharlin, apapun alasannya kamu pasti akan mengerti" ucap Leo kepada Sharlin yang hanya mendengarkan.
"aku mengerti om" Sharlin menjawab sopan.
"jadi Satria atau Danial nih...?" tanya Starla.
"aku. Aku yang akan menjadi umpannya" Danial menjawab yakin.
__ADS_1
"mas, kamu harus berjanji untuk menjaga anak kita" Airin mulai khawatir ketika kini Danial dinobatkan sebaga pengganti Sharlin.
"tentu saja Ay, mereka semua dalam pengawasanku" Adam meremas lembut jemari istrinya. Ia tau betul bagaimana khawatirnya istrinya saat ini dan hanya dengan meyakinkan anak-anak akan baik-baik saja dalam pengawasannya maka Airin akan tenang.
Malam itu hampir menjelang pukul dua dini hari, tim samudera juga anak-anak akan langsung ke sekolah SMA Citra Bangsa. Dan sekarang di sinilah tempat mereka berada, di parkiran khusus untuk siswa-siswi yang mencari ilmu di tempat itu, mereka semua berbaris.
dari rumah, Jin sudah masuk ke dalam tubuh Danial. Kini untuk kedua kalinya Jin memasuki tubuh Danial.
"pastikan kepala sekolah juga para guru tidak melihat keberadaan kita" ucap Vino.
"ikuti aku saja om, aku tau jalan yang tidak akan bisa dilihat oleh papa juga yang lain" Sharlin maju ke depan berjalan terlebih dahulu kemudian semua orang mengikutinya.
Mereka melewati beberapa gedung, lebih tepatnya mereka berjalan dibelakang gedung yang berjejer di dalam lingkungan sekolah. Meskipun gelap, namun karena mereka banyak maka ketakutan itu tidak berarti sama sekali. hanya saja, anak-anak sering kaget dan teriak saat kedua mata mereka yang kini sudah tembus pandang, melihat hal-hal yang sebenarnya tidak bisa mereka lihat.
"KYAAAAA....ADA PO...."
Satria membekap mulut Ayunda saat gadis itu histeris melihat sosok pocong berwajah hancur yang mereka lewati. Anak-anak yang lain menutup mata dan merapatkan badan ke arah orang tua masing-masing. Sementara Sharlin, memeluk lengan Danial dimana saat ini, tubuh remaja itu telah dikuasai oleh Jin.
"padahal kamu yang begitu semangat untuk menjadi umpan. Lihat mas poci saja masa takut" ucap Jin tatkala lengannya diapit erat oleh Sharlin.
"modal keyakinan aja dulu kan. Kalau takut kan, nanti tinggal lari" Sharlin masih menutup kedua matanya.
"dasar.... nggak pernah berubah kamu ini" Jin menjitak kening Sharlin, gemas dengan tingkah remaja itu.
Di belakang gudang sekolah, mereka pun berhenti. Danial dan Alea akan masuk ke dalam hutan, sementara anak-anak lainnya akan tetap berada di tempat, bersama Bara dan Nisda yang akan menjaga mereka. Untuk sisanya, mereka akan mengikuti Danial dan Alea dari jarak beberapa meter.
masing-masing senter telah di pegang oleh mereka. Danial dan Alea berpegangan tangan, memantapkan hati untuk mengumpulkan keberanian masuk ke dalam hutan yang menurut semua orang adalah hutan yang angker.
"bismillah, ayo" Danial melangkah pelan dan Alea pun ikut mensejajarkan langkahnya.
Semua orang membiarkan dua anak remaja itu berjalan ke arah pagar pembatas antara hutan dan lingkungan sekolah. Pagar kawat duri yang di pasang agar tidak ada satupun siswa atau siswi yang hendak masuk ke sana. Ada celah untuk bisa masuk ke hutan itu dan itulah tempat Danial juga Alea lewat.
Malam itu kabut tebal menghiasi wilayah hutan, udara yang begitu dingin menusuk sampai ke tulang. Berbekal hanya dua buah senter yang ada di tangan masing-masing, Danial dan Alea semakin masuk ke dalam hutan dan semakin jauh dari semua orang.
"aku percayakan mereka pada kalian berdua" Adam menatap Bara juga Nisda
Selain Bara dan Nisda, tim samudera mulai meninggalkan gudang untuk masuk ke dalam hutan. Mereka harus berjarak sedikit jauh dari kedua remaja yang tadi lebih dulu masuk.
"Jin" panggil Alea pelan.
"humm" Danial menjawab, lebih tepatnya Jin yang menjawab sebab Danial terkunci dalam tubuhnya sendiri.
"kok serem banget ya, aku jadi merinding pula" Alea mengusap tengkuknya.
"namanya hutan jelas serem, kalau kamu takut merem aja" senter yang ia pegang diarahkan ke sembarang arah sementara Alea menyenter jalanan mereka.
"kamu nggak takut ya Jin...?"
"takut" Jin berhenti dan tentu saja Alea pun ikut berhenti. "rasa sakit saat aku meregang nyawa, masih bisa aku rasakan sampai sekarang. Begitu sakit luar biasa dan juga aku begitu takut. namun kalau aku takut lagi, kapan semuanya akan berakhir"
"apakah waktu itu kamu sendirian...?"
Kembali mereka melanjutkan langkah, entah sampai dimana batas mereka berhenti, tugas mereka adalah terus berjalan sampai iblis itu merasakan kehadiran mereka.
"dulu aku sendirian, namun sekarang tidak lagi" Jin menggenggam jemari Alea "tidak perlu takut, aku akan menjaga kamu walaupun harus mati untuk kedua kalinya"
Alea mengangguk, rasa hangat menjalar di hatinya. Kini dirinya semakin yakin untuk tetap melangkah masuk semakin jauh.
_____
"dingin banget, perasaan semalam nggak sedingin ini deh" Kirana memeluk dirinya sendiri.
"harusnya kita membawa minuman hangat, kopi misal untuk penghilang ngantuk. Hoaaam" Zain menggosok tangannya kemudian menempelkan di wajahnya.
"kalian tunggu di sini sebentar" Bara melangkah namun Nisda memegang lengannya.
"mau kemana sayang...?"
"aku mau mencari kayu untuk membuat api yang, sebentar saja kok. kalian di sini saja jangan kemana-mana"
__ADS_1
"jangan lama ya"
"iya" Bara mengecup pelan kening istrinya kemudian meninggalkan mereka
"papa so sweet banget sih, pengen deh punya suami nanti seperti papa" Kirana tersenyum melihat keromantisan kedua orang tuanya.
"sepertinya orang tua kita romantis semua deh. Aku aja sampai nggak dianggap tuh, padahal aku di samping mereka loh" Ayunda mencari tempat untuk dirinya duduk.
"mungkin saja kamu anak pungut makanya nggak dianggap" celetuk Satria.
"yeeee enak aja" Ayunda melempar batu kecil ke arah Satria.
Nisda membiarkan anak-anak itu memikirkan apa yang mereka pikirkan tentang kedua orang tua mereka. Dirinya mengayunkan langkah menuju ke ujung gudang, melihat sekitar memastikan semuanya akan baik-baik saja. hingga ia melihat cahaya senter yang mengarah ke arah tempat mereka sekarang. Secepatnya Nisda memberitahu anak-anak itu untuk bersembunyi, kebetulan Bara pun telah datang.
Mereka mengambil tempat berada di samping gudang, setelah cahaya senter itu semakin dekat dan kini berada di belakang gudang sekolah.
"lah...kok ada kayu di sini pak Rahim" pak Hamzah heran juga bingung.
"memangnya kemarin itu nggak ada ya...?" pak Hamzah mendekati kumpulan kayu bakar itu.
"tidak ada, yang ada hanya tempat duduk ini. Siapa yang membawanya ke mari ya"
"pak Kenan, kepala sekolah atau pak Danu mungkin. Biarkan saja di situ, kita lanjut lagi berkeliling"
"ayolah, aku mengantuk sekali ingin tidur"
Suara langkah kaki menandakan kalau keduanya telah menjauh dari gudang. Kembali Bara, Nisda dan lima remaja beralih ke belakang gudang.
"aku pengen pipis nih" tiba-tiba Kirana mengeluh.
"yah di sini nggak ada toilet, harus ke gedung kelas" ucap Sharlin.
"temani dong, mah temani aku ke toilet" pinta Kirana.
"mama nggak tau toiletnya dimana, biar Satria atau Zain saja ya yang antar kamu. Sat, tolong temani Kirana ke toilet ya" Nisda meminta tolong kepada putra dari El-Syakir dan Seil itu.
"iya tante" Satria langsung patuh.
"biar rame, aku juga ikut" Sharlin ikut mendekati keduanya.
"hati-hati, kalau sudah selesai langsung kembali" perlu om antar kalian...?" ucap Bara.
"nggak usah om, lagian kami sudah bertiga. Ayo, Ki, Shar" ajak Satria.
pukul dua dini hari tembus jam lima pagi, tidak terjadi sesuatu apapun. Bahkan Danial dan juga Alea telah kembali, Jin pun telah keluar dari tubuh Danial.
"iblis itu tidak muncul, apakah dia tidak berminat dengan kami berdua" Danial menggaruk pelipis.
"tidak mungkin, jelas itu tidak mungkin" Adam menggeleng kepala, ada sesuatu yang mengganjal dan itu membuatnya berpikir keras.
"lalu apakah kita pulang saja sekarang, kita harus sholat subuh" ucap Deva.
"tunggu sebentar. Apakah kalian tidak berpikir kalau ini aneh. Sama sekali tidak masuk akal kalau iblis itu tidak tertarik dengan umpan yang kita berikan" Adam masih tetap berpikir ada yang aneh dengan situasi sekarang.
"Jin, kamu pernah mengalami dan menghadapi iblis itu sendirian. Jika terjadi di sekolah, aku yakin pasti ada salah seorang yang mengiring iblis itu untuk mengambil tumbal di sekolah ini. Saat kamu masih hidup, apakah ada seseorang yang kamu curigai atau memang hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan manusia"
"tidak om, kepala sekolah ataupun para guru tidak memperlihatkan gelagat mencurigakan" Jin menjawab.
"maksud kamu, ada dalang dari semua ini. Ataukah bisa jadi, iblis itu adalah salah satu dari seseorang yang tau tentang seluk beluk sekolah ini...?" kini El-Syakir mulai bisa menyelami apa yang dipikirkan Adam.
"benar sekali, dan sepertinya kita harus mencari tahu soal itu. Aku yakin, iblis itu adalah salah seorang dari warga sekolah, atau ada seseorang yang menyembah iblis dan memberikan tumbal berupa siswa-siswi di sekolah ini"
"lalu apa rencana kita selanjutnya...?" tanya Vino.
"menunggu sampai satu minggu ke depan, aku akan masuk ke sekolah ini" jawab Adam.
"mau ngapain yah...?" Danial bertanya-tanya.
"kalian akan tau apa yang akan aku lakukan untuk datang ke tempat ini. Yang pasti, aku yakin pelakunya adalah tidak jauh dari seseorang yang berada di sekolah ini dan kita harus mencari tau itu" Adam tersenyum kecil setelah mengatakan maksudnya.
__ADS_1