
munculnya video yang diunggah oleh akun Langit Erlangga, mengungkapkan semuanya bahwa kematian yang dialami oleh delapan siswa itu diakibatkan karena mereka menjadi korban dari kebengisan sosok makhluk mengerikan.
Terlihat jelas di video itu kalau kedelapan siswa itu dibunuh oleh sosok yang menyeramkan itu.
Belum sampai satu jam lamanya video itu terunggah, komentar sudah mencapai ribuan. banyak yang membenarkan tentang kejadian di video itu, namun ada juga yang beranggapan bahwa pelakunya sendiri adalah salah seorang warga SMA Citra Bangsa.
Nama kepala sekolah mulai dibawa-bawa di dalam komentar. Mengatakan kalau sebenarnya makhluk itu adalah kepala sekolah sendiri. Akan tetapi banyak juga yang membela kepala sekolah SMA Citra Bangsa, mereka adalah para guru yang ternyata ikut berkomentar dan juga siswa di sekolah tersebut.
Salah satu akun yang tidak menuliskan nama aslinya, menyudutkan kepala sekolah dan mengatakan kalau pak Adiatama adalah pelakunya. Biasanya hal seperti itu memang pimpinan sekolah pelakunya, itu adalah salah satu komentar yang ia tulis sehingga menarik akun lain untuk memberikan tanggapan.
Anggita Sari
"yang bilang kepala sekolah memang benar diminta di smacdown ya. Jelas-jelas malam itu tidak ada kepala sekolah, beliau ke rumah sakit sebab kakak kelas ada yang kecelakaan"
Nurnia
"siapa sih yang bilang kepala sekolah pelakunya. Pencemaran nama baik itu woi, lu mau tanggung jawab kalau kepala sekolah gue ditangkap"
Vani Vabiola
"sekolah itu kan memang didekat hutan. Bisa jadi makhluk yang di dalam hutan itu. Mungkin saja salah satu dari warga sekolah melanggar sesuatu sehingga menimbulkan amarah dari penghuni hutan tersebut"
Satu persatu tim awan biru membaca komentar dari semua orang. Mereka fokus menatap layar ponsel Sharlin.
"coba hubungi papamu Sharlin" Gibran memberikan kembali ponsel Sharlin.
Remaja itu segera mencari nomor pak Adiatama dan menghubunginya, akan tetapi nomor yang ditujunya sedang dalam keadaan sibuk.
"sibuk mas" ucap Sharlin.
"mungkin kepala sekolah mulai dihubungi oleh orang-orang" ucap Ayunda.
Saat itu ponsel Gibran bergetar, Zidan menghubunginya dan lekas ia memberikan arahan kepada anak-anak itu untuk diam dan tidak bersuara.
[halo paman]
[Gibran, kamu dimana...?]
[aku....di rumah paman, ada apa memangnya...?]
[jangan berbohong pada paman Gib, atau kamu mau paman menggantung mu kalau bertemu nanti. Katakan yang sebenarnya kamu dimana, kamu di sekolah kah...?]
"lah darimana paman Zidan tau kalau aku di sekolah" batin Gibran.
[halo Gibran, kenapa tidak menjawab...?]
[emmm anu paman]
[anu anu...mau ku potong anu mu]
[astaga paman, kejam sekali sih. iya aku di sekolah bersama anak-anak]
[bawa mereka pulang dan kita bicara di rumah]
[tapi....]
[bawa mereka pulang GIBRAN SANJAYA]
Gibran menjauhkan ponselnya sebab teriakan Zidan. Tim awan biru memperhatikan laki-laki itu dengan kedipan mata dan pertanyaan heran di dalam kepala.
[iya iya...kami pulang sekarang. Beritahu nenek untuk memasak yang banyak, aku lapar]
[makan rumput sana, dalam waktu tiga puluh menit kalian tidak datang, habis sudah riwayatmu ya Gibran]
"mampus" Gibran bergidik.
[baiklah pamanku yang ganteng, kami akan segera meluncur secepat kendaraan tayo]
"kenapa mas...?" Danial bertanya setelah Gibran mematikan panggilan.
"kita pulang, nanti kita mencari jalan keluarnya di rumah. Semua orang sedang menunggu kita" Gibran memasukkan ponselnya di saku celana.
"lalu papa dan yang lainnya gimana mas, masa kita tinggal. Kalau tiba-tiba mereka kembali bagaimana...?" ucap Alea.
"kalau mereka kembali, sudah pasti mereka akan pulang ke rumah. Ayo sebelum kita kena marah. Mas nggak mau ya di gantung sama paman Zidan. ambil semua barang-barang kalian dan kita pulang"
__ADS_1
"pulang pakai apa...? Mobil paman kan sudah rusak" timpal Ayunda.
"naik taksi dong Ay, ayo"
Danial menghela nafas, mereka benar-benar harus pulang sekarang. Pasti karena Zidan sudah melihat video yang diunggah itu sehingga mereka semua di suruh untuk pulang. itulah yang ada di kepala Danial.
Meninggalkan halaman sekolah berpindah tempat ke jalan raya. Zidan menghentikan taksi untuk transportasi mereka agar bisa sampai ke rumah Sanjaya. Dua taksi yang diberhentikan membawa mereka pulang saat itu juga.
sekolah yang lumayan jauh membuat mereka sampai pada waktu yang lumayan lama. Semua orang turun dan Gibran membayar biaya dari kedua taksi itu.
Kepulangan mereka langsung disambut oleh ayah Adnan dan juga ibu Arini. Ragel yang berada di gendongan ayah Adnan bersorak riang ketika melihat Danial datang. Bayi itu bertepuk tangan dan mengangkat kedua tangan padahal Danial belum juga sampai kepadanya. Dengan perasaan rindu dan bercampur sedih, Danial berlari kemudian menggendong Ragel.
"tata Dan...tata Dan" celoteh Ragel setelah dirinya berada di dekapan Danial.
Cup
Cup
Cup
Danial menciumi wajah adiknya sampai Ragel tertawa karena geli. Tawa adiknya itu menjadi penguat Danial untuk saat ini.
"kalian kusut sekali. Masuklah dan bersihkan diri" ibu Arini berkata dengan lembut.
"aku lapar nek" Alea mengelus perutnya.
"ya sudah, kalau begitu kita masuk dan sarapan bersama. Ayo ayo" ibu Arini menarik tangan Alea untuk masuk ke dalam rumah.
Semua orang masuk ke dalam. Ketika itu Zidan sedang menyuapi makan Gauri di meja makan. kedatangan mereka membuat senyuman di bibir Gauri tercetak. gadis kecil itu senang tim awan biru pulang ke rumah itu lagi. Vania sedang menyiapkan makanan di atas meja. masing-masing mengambil tempat dan mulai menyendok makanan juga lauk yang diinginkan. Galang sudah berangkat ke sekolah sejak tadi.
"makanlah dengan banyak, setelah ini kalian harus menceritakan semua apa yang terjadi" Zidan berucap penuh ketegasan.
Tim awan biru menelan ludah dengan susah, mereka semua serentak melirik ke arah Gibran yang sedang sibuk menikmati makanannya.
"kenapa melihat Gibran...?" Zidan mengagetkan mereka.
"mas... tenang" Vania mengelus lembut lengan suaminya.
"sampai mereka nekat melakukan hal yang berbahaya, paman ikat kalian semua di pohon" ancamnya.
"ayahmu memang serem Gau" Gibran menambahkan.
Buuuk
Lemparan tisu mendarat di kepala Gibran. Laki-laki itu hanya cengengesan dan menggaruk kepala. Ketika Zidan melihat tim awan biru, mereka semua terkesiap dan refleks sibuk sendiri-sendiri. Sharlin bahkan memasukkan sendok kosong ke dalam mulutnya.
"kamu makan angin ya Sharlin...?"
Uhuk...uhuk
Seketika Sharlin terbatuk dan salah tingkah ketika Zidan menegurnya. tim awan biru tidak mengangkat kepala, mereka semua sibuk dengan makanannya.
Selesai sarapan tim awan biru juga Gibran membersihkan diri. Sharlin mengikuti Danial sementara Ayunda juga Kirana masuk ke dalam kamar Satria.
dibawah, ibu Arini sedang menghubungi Seil untuk menanyakan makanan apa yang ingin dimakan oleh cucunya. Mereka semua sudah tau tentang apa yang menimpa Satria juga Zain. Kepergian Seil yang begitu terburu-buru juga alasan tim samudera yang bagi ayah Adnan tidak masuk akal, membuat ayah Adnan mengatakan hal itu kepada Zidan.
seharusnya hari ini Zidan akan mengarahkan anak buahnya untuk melacak keberadaan Seil yang pergi dan belum juga pulang, namun ketika melihat video yang diunggah media sosial, kening Zidan mengerut tatkala banyak komentar yang mengatakan kalau itu adalah sekolah yang disekarang menjadi tempat menimba ilmu anak-anak tim samudera.
"gemoi banget...adik siapa sih ini" Sharlin menguyel uyel pipi Ragel yang gemoi.
"tata Dan" jawab Ragel bertepuk tangan.
Jawaban bayi itu membuat Sharlin gemas dan menciumnya. Danial baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
"mandi gih Shar"
"oke"
Sharlin beranjak ke kamar mandi sementara Danial beralih ke lemari pakaian dan mengambil bajunya. Kepalanya memutar ketika mendengar Ragel berbicara bahasa yang menurutnya aneh. Bayi itu rupanya sedang menonton kartun di ponsel Sharlin.
"lagi apa dek...?" Danial mendekati adiknya setelah selesai memakai baju.
"pin pin" tunjuknya di layar ponsel itu.
"Upin Ipin...bukan pin pin" Danial menoel hidung Ragel.
__ADS_1
"oooo..." bibirnya mungilnya membentuk huruf o dengan kepala ia anggukkan tanda mengerti.
"oooo...kayak ngerti aja kau dek. Coba ulang, Upin Ipin"
"pin pin"
Danial terkekeh, adiknya itu memang begitu menggemaskan. namun seketika ia teringat dengan kedua orang tuanya, juga Jin yang sampai saat ini mereka belum juga kembali.
"semoga mereka semua baik-baik saja" gumamnya.
Selesai membersihkan diri, mereka turun ke bawah di ruang tengah, sebab di ruang keluarga dipakai Ragel, juga Gauri untuk bermain. Samudera dibaringkan di karpet bulu, bayi itu memainkan kaki juga tangannya yang kecil. Mereka dijaga oleh baby sitter yang dipekerjakan di rumah itu.
"bisa jelaskan tentang video yang kami lihat itu. Apa itu semua benar...?" ayah Adnan kali ini yang membuka percakapan.
tim awan biru meremas jemari, melirik Gibran untuk meminta agar laki-laki itu yang menjelaskan semuanya.
"benar kek, video itu memang terjadi semalam. Delapan orang siswa meninggal karena makhluk mengerikan itu" Gibran menjawab.
"lalu saat kejadian itu, kalian dimana...?" tanya Zidan.
Gibran menghela nafas dan menghembuskan dengan pelan. " aku akan menceritakan semuanya, tapi sebelum itu aku meminta agar paman, tante Vania, kakek dan nenek percaya dengan ceritaku ini. Karena cerita ini bukan karangan dan juga kami alami beberapa hari ini"
"beberapa hari ini...? Maksudnya bagaimana...?" ibu Arini mengernyitkan dahi.
"jadi sebenarnya begini"
Gibran mulai bercerita dari awal pertemuan Danial dengan Jin, hingga menyeret bagaimana Danial tanpa sengaja melakukan ikatan antara dirinya juga Jin. Cerita itu mengalir jelas ditelinga semua orang. Tidak ada yang dikurangi juga dilebihkan.
Ekspresi semua orang tentu saja terkejut ketika mendengar itu, namun tidak dengan tim awan biru.
"jadi Danial berteman dengan hantu...?" Vania menganga.
"pantas saja Ragel selalu menyebut nama Jin Jin dan Jin, ternyata Jin itu memang ada" ucap ibu Arini.
"syukurlah Satria dan Zain selamat. kenapa tidak bercerita dari awal. Bagaimanapun nyawa kalian semua dalam bahaya. Lalu sekarang Dirga juga El-Syakir juga ayah kalian, pergi ke alam gaib mengejar iblis itu...?"
"iya kek, bunda juga" Dania menjawab takut.
"ya Allah yah... tidak menyangka kalau kita mempunyai anak-anak hebat seperti Dirga dan El-Syakir yah. Menantu kita juga aneh. Kok nenek kurang percaya ya"
Maklum saja, hal gaib yang semacam itu memang dipercayai oleh ibu Arini, namun jika menantunya adalah seorang ratu, ibu Arini sama sekali tidak begitu percaya.
"kedengarannya memang aneh nek, tapi itulah kenyataannya. aku menceritakan semuanya agar tidak ada lagi yang kami tutupi. Sebenarnya Dirga juga El-Syakir dan yang lainnya tidak keluar kota melainkan mereka ke alam gaib mengejar iblis itu, Airin juga"
"kamu sedang tidak berbohong kan Gibran...?" Zidan menatap tajam.
"tentu tidak paman, apakah wajahku ini bereaksi seperti seseorang yang sedang berbohong...?"
"wajahmu bukan menandakan ekspresi bohong, tapi tengil" Zidan masih sempat mengejak keponakannya itu.
"ck...paman nggak ada akhlak" gerutu Gibran.
"lalu apa yang harus kita lakukan untuk membuat Dirga juga yang lainnya kembali...?" tanya Zidan kembali.
"menunggu paman, kita hanya bisa menunggu. Iblis itu sudah banyak mengambil korban, bahkan Jin adalah korban tumbal olehnya. itulah mengapa Jin meminta bantuan kepada Danial untuk membantunya, namun sekarang bukan hanya Danial yang terseret tapi kami semua"
Drrrttt.... Drrrttt
Ponsel Sharlin yang bergetar menghentikan percakapan mereka.
"papa"
"angkat Shar, siapa tau itu penting" ucap Danial.
Sharlin menggeser tombol hijau sehingga panggilan telepon tersambung.
[halo pah]
[Sharlin...kalian masih di sekolah...?]
[nggak pah, kami di rumah Danial. Papa dimana, papa nggak diapain sama orang tua siswa kan...?]
[syukurlah, papa kira kalian masih di sekolah. papa sedang menuju ke sekolah, sekolah kita akan dibakar oleh orang tua siswa]
[APA...? DI BAKAR...?]
__ADS_1